|
Itulah yang dimaksud dengan 'tak terkatakan' bagi ajaran-ajaran Esoteris Buddhis. Bukan berarti 'tidak boleh dikatakan', karena tujuan dan landasannya adalah 'Kebenaran Sejati' (Embodiment truth). Pada saatnya kita telah menemukan Kebenaran Sejati, maka tidak ada lagi yang tak dapat dikatakan. Tidak ada sesuatu yang harus dan dapat dirahasiakan di dunia ini. Misalnya dalam salah satu adegan sebuah film produk Amerika, disana digambarkan 'Rahasia-rahasia' yang berseliweran beterbangan di angkasa luas. 'Rahasia-rahasia' itu dipindahkan dari satu negara ke negara lain dengan diterbangkan melalui angkasa dan dilindungi dengan sebuah 'kode chiper'. Bagi siapa saja, negara mana saja, asalkan memiliki keunggulan teknlogi utuk memecah 'kode chiper' yang melindungi 'rahasia-rahasia yang beterbangan di atas angkasa negaranya, maka ia akan sanggup mencegat dan menguak isi 'rahasia-rahasia' tersebut. Dan ia menjadi pemilik 'rahasia-rahasia' itu. Analog dengan itu, maka dari titik pandangan untuk 'menemukan jalan Dharma', tidak mengungkapkannya rahasia-rahasia yang terkandung dalam ajaran Esoteris Buddhis adalah agar kita semua dapat menemukan sendiri dan menguak sendiri rahasia-rahasia dalam Esoteris Buddhis itu. Semua itu berlandaskan pada prinsip Maitri Karuna, berlandaskan pada prinsip 'Kebenaran Sejati' (embodiment truth).
Lantas, bagi seorang sadhaka yang sedang melaksanakan Dharma, apa sebenarnya makna 'Esoteris'/rahasia itu dalam pengertian Dharma? Tersedia 84.000 cara untuk membimbing kita 'menemukan Dharma', apa yang dapat dirahasiakan? Setelah kita menemukan Dharma, maka mulailah proses kita melaksanakan Dharma itu, dan jalannya hanyalah satu yaitu melaksanakan dan melatih Dharma Tantrayana. Siapapun diri anda, apapun dasar karma dan jodoh yang telah anda miliki, juga tak perduli aliran mana yang anda anut, tetapi sebagai seorang sadhaka, begitu anda menemukan Dharma, maka segeralah anda wajib untuk melatih dan melaksanakannya. Apa yang harus dilatih dan apa yang harus dilaksanakan? Yang harus dilatih adalah 'hati' kita sendiri, agar 'hati nurani' kita yang pling murni dapat ditambpilkan keluar. Titik beratnya terletak pada bagaimana kita melatih ke dalam diri kita sendiri, maka apa yang terjadi pada perubahan-perubahan dalam diri kita setelah dan ketika melatih itu hanyalah para Buddha dan Boddhisattva dan diri kita sendiri yang mengetahuinya, oleh karena itu maka dikatakan 'Esoteris'. Inilah apa yang dikatakan oleh Sakyamuni Buddha ketika menjawab pertanyaan salah seorang muridnya dahulu.
Dalam proses perjalanan dari seorang Pratekya Buddha menuju ke-Buddha-an, yang terjadi adalah upaya-upaya untuk terus-menerus melatih ke dalam diri sendiri, dan seluruhnya berada dalam kondisi batin menuju penerangan, dan segala apa yang terjadipun berlangsung secara diam-diam tanpa menampakkan diri keluar. Maka pelaksanaan dan latihan Dharma dalam agama Buddha adalah bertujuan mengikis kilesa untuk mencapai Bodhi, memutus rantai tumimbal lahir untuk mencapai Nirvana, mengikis Trividha-dvara (karma-karma buruk yang timbul dari ucapan, perbuatan dan pikiran) untuk mencapai suatu kondisi yang bebas dari segala kekotoran bathin yang disebabkan oleh ucapan, perbuatan dan pikiran, mengubah Avidya menjadi Prajna mengendalikan 6 macam indera untuk mencapai Sadabhijna/6 kekuatan iddhi, merubah lobha, dosa dan moha menjadi sila, samadhi dan prajna untuk selanjutnya mencapai Vajra Tathagata Bodhisattva. Semua proses-proses itu berlangsung didalam diri sendiri, tanpa orang lain yang mengetahuinya. Dan semua kemajuan-kemajuan itu sama sekali mengandalkan ketekunan diri kita sendiri dalam melatih dan melaksanakan Dharma.
Seorang Sadhaka yang sejati selalu melatih dan melaksanakan Dharma secara diam-diam, mempersembahkan seluruh hidupnya untuk melaksanakan Dharma, oleh karena itu tidak ada lagi waktu baginya untuk bersombong-sombongan memamerkan kemampuan dan kemajuan yang telah dicapainya. Hanyalah mereka yang masih dibelenggu oleh kebodohan dan ketidaktahuan yang selalu memfitnah seorang pelaksana Dharma Sejati. Dengan berbuat demikian mereka tidak hanya telah mengganggu orang lain, tetapi juga telah menciptakan aral rintang bagi dirinya sendiri untuk menemukan jalan menuju Dharma. Seorang sadhaka tantrayana selalu berdiam diri dalam melatih dan melaksanakan Dharma. Pertama-tama ia mengikis seluruh karma-karma buruknya, seiring dengan semakin meningkatnya kondisi bathin, maka tingkatan yang dicapainya pun semakin meninggi, bahkan ia memiliki kemampuan untuk memutar balik urutan karmanya sendiri. Begitu banyak para sadhaka di dunia ini (termasuk anda dan juga saya sendiri) yang selalu secara diam-diam melatih dan melaksanakan Dharma untuk meraih keberhasilan mencapai kemajuan bathin, dan semua itu mendapat bantuan dan bimbingan dari para Buddha dan Bodhisattva, namun para Buddha dan Bodhisattva tidak pernah mengaku-ngaku ataupun mengklaim jasa yang telah diberikan kepada umat manusia. Dan memang sebagian pernah dijelaskan oleh Maha Guru semua kemajuan-kemajuan itu adalah hasil dari ketekunan kita sendiri dalam melatih dan melaksanakan Dharma. Oleh karena itu maka melatih dan melaksanakan Dharma secara diam-diam adalah suatu proses internal dalam bathin kita, maka proses itu pula disebut sebagai 'Esoteris'/rahasia.
Mulai dari menemukan jalan Dharma untuk mencapai tingkat Sravaka Buddha sampai dengan melatih Dharma untuk mencapai tingkat Pratekya Buddha dilanjutkan dengan melaksanakan Dharma untuk mencapai tingkat Srotapana, semua yang dilakukan oleh para Sadha tak lain tak bukan adalah untuk menyelamatkan para makhluk hidup/pudgala. Ketika kita sendiri sudah berhasil mengikis seluruh karma buruk kita, dan telah mencapai Yoga/Yukta yang memiliki kemampuan untuk mendatangkan para arya untuk bersatu dalam diri kita, maka pada saat itu, melalui bantuan kekuatan para Arya itu, kita dapat membantu para makhluk hidup untuk mencapai pembebasan diri, sehingga mereka semua dapat mengikis kilesa dan mencapai Boddhi, merubah Avidya menjadi Prajna. Pada saat seorang sadhaka sedang melaksanakan Bodhisattva-sila, yaitu berusaha membantu para makhluk hidup mencapai pembebasan, maka semua yang dilakukannya itu bukanlah untuk mencari balas budi dikemudian hari. Semua yang mereka lakukan juga dapat dilakukan oleh manusia awam pada umumnya.
Seorang Sadhaka harus selalu berusaha mencari relasi dan berkawan dimana-mana, tidak mengharapkan balas budi dalam bentuk apapun setelah melakukan perbuatan baik. Bahkan tangan kanan sendiri tidak perlu tahu perbuatan baik apa yang telah/pernah dilakukan oleh tangan kanan sendiri. Lupakanlah semua itu, begitu setelah kita lakukan. Maka melaksanakan Dharma dalam upaya untuk mencapai tingkat Srotapana juga adalah sebuah proses yang bersifat Esoteris. Kecuali bila pada saat karmanya telah matang, disaat kita harus memberi bantuan kepada umat manusia dan makhluk hidup yang lebih banyak lagi, maka pada saat itulah kepada khalayak umum harus diumumkan. Bila tidak, selamanya tidak akan ada seorang pun yang dapat mengetahuinya.*
Sumber : Bulanan CENFO Indonesia NO:18, SEPT 2002
|