Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  MAKNA 'ESOTERIS' DALAM ALIRAN ESOTERIS (3)
Oleh : Acharya Lian Hai


Kembali mengenai Mantra dalam aliran esoteris. Sebuah mantra dalam aliran esoteris mengandung makna keseluruhan yang menyangkut semuanya, yaitu sebagai 'Pusat Penjapaan'. Sakyamuni Buddha pernah mengatakan, bahwa setiap pelaksanaan Dharma yang telah mencapai tingkatan Bodhisattva, walaupun ia masih hidup didunia ini, maka mantra dari Cakra Hati mereka (seperti Mantra Amitabha Buddha; Avalokitesvara Bodhisattva; Lian Sheng Huofo dll) memiliki kekuatan adhistana yang dapat memberikan pertolongan bagi umat manusia untuk bebas dari ancaman malapetaka, membantu dalam usaha pembebasan makhluk hidup dari penderitaannya dll.

Sebuah mantra adalah sebuah Pusat Penjapaan, dan oleh karena Mantra itu tidak dapat dikatakan, maka ia pun bersifat esoteris yang hanya dapat dirasakan dan dihayati oleh masing-masing orang ketika melaksanakannya. Dalam setiap upacara Dharma selalu ada penjapaan mantranya, maka persembahan-persembahan seperti beras dan lain-lain yang telah diberikan adhistana juga akan memberi manfaat kepada burung-burung yang kebetulan memakannya. Pada kesempatan selanjutnya, ketika jodoh dan karmanya telah masak, maka burung itupun akan mencapai pembebasan untuk menuju ke-Buddha-an. Inilah makna dari kata 'esoteris' dalam sebuah mantra.

Begitu pula sebuah panji bertuliskan 'Om Mani Padme Hum' yang berkibar-kibar dihempas angin, hempasan angin yang mengenai setiap orang dan setiap makhluk itu juga akan memberikan manfaat bagi yang terkena hempasan angin itu, dan pada kesempatannya selanjutnya, bila karma baik telah berbuah merekapun akan mencapai ke-Buddha-an. Demikian pula halnya dengan kertas-kertas bertuliskan mantra serta Thangka yang telah lama digantungkan dalam vihara-vihara, bila abu serta debu yang menempel diatasnya tertiup angin dan jatuh di atas tubuh orang yang kebetulan lewat dibawahnya, maka orang itu pun akan mendapat adhistana yang membawanya mencapai ke-Buddhaan kelak pada saat karmanya sudah berbuah. Siapapun diri kita, apapun mantra yang pertama kali kita japakan, asal saja itu dilakukan dengan tekun, lama-kelamaan dengan sendirinya segala macam karma buruk kita akan terhapus olehnya, dan berkah serta kebahagiaan akan datang pada diri kita dengan terkabulkan segala permintaan dan keinginan kita. Semua itu adalah berkah dari kekuatan mantra yang tekun dijapakan selama ini, makna dan nilai yang terkandung di dalammnya tidak dapt dijelaskan dengan kata-kata, dan justru karena itulah maka mantra dikatakan bersifat 'esoteris/rahasia' yang hanya dapat dirasakan dan dihayati oleh yang bersangkutan sendiri. Rajin dan tekunlah melatih dan melaksanakan Dharma setiap hari, lama kelamaan segala karma buruk kita pasti akan terkikis. Sebaliknya bila kita tidak pernah mau perduli dan tidak pernah melatih dan melaksanakannya, maka mantra itu tetap tinggal sebagai sebuah rahasia yang esoteris bagi kita.

Begitu juga dengan jalan menuju ke-Buddha-an, adalah sesuatu yang tak dapat diketahui sebelum dilaksanakan. Hanya mereka yang sudah menemukan jalan Dharma yang dapat mengetahuinya, dilanjutkan dengan usaha-usaha yang tekun untuk melatih dan melaksanakan jalan Dharma untuk mencapai tingkatan Prateka Buddha sampai akhirnya mencapai tujuan akhir Dharma yakni tingkat ke-Buddha-an. Sebuah ungkapan dapat menggambarkan tingkatan-tingkatan pengetahuan tersebut, 'mereka yang dibumi bahwa tidak akan dapat mengerti apa yang terjadi pada bumi atas'. Misalnya bagi mereka yang telah berhasil mencapai tingkatan Bodhisattva tahap pertama, tidak mungkin dapat mengetahui dan memahami apa yang ada pada tingkat Bodhisattva tahap kedua dan segala isinya, kecuali bila mereka juga telah berhasil mencapai tingkat Bodhisattva tanpa kedua itu. (terhadap 10 tingkat ke-Bodhisattva-an/yang merupakan jalan untuk menuju penerangan sempurna). Mantra yang dikeluarkan dengan Brahman Pathaka dari pusat hati seorang Tathagatagarbha disebut sebagai pusat penjapaan samadhi. Tujuan akhir kita melatih dan melaksanakan Dharma adalah untuk mencapai Samadhi, dan bila waktunya gelombang suara kita sudah sama dengan gelombang suara sang Tathagata maka kita pun akan dapat masuk kedalam pusat sang Tathagata, dan dalam kondisi seperti itu berarti kita telah mencapai Jhana.

Paramata Satya adalah sesuatu yang tak dilahirkan dan tak lenyap. Karena sifatnya yang tak dilahirkan dan tak lenyap itu, maka Mantra yang memberi bantuan pada seluruh makhluk hidup juga bersifat tak dilahirkan dan tak lenyap, karena pada hakekatnya tiada sesuatupun yang akan didapatkannya. Karena prinsipnya yang tidak akan memperoleh sesuatu apapun, maka ia menjadi 'Tidak kotor pun tidak bersih', karena 'Tidak kotor pun tidak bersih' maka ia menjadi 'Tidak melaksanakan apa-apa dan tidak mencapai apa-apa', karena 'tidak melaksanakan apa-apa dan tidak mencapai apa-apa' maka ia menjadi tidak membeda-bedakan antara 'menerima dan memberi' yang sifatnya adalah 'keadilan yang hakiki dan sekaligus mengatasi dualisme'. Dengan sifatnya yang telah mengatasi dualisme itu, maka ia pun telah mengatasi dan membebaskan diri dari lingkaran sebab akibat karma dan mencapai prinsip sakralitas tertinggi. Dan terakhir mencapai Dharmadhatu. Dengan satu kebulatan tekad dan prinsp pandangan seperti ini, kita akan dapat memasuki alam Samadhi, sebuah alam untuk memperoleh penerangan sempurna.*

Sumber :
Bulanan CENFO Indonesia
NO:19, OKT 2002

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.