|
Bersukacita Atas Segalanya, Selalu Bersukacita
Shecun-Shemu - Guru Agung Nurani - telah datang dalam Kuasa Firman Tuhan untuk mentransmisikan Inisiasi Sejati. Satu Petunjuk Suci mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Indah ada di dalam diriku. Jika Hati Nurani yang Paling Indah telah menjadi pengendali atas raga ini, maka diri ini akan senantiasa bersukacita atas segalanya, selalu bersukacita.
Di seluruh semesta raya, Hati Nurani adalah yang paling indah. Tiada sesuatu apapun yang melebihi keindahan Hati Nurani - Emanasi Roh Tuhan di dalam diri. Dengan membiarkan Hati Nurani yang Paling Indah menjadi pengendali badan raga yang tidak sempurna ini, barulah kita bisa memancarkan pribadi yang mulia, keindahan kebajikan, keindahan Emanasi Roh Tuhan. Saat itu, melalui badan raga yang fana dan serba terbatas ini, terpancarlah pribadi agung yang bernilai Ilahi, sempurna, dan abadi. Inilah perkakas Tuhan yang sejati! Inilah keindahan Hati Nurani yang tak tertandingi!
Shecun Shemu - Guru Agung Nurani - mengemban titah Tuhan untuk mentransmisikan Keindahan Hati Nurani, keindahan kebajikan yang kekal abadi.
Cara pandang seseorang terhadap suatu keindahan sangatlah bervariasi. Orang yang senang akan pangkat dan reputasi, akan menganggap pangkat dan reputasi sebagai hal yang paling indah. Orang yang tergila-gila akan harta kekayaan, akan memandang bahwa harta kekayaanlah yang terindah. Orang yang suka melihat kecantikan, menganggap kecantikan sebagai segala-galanya.
Tak henti-hentinya manusia mencari keindahan di luar diri. Pernahkah kita bertanya, sampai kapan keindahan-keindahan semacam ini dapat bertahan memuaskan diri kita? Sadarkah kita bahwa segala keindahan yang ada di luar diri itu tidak kekal dan dapat berubah?
Marilah kita insafi, bahwa segala bentuk kondisi di luar diri bersifat fana dan semu, karena semua itu berada di dalam perputaran sebab jodoh timbul dan musnah. Selama ini kebijaksanaan kita telah tertutupi oleh kabut kesesatan, sehingga kita menganggap reputasi, harta kekayaan, kecantikan, dan segala wujud luar diri sebagai yang utama. Bahkan kita selalu membanggakannya, seakan semua itu dapat kita miliki selamanya.
Kini di dalam Kuasa Firman Tuhan, Shecun dan Shemu - Guru Agung Nurani - datang mentransmisikan Inisiasi Sejati. Satu petunjuk suci mengungkapkan bahwa keindahan yang sejati - cahaya kebajikan yang kekal abadi - ada di dalam diriku. Dialah Hati Nuraniku! Dialah Emanasi Roh Tuhan yang eksis di dalam diri kita.
Di dunia ini, hanya keindahan Hati Nurani yang kekal abadi. Sedangkan keindahan badan raga tidaklah kekal adanya, karena dapat berubah di dalam perputaran waktu. Dalam hal ini, salah satu contoh nyata yang dapat kita jumpai adalah orang yang selalu resah memikirkan kecantikan. Demi memperindah paras wajah, banyak diantara mereka yang akhirnya mejalani operasi plastik. Seusai operasi, mulailah sebuah sebab jodoh baru - ia tampil lebih cantik. Dengan 'wajah barunya', kini ia bahagia dan tampil percaya diri. Namun bagaimana setelah sebab jodoh ini berakhir? Dengan kata lain, di saat usia semakin lanjut, ketika kecantikannya semakin memudar, akankah ia tetap bahagia dan membanggakan wajahnya?
Sadarilah bahwa kecantikan yang sesungguhnya itu berasal dari Hati Nurani, bukan pada keindahan tubuh jasmani, harta, kedudukan, kemampuan, nama, reputasi, dan intelek, yang dapat berakhir. Hanya dengan realisasi Hati Nurani paling indah, hanya dengan memiliki pribadi yang mulia, umat manusia baru akan benar-benar menyukai dan menghormati kita. Semua penghormatan ini bersifat kekal karena bersumber dari keindahan Nurani yang kekal abadi. Lihatlah penghormatan yang diberikan umat manusia kepada para Buddha-Bodhisatva, Nabi, dan Orang Suci, walaupun Mereka telah pergi selama ribuan tahun, umat manusia tetap mengenangnya. Inilah kecantikan yang sejati.
Seorang pembina senior yang berkebajikan, saat semakin tua justru akan semakin disenangi dan didekati umatnya. Contohnya adalah Hao Che Ta Ti, Bunda Theresa, dan pemimpin-pemimpin di setiap religi, yang umumnya telah berusia lanjut. Penampilan mereka dalam kehidupan sehari-hari sangatlah wajar dan sederhana. Bahkan dari segi fisik, mungkin mereka lemah dan sakit-sakitan. Tetapi justru di usia senjanya mereka menjadi sangat menarik perhatian, bahkan semakin membangkitkan kesadaran umat-umatnya. Mengapa demikian? Fenomena seperti ini terjadi karena keindahan pribadi yang terus mereka tempa sepanjang hidup. Inilah yang biasa kita sebut sebagai kebajikan sejati. Inilah kecantikan yang abadi. Jika kita mampu memanifestasikan Hati Nurani yang Paling Indah, dengan sendirinya semasa hidup orang akan menghormati, dan setelah meninggal dunia orang akan mengenang diri kita.
Sebagai seorang pembina Ketuhanan, jika niat dan prilaku kita sehari-hari senantiasa sesuai dengan Hati Nurani - Kebenaran Tuhan di dalam diri, maka saat itu juga kita memancarkan keindahan kebajikan, terang cahaya Hati Nurani. Pancaran kebajikan ini akan membuat orang di sekitar senang mendekati kita, bahkan mereka berharap bisa mendapatkan nasehat dari kita. Semua ini bukan karena unsur luar seperti penampilan, kehebatan, atau posisi kita, tetapi karena kemuliaan pribadi - keindahan Hati Nurani yang kita pancarkan. Sekarang tinggal bagaimana kita berjuang menghancurkan segala bentuk kemelekatan dan kesesatan, demi mewujudkan keindahan Hati Nurani. Inilah yang dimaksud dengan pembinaan diri. Inilah perjuangan dasar bagi setiap siswa Ketuhanan.
Dari sini kita dapatkan, bahwa sesungguhnya kita semua juga dapat menjadi pembina yang memiliki keindahan dan kecantikan Ilahi yang kekal abadi, apabila kita mau membiarkan Hati Nurani yang Paling Indah mengendalikan raga ini. Hanya Hati Nurani yang Paling Indah yang dapat membuat umat manusia benar-benar tergugah dan senang bersama dengan kita. Sebaliknya, jika dalam kehidupan ini kita hanya mengandalkan keindahan jasmaniah saja seperti kekayaan, jabatan, kecantikan, dan lainnya, kelak setelah tua dan meninggal nanti orang akan cepat melupakan kita. Mengandalkan sesuatu yang palsu untuk menggugah umat manusia adalah sebuah kekeliruan, karena ini tak akan bertahan lama.
* * *
Kedua Guru Agung dengan Kuasa Firman Tuhan menyadarkan kita, bahwa jika kita senantiasa berpedoman pada Hati Nurani yang Paling Indah, maka segala yang dirasakan oleh keenam indra pun akan menjadi indah.
Jika Hati Nurani yang Paling Indah telah berkuasa di dalam diri, secara wajar kita akan bersukacita atas segalanya, selalu bersukacita. Karena di dalam kesadaran Hati Nurani yang Paling Indah, apa yang dirasakan melalui keenam indra ini: mata, telinga, hidung, mulut, jasmani, dan pikiran, semua terasa sangat indah. Seorang yang telah menjadikan Hati Nurani sebagai pengendali dirinya, walau telinga mendengar cemohan, fitnahan, kritikan, dan semua kata-kata yang menyakitkan, namun hati akan tetap tenang dan bahagia. Tak ada marah dan benci di dalam kamus indah kehidupannya.
Laksaan dharma muncul dan musnah hanya dalam satu niat. Saat suasana hati kita baik, suasana di sekeliling kita juga nampak indah dan membahagiakan. Saat itu biarpun ada anak kecil berlari kesana-kemari, berteriak sesuka hati, kita tidak akan marah karena jiwa kita dipenuhi kebahagiaan. Kita akan menganggap bahwa memang sudah sewajarnya anak kecil berperilaku demikian. Bahkan jika pada saat itu kita diejek, dicemooh, ataupun dimarah, kita tetap merasa bahagia. Keadaan tidak mengurangi kebahagiaan yang kita rasakan, karena suasana hati kita sedang ceria.
Namun sebaliknya jika suasana hati kita sedang tak baik, saat melihat anak kecil yang berlari kesana-kemari, berteriak-teriak sesuka hati, maka dengan mudah bangkitlah amarah di dalam diri. Jika ada teman di sekeliling kita yang sedang bergurau, kita akan mudah merasa tersinggung dan sakit hati. Semua canda mereka kita anggap sebagai suatu keseriusan. Demikianlah, betapa besar peranan dan pengaruh niat-niat bagi suasana hati di dalam diri kita.
Jika Hati Nurani yang Paling Indah telah berkuasa pada raga ini, maka suasana hati kita akan senantiasa damai. Saat menghadapi manusia, masalah, dan benda yang tak sempurna, semua itu tetap akan terlihat indah. Walau menghadapi pedih dan getirnya kehidupan, hati tetap memiliki rasa syukur dan kesalehan yang mendalam. Sebaliknya, jika Hati Nurani yang Paling Indah tidak menjadi penguasa atas raga ini, tak mungkin kita bisa menghargai dan menyayangi segala benda, manusia, dan masalah di sekitar kita. Tak mungkin kita mampu menerima segala kenyataan yang terjadi. Hanya dengan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai pengendali raga ini, barulah kita benar-benar dapat merasakan keindahan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita.
* * *
Di dalam Titah Tuhan, Shecun dan Shemu - Guru Agung Nurani - mentransmisikan Inisiasi Sejati, mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Indah ada dalam diriku. Inilah hati yang lugu-polos, laksana hati seorang bayi.
Seorang yang menjadikan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai penguasa diri, saat melihat sekuntum bunga kecil, bunga itu pun akan tampak begitu indah mempesona. Saat mendengar suara gemericik air mengalir, serasa mendengar alunan musik surgawi yang sangat merdu. Saat memandang langit, tampak hamparan awan bergantung di langit biru, seketika mendamaikan jiwa. Begitu indah dan penuh keagungan! Sungguh luar biasa menakjubkan! Semua yang dilihat, didengar, dan dirasakan akan terasa indah dan menyenangkan, bila Hati Nurani yang Paling Indah menjadi penguasa diri. Hati Nurani yang Paling Indah sungguh bagaikan hati seorang bayi - hati yang lugu-polos, tak ternoda.
Pada dasarnya setiap orang telah memiliki Hati Nurani yang Paling Indah, yang lugu dan polos. Namun seiring bertambahnya usia, umumnya kita semakin terpengaruh dan terikat pada segala wujud duniawi. Secara tak sadar kita pun semakin jauh dan akhirnya melupakan roman hati asal kita yang semula, yang lugu dan polos seperti hati bayi itu. Oleh karenanya, proses membina dan mengamalkan Ketuhanan adalah bagaimana kita berjuang untuk kembali ke hati bayi yang lugu dan polos ini, agar dapat senantiasa berbahagia dan bersukacita.
* * *
Bagi seorang yang berpedoman pada Hati Nurani yang Paling Indah, setiap masalah yang datang segera diselesaikan. Saat masalah berlalu, hati tenang kembali seperti tak terjadi apa-apa.
Seorang anak kecil akan menangis tersedu-sedu saat dipukul orang tuanya. Namun tak lama kemudian, ia sudah bermain kembali seperti biasa, bahkan ia pun sudah bisa meminta makan lagi kepada orang tuanya. Dalam jarak waktu yang singkat, ia sudah melupakan kejadian sebelumnya yang menyakitkan hatinya. Memang saat dipukul terasa sakit, namun setelah berlalu, ia tak akan menyimpan benci ataupun dendam kepada orang tuanya. Inilah manifestasi Hati Nurani yang Paling Indah, hati lugu-polos yang ada di dalam diri kita.
Saat ada yang mengkritik dan mencaci maki, saat menghadapi masalah yang tak menyenangkan, tentu kita akan merasa sedih. Tetapi jika Hati Nurani yang Paling Indah menjadi pengendali atas diri, maka rasa sedih itu hanya akan berlangsung sesaat saja. Setelah lima menit berlalu, hati sudah tenang kembali dan melupakannya tanpa bekas.
Marilah kita berjuang membina diri, berpaling ke dalam Hati Nurani yang Paling Indah di dalam diri. Saat menghadapi masalah, kita latih diri ini untuk menampilkan hati anak kecil yang lugu-polos, Hati Nurani yang Paling Indah. Jika Hati Nurani yang Paling Indah telah menjadi penguasa di dalam diri, saat itu kita tidak akan tahu bagaimana harus memendam segala kejadian yang menyakitkan di dalam hati, karena hati ini telah terbebas dari segala konsep benci dan dendam.
* * *
Jika Hati Nurani yang Paling Indah telah menjadi pengendali atas diri, di manapun kita berada, di situlah Nirwana.
Hati Nurani pada dasarnya adalah suci dan polos. Sama seperti seorang anak kecil yang selalu senang bila menemui segala sesuatu. Semua yang dilihatnya tampak menarik, semua yang didengar terasa unik, semua yang dimakan terasa lezat. Jadi, seorang yang telah merealisasikan Hati Nurani yang Paling Indah, di manapun berada, ia akan senantiasa bergembira seakan berada di Nirwana. Di mana kaki berpijak, di sanalah Nirwana. Inilah kebahagiaan yang mutlak - abadi, kebahagiaan yang melampaui segala kondisi.
Saat Hati Nurani yang Paling Indah tidak menjadi penguasa dalam diri ini, barulah timbul segala bentuk dualitas: nirwana - neraka, kerajaan Buddha - lautan derita, sadar - sesat, Ilahi - duniawi, dan sebagainya. Semua konsep dualisme ini timbul dari hati yang senantiasa berdiskriminasi.
Sebuah kenyataan menyedihkan yang menimpa diri setiap manusia adalah seiring bertambahnya usia, pengetahuan, dan berbagai faktor eksternal, hati pun semakin tercemar dan tersesat oleh pelbagai kenikmatan dan kemudahan yang ada. Padahal seharusnya seiring bertambahnya usia, Hati Nurani yang suci polos ini semakin berpancar. Dengan demikian Hati Nurani yang Paling Indah barulah dapat semakin terealisasi sempurna dalam kehidupan ini.
Bersambung ...
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|