Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  HATI NURANI YANG KAYA BERLIMPAH


Hati Nurani yang Kaya Berlimpah (1)
Memiliki Segalanya, Segalanya Ada Dalam Diri

Emanasi Roh Tuhan yang tiada tara - Hati Nurani yang Kaya Berlimpah - ada di dalam diriku. Inilah Aku Sejati yang merupakan Ratna Mustika Watak Diri, Bunda dari laksa Buddha, Guru dari laksa kitab dan sutra, Raja dari laksa dharma, Akar pokok langit, bumi, dan laksa makhluk. Ia merupakan citra dari jasa dan kebajikan yang tiada tara, kearifan yang tiada batas, kekuatan yang tak tertandingi, dharma gaib yang teragung. Semua yang tak terbatas ini tidak dapat diungkapkan melalui kata-kata semata.

Seluruh penduduk dunia yang memadati bumi ini - tanpa membedakan negara, suku, warna kulit, kepercayaan, dan sebagainya - memiliki Ratna Mustika Watak Diri yang tak ternilai, yaitu Hati Nurani. Tidak memandang kaya atau miskin, bijaksana atau bodoh, cantik atau jelek, pria atau wanita, anak kecil atau orang dewasa, di dalam diri sesungguhnya kita semua sama-sama memiliki Sang akar pokok dari langit, bumi, dan laksa makhluk. Apa yang membedakan antara Para Buddha dan Orang Suci dengan manusia awam? Buddha dan Orang Suci menyadari keberadaan mustika tak ternilai yang ada di dalam dirinya. Dengan demikian mereka senantiasa memanifestasikan kemuliaan mustika ini dalam setiap ucap kata, tingkah laku, dan perbuatannya. Sehingga Mereka senantiasa berdedikasi, berkorban, dan mempersembahkan seluruh hidupnya demi umat manusia. Sedangkan manusia awam tidak menyadari keberadaan Hati Nurani yang Kaya Berlimpah - mustika sejati yang ada di dalam diri. Karena itu mereka senantiasa mencari mustika dan harta ke luar diri. Manusia terus menganggap bahwa tiada mustika yang lebih berharga selain harta kekayaan, reputasi, dan segala kemewahan hidup.

Karena tidak menyadari keberadaan Ratna Mustika Watak Diri dalam dirinya, manusia senantiasa berlomba-lomba mencari mustika yang ada di luar diri. Kekayaan, kedudukan, kekuasaan, pengetahuan yang tinggi, adalah mustika yang sangat dibanggakan. Siapa yang memiliki pengetahuan yang luas, IQ yang super, kedudukan yang tinggi, dan penampilan yang mewah, mereka semua merasa dirinya hebat, luar biasa, sehingga akhirnya bersikap bangga dan sombong. Inilah kesesatan manusia saat ini, selalu mencari ke luar diri dan mengagung-agungkan kehebatan dari segala sesuatu yang berwujud. Manusia telah lupa akan Ratna Mustika Watak Diri - Hati Nurani yang Kaya Berlimpah - yang ada dalam diri setiap insan. Jika kita telah sadar bahwa setiap orang memiliki Ratna Mustika Watak Diri yang sama, termasuk saya, anda, dan dia, adakah yang patut disombongkan? Adakah yang perlu dibesar-besarkan?

* * *

Nafsu manusia bagaikan jurang yang tiada batas, yang selamanya takkan pernah dapat terpuaskan.

Para ilmuwan menganggap bahwa hasil ciptaannya adalah harta yang tak ternilai. Para sastrawan menganggap sastra yang mereka tulis sebagai harta yang tak ternilai. Bagi kaum muda, asmara adalah harta yang tiada tandingannya. Bagi seorang pemabuk, arak adalah segala-galanya. Bagi penjudi, berjudi adalah aktivitas yang terpenting dalam hidupnya. Singkat kata, ukuran harta, mustika, atau makna hidup, adalah berbeda-beda pada setiap orang.

Demikianlah, setiap manusia terus mengisi seluruh hidupnya dengan keinginan yang tiada batas. Mengejar dan terus mengejar, mencari dan terus mencari. Angan terus berkelana, mengarungi lautan khayal yang tak bertepi. Segala cara dilakukan demi memenuhi keserakahan yang tak berujung. Tanpa henti, setiap manusia berusaha mencicipi segala janji keindahan dunia.

Adalah sebuah Kebenaran, bahwa mustika di luar diri bukanlah mustika yang sejati. Segala mustika di luar diri masih berada di dalam siklus perubahan: datang dan pergi, tercipta dan musnah. Di dunia ini, tak ada kedudukan yang dapat bertahan selamanya. Tak ada kecantikan yang abadi. Tak ada kenikmatan yang tak pernah berakhir. Tak ada harta kekayaan yang menjadi milik kita selamanya. Cepat atau lambat, ataupun ketika nafas akan terputus, maka segala sebab jodoh ini harus diakhiri. Saat itu kita tidak memiliki pilihan. Siap atau tidak, rela atau tidak, semua tetap harus kita tinggalkan. Tiada seorangpun yang mampu mengelak dari hukum kefanaan ini.

Inilah Kebenaran yang telah dilupakan oleh manusia. Kita terlalu sibuk untuk mengejar dan mewujudkan segala mimpi, sehingga lupa akan kenyataan yang sesungguhnya. Sadarlah bahwa manusia tengah berada di dalam lingkaran kesesatan. Kita terus mengejar segala sesuatu yang ternyata pada akhirnya tetap harus direlakan. Kita berusaha mendapatkan apa yang pada akhirnya harus dilepaskan. Sampai kapankah segala pencarian yang meletihkan ini akan berakhir?

Nafsu keinginan manusia adalah bagaikan jurang tanpa dasar. Selama sifat serakah masih menguasai diri kita, maka sampai kapanpun diri ini takkan rela berhenti mencari pemuasan. Dan sesungguhnya, tak ada keserakahan yang dapat terpuaskan! Inilah lingkaran setan yang membelenggu hati manusia. Di satu waktu keinginan kita terpenuhi, tapi sesaat kemudian nafsu keinginan yang baru akan segera muncul. Maka, walaupun seumur hidup ini kita berusaha, ada saja keinginan yang masih belum terpenuhi. Lebih jauh lagi, demi memenuhi nafsu keinginan yang tak pernah habis ini, manusia terus berputar di dalam penderitaan: gelisah, kecewa, emosi, persaingan, hingga pertikaian dengan sesama. Akhirnya terjatuhlah kita ke dalam lautan penderitaan, terbius dalam kesesatan selama lebih dari 60.000 tahun.

Kini di dalam kebesaran rahmat kasihNya yang tiada tara, Tuhan menurunkan sebuah Jalan keselamatan bagi kita yang telah tersesat. Di dalam Kuasa FirmanNya, Shecun dan Shemu - Guru Agung Nurani - datang ke dunia untuk mentransmisikan Inisiasi Sejati. Melalui satu petunjuk suci, kita disadarkan bahwa Hati Nurani yang Kaya Berlimpah - Ratna Mustika Watak Diri yang tak ternilai, yang tak akan pernah hancur dan musnah - ada di dalam diri kita semua.

Tanpa perlu berpikir 1001 cara untuk mendapatkannya, tanpa perlu menghabiskan seluruh waktu untuk mencari ke luar diri, kini mustika yang sejati bisa kita temukan. Hentikanlah segala pencarian ke luar diri yang sangat meletihkan, karena semua itu sia-sia adanya. Inilah saatnya untuk berpaling ke dalam diri. Di dalam kebesaran kasih dan kuasaNya, kini kita sadari bahwa mustika yang tiada tara ada di dalam diriku. Dialah Hati Nuraniku.

Sebagai seorang yang telah mendapatkan Ketuhanan, terlebih sebagai siswa yang tengah membina dan mengamalkan Ketuhanan, sudah seharusnya kita menyadari Kebenaran ini. Di dalam hukum kefanaan dunia, segala harta dan mustika yang ada di luar diri, suatu saat pasti akan sirna. Semua yang ada di sekitar kita, semua benda yang ada di alam semesta ini, suatu saat akan mengalami kemusnahan. Jadi sebenarnya apalah yang perlu kita pertengkarkan dan perebutkan? Haruskah segala bentuk perebutan, persaingan, perselisihan, pertengkaran, hingga peperangan, terus mewarnai kehidupan ini?

* * *

Transmisi Sejati Kedua Guru Agung menyadarkan manusia akan Kebenaran Tertinggi, bahwa Hati Nurani yang Kaya Berlimpah ada di dalam diri.

Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa Bunda dari laksa Buddha ada dalam diriku.

Laksa Buddha, Bodhisatva, dan Dewa-Dewi, semuanya berasal dari LAOMU - Sang Bunda Semesta. Semua adalah anak-anak LAOMU dan merupakan wujud emanasi LAOMU. Marilah Senantiasa berintrospeksi - menilik ke dalam diri. Hayati dan insafi bahwa sesungguhnya watak Buddhata ada di dalam diriku. Bunda dari laksa Buddha dan Bodhisatva ada dalam diriku, sehingga tak perlu lagi mencari-cari Buddha di luar diri. Namun tentu saja dalam konteks ini bukan berarti kita tak perlu lagi berbakti puja kepada Tuhan dan para Buddha-Bodhisatva.

Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa Mahaguru dari semua kitab dan sutra ada dalam diriku.

Sesungguhnya semua kitab dan sutra dari semua ajaran di dunia lahir dari Hati Nurani. Sebelum Orang-orang Suci lahir ke dunia, apakah ada segala kitab suci dan sutra? Tidak! Setelah Mereka lahir, barulah ada kitab suci dan sutra. Karena sesungguhnya kitab-kitab tersebut lahir dari Watak Sejati dan pribadi agung Orang-orang Suci tersebut. Setiap kalimat yang terangkum di dalam kitab suci adalah mutiara yang bergulir dari Hati Nurani Mereka. Kini asalkan kita mau menginsafi dan memanifestasikan Watak Buddhata - Hati Nurani yang ada dalam diri, maka kita juga dapat menguraikan segala Hukum Kebenaran ini, karena pada dasarnya kita memiliki Hati Nurani yang sama dengan yang Mereka miliki.

Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa Maharaja dari laksa dharma ada dalam diriku.

Segala dharma dan ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini, baik ilmu kedokteran, ilmu filsafat, ilmu kimia, anatomi, ataupun ilmu fisika dan yang lainnya, semua berasal dari Sang Raja Dharma yang ada dalam diriku. Semua penemu segala teori pada ilmu pengetahuan dan dharma mempunyai Emanasi Roh Tuhan - Hati Nurani - yang sama dengan diriku. Hati Nurani yang Kaya Berlimpah adalah Maharaja dari laksa Dharma, karena darinyalah lahir segala bentuk dharma dan berbagai ilmu pengetahuan.

Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa Akar pokok langit dan bumi, sumber asali laksa makhluk dan benda, ada dalam diriku.

LAOMU adalah Sang Pencipta dan Penguasa Semesta Raya. Dan Emanasi Roh Tuhan jugalah yang menjadi pengendali dan penguasa atas diriku. Emanasi Roh Tuhan yang ada dalam diriku adalah bagian dari Samudera Roh LAOMU yang tiada tara. Maka antara Sang Akar pokok Semesta Raya, dengan Emanasi Roh Tuhan yang ada di dalam diriku adalah sama, adalah satu kesatuan. Dengan demikian Akar pokok langit dan bumi, sumber asali laksa makhluk dan benda, ada dalam diriku. Bahkan laksaan ribu tingkatan alam sekalipun tidak melampaui diriku ini.

Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa lautan jasa pahala yang tiada batas ada dalam diriku.

LAOMU yang tiada tara ada dalam diriku. LAOMU adalah sumber segala kebajikan dengan jasa pahala yang tiada batas. Ini berarti dengan sendirinya diriku juga telah memiliki lautan jasa pahala yang tiada batas ini. Orang awam selalu menghitung-hitung, berapa besar poin jasa pahala yang telah ia kumpulkan. Kalaulah demikian berarti kita masih berpandangan bahwa jasa pahala itu kita dapatkan dari luar diri. Ini berarti kita tidak menyadari kebajikan dan jasa pahala yang ada dalam diri. Dengan demikian kita telah mengabaikan LAOMU yang ada di dalam diri kita.

Selama puluhan tahun dalam Wadah Ketuhanan, banyak di antara kita yang memiliki pola pandang bahwa seumur hidup membina dan mengamalkan Ketuhanan, menyelamatkan umat manusia, mewakili Tuhan membabarkan Kebenaran, melaksanakan triamal, berkorban, dan berdedikasi, semuanya adalah demi menambah jasa pahala. Kita sama sekali tidak menyadari bahwa sesungguhnya lautan jasa pahala sudah ada di dalam diri kita.

Orang yang telah sadar akan Nuraninya, melakukan semua itu semata karena panggilan Hati Nurani, untuk menunaikan kewajiban Nurani. Seumur hidup kita berjuang hingga mengorbankan tetesan keringat, air mata, dan darah, ini semua hanya demi menjawab panggilan Nurani semata. Jika tidak melaksanakannya, maka di dalam kesadaran Nurani, hati merasa tak damai. Maka, makna beramal yang sesungguhnya adalah menyirami umat manusia dengan air yang bersumber dari lautan jasa pahala di dalam diri. Inilah yang dinamakan jasa pahala kebajikan sejati. Inilah manifestasi berkuasanya Emanasi Roh Tuhan di dalam diri.

Lautan kebajikan dan jasa pahala yang ada di dalam diri ini tidak akan habis digunakan. Selama hayat masih di kandung badan, selama kita masih hidup, kita harus senantiasa menjawab panggilan Nurani ini. Semua itu kita tuangkan dengan senantiasa memancarkan cinta kasih sehingga membawakan keselamatan, serta mendatangkan kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan kepada orang lain. Dalam segala perjuangan penyelamatan umat manusia dan pembabaran Hukum Kebenaran Tuhan, di dalam hati tidak berpamrih, tidak menuntut balas jasa, bahkan tidak menuntut pengakuan dari orang lain. Semua ini dilakukan semata untuk menjawab panggilan Hati Nurani. Betapa indahnya! Semakin peduli akan panggilan Hati Nurani, maka pribadi Tuhan, cinta kasih Buddha Maitreya, dan kebajikan Dwiguru Agung akan semakin nampak di dalam diri kita. Dari Kebenaran ini kita dapatkan, bahwa membina Ketuhanan sebenarnya bukanlah sesuatu yang terlalu rumit. Membina Ketuhanan adalah perjuangan agar di dalam kesadaran Nurani, hati ini senantiasa damai, bahagia, dan tiada penyesalan. Semua ini hanya dapat dijawab dengan menjalankan kewajiban Nurani.

Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa cinta kasih yang tak berpamrih ada dalam diriku.

Hati Nurani adalah sumber segala kebijaksanan dan cinta kasih. Satu Inisiasi Sejati dari Guru Agung Nurani telah membuka jalan bagi kita untuk terbebas dari kesesatan laksaan masa. Jika Hati Nurani yang Kaya Berlimpah telah menjadi penguasa diri, maka di dalam segenap prilaku, kita akan memancarkan kebijaksanaan yang tiada batas, serta cinta kasih yang tak berpamrih.

Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa perwujudan gaib yang tiada batas telah ada dalam diriku.

LAOMU yang tiada tara telah ada dalam diriku, sehingga perwujudan gaib dengan sendirinya telah kumiliki. Perwujudan gaib berarti tidak terikat pada apapun, menyesuaikan diri sesuai dengan keadaan. Para Buddha-Bodhisatva terlahir pada setiap masa dengan wujud dan kondisi yang berbeda, sesuai dengan situasi, sebab jodoh, dan akar pembinaan umat manusia pada saat itu, agar dapat menggugah dan membangkitkan Hati Nurani mereka.

Dalam membina Ketuhanan, kita juga bisa menampilkan perwujudan gaib dalam diri kita, sesuai dengan situasi dan kondisi. Kalau kita senantiasa mengamalkannya, dengan penyesuaian diri ini akhirnya kita senantiasa menjalin sebab jodoh yang luas. Dengan demikian kita dapat menembus hati mereka, membantu umat manusia yang memiliki beragam karakter untuk mengenal pribadi Tuhan.

Bersambung ...

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.