Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 CITA-CITA BODHISATTVA


Siapa memuji nama kebesaranKu, jika Aku tidak dapat menyeberangkan ke Sorga Sukhavati.
Aku tidak akan mau menjadi Buddha.
(Amitabha Buddha).

Jika ada yang menyebut namaKu, Aku tidak bisa menolong, Aku tidak mau menjadi Buddha.
Jikalau dalam kesukaran, dengan sujud memuja namaKu. Aku akan segera memperhatikan suara mereka, terbebaslah penderitaannya.
(Avalokitesvara Bodhisattva).

Jika neraka belum kosong, Aku belum mau memperoleh kesempurnaan (Samyaksambuddha).
Kstigarbha Bodhisattva).

Tubuh yang terdiri dari darah dan daging ini, akan Kupergunakan untuk kebaikan dan kesejahteraan dunia
(Sri Sanghabodhi)

Untuk melaksanakan tercapainya tujuan akhir di dalam agama Buddha ada tiga bentuk penerangan (Bodhi), yaitu :

  • Sravaka Bodhi
  • Pratyeka Bodhi
  • Samyaksambodhi

Salah satu dari ketiga bentuk penerangan (Bodhi) tersebut dapat diperoleh oleh seorang siswa sesuai dengan sifat watak siswa tersebut.

Sravaka Bodhi ialah penerangan yang diperoleh seorang siswa, setelah berhasil mendapatkan penerangan ia disebut dengan sebutan Arahat. Seorang yang bercita-cita ingin menjadi Arahat biasanya mencari bimbingan cari seorang guru yang lebih tinggi tingkat penerangannya. Sedikit saja penjelasan dari guru yang mahir sudah cukup bagi seorang yang sudah maju batinnya untuk bisa mengerti jalan penerangan itu.

Sariputra misalnya, mencapai tingkat kesucian yang pertama hanya dengan mendengar setengah bait saja dari kotbah Arahat Assaji. Patacara yang sedang dirundung kesedihan, karena ditinggalkan oleh semua orang yang cintainya, mencapai tingkat Arahat dengan memperhatikan air yang dipakai untuk membasuh kakinya. Kisagotami, yang memaksa Sang Buddha untuk menghidupkan kembali bayinya yang meninggal, mencapai tingkat kesucian dengan memperhatikan sebuah lampu yang akan segera padam. Cula Phantaka yang dalam waktu empat bulan tidak juga dapat menghapal sebait kotbah, mencapai tingkat Arahat dengan bermeditasi pada sifat ketidakkekalan dari sebuah sapu tangan bersih yang digenggam dalam tangannya sambil disinari matahari.

Dalam membina dirinya, tidak ada sedikitpun sifat mementingkan diri sendiri dan bercita-cita untuk memperoleh Sravaka Bodhi, menjadi Arahat. Karena tingkat Arahat pada hakekatnya hanya dapat dicapai dengan melenyapkan habis semua sifat-sifat yang menyenangkan nafsu-nafsu inderawi, khayalan tentang diri pribadi dan egoisme, yang sesungguhnya merupakan belenggu yang harus diputuskan untuk dapat mencapai tingkat Arahat. Seseorang mencapai tingkat Sravaka Bodhi disebut juga melenyapkan habis belenggu-belenggu duniawi dan memasuki alam ketenangan abadi (Nirvana).

Pratyeka Bodhi ialah penerangan sempurna yang dicapai oleh seorang yang sudah maju perkembangan batinnya, yang berhasil mencapai tujuan akhir dengan usahanya sendiri tanpa bantuan siapapun, dengan merenungkan kondisi sebab musabab Hukum Saling Bergantungan). Orang suci seperti ini disebut Pratyeka buddha, karena ia hanya mengembangkan/membina diri dengan hukum saling bergantungan, maka ia tidak mampu (tidak mempunyai kesempatan) untuk membabarkan Dharma yang telah diketemukannya sendiri dalam usaha menyucikan dan menolong orang-orang lainnya. Walaupun demikian, melalui sikap dan tingkah laku, ia telah mengajarkan tata susila yang benar kepada kita semua, mengajarkan Dharma tidak didasari oleh kehendak menolong.

Pratyeka Buddha hanya muncul pada masa-masa ajaran Samyaksambuddha sudah tidak ada lagi. Jumlah mereka tidak terbatas hanya satu saja pada suatu waktu tertentu, tetapi dapat juga lebih dari satu, maka agak berbeda dengan jumlah Samyaksambuddha yang jumlahnya hanya ada satu saja dalam satu kalpa. Sekarang ini, walaupun Sakyamuni Buddha (Buddha Gautama) telah Parinirvana, namun kita masih tetap hidup dalam era Kebuddhaan Sakyamuni, karena ajaran Beliau tetap ada. dengan demikian tidak akan ada Pratyeka Buddha yang akan muncul dalam masa ini. Untuk mengenal lebih dalam lagi tentang Pratyeka Buddha yang akan muncul dalam masa ini, marilah kita lihat Khaggavisana Sutra dari Sutra Nipata, dapat kita temukan uraian yang indah dari beberapa Pratyeka Buddha sebagai berikut :

  1. Dengan membuang alat pemukul makhluk jauh-jauh, tidak melukai siapapun juga, janganlah merindukan anak-anak dan kawan-kawan, tetapi mengembaralah seorang diri, bagaikan seekor badak.
  2. Rasa rindu muncul karena kemesraan dan akhirnya menghasilkan kesedihan, menyadari bahaya dari rasa rindu ini, maka mengembaralah seorang diri, bagaikan seekor badak.
  3. Nilai persahabatan memang harus dipuji dan sudah selayaknyalah seseorang bergaul dengan orang yang sama baiknya, atau lebih baik dari dirinya. Bila kawan yang demikian tak dapat ditemukan, maka tempuhlah jalan kehidupan yang tak tercela dan mengembaralah seorang diri, bagaikan seekor badak.
  4. Beraneka ragam, manis dan indah adalah sifat kesenangan duniawi. Diam bentuknya yang bermacam-macam semuanya sangat memikat hati, namun setelah menyadari ancaman bahaya yang timbul dari padanya, orang bijaksana akan mengembara seorang diri, bagaikan seekor badak.
  5. Dingin dan panas, lapar, haus, angin, matahari, nyamuk dan ular, atasilah semuanya itu dan mengembaralah seorang diri, bagaikan seekor badak.
  6. Bagaikan seekor singa yang tidak gemetar mendengar suara apapun, bagaikan angin yang tidak terjerat oleh lubang jala, bagaikan bunga teratai yang tidak ternoda oleh lumpur, ia mengembara seorang diri bagaikan seekor badak.
  7. Pada saat yang tepat mengembangkan perasaan cinta kasih, ketenangan, belas kasihan, ketidakterikatan, rasa simpati dan dengan tidak dihalangi oleh dunia, ia mengembara seorang diri bagaikan seekor badak.

Samyaksambodhi ialah penerangan yang paling agung, yang dapat diperoleh oleh seorang yang telah matang perkembangan batinnya, tidak terbatas rasa cinta kasih dan kasih sayang terhadap semua makhluk hingga pengetahuan menjadi sempurna. Seorang yang telah berhasil mencapai tingkat penerangan ini disebut Samyaksambuddha, yang berarti seorang yang telah mencapai penerangan sempurna berkat usahanya sendiri. Samyaksambuddha tidak hanya memahami Dharma dengan usaha dan kebijaksanaannya sendiri, tetapi ia juga mempunyai kemampuan untuk membabarkan Dharmanya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran untuk menyucikan dan menyelamatkan para makhluk dari perputaran roda kematian dan kelahiran yang sangat mengerikan ini. Agak berbeda dengan halnya pada Pratyeka Buddha, maka pada suatu waktu tertentu hanya ada satu Samyaksambuddha saja, seperti juga pada pohon-pohon tertentu yang hanya terdapat sekuntum bunga saja yang sedang mekar.

Orang-orang yang bercita-cita untuk mencapai tingkat Samyaksambuddha disebut Bodhisattva. Cita-cita Bodhisattva ini adalah cita-cita yang paling terindah dan murni dibandingkan dengan cita-cita apapun juga yang ada didunia ini atau mungkinkah ada cita-cita lain yang lebih mulia dari cita-cita untuk hidup suci (melayani semua makhluk), rela berkorban demi kebahagiaan semua makhluk?

Barangsiapa didalam pengembaraannya dilingkaran tumimbal lahir ini ingin melayani sesamanya dan bercita-cita mencapai kesempurnaan dengan menghayati Jalan Bodhisattva, seyogyanya berjuang dengan keras untuk mencapai tingkat Samyaksambuddha, dikarenakan cita-cita ingin berjuang untuk memperoleh tingkat Samyaksambuddha adalah cita-cita perjuangan yang terluhur demi kebahagiaan semua makhluk dan jalan inilah yang ditempuh oleh para Bodhisattva, sehingga para Bodhisattva lebih dikenal jasanya dari Arahat.

Kritik-kritik tentang perselisihan paham yang menyatakan bahwa cita-cita Bodhisattva berkembang sesudah parinirvananya Sakyamuni Buddha, lebih-lebih disebutkan sebagai menentang kecenderungan mengasingkan diri dalam menjalankan kehidupan suci, sesungguhnya hanyalah merendahkan nilai dari para Samyaksambuddha yang menyuluhkan Jalan Kesunyataan (Buddha Dharma) dan melaksanakan Jalan Bodhisattva.

Sakyamuni Buddha dalam kehidupanNya telah menganjurkan dan memberi fatwa kepada 60 siswa Arahat yang telah mencapai kesempurnaan (Sravaka Bodhi). Sang Buddha bersabda : "Aku telah terbebas dari semua ikatan, baik yang bersifat batin maupun yang bersifat jasmani, demikian pula kamu sekalian. Aku telah menyerangkan Kesunyataan Dharma kepada kalian. Kesunyataan Dharma akan memancarkan cahayanya apabila disebarluaskan. Wahai para Bhiksu, demi keberuntungan umat manusia, atas dasar cinta kasih terhadap para makhluk, demi kesejahteraan dan keselamatan dunia, pergilah kalian mengembara kesegenap arah. Janganlah ada diantara kalian yang pergi berdua ketempat yang sama. Ajarkanlah Dharma yang indah pada awal, indah pada pertengahan dan indah pada akhirnya. Ajaran suci yang benar-benar bersih dan sempurna dalam teori dan prakteknya. Manusia didunia ini masih banyak yang kedua matanya tertutup oleh debu kekotoran duniawi. Bila mereka tidak mendengar Kesunyataan Dharma, mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh manfaat yang besar dalam penghidupan ini dan membina diri untuk mencapai pembebasan sejati (Nirvana)."

Dari ayat tersebut, kita dapat menarik kesimpulan para Arahat pun dianjurkan oleh Sang Buddha untuk menjalankan Bodhisattvayana.

Seseorang yang telah mencapai tingkat Samyaksambodhi, sudah pasti memperoleh 2 (dua) kesempurnaan yaitu :

  1. Maha makmur, kekayaan sebagai manusiawi yang berlimpah-limpah dan sempurna. Misalnya : Bodhisattva Sidharta dilahirkan sebagai putera mahkota yang memiliki kesempurnaan sebagai manusia
  2. Maha Prajna, kesempurnaan pembebasan sejati yang memiliki maha tahu, maha mengerti dan tidak terikat lagi oleh kondisi duniawi.

Abhisamayalankara Sastra dalam bahasa Sansekerta merupakan uraian dari Prajna Paramita, diungkapkan sebagai berikut :

Para siswa (Sravakas) yang telah mencapai kedua jenis penerangan (Sravaka dan Pratyeka Buddha) baik dengan maupun tanpa sisa, pikirannya masih dicengkeram oleh rasa cemas disebabkan belas kasihannya dan kebijaksanaannya yang tinggi (Uru karuna Prajna Vaikalyana). Setelah berhentinya norma-norma kehidupan yang dihasilkan oleh gaya-gaya penghidupan sebelumnya, sesungguhnya pencapaian Nirvana adalah mungkin, tapi kenyataannya (bagi orang-orang suci Hinayana) hanya mencapai bayangan Nirvana saja yang disebut sebagai Nirvana yang menyerupai padamnya cahaya. Kelahirannya dalam ketiga jenis alam kehidupan berakhir, tapi setelah berakhirnya kehidupan keduniawian ini, para Arahat itu sesungguhnya dilahirkan kembali didalam lingkungan yang sangat murni, berprikehidupan yang tak ternoda (Anasravadhatu), dalam keadaan tenang yang abadi, penuh keseimbangan, tiada Dukha dan Sukha, tiada dualisme, dikarenakan tiada dualisme, maka disebut memperoleh ketenangan yang abadi. Akan tetapi jika tidak disertai perbuatan, maka tidak akan membawa manfaat (tidak berguna) bagi makhluk-makhluk lainnya oleh karena itulah, maka golongan Mahayana mengumpamakan golongan Hinayana sempurna tidak berguna. Nirvana, kosong belaka. Akan tetapi jika para Arahat yang tertidur dalam lautan Nirvana (Alam keseimbangan), bangkit perasaannya dikarenakan melihat penderitaan makhluk-makhluk didalam semesta, maka lahirlah mereka kealam semesta hanya dengan satu keinginan yaitu menolong semua makhluk-makhluk agar bebas dari penderitaan, kebodohan dan keterikatan dari inderawi. Arahat yang datang kembali itulah dapat disebut juga sebagai Bodhisattva.
Catatan : Pengertian datang keduniawi, bukan harus berarti tumimbal lahir dialam yang tiada kekal ini.

Bodhisattva dilahirkan kembali kealam semesta ini dikarenakan bangkitnya perasaan Maha Maitri Maha Karunanya dan atas kemauan sendiri. Berbeda dengan kita, tumimbal lahir lagi disebabkan karena perbuatan kita, dorongan karma buruk/akar keburukan yang lampau.

Dilihat oleh sementara orang, Bodhisattva dilahirkan lagi adalah penderitaan, masuk dalam hukum ketidakkekalan (Dukha, Anitya, Anata). Akan tetapi pada hakikinya tidaklah demikian, Bodhisattva dilahirkan kembali berdasarkan kemauan sendiri (dorongan cinta kasih dan kasih sayang), dan tahu akan manfaat kelahiran kembalinya itu, yaitu demi kebahagiaan sesamanya, untuk melaksanakan parami-parami. Oleh karena Bodhisattva dilahirkan atas kemauan sendiri, maka pada kelahiran-kelahiran Bodhisattva tersebut selalu diserta keajaiban-keajaiban misalnya keajaiban-keajaiban yang ditemukan pada diri Siddharta

Walaupun para Bodhisattva lahir kealam semesta ini dengan satu tujuan yang sama, yaitu demi menolong semua makhluk agar bebas dari penderitaan, bebas dari kebodohan dan keterikatan dari inderawi, tetapi para Bodhisattva itu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda sesuai dengan keadaannya. Oleh karena itu, maka para Bodhisattva dilahirkan dialam semesta dengan aneka macam perwujudan sesuai dengan keadaan dan kemampuannya itu pula, yaitu adanya Pra Bodhisattva dan Dasa Bhumika Bodhisattva.

Istilah Bodhisattva terdiri dari kata Bodhi yang berarti kebijaksanaan atau penerangan, dan sattva yang berarti bakti atau mempunyai maksud untuk menjadi Buddha. Jadi Bodhisattva berarti seseorang yang membaktikan dirinya pada kebijaksanaan (penerangan) atau seseorang yang berkeinginan untuk mencapai penerangan atau kebijaksanaan tertinggi. Sedangkan bentuk kata yang asli dalam bahasa Sansekerta seharusnya Bodhisakta, tetapi istilah yang populer ialah Bodhisattva, yang berarti makhluk bijaksana, makhluk yang bercita-cita menjadi Buddha, makhluk yang penuh kesadaran, cinta kasih dan kasih sayang. Istilah ini umumnya ditujukan pada seseorang yang sedang berjuang untuk mencapai penerangan, tapi dalam arti yang lebih tepat, istilah ini sesungguhnya harus ditujukan pada seorang yang sudah mencapai tingkat penerangan yang tinggi, Samyaksambuddha.

Dalam pengertian lain, semua orang dapat dikatakan mempunyai kemampuan untuk menjadi Buddha, sebab tingkat Kebudhaan bukanlah suatu keistimewaan yang khusus dianugerahkan pada seseorang raja.

Perlu dicatat bahwa Buddhisme tidak percaya akan adanya unsur keilahian dalam dirinya yang berasal dari Sang Pencipta, tetapi mereka yakin adanya Tuhan Yang Maha Esa dan menyadari sepenuhnya akan adanya bakat-bakat keajaiban dan kekuatan yang kreatif dari manusia (Jalan Ketuhanan).

Budhisme juga meniadakan pandangan tentang adanya jiwa yang kekal, yang dapat pindah dari kehidupan yang satu kehidupan yang lain, karena menurut Buddhisme yang ada ialah jiwa yang senantiasa berubah, intipati dari manusia yang merupakan arus kehidupan yang dinamis.

Sebagai manusia, Pangeran Siddharta dengan kemauannya sendiri, kebijaksanaan dan cinta kasihNya, telah berhasil mencapai tingkat Kebuddhaan, suatu keadaan yang paling sempurna yang bisa dicapai oleh semua makhluk dan kemudian Beliau telah membabarkan pula kepada umat manusia jalan satu-satunya untuk sampai kepada segala yang telah dicapai olehNya. Salah satu ciri khas dalam ajaran Buddhisme ialah setiap orang boleh bercita-cita untuk mencapai apa yang telah dicapai oleh gurunya dan bisa mencapai cita-citanya itu apabila ia sungguh-sungguh berjuang. Sang Buddha tidak pernah memonopoli tingkat Kebuddhaan, sebab sifat semacam ini tidaklah sesuai dengan perkembangan yang sesungguhnya terjadi. Semua orang bisa menjadi Buddha dengan usahanya dendiri tanpa bantuan siapapun juga.

Sang Buddha tidak pernah mengutuk bahwa manusia sejak mulanya telah dibekali dosa, tetapi sebaliknya Beliau mengemukakan bahwa pada mulanya hati manusia adalah murni.

Sang Buddha tidak menakut-nakuti dan menciptakan rasa rendah diri didalam hati para pengikutNya atau hanya menganjurkan mereka untuk memuja keluhuran Buddha untuk diri Beliau saja, bahkan sebaliknya Beliau justru menganjurkan dan memberi petunjuk jalan pada pengikutNya untuk mencapai apa yang telah dicapai oleh Beliau.

Seorang pra-Bodhisattva tidaklah perlu harus seorang yang beragama Buddha. Memang kita bisa menemukan Bodhisattva-Bodhisattva yang penuh dengan cinta kasih dikalangan penganut agama Buddha, walaupun mereka sendiri sesungguhnya belum sadar akan cita-cita yang mulia itu, namun disamping itu kitapun bisa menemukan pra-Bodhisattva yang sama pada pemeluk agama lainnya.

Catatan :
Tanpa adanya para Bodhisattva, tidak akan adanya para Buddha (Samyaksambuddha), tiadanya Samyaksambuddha sudah pasti tidak akan ada agama Buddha.
Seperti telah dikatakan oleh seorang penulis, Prof. Dr. D.T. Suzuki. Mahayana benar-benar berdiri pada dua kaki: Prajna dan Karuna, yang sangat idealis dan mencakup seluruh kasih sayang untuk semua makhluk, yang hidup dan juga yang mati."
Didalam Mahayana mencapai kebijaksanaan yaitu untuk mempelajari perasaan kasih demi orang lain (Bodhisattva). Apakah manfaatnya dalam mencapai penerangan sempurna untuk diri sendiri?, tanya Mahayana. Kalau bukan untuk menolong yang lainnya demi kebahagiaan semua makhluk. Penerangan Sempurna individual bukanlah cita-cita dari Mahayana.

Keterangan :

Maha Makmur
Diperoleh dengan melaksanakan Dana Paramita.

  1. Mengajarkan agar para makhluk-makhluk dari kebodohan, kesalahan, kegelapan, menasehati orang agar berbuat baik dan berguna bagi masyarakat.
  2. Mengorbankan harta benda sendiri, untuk orang yang membutuhkan
  3. Mengorbankan tenaga dan pikiran demi kebahagiaan orang lain.
  4. Memberi contoh-contoh yang baik dan mencegah orang berbuat jahat.
  5. Mengajarkan agar semua makhluk berbuat baik.

Maha Prajna diperoleh dengan melaksanakan Prajna Paramita :

  1. Banyak belajar, bergaul/berkumpul dengan para bijaksana
  2. Selalu mawas diri, dan setiap saat merenungkan sebab musabab dari segala sesuatu yang terjadi.
  3. Berusaha melakukan setiap perbuatan dengan penuh keseimbangan.
  4. Melihat perbuatan sendiri, dan merenungkannya.

Sebagai dasar permulaan, harus melaksanakan Brahma Vihara.
Maitri = Cinta Kasih
Karuna = Kasih Sayang
Mudita = Tenggang Rasa
Upekha = Penuh Keseimbangan

Para Bodhisattva selalu berpegangan pada Sad Paramita sebagai landasan dari perbuatannya.

Oleh : Bhiksu Dutavira Mahasthavira (Koordinator Dewan Sangha Walubi)

 



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.