Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  SEPATAH KATA RINGAN, SEGUNUNG KARMA BERAT


Kata-kata beruntai merajut karma menjalin dosa
Mulut merapat membisu bak kayu berukir arca
Bualan ahli nujum berwaris petaka pada sang putra
Berkenala sang petapa jauh tinggalkan ayahanda

Pada kehidupannya yang lampau Yang Arya Sakyamuni pernah dilahirkan sebagai seorang pangeran dari negeri Varanasi dengan nama Mupo. Seketika dilahirkan, Yang Arya sudah mengetahui nasib dan jalan hidupnya sendiri sampai berkalpa-kalpa. Segala macam kejadian baik yang baik maupun yang buruk sudah dapat diramalkan olehnya. Semua itu seolah-olah terjadi didepan matanya. Oleh karena itu, sejak semula beliau sudah menghindari segala macam perbuatan jahat, dan menjadi seorang yang sangat pendiam.

Ketika menginjak usia 13 tahun, tiba-tiba terjadi perubahan yang dahsyat pada pribadi pangeran kecil ini, selain tidak banyak bicara dia menjadi lebih senang berdiam diri bagaikan patung tak berperasaan yang bisu, tuli dan buta. Tingkah-laku pengeran menjadi sangat aneh, ia tidak pernah mengatakan lapar ataupun dingin walaupun tiap hari mendapat sandang pangan yang cukup, dan ia juga tidak pernah menunjukkan ciri seorang yang mampu melhat walaupun kedua matanya lengkap. Dari seorang anak yang tadinya sangat cerdas dan lincah, kini pangeran berubah menjadi sebuah patung tak berperasaan yang lebih banyak berdiam diri. Raja sangat khawatir dengan kondisi pangeran yang sangat disayangi oleh segenap rakyat diseluruh negeri yang merupakan anak semata wayangnya itu, maka dikumpulkanlah para cerdik pandai kaum Brahmana dari seluruh negeri untuk menolong putranya itu. Seorang ahli ramal membual di hadapan Raja dengan mengatakan: 'Sang pangeran memang berwajah tampan, namun dibalik ketampanan itu tersimpan berjuta petaka yang segera akan mencelakakan orang tua, dan juga mengancam keselamatan negara. Bagida tak pernah lagi peroleh seorang putra pewaris tahta kerajaan karena terhalang oleh pangeran pembawa petaka ini. Enyahkanlah dia, kuburlah dia hidup-hidup agar negara dapat diselamatkan dari mala petaka, dan bagaimanapun akan memperoleh seorang putera mahkota lagi. Bila tidak segala bencana akan segera mengancam keselamatan baginda dan seluruh negeri'.

Terpengaruh oleh bualan si ahli nujum culas, sang raja menjadi risau bukan kepalang, dikumpulkannya para alim ulama seluruh negeri merundingkan nasib pangeran sial pembawa petaka ini. Kemana ia mau dienyahkan? Dibuang ke rimba belantara atau ditenggelamkan kedasar laut? Seorang pejabat negara memberi usul, bangunlah sebuah bunker di luar istana di tengah hutan belantara, kurunglah pangeran didalam sana dengan dijaga para dayang yang melayani kebutuhan hidupnya setiap hari. Rupanya inilah jalan keluar dari pikiran buntu sang baginda, sebagai ayah tentu tak sampai hati ia membinasakan putera sendiri. Iba dan kasihan melihat kedunguan para alim ulama di istana, namun sang pangeran tetap membisu seribu bahasa. Bermuram durja. Permaisuri, istri Sri Baginda, bunda kandung pangeran merasa terpukul oleh keputusan Sri Baginda yang dungu nan keji itu, tak berdaya ia berkeluh kesah. Dikemasi satu persatu kebutuhan sehari-hari sang pangeran, dimasukkan olehnya pakaian, permata dan berlian kedalam kantong. Dan dipilih olehnya sendiri para dayang pendamping pangeran dalam bunker.

Selagi istana bunker belum selesai dibangun, sang pangeran tenggelam dalam perenungan: 'Aku membisu untuk menghindari kata-kata fitnahan keji kini mencelakakan diriku. Ayah-bunda termakan hasut, menyangka aku anak bisu putera pandir. Terus berdiam dan membisu seribu bahasa, terus bertambah korban pemfitnahan.' Maka bergegas sang pangeran membasuh diri menghias tubuh, lalu keluar dalam dandanan dengan seluruh atribut kebesarannya sebagai seorang pangeran. Tempat istana bunker yang sedang dibuat didatanginya, dan para pekerja ditanyai demikian :
'Untuk apa bunker ini dibuat?',
'Untuk mengurung pangeran, putra sri Baginda yang tuli, bisu dan dungu dalam usia 13 tahun.' daulat para pekerja.
'Aku inilah pangeran itu.' Kata pangeran.
Terkejut, bingung dan tak percaya, diteliti, diamati dan diawasi tingkah laku, ucapan serta sikap sang pangeran luar dalam, atas bawah dan depan belakang. Normal luar dalam dan juga wajar atas bawah selayaknya manusia waras.
Takala dirinya sedang dipelajari oleh para pekerja, berkatalah sang pangeran:
'Cukup sudah kalian pelototi diriku, adakah tanda-tanda pada diriku sebagaimana yang diramalkan bahwa dibalik wajahku ini tersimpan berjuta petaka, yang segera akan mencelakakan orang tua dan juga mengancam keselamatan negara? Adakah itu? Mengapa kalian percaya pada ramalan pembual dungu itu.?'

Mula-mula terkejut, lalu bingung dan terheran-heran pula para pekerja bunker melihat dan mendengar tingkah laku dan ucapan pangeran, dan setelah itu barulah serentak mereka bersujud mohon maaf dan sekaligus minta ampun. Tapi ringan saja jawab pangeran: 'Kalian hanya pelaksana, tak ada hukum apapun yang dapat dikenakan pada kalian.' Seraya berkata demikian, pangeran berbalik dan memberi pesan pada para dayang yang menyertainya: 'Aku ini pangeran terbuang, tak lagi aku mau balik ke istana.' Bagaikan kilat yang dihantar anak panah para dayang itu bergegas kembali ke istana, menghadap sri baginda dan melaporkan hal ichwal kepergian sang pangeran. Setelah mengetahui puteranya meninggalkan istana, sang raja beserta Permaisuri ibu Kandung pangeran segera menyusul dengan memacu saldonya ke istana bunker. Di sana sang pangeran sedang merenung: 'Kini lepaslah aku dari segala belenggu keistanaan. Dan kini pulalah waktunya yang baik untuk menekuni jalan kebenaran untuk mencapai pembebasan total.'

Tak terlalu lama setelah itu, datanglah rombongan Raja beserta istri. Dari kejauhan telah nampak oleh Raja, puteranya dalam keadaan normal luar-dalam serta juga wajar atas-bawah seperti yang dilihat para pekerja bunker. Alangkah senang hati sri Baginda, getaran kebahagiaan dan kegembiraan memenuhi seluruh saraf dan sukmanya, dihampiri olehnya sang pangeran, lalu dirayu dan dibujuk agar mau kembali ke istana kerajaan.

Termundur-mundur saking kagetnya pangeran mendengar daulat dari ayahanda, lalu ia pun bersujud sambil beranjali dan keluarlah kata-kata dari mulutnya: 'Sejak dilahirkan sampai hari ini selama 13 tahun, segala ingatan tentang kejadian masa lampau tak pernah satupun lepas dari memori ananda. Semua itu seakan baru saja terjadi didepan mata ananda. Nyatalah, segala sengsara derita makhluk hidup adalah disebabkan dan dimulai oleh kata-kata yang diucapkannya. Kata-kata beruntai kalimat merajut karma dan menjalin dosa. Sepatah kata ringan akan berakibat segunung karma berat. Aku telah jera dengan segala derita dan sengsara dalam neraka, maka sejak dilahirkan kembali didunia ini aku selalu membatasi dan menjaga agar tidak terlalu banyak kata-kata yang keluar dari mulutku. Tujuanku adalah agar dapat terputus dari sumber penderitaan yang disebabkan dari kata-kata yang salah diucapkan.' Pangeran meneruskan: 'Pada kehidupan yang lalu, aku pernah dilahirkan sebagai seorang raja bernama Xunian, ketika itu aku menjalankan pemerintahan dengan mengetengahkan supremasi hukum dan memperlakukan rakyatku dengan penuh welas asih. Tak jarang gerakan membantu para fakir miskin aku gerakkan diseluruh negeri, dan ini membuat banyak raja dari negeri-negeri kecil disekeliling negeriku menaruh rasa hormat yang tinggi pada diriku. Sewaktu para raja dari negeri kecil itu datang bertamu ke istanaku, aku menjamu mereka dengan segala kemewahan, makanan lezat dan anggur aku sediakan untuk mereka. Tetapi untuk itu terpaksa kambing dan sapi harus disembelih untuk hidangan. Ketika hal ini dimintakan persetujuan padaku yang waktu itu berperan sebagai raja Xunian, spontan saja aku menjawab: 'baiklah!'. Jadilah aku terperangkap dalam dosa dan karma buruk akibat penyembelihan sapi dan kambing itu, setelah kematianku, aku harus merasakan sengsara dan derita dalam neraka untuk menebus dosa dan karma burukku itu selama enam puluh ribu tahun lebih. Inilah karma yang harus kutanggung akibat satu patah kata yang salah ku ucapkan ketika itu. Untuk mencegah jangan terulang lagi pengalaman yang sama, dan juga untuk memutuskan hubungan dengan segala bentuk penderitaan, pada kehidupan yang sekarang ini aku telah berketetapan hati dan bertekad untuk mempelajari Buddha Dharma sebagai seorang biarawan.'

Sang Raja menyadari kebulatan tekad pangeran putra kesayangannya itu, maka dengan keberatan hati Sri Baginda merestui pilihan sang Pangeran untuk menjadi biaarawan. Setelah menekuni ajaran-ajaran Buddha Dharma, akhirnya sang pangeran pun berhasil mencapai tujuannya, yakni jalan ke-Buddha-an menuju tingkat pencerahan sempurna.

Cerita di atas memperingati kita, bahwa kata-kata yang secara tidak sengaja disalahucapkan dapat berakibat fatal bagi kita. Dalam kehidupan sehari-hari, hal-hal seperti itu hendaknya menjadi perhatian kita bersama. Janganlah mencoba-coba memecah belah persatuan Sangha, atau mengadu-domba antar sesama anggota Sangha, akibat dari perbuatan itu adalah sangat berat. Dan lebih berat dari apa yang dialami sang pangeran dalam contoh cerita diatas. Maka berhati-hatilah menjaga mulut, jangan sembrono mengumbar kata-kata yang dapat berakibat fatal.*

Sumber :
Bulanan CENFO Indonesia
NO:18, SEPT 2002

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.