|
Jika Hati Nurani yang Paling Indah menjadi pengendali diri, semakin tua justru diri ini menjadi semakin cantik.
Seorang pembina yang senantiasa berpikir dan bertindak sesuai Hati Nurani tidak akan takut akan usia tua. Semua ini karena seiring bertambahnya usia, kebajikannya juga semakin nampak. Hati Nuraninya semakin berpancar, sehingga orang semakin senang mendekatinya. Sesungguhnya tidak perlu merasa takut dengan bertambahnya umur. Yang ditakutkan adalah diri ini tidak berkebajikan, karena seumur hidup enggan memanifestasikan Hati Nurani yang Paling Indah. Jika kita mempunyai kebajikan tinggi karena senantiasa merealisasikan Hati Nurani yang Paling Indah, maka seiring bertambahnya umur, kita pun akan menjadi semakin mulia. Seorang pembina Ketuhanan sejati - dengan sangat wajar dan alami - semakin tua akan semakin cantik.
Apakah hanya orang tua saja yang mampu memanifestasikan keindahan Hati Nurani? Apakah seorang anak muda yang berusia 20 tahun mempunyai keindahan Hati Nurani? Sesungguhnya ada, namun masih labil dalam merealisasikannya. Bagaimana pada usia 30 tahun? Ia telah memiliki sedikit perkembangan. Bagaimana saat usia 40 tahun? Ini lebih indah dari sebelumnya. Saat menginjak usia 50 tahun? Tentunya lebih indah lagi dari sebelumnya. Bagaimana dengan usia 60 tahun? Sudah kelihatan cahaya keindahannya. Saat usia 70 tahun? Keindahannya sempurna terealisasikan. Pada usia 80 tahun? Luar biasa indah! Keindahan dan kecantikannya tertampak dari ujung kaki sampai ujung rambut. Sembilan puluh tahun? Tiada kata yang mampu melukiskan keindahannya! Demikianlah jika sepanjang hidup kita senantiasa berjuang memanifestasikan keindahan Hati Nurani.
Jadi, janganlah khawatir dengan usia tua. Juga tak perlu khawatir karena diri kurang cantik atau kurang menarik. Janganlah menghabiskan energi dan waktu hanya untuk memikirkan hal-hal sepele seperti itu. Yang paling penting adalah setiap saat dapat merealisasikan Hati Nurani yang Paling Indah dalam kehidupan sehari-hari. Hanya kecantikan dan keindahan Hati Nuranilah yang mampu mempesona seluruh umat manusia, walau wajah keriput dan tubuh pun telah membungkuk.
Seorang yang memiliki Hati Nurani paling indah akan senantiasa memancarkan wajah kasih, hati kasih, dan perilaku kasih. Setiap saat senantiasa membawa kebahagiaan, memberikan harapan, kepercayaan, dan dorongan semangat kepada orang lain. Di sinilah letak keluhuran seseorang yang telah merealisasikan Hati Nurani yang Paling Indah di dalam dirinya. Sama seperti Buddha Maitreya yang senantiasa memancarkan kebahagiaan dari dalam dirinya, sehingga Beliau dapat membawakan kebahagiaan kepada semua makhluk, bahkan sampai ke dasa dharma loka - sepuluh alam kehidupan.
* * *
Sederhana itu Indah.
Jalan pikiran seorang anak kecil sangat sederhana sehingga tidak ada rasa dendam, iri, ataupun benci. Hidupnya sungguh leluasa, tak mengenal muslihat dan segala pertikaian. Walaupun dimarah dan dipukul oleh orang tuanya, mereka hanya menangis sebentar, lalu kembali ceria dan gembira seperti sediakala. Hati yang senantiasa bebas hambatan inilah yang membuat mereka dapat senantiasa berbahagia. Tidak seperti orang dewasa yang selalu menyimpan sesuatu dalam hati, hingga akhirnya diri penuh dengan beban dan belenggu keterikatan.
Dalam segenap hidupnya, Buddha Maitreya senantiasa memanifestasikan pribadi luhur 'Mahakasih - Lugu-Polos', yang merupakan realisasi sempurna dari Hati Nurani yang Paling Indah. Saat dipukul Beliau tak melawan, dan saat dimarah pun Beliau tak membalas. Sehingga saat berjumpa dengan berbagai karakter pribadi umat manusia berikut permasalahannya yang beraneka ragam, hati Beliau tetap dipenuhi keceriaan.
Seorang yang senantiasa berbahagia biasanya memiliki jalan pikiran yang sederhana. Jika jalan pikiran kita rumit dan terlalu banyak pertimbangan, penuh dengan keterikatan dan kemelekatan pada pandangan yang egois, akan mudah sekali timbul perdebatan dan perselisihan. Banyak orang menjadi serakah dan penuh diskriminasi, karena jalan pikiran yang terlalu pintar melebihi Nurani. Jadi, dalam membina Ketuhanan milikilah jalan pikiran yang sederhana. Sederhana di sini bukan berarti bodoh - tak tahu apa-apa, melainkan sederhana karena arif bijaksana. Ini baru sejalan dengan Nurani, agar dalam membina dapat merasa semakin bahagia dan gembira, seperti Sang Buddha Maitreya.
* * *
Realisasi Hati Nurani yang Paling Indah terdapat pada pribadi agung Buddha Maitreya - Mahakasih -Lugu-Polos.
Sang Buddha Maitreya atas Titah Tuhan memimpin Wadah Ketuhanan Semesta, mengemban Misi Penyatusempurnaan Universal. Dengan pribadi khas Mahakasih - Lugu-Polos, Beliau melaksanakan misi penyelamatan semua makhluk tri-lokya. Hanya dengan pribadi agung yang satu ini, barulah dapat menyelamatkan umat manusia pada zaman sekarang ini.
Zaman sekarang adalah zaman yang penuh dengan persaingan, sehingga manusia berusaha untuk saling menjatuhkan. Setiap orang menunjukkan kehebatan masing-masing, bersaing untuk menjadi lebih hebat daripada yang lain. Di masa ini, walaupun kita mempunyai kemampuan, harta, kekayaan, reputasi, popularitas, kekuasaan, dan intelek tinggi sekalipun, masih saja ada orang yang tak menyukai kita. Walaupun kita adalah seorang presiden atau raja sekalipun, ada saja orang yang berusaha menjatuhkan kita. Walaupun segala macam cara sudah diusahakan, namun tetap saja selalu ada orang yang memusuhi, membenci, tidak bisa menerima, atau bahkan berusaha menyingkirkan kita. Inilah fenomena dunia sekarang yang penuh dengan pergolakan dan persaingan. Setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi nomor satu.
Demikian pula bila kita memiliki paras yang cantik, ada saja orang yang iri kepada kita. Tetapi bila tidak berparas cantik pun, tetap saja ada yang benci kepada kita. Betapa tragis dan menyedihkan kondisi zaman sekarang ini. Biarpun kita adalah orang baik, tetap saja ada yang tak menyukai kita. Dan terlebih bila pribadi kita tidak baik, lebih banyak lagi orang yang memusuhi kita. Jika kita mempunyai kemampuan yang luar biasa di dalam bertugas dan bekerja, ada saja orang yang tidak menyukai dan iri kepada kita. Bahkan dari belakang mereka berusaha menyingkirkan kita. Memang demikianlah, watak dan tabiat manusia pada masa sekarang ini. Keras kepala, tidak mau kalah, dan dalam hati selalu memikirkan berbagai cara dan muslihat untuk mengalahkan orang lain.
Buddha Maitreya hadir ditengah-tengah umat manusia untuk mengajarkan kepada kita cara menghadapi manusia zaman sekarang, yaitu dengan pribadi Mahakasih - Lugu-Polos. Hanya dengan pribadi Mahakasih - Lugu-Polos, barulah tidak akan menarik perhatian orang lain, tidak akan memancing rasa cemburu orang lain, tidak memancing pertengkaran dengan orang lain, dan tidak membuat orang lain benci kepada kita. Inilah Dharma Hati Ajita, prilaku tak tertandingi yang senantiasa dipraktekkan oleh Buddha Maireya - Mahakasih - Lugu-Polos.
* * *
Mahakasih Lugu-Polos berarti dipukul tak melawan, dimarah tak membalas, rendah hati, sabar, tahan derita dan nista.
Orang yang berhati sempit sangat takut bila dirinya dikalahkan oleh orang lain. Ia takut kalau orang lain lebih sukses daripada dirinya sehingga dirinya menjadi nomor dua. Namun jika kita memiliki pribadi Mahakasih Lugu-Polos, bersikap rendah hati, bersahaja, tidak mau berebut, tidak suka menonjolkan diri, tentu orang lain akan merasa aman dan tenang berhadapan dengan kita. Tidak akan ada orang yang menganggap kita sebagai musuh, karena semua memandang kita sebagai orang yang jujur dan dapat dipercaya. Inilah Dharma Hati Ajita.
Mengapa Buddha Maitreya mampu mengamalkan semua itu? Karena Beliau senantiasa merealisasikan Hati Nurani yang Paling Indah yang ada pada dirinya. Saat Beliau bertemu dengan orang/kondisi yang tak sempurna, Beliau dapat menerima dan memakluminya, sehingga Beliau pun dapat selalu bahagia dan gembira. Inilah kegaiban pribadi Mahakasih - Lugu-Polos.
Sebenarnya keluguan dan kepolosan Sang Buddha Maitreya merupakan perpaduan sempurna antara kebijaksanaan yang tak terbatas dan cinta kasih yang tiada tara, sehingga Hati Nurani - Emanasi Roh Tuhan termanifestasi sempurna. Beliau menampilkan watak asali, pribadi yang lugu dan polos bagai seorang bayi. Adakah di antara kita yang tidak menyukai seorang bayi yang hatinya begitu murni?
Itulah sebabnya kita harus menampilkan pribadi lugu-polos di balik pancaran kearifan dan cinta kasih yang kita miliki. Sebab hanya dengan pribadi lugu-polos, barulah kita dapat merealisasikan dengan sempurna pribadi Hati Nurani yang Paling Universal, Paling Bajik, Paling Abadi, Paling Cemerlang, Paling Sejati, dan Paling Indah ini. Perbuatan yang selalu mensyukuri segalanya, mengasihi segalanya, dan bahagia akan segalanya, pada dasarnya adalah perbuatan yang baik. Namun jika sikap-sikap tersebut tidak didasari oleh pribadi yang lugu-polos, maka semua itu akan terasa sebagai formalitas saja, tidak berasal dari ketulusan hati yang terdalam, sehingga Kebenaran ini tidak terlaksana dengan sempurna. Hanya dengan merealisasikan pribadi lugu-polos, barulah tidak akan timbul rasa iri dan kontra dari orang yang paling keras sekalipun. Hanya dengan pribadi lugu-polos inilah, hati umat manusia yang sesat dapat ditaklukkan. Dengan demikian kita mengubah semua penghambat menjadi pendukung, mengubah semua lawan menjadi kawan. Dengan kekuatan doa dan sujud, gapailah pribadi lugu-polos seiring dengan penginsafan akan Hati Nurani yang Paling Indah.
* * *
Dengan pribadi agung Mahakasih - Lugu-Polos yang merupakan perpaduan kebijaksanaan yang tak terbatas dengan cinta kasih yang tiada tara, barulah kita dapat ikut serta dalam misi penyatusempurnaan universal.Buddha Maitreya sangat memahami karakter manusia di zaman ini. Seorang Buddha-Bodhisatva atau Orang Suci sekalipun tak bisa lolos dari kebencian manusia era sekarang. Hanya dengan pribadi Mahakasih - Lugu-Polos, barulah dapat menyelamatkan dengan sempurna umat manusia yang keras kepala dan suka bersaing. Kalau tidak, bagaimana mungkin melaksanakan dan menyelesaikan misi penyempurnaan universal ini, karena begitu sulit untuk membimbing manusia akhir jaman di tengah kesesatannya menuju jalan benar.
Dalam kitab suci 'Tao Te' (oleh Nabi Lao Tze) tertulis, "Orang yang arif bijaksana biasanya tampil lugu". Demikianlah orang yang memiliki kasih yang besar akan tampak begitu biasa, lugu, dan sederhana. Hati Nurani yang Paling Indah adalah hati yang lugu-polos. Untuk mengamalkannya kita harus belajar bersikap tiada iri, tiada benci, tiada persaingan, tiada diskriminasi, tiada sikap egois, serta mengembangkan sikap rendah hati, sabar, serta tahan derita dan nista. Semua ini kita realisasikan bersama Dharma Gaib Buddha Maitreya 'Dipukul tak melawan dan dimarah tak membalas'.
Hati Nurani yang Paling Indah ada di dalam diri, sedangkan sebab jodoh yang ada di luar diri tidak mampu menunjukkan keindahan Hati Nurani.
Sejak adanya sejarah manusia, kata 'indah' selalu dihubungkan dengan popularitas, reputasi, kedudukan, kekayaan, kenikmatan, dan pelbagai macam wujud rupa, yang kesemuanya itu tidak kekal abadi. Seseorang yang mata kearifannya telah terbuka lebar akan menyadari bahwa di seluruh jagad raya ini, hanya Hati Nuranilah yang paling indah. Sebab Hati Nurani adalah Emanasi Roh Tuhan yang ada di dalam diri. Tuhan adalah yang Maha Indah dan Abadi. Hanya ada satu jalan menuju keindahan abadi, yaitu dengan mengamalkan Hati Nurani yang Paling Indah ini demi menguntungkan umat manusia.
Seseorang yang mengamalkan Hati Nurani paling indah, meskipun hanya mengendarai mobil tua, keindahan Hati Nurani tak akan meninggalkan dirinya. Walaupun ia tinggal di sebuah gubuk kecil yang reyot dan hanya mengenakan pakaian yang sederhana, semua itu tidak merubah keindahan Hati Nurani yang terpancar dari dirinya. Jelaslah bahwa keindahan Sejati Hati Nurani tidak tergantung kepada sebab jodoh yang ada di luar diri. Keindahan kebajikan tidak dinilai dari wujud rupa, tetapi dari tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Bila Hati Nurani paling indah telah menjadi pengendali diri kita, maka ke manapun kita pergi, di situlah pemandangan yang indah. Tidak harus pergi ke tempat-tempat wisata untuk menemukan dan melihat pemandangan yang indah, karena saat ini pun sedang berada di tempat yang indah. Sebaliknya jika bukan Hati Nurani yang mengendalikan raga ini, sekalipun berada di tempat yang paling indah di muka bumi ini, kita tak pernah dapat merasakan dan menikmati keindahannya dari hati yang terdalam. Mari kita biarkan Hati Nurani yang Paling Indah mengendalikan seluruh diri kita, sehingga hidup kita pun akan penuh dengan keindahan.
* * *
Bersambung ...
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|