Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  HATI NURANI PALING INDAH (3)


HATI NURANI YANG PALING INDAH (3 - Tamat)

Jika kita meninggalkan Hati Nurani, maka semua yang terindah bukanlah yang terindah.

Sudah menjadi sifat dasar manusia untuk selalu ingin tampil cantik dan menarik. Bila semua kecantikan itu meninggalkan Hati Nurani - Sang Kebenaran tidak ada di dalam diri, maka kecantikan yang kita tampilkan bukanlah kecantikan yang sejati, melainkan hanya kecantikan kulit luar yang senantiasa dapat berubah. Ironisnya, manusia umumnya memandang keindahan dan kecantikan sebatas penampilan luar yang hanya setebal kulit itu, bukan pada Hati Nurani yang sesungguhnya merupakan sumber keindahan alami.

Selama enam laksaan tahun, manusia terus mengejar keindahan duniawi melalui pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papan secara berlebihan. Manusia tak segan untuk hidup saling mencelakakan, bertengkar, dan beroposisi. Demi nama, kedudukan, dan keuntungan, kita selalu ingin menang sendiri dan tidak sudi mengalah. Seandainya melihat orang lain memiliki sesuatu, kita juga ingin memilikinya. Bahkan kalau bisa, hanya kita sendiri yang memilikinya. Inilah sifat egois yang ada dalam diri manusia. Begitu sempitnya hati kita! Padahal sesungguhnya, bagaimanpun juga keindahan lahiriah tidak dapat mendatangkan kebahagiaan sejati, apalagi demi memperolehnya manusia melakukan begitu banyak perbuatan dosa.

Puji syukur atas Rahmat Kasih Tuhan, Mahakasih Buddha Maitreya, dan Budi Kebajikan Kedua Guru Agung yang telah menurunkan Transmisi Sejati . Satu Inisiasi Sejati mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Indah pada dasarnya telah ada dalam diriku, dan dalam diri setiap manusia. Apabila kita dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, pastilah kita menjadi pria yang tertampan ataupun wanita yang tercantik di jagad raya ini. Tak perlu lagi mencari-cari kecantikan di luar diri.

* * *

Keindahan Hati Nurani melampaui semua keindahan wujud rupa.

Terang cahaya kebajikan berpancar seiring dengan keindahan Nurani. Kebajikan atau pribadi mulia tidak akan semakin terang, bila keindahan Hati Nurani tidak senantiasa kita realisasikan. Hanya dengan senantiasa memanifestasikan Hati Nurani, barulah kita akan menyaksikan betapa indahnya Nurani, semakin tua terasa semakin indah.

Lain halnya dengan keindahan wujud rupa, seiring dengan bertambahnya waktu, semakin pudarlah kecantikannya. Ketakutan seseorang akan usia tua, dikarenakan dirinya belum menginsafi bahwa kecantikan yang sejati ada dan bersumber dari dalam diri. Manusia masih terikat pada wujud rupa dan selalu beranggapan bahwa keindahan dan kecantikan jasmani adalah keindahan dan kecantikan yang sesungguhnya.

Manusia takut tua, karena setelah tua nanti, penampilannya tak akan menarik lagi, sehingga tak ada orang yang mau berada dekat dengannya. Ia takut karena semakin tua semakin memiliki banyak kelemahan, menjadi sakit-sakitan dan tak berdaya. Demikianlah jika kita tidak pernah mau membina Ketuhanan, tidak mau menempa diri untuk membentuk pribadi yang mulia. Bagi orang yang tidak membina, yang ia ketahui hanyalah urusan-urusan badan dan wujud luar saja, sehingga kelak ketika menjelang hari tua akan merasa sedih, takut, dan kehilangan. Cahaya kebajikannya tak pernah bertambah, kasihnya tak berpancar, Hati Nurani tidak dimanifestasikan, sehingga semakin tua kepribadiannya tidak bertambah indah. Bahkan sebaliknya, ia menjadi semakin keras kepala dan egois.

Inisiasi Sejati yang ditransmisikan oleh Guru Agung Nurani hadir untuk mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Indah telah ada di dalam diri. Hal ini mengajak kita agar dapat kembali menjadikan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai pengendali diri ini, sehingga dengan kebajikan diri, prilaku sehari-hari senantiasa sejalan dengan prikebenaran. Dan pada akhirnya - dengan sangat wajar dan alami - semakin tua kita akan menjadi semakin mulia.

* * *

Kebahagiaan senantiasa menyertai orang-orang yang merealisasikan Hati Nurani yang Paling Indah.

Jika Hati Nurani yang Paling Indah telah menjadi pengendali raga ini, maka suasana hati akan senantiasa diliputi dengan sukacita tiada tara. Masalah apapun yang datang akan dihadapi dengan hati yang tenang. Bagaimanapun perilaku orang lain kepada kita, baik atau tidak, kita tetap akan berlapang hati menerimanya. Tanpa membeda-bedakan apakah itu situasi yang menguntungkan atau merugikan, kondisi yang lancar atau penuh rintangan, kita akan tetap menjalani hidup ini dengan sukacita. Saat menemui masalah yang menyedihkan, tentu hati akan merasa pedih. Namun dengan kesadaran Nurani kita tidak akan berlarut di dalam kesedihan, dan segera kembali kepada hati semula, yaitu hati yang penuh sukacita. Dengan hati sukacita ini, setiap saat dan di manapun berada, kita akan selalu berpandangan positif, aktif, penuh semangat, dan selalu membawa kegembiraan bagi orang lain.

Dalam kehidupan ini, dari 10 permasalahan yang kita hadapi mungkin ada 8 hingga 9 di antaranya yang tidak menyenangkan. Dan sesungguhnya kita memiliki kebebasan untuk menentukan, lewat sisi mana kita memandang masalah-masalah tersebut. Jika kita dapat memandang masalah dari setiap sudut yang ada, ini adalah yang terbaik. Namun tentu saja ini memerlukan kebijaksanaan dan kearifan yang cukup. Yang terpenting, keputusan terakhir tetap harus kita refleksikan dengan Hati Nurani.

Bila kita terbiasa memandang setiap masalah secara negatif, di dalam benak akan selalu timbul niat-pikiran yang negatif. Di dalam hati selalu ada rasa iri, benci, dan tidak puas, sehingga setiap hari kita hidup di dalam kegelisahan. Jiwa yang labil ini membuat kita mudah merasa cemas dan takut. Bagi kita hidup adalah masalah, sehingga di raut wajah kita selalu terlukis awan mendung. Masalah kecil pun dianggap sebagai topan badai. Pada akhirnya, sikap seperti ini seringkali hanya mendatangkan kerisauan bagi orang di sekitar kita.

Sebaliknya, bila seseorang memandang masalah dari segi yang positif, hal ini akan mampu melahirkan harapan-harapan baru, sehingga jiwanya pun menjadi optimis dan bahagia. Dalam menghadapi masalah, ia tidak menganggapnya sebagai rintangan, melainkan sebagai kesempatan untuk mengembangkan diri menuju masa depan yang lebih baik.

Marilah kita menyadari kenyataan ini. Dalam menghadapi hal-hal yang tak menyenangkan, baik dengan sikap positif ataupun negatif, dengan pandangan pesimis maupun optimis, pada akhirnya suatu hari semua permasalahan ini akan berlalu. Dengan sikap yang negatif, di muka kita akan selalu tampak roman wajah yang murung, ditambah dengan kerutan di dahi. Semangat hidup semakin redup, sehingga mempengaruhi kondisi jiwa dan raga. Daripada membuang-buang energi seperti ini, mengapa kita tidak menghadapinya dengan memilih bersikap positif saja? Dengan sikap positif, kita dapat senantiasa bersukacita dalam melewati satu kehidupan ini. Hari-hari dipenuhi dengan harapan, kebangkitan dan semangat juang. Tidak ada untungnya menghadapi suatu masalah dengan sikap negatif. Ini hanya akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari.

Bila pada kenyataannya dalam hidup ini lebih banyak hal yang tidak menyenangkan daripada yang menyenangkan, maka kita harus belajar menjalani hidup dan menghadapi masalah dengan sukacita. Dengan demikian beban-beban penderitaan dapat diringankan, dan kebahagiaan yang sejati pun nampak di depan mata. Jadi, adalah sangat penting untuk mempunyai pandangan yang benar dan tepat dalam menghadapi kehidupan ini. Pengendalian niat-pikiran sangat menentukan jalan hidup kita. Saat menghadapi masalah apapun, hadapilah dengan sikap positif.

Dalam kehidupan para pembina di tengah Wadah Ketuhanan sekarang ini, ada berapa orang yang dapat senantiasa bersuka cita dan berbahagia setiap hari? Memang tidaklah mudah untuk senantiasa berbahagia, karena setiap hari harus berperang menghadapi kesesatan diri yang sudah berkerak laksa masa. Sesungguhnya segenap kilesa yang ada dalam diri adalah hasil perbuatan kita sendiri. Dalam perjalanan di kehidupan-kehidupan lampau, kita telah terbiasa dengan segala perbuatan dosa. Sehingga di masa ini segala buah perbuatan harus kita petik. Inilah penyebab utama sulitnya menampilkan Hati Nurani yang senantiasa bersuka cita atas segalanya, bersukacita selalu. Namun kini, di dalam kebesaran rahmat kasih Tuhan dan budi kebajikan Guru, kita berkesempatan membina diri untuk menjadi pembina yang senantiasa berbahagia. Teladanilah pribadi luhur Buddha Maitreya. Dengan mewujudkan wajah kasih, hati kasih, dan perilaku kasih, kita akan selalu berbahagia.

* * *

Jika Hati Nurani yang Paling Indah menjadi pengendali atas diri, maka semua masalah akan dihadapi dengan senyum bahagia, dan selamanya bersatu hati dengan LAOMU.

Seseorang yang menjadikan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai pengendali dirinya, akan menghadapi semua masalah dengan sukacita, baik yang menguntungkan ataupun yang merugikan, membanggakan ataupun menjatuhkan. Karena semua masalah, manusia, dan benda yang tidak indah sekalipun, jika dipandang dengan Hati Nurani yang Paling Indah, semua akan tampak indah.

Maka yang dimaksud dengan Hati Nurani yang Paling Indah adalah hati yang senantiasa bersukacita atas segalanya. Fenomena apapun yang kita hadapi dalam kehidupan ini, baik itu miskin, kaya, sukses, ataupun gagal, hadapilah semua dengan hati sukacita. Dengan sendirinya kita dapat hidup dengan tenang dan damai, tidak akan sampai menyalahkan Tuhan dan orang lain.

Setiap orang mempunyai karma kehidupannya masing-masing. Ada orang yang lebih sering menghadapi rintangan, halangan, dan kesulitan, ada pula yang lebih sering menghadapi kelancaran dan kesuksesan. Dengan cara apapun seseorang menghadapi kehidupannya ini, dengan hati yang gembira ataupun sedih, dengan sukacita atau perasaan khawatir, pada akhirnya segalanya tetap akan berlalu. Menghadapi kehidupan dengan kesedihan dan tangisan tidak akan menyelesaikan semua masalah dengan baik. Lebih baik menghadapi semua rintangan, halangan, masalah, dan kesulitan itu dengan Hati Nurani yang Paling Indah, yaitu dengan penuh syukur, dengan sukacita dan senyum bahagia. Inilah yang dikatakan bersatu hati dengan LAOMU.

Salah satu contoh nyata adalah Nabi Yen Huei (Gan Huei), salah satu murid utama Nabi Khong Tze. Pola hidup Beliau sangatlah sederhana, tinggal di pondok reyot yang kecil dan usang, berpakaian seadanya, dan setiap hari hanya menyantap bubur dan minum air putih. Para tetangga pun merasa kasihan kepadaNya. Namun di dalam hatinya, Nabi Gan Hui senantiasa berbahagia dan leluasa. Sedikitpun Beliau tidak merasa terbeban, tidak merasa bahwa dirinya melarat, atau bernasib naas sehingga perlu dikasihani. Hari-hari di dalam hidupnya selalu dilalui dengan penuh sukacita. Mengapa demikian? Karena Beliau telah mampu merealisasikan Hati Nurani yang Paling Indah yang hidup di dalam dirinya. Demikianlah, hidupNya senantiasa bersatu dengan LAOMU.

Apakah kini hidupku telah bersatu hati dengan pribadi LAOMU? Untuk menjawab pertanyaan ini, lihatlah apakah hidupku selalu sesuai dengan Hati Nurani yang Paling Indah? Apakah di dalam hidup ini kita senantiasa bersukacita?

* * *

Dengan Hati Nurani yang Paling Indah, Buddha Maitreya membawa kebahagiaan kepada seluruh umat manusia.

Jika kita lihat dari aspek kebajikan sejati, orang yang paling tampan di seluruh jagad raya ini adalah Buddha Maitreya. Tidak ada seorang pun yang tak tertarik melihatNya. Seluruh manusia tanpa membedakan suku, agama, kepercayaan, warna kulit, ataupun adat istiadat, sangat menyenangi Buddha Maitreya.

Bagaimana Sang Buddha Maitreya mampu menarik perhatian hati setiap orang tanpa diskriminasi? Keindahan Hati Nurani Beliaulah yang telah memikat hati setiap orang. Dengan wajah dan senyum kasihNya, Beliau menyampaikan kegembiraan dan sukacita kepada seluruh umat manusia. Marilah kita coba lakukan praktek sederhana ini. Saat kita merasa bingung atau gelisah, pandanglah Buddha Maitreya. Begitu menatap wajahNya yang begitu riang gembira, seketika itu juga sirnalah kegelisahan kita.

* * *

Dengan menjadikan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai pengendali atas diri, di saat kaya, kita membina dalam kekayaan. Di saat miskin, kita tetap membina dalam keterbatasan. Sehingga dalam kondisi apapun diri ini tetap dapat menguntungkan umat manusia.

Biasanya orang yang kaya dan sukses akan cenderung menjadi sombong dan memandang rendah orang yang miskin, sehingga dapat dikatakan keluguan dan kepolosan hatinya telah hilang. Dengan sendirinya orang yang ada di sekelilingnya akan meninggalkan dirinya. Kalaupun ada orang yang mau mendekatinya, itu pun bukan karena kepribadiannya.

Namun jika kita hidup dalam kemewahan namun tidak menindas orang lain, tidak angkuh, tidak sombong, tiada diskriminasi, bahkan dengan hati yang polos dan suci tetap menujukkan sikap yang ramah dan rendah hati, hidup yang demikian juga mencerminkan kebajikan diri. Dengan sikap seperti ini, orang lain akan merasa senang berada di dekat kita.

Biasanya dengan pola kehidupan yang miskin, manusia akan mudah menyalahkan Tuhan dan orang lain. Ia merasa bahwa hidup ini mendatangkan penderitaan dan kesedihan. Setiap berjumpa dengan orang, ia selalu berkeluh kesah. Setiap hari adalah saat-saat yang suram, seakan-akan besok dunia ini akan kiamat . Lama-kelamaan tiada orang yang mau mendekatinya. Tak ada orang yang senang berada di dekatnya, karena sikapnya yang negatif.

Sebaliknya, walaupun seseorang hidup miskin, jika Hati Nurani yang Paling Indah menjadi pengendali dirinya, ia akan selalu optimis menghadapi kehidupan ini. Hatinya akan senantiasa dipenuhi sukacita, selalu bersyukur atas segalanya. Dengan sikap seperti ini, dengan sendirinya akan banyak orang yang mau mendekatinya. Demikianlah, apabila seseorang dapat senantiasa berbuat sesuai dengan Kebenaran dan membiarkan Hati Nurani yang Paling Indah menjadi pengendali dirinya, setiap saat umat manusia akan suka bersama dengannya.

* * *

Bila dalam Wadah Ketuhanan setiap umat dapat berprilaku sesuai dengan Hati Nurani yang Paling Indah, maka di antara seluruh lapisan - dari atas sampai ke bawah - pastilah akan terwujud sikap sehati dan sekebajikan.

Jika seorang atasan dapat selalu berbuat sesuai dengan Hati Nurani dan menjadikan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai pengendali diri, maka kebajikannya dapat terpancarkan, sehingga semua orang akan sangat senang mendekatinya. Sebaliknya, jika Hati Nurani tidak menjadi pengendali diri, akan timbul diskriminasi status diri, sehingga setiap orang pun sulit menghormati dengan tulus.

Sebagai atasan hendaknya kita mampu membiarkan Hati Nurani yang Paling Indah menjadi penguasa atas diri sehingga hati dapat senantiasa berbahagia. Saat bawahan berbuat salah sehingga patut ditegur, tegurlah dengan kasih. Tetapi setelah menegur, kembalilah dengan sikap seperti biasa, sehingga hubungan yang ada tetap terjalin dengan baik. Jika mereka membutuhkan perhatian, bimbingan, dan dukungan, dengan penuh kasih berikanlah perhatian, bimbingan, dan dukungan itu. Berikanlah dorongan semangat, sukacita, dan kebahagiaan kepada bawahan. Dengan demikian kita telah berhasil sebagai atasan. Bawahan akan mengenang dan menghormati kita selamanya.

Sebagai seorang bawahan, saat ditegur atau dinasihati oleh atasan pasti kita akan merasa sedih. Tetapi bila kita menjadikan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai pengendali dalam diri, perasaan sedih ini hanya berlangsung 5 menit saja. Setelah itu hati ini kembali bahagia dan gembira. Begitu sesaat waktu berlalu, masalah tadi sudah tak berbekas di hati, karena diri ini tidak terikat dengan perasaan. Jika pada malam harinya dimarahi, pada esok paginya kita tetap dapat menyapa dan memberikan senyum tulus kembali kepada atasan, bagaikan tidak terjadi sesuatu sebelumnya. Atasan yang melihat sikap bawahan seperti ini, akan menilainya sebagai bawahan yang baik dan dewasa di dalam pembinaan. Sehingga mereka akan semakin menghargai, mempercayai, dan kelak akan terus memberikan bimbingan. Sebaliknya jika setelah dimarahi kita mudah merasa tak senang, tak puas, dan bahkan merasa dendam, seakan-akan semua orang telah berbuat kesalahan kepada kita, akhirnya atasan pun tidak akan berharap banyak dari kita. Karena dari sikap kita seperti itu, mereka menganggap kita sebagai bawahan yang tidak dapat dibimbing dan diarahkan untuk maju.

Jika hari ini kita bisa mengembalikan hati bayi kita, dengan sendirinya ketika atasan marah, kita tidak akan memendam dendam atau benci. Mungkin ada sedikit perasaan sedih, tapi lekas kembali seperti sedia kala. Begitu bangun tidur kita sudah melupakan segala kesedihan kemarin. Setelah mandi, merapikan diri, dan bertemu dengan atasan atau bawahan, kita dapat tetap bersikap sopan dan hormat. Dengan demikian kita akan dapat bersatu hati dan kebajikan dengan siapa saja.

Dalam pergaulan antarsesama manusia, tidak akan luput dari perbedaan pendapat dan pandangan, ketidakcocokan sifat, kesalahpahaman, dan sebagainya. Hal ini karena setiap orang mempunyai latar belakang, jalan pikiran, dan karakter yang berbeda-beda. Sehingga tidak akan mudah untuk sehati sekebajikan. Jika setiap orang mampu berpijak pada Hati Nurani yang Paling Indah, biarpun antarsesama timbul perbedaan dan kesalahpahaman, dengan cepat semua akan melupakannya dan memulai lembaran baru. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Karena pribadi Hati Nurani yang Paling Indah adalah senantiasa berbahagia dan bersukacita, sehingga sikap dendam dan benci akan jauh meninggalkannya. Dengan demikian kita akan selalu diterima oleh teman-teman kita dalam berbagai lapisan masyarakat. Orang lain akan merasa aman dan bahagia saat bergaul dengan kita, karena kita selalu memberikan kebahagiaan dan sukacita bagi orang lain.

* * *

Dunia Hati Nurani akan terwujud apabila setiap manusia menginsafi dan merealisasikan Hati Nurani Paling Indah.

Pandangan hidup di dunia Sukhawati adalah moral kebajikan dan Hati Nurani. Saat itu, bagi siapa yang memiliki moral kebajikan dan keindahan Hati Nurani, dialah yang paling dihormati di dalam masyarakat. Sedangkan yang terjadi di akhir zaman seperti sekarang ini adalah kebalikannya. Orang yang berkebajikan dan berhati Nurani malah direndahkan dan dianggap bodoh. Orang hanya memiliki banyak harta, kekayaan, kekuasaan, dan kepintaranlah yang ditinggikan. Padahal tanpa berlandaskan pada keindahan Nurani, semua itu hanya akan mendatangkan kegelisahan dan penderitaan, dan pada akhirnya semua itu harus kita lepaskan.

Pada masa akhir zaman ini, tabiat dan sifat manusia cenderung keras, mau menang sendiri dan tidak bisa mengalah. Hatinya sulit untuk tunduk, karena selalu ingin bersaing menjadi nomor satu. Keadaan seperti ini membuat suatu lingkaran setan, di mana saat semakin memiliki kekuasaan, harta, kekayaan, dan kepintaran, justru akan semakin menjatuhkan dirinya ke dalam kesesatan. Persaingan antarmanusia bersifat saling menjatuhkan. Oleh karena itu, sadarilah bahwa segala bentuk sebab jodoh luar diri itu tidak akan dapat menyadarkan dan menaklukkan hati umat manusia.

Buddha Maitreya senantiasa berpegang teguh pada Hati Nurani dan senantiasa membawa kebahagiaan bagi orang lain. Beliau benar-benar dapat merealisasikan sikap Mahakasih - Lugu-Polos, dimarah tak membalas dipukul tak melawan, rendah hati, sabar, tahan derita dan tahan nista. Prinsip Beliau adalah, 'Apabila ada orang memukul saya, saya akan tetap bersukacita. Saat orang lain memarahi saya, saya akan menerima itu dengan pemakluman dan lapang dada. Hati saya tetap bahagia di dalam setiap kondisi. Jika orang ingin saya berdiri di belakang, saya tidak akan menolak. Mereka ingin saya menjadi yang terendah juga tidak menjadi masalah. Saya tidak mau bertengkar dan bersaing dengan orang lain'. Inilah Dharma Ajita, sikap tak tertandingi yang telah dipraktekkan oleh Buddha Maitreya dalam segenap hidupnya. Dengan keluguan dan kepolosan, setiap saat Beliau berusaha menjalin jodoh bajik dengan orang lain, sehingga tiada lagi permusuhan. Yang ada hanya saudara dan sahabat.

Sebagai cucu murid Buddha Maitreya yang ingin ikut serta dalam misiNya, kita wajib menyebarkan kabar sukacita Maitreya ini kepada semua orang. Namun segalanya harus berawal dari diri kita. Marilah senantiasa membawakan kebahagiaan kepada semua makhluk dengan menjadikan Hati Nurani yang Paling Indah sebagai pengendali diri. Pancarkanlah pribadi Mahakasih - Lugu-Polos dalam menghadapi semua masalah, manusia, dan benda, sehingga selamanya kita akan bersukacita atas segalanya, selalu bersukacita.

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.