Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 MAKNA UPACARA DALAM AGAMA BUDDHA


Upacara-upacara, baik yang bersifat keagamaan, kemasyarakatan maupun kenegaraan, sebenarnya adalah suatu cetusan hati nurani manusia terhadap suatu keadaan. Dengan sendirinya bentuk-bentuk upacara itu disesuaikan dengan keadaan, jaman, alam, suasana, selera dan cara berpikir si pembuatnya atau pelaksana.

Oleh karena itu upacara sebagai salah satu bentuk kebudayaan dapat kita selenggarakan sesuai dengan tradisi dan perkembangan jaman di Indonesia dengan mengingat bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang dinamis, selalu mengikuti perkembangan. Kebudayaan di jaman Borobudur dan Majapahit belum tentu dapat kita terapkan pada dewasa ini. Tetapi pola-pola kebudayaan masa itu dapat merupakan inspirasi bagi tumbuhnya kebudayaan Indonesia baru.

Jelaslah kiranya bahwa Dhamma, sebagai Ajaran Universal, tidak perlu mengalami perubahan maupun tambahan-tambahan, sedangkan manifestasi dari pemujaan kita pada Tiratana yang dijelmakan dalam bentuk upacara dan cara kebaktian sepantasnya disesuaikan dengan kebudayaan di tanah air kita.

Dhamma adalah cara untuk melatih pikiran, ucapan dan perbuatan. Dari ketiganya (pikiran, ucapan dan perbuatan), Sang Buddha berkali-kali menekankan bahwa pikiran merupakan awal dari segalanya, Pikiran mendahului ucapan dan perbuatan. Ini dapat dilihat dalam Kitab Dhammapada ayat 2 yang berbunyi: "Segala keadaan adalah hasil dari apa yang kita pikirkan, berdasarkan atas pikiran kita dan dibentuk oleh pikiran kita. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni (suci) maka kebahagiaan akan mengikutinya, seperti bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan dirinya."

Pikiran yang terkendali akan mudah diarahkan dan membawa kebahagiaan. Tetapi, pikiran itu halus dan licin, tidak tampak, karenanya amat sukar diikuti dan sukar dikendalikan. Ucapan dan perbuatan lebih mudah diikuti dan dikendalikan. Karenanya mengendalikan ucapan dan perbuatan harus menjadi langkah pertama dan langkah yang sebaik-baiknya untuk mengendalikan pikiran. Bagi orang yang ucapan dan perbuatannya terkendali, pikiran-pikiran jahat tidak akan mendapat kesempatan untuk dilakukan dan akhirnya padam.

Pikiran itu seperti dalam guci berlubang yang apinya menjilat-jilat keluar melalui lubang-lubang itu. Api yang keluar dilubang-lubang guci bersumber dari api yang di dalam. Untuk melenyapkan api yang keluar dari lubang, api yang didalam harus dipadamkan. Tetapi memadamkan api didalam guci sangat sulit. Maka langkah yang sebaik-baiknya ialah menutup semua lubang-lubang guci, dengan sendirinya api yang didalam guci akan padam.

Demikian pula halnya dengan ucapan dan perbuatan yang terkendali, api kejahatan yang ada dalam pikiran akan padam dan pikiran itu sendiri menjadi terkendali.

Dari bermacam-macam cara untuk mengendalikan ucapan dan perbuatan, maka membuat kebiasaan-kebiasaan baik, merupakan cara yang mudah dan terpuji.

Salah satu diantara kebiasaan-kebiasaan yang mudah dan terpuji itu adalah melakukan upacara. Disini akan diuraikan :
a) Makna dibalik upacara
b) Melakukan upacara yang benar.
c) Sikap dalam upacara

A) MAKNA DI BALIK UPACARA

Dari bermacam-macam upacara yang dilakukan oleh umat Buddha dengan corak ragam yang berlain-lainan, bila diteliti mempunyai makna yang sama. Sesuatu yang disebut upacara keagamaan akan diterima oleh umat untuk dilaksanakan dengan penuh keikhlasan dan sekaligus menjadi kebutuhan hidup batinnya. Karena itu upacara akan menjadi salah satu kebiasaan hidupnya, yang sering dilakukannya.

Dalam semua bentuk upacara agama Buddha, sebenarnya terkandung prinsip-prinsip :
- Menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Sang Tiratana.
- Memperkuat keyakinan (Saddha) dengan tekad adhitthana
- Membina "Empat Kediaman Yang Luhur" (Brahma Vihara)
- Mengulang dan merenungkan kembali kotbah-kotbah Sang Buddha Gotama
- Melakukan Anumodana, yaitu membagi perbuatan baik kita kepada makhluk lain.

Upacara yang mengandung lima prinsip tersebut diatas telah dijadikan kebiasaan dan sering dilakukan, dari bentuknya sederhana sampai yang rumit; dengan demikian akan membawa makin seringnya upacara yang menuju kepada kebajikan, seperti :
- Pikiran-pikiran negatif akan terkendali.
- Pikiran-pikiran baik tumbuh berkembang.

Secara terperinci manfaat yang langsung didapat dari upacara, dapat disebutkan sebagai berikut :

Saddha

:

Keyakinan dan bakti akan tumbuh berkembang.

Brahmavihara

:

Empat kediaman yang luhur akan berkembang.

Samvara

:

Indera akan terkendali

Santutthi

:

Puas

Santi

:

Damai

Sukha

:

Bahagia

Untuk dapat memiliki manfaat yang sebesar-besarnya maka kita harus melakukan upacara yang benar, sesuai dengan makna yang terkandung dalam upacara itu.

B) MELAKUKAN UPACARA YANG BENAR

-

Mengerti akan makna upacara seperti yang diuraikan diatas.

-

Upacara adalah semata-mata memupuk sifat-sifat baik masing-masing individu seperti diuraikan diatas, dan bukan karena peraturan yang mengikat. Karena itu setiap melakukan upacara, seseorang harus benar-benar sadar akan apa yang dilakukan dan bukan karena tradisi yang mengikat, yang tidak akan membawa kita pada pembebasan (Silabbata paramasa samyojjana).

C) SIKAP DALAM UPACARA

Karena upacara merupakan suatu manifestasi dari keyakinan dan kebaktian, maka sikap yang patut diperhatikan oleh setiap umat dalam melakukan upacara itu adalah :

- Sikap menghormat dengan cara : 

 

a) Anjali

:

Merangkapkan kedua tangan dan menempatkan didahi dengan menundukkan kepala. Dalam membaca Paritta kedua tangan ditempatkan didepan dada (ulu hati) 

 

b) Namaskara

:

- Membuat Pancana-Patittha bersujud dengan lima titik, yaitu dua siku, dua 
  lutut dan dahi menyentuh lantai pada saat yang bersamaan.
- Mengawali dengan Namakara-gatha (kalimat penghormatan awal pada Sang  
  Tiratana): Araham Samma Sambuddho Bhagava .........

 

c) Padakkhina

:

Dengan tangan bersikap anjali didepan dada, tanpa alas kaki, berjalan mengelilingi Cetiya atau Candi sebanyak tiga kali putaran, yang letaknya harus disebelah kanan kita. 

- Membaca Paritta   

 

a) Dilakukan secara khidmat dan penuh perhatian

 

b) Sedapat mungkin dipahami arti dari paritta-paritta yang dibaca.

 - Bersamadhi (Meditasi) : (Khusus tentang sikap)

 

a) Rileks, duduk bersila (bersilang kaki) dan tumpuan kedua tangan dipangkuan

 

b) Membuat pikiran kita pada sifat-sifat luhur Sang Tiratana dan Brahma Vihara.

Oleh : Pandita Abhayahema K. (Ketua Umum DPP Wanita Walubi)

 

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.