Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 

MENGENAL KOAN KONG / SATYA DHARMA KALAMA



Konon pada akhir dinasti Han sekitar tahun 199-220 (Sesudah Masehi) telah terjadi perang saudara yakni perebutan kekuasaan, sehingga menyebabkan negara di daratan Tiongkok itu terpecah dan terbagi atas tiga negara (Sam Kok), yaitu negara WEI, negara SUK dan negara WU ( tahun 220-280 Sesudah Masehi).

Koan Kong/Satya Dharma adalah seorang Jenderal negara SUK yang amat sangat populer. Dalam suatu pertempuran dengan negara WU, ia tertangkap bersama anaknya. Kemudian keduanya dihukum mati dengan hukuman pancung kepala.

Pada suatu malam Bhiksu Phu Ching yang berdiam digunung Yu Chuan saat bermeditasi, mendengar teriakan "kembalikan kepalaku !!!, kembalikan kepalaku!!!" secara berulang-ulang berteriak keras dan histeris. Bhiksu Phu Ching menengadah dan konsentrasi mengamati dengan seksama darimana datangnya suara ditengah malam tersebut, karena ingin tahu siapa orang yang berteriak teriak itu.

Ternyata suara itu datangnya dari teriakan arwah Koan Kong yang sangat penasaran. Demikian Bhiksu Phu Ching dengan kekuatan batinnya melihat Koan Kong turun dari angkasa menunggang kuda sambil menggenggam sebilah golok besar. Lalu Bhiksu Phu Ching bersama kekuatan batin memukul pelana kuda dengan kebutan cambuknya dan seraya berkata "dimana Yun Chang?/Un Tiang/Koan kong". Pertanyaan itu membuat Koan Kong menjadi sadar. (pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan khas guru-guru sekte Dhyana kepada siswanya yang bertanya tentang Dharma, kadangkala tidak dapat dimengerti, apalagi pertanyaan sang guru mengandung Dharma, jadi harus mengetahui sendiri isi jawabannya).

Lalu roh Koan Kong meminta diberi petunjuk dan doa ke jalan yang benar. Sang Bhiksu berkata,"dulu salah atau sekarang benar tak perlu dipersoalkan lagi, karena terjadi pada saat sekarang tentunya ada sebab pada masa lalu."

Bhiksu Phu Ching bertanya "Anda dicelakakan oleh Li Meng, kini anda berteriak teriak, kembalikan kepalaku !. Coba anda berpikir pada masa lalu berapa banyak jenderal dan prajurit yang telah anda penggal lehernya, lalu kepada siapa mereka menuntut agar kepalanya dapat dikembalikan?".

Koan Kong menjadi semakin sadar, demikian berlutut memohon dihadapan Bhiksu Phu Ching untuk menerima permohonan Tisarana dan Pancasila (menganut agama Buddha yang mentaati sila).

Sejak itu roh Koan Kong sering datang ke Vihara tempat kediaman Bhiksu Phu ching di gunung Yu Chuan untuk mendapat bimbingan Dharma lebih lanjut.

Telah tercatat pada sejarah masa Tiga Negara (Sam Kok). Menurut kamus praktis istilah ajaran Buddha (Sheh Yun Fuo Shue Cheh Tien), Bhiksu yang berdiam di Vihara gunung tersebut adalah Bhiksu Chih-Ie adalah guru besar sekte Tien Tai. Koan Kong menerima Tisarana dan Pancasila dari guru besar sekte Tien Tai dan arwah Koan Kong pernah mendengarkan khotbah Bhiksu Shen Siu (kakak seperguruan Patriarch VI / sekte Dhyana) dan bertanya jawab tentang Dharma dengan beliau. Oleh sebab itu terdapat banyak Sangharama yang menghormatinya sebagai Sangharama (Dewa Pelindung Sangharamapala).

Keterangan :

  1. Umat awam memberi hormat dan memberi puja (bukan memuja) kepada Koan Kong, karena umat awam menganggapnya sebagai Dharmapala (Dewa Pelindung Dharma), yang sangat setia dan senantiasa menolong orang yang dalam keadaan bahaya atau menderita, serta melindungi orang yang patut dilindungi.

  2. Tidak semua Vihara mempunyai pratima Koan Kong dan tidak semua umat Buddha memuja Koan Kong.

  3. Pada akhir dinasti Han (Tung Han, Heu Han) dari tahun 199-220 Sesudah Masehi, telah terjadi perang saudara yang bertujuan berebut kekuasaan antara Chau Chao (Menteri yang menguasai raja), Liu Pei (Menteri dan bangsawan yang ingin menumpas atau meruntuhkan kekuasaan Chau Chao) yang dibantu oleh Koan Kong dan Sun Chien. Perang yang berebut kekuasaan ini merupakan awal terbentuknya TIGA NEGARA.

Chau Phi anak sulung Chau Chao menumbangkan dinasti Han, lalu mendirikan kerajaan dinasti WEI (tahun 220-265), maka pada tahun berikutnya Liu Pei mendirikan negara SUK (Suk Han) di wilayah yang dikuasainya dari tahun 222 hingga 280 tahun Sesudah Masehi, sehingga kerajaan dinasti Wei terdapat tiga negara. Oleh sebab itu pada zaman dinasti Wei disebut zaman Tiga Negara. Negara Suk dibasmi oleh negara Wei pada tahun 263 Sesudah Masehi, sedangkan negara Wu baru dapat ditumpas habis pada tahun 280 Sesudah Masehi. Toto/sumberSMI


Tambahan :

  1. Liu Meng yang menangkap Koan Kong adalah jenderal negara Wu yang terkenal dan banyak jasa.
  2. Chau Chao meninggal pada tahun 220 Sesudah Masehi, kemudian diberi gelar raja oleh anak nya.
  3. Koan Kong meninggal pada tahun 219 Sesudah Masehi.
  4. Liu Pei meninggal pada tahun 223 Sesudah Masehi.
  5. Sun Chien meninggal pada tahun 252 Sesudah Masehi.


 




Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.