Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  HATI NURANI PALING SEMPURNA (1)


Hati Nurani Yang Paling Sempurna (1)
Bersyukur Atas Segalanya,
Segalanya Disyukuri
(Selalu Bersyukur)
(Segalanya Selalu Disyukuri)
(Semuanya Selalu Disyukuri)

Bapak Guru Agung dan Ibu Guru Suci datang atas kuasa Firman Tuhan, mentransmisikan Inisiasi Sejati. Satu Petunjuk Suci mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Sempurna ada di dalam diri. Di seluruh jagat raya ini, tiada manusia, masalah, atau benda apa pun yang sempurna selain Hati Nurani. Bila telah mampu menginsafi Hati Nurani yang Paling Sempurna, maka kita akan senantiasa bersyukur atas segalanya-galanya, menghadapi segala fenomena dengan sikap penuh syukur.

Dengan menyadari bahwa manusia tidaklah sempurna, kita akan lebih berlapang dada terhadap orang lain. Saat orang lain berbuat kesalahan, kita dapat memakluminya. Tetapi terhadap kesalahan sendiri, diri haruslah bersikap ketat dan penuh kedisplinan.

Di dunia ini tidak ada masalah dan benda apa pun yang sempurna, termasuk manusia. Selama masih ada badan raga ini, manusia masih memiliki dorongan nafsu dan perangai. Badan ini masih memiliki rasa haus, lapar, dan letih. Dengan adanya badan ini timbullah emosi dan temperamen pribadi yang dibawa selama laksaan tahun.

Sadarilah, bahwa manusia tidak sempurna karena badan raga yang kita miliki memang tidak sempurna. Badan raga inilah yang menyebabkan temperamen, karakter, dan kemauan setiap orang berbeda. Contohnya dalam hal makanan, setiap orang memiliki selera yang berbeda. Ada yang menyukai pedas, asam, asin, manis, dan sebagainya. Demikian juga halnya dengan tabiat, setiap orang yang memiliki tabiat yang berbeda-beda.

Jika sudah menginsafi hal ini, kita tidak akan lagi menuntut setiap orang sempurna 100%. Saat melihat kekurangan, kelemahan, dan ketidaksempurnaan pada diri seorang atasan atau senior, secara wajar kita akan memakluminya. Bukan berarti sebagai pimpinan atau senior ia bebas dari kekurangan. Sekali lagi, tak ada manusia yang sempurna. Janganlah menuntut pimpinan dan senior bertindak laksana dewa. Milikilah jiwa lapang yang penuh permakluman untuk mengamalkan Kebenaran ini.

Sama halnya terhadap umat junior atau bawahan. Apabila melihat mereka melakukan kesalahan atau kekhilafan, kita harus bersikap lapang dada. Pancarkanlah kebijaksanaan dan cinta kasih untuk memaklumi dan memberinya nasehat. Jangan bersikap acuh tak acuh, meremehkan, apalagi mengucilkan dan meninggalkan mereka. Mari bertanya ke dalam diri, bagaimana seandainya suatu saat kita melakukan kekhilafan atau kesalahan, hingga semua orang meremehkan dan menjauhi diri kita? Bagaimana perasaan hati kita?

Sebaliknya, terhadap diri sendiri kita harus bersikap disiplin. Jangan sampai ada kesalahan diri sendiri yang dibiarkan berlalu begitu saja. Senantiasalah berintrospeksi diri dan bertobat untuk membangun hidup baru. Namun satu hal yang perlu diingat, tuntutan terhadap diri sendiri bukan berarti menekan dan menyiksa diri, karena menyiksa diri sendiri berarti menyiksa Percikan Roh LAOMU yang Paling Sempurna di dalam diri kita.

Di sisi lain, tentu saja kita juga tidak boleh memanjakan dan terlalu melonggarkan diri. Jangan selalu membela diri dengan menggunakan dalih "Saya 'kan masih manusia, selama masih punya badan raga ini, pasti bisa berbuat kesalahan". Saat dikritik oleh pimpinan atau senior jangan berkata, "Saya 'kan hanya seorang manusia, tanganku hanya dua, pahamilah saya!" Berucap kata seperti ini hanya akan menambah kesalahan saja. Sikap melonggarkan diri membuat kita tidak memiliki rasa penyesalan, lalu tidak mau bertobat dan tidak ingin memperbaiki diri. Ini sama halnya telah merendahkan Roh LAOMU yang ada di dalam diri. Singkat kata, dalam membina diri janganlah bersikap ekstrim. Jangan terlalu melonggarkan diri sendiri, juga sebaliknya jangan terlalu menyiksa diri.

LAOMU paling mengetahui di mana letak kesalahan dan kekurangan yang ada di dalam diri kita. Biarkanlah Emanasi Roh LAOMU yang ada di dalam diri menguasai dan mengendalikan badan ini. Biarkanlah Emanasi Roh LAOMU - Hati Nurani - menuntun kita pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Inilah hal utama yang harus kita perjuangkan dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan.

* * *

Gunakanlah raga yang tidak sempurna ini untuk membangun karya abadi Hati Nurani yang Paling Sempurna.

Saat melihat kesalahan dan kelemahan seorang pimpinan, atasan, senior, rekan kerja, ataupun seorang bawahan, kita tidak perlu merasa heran dan tidak perlu membesar-besarkannya. Ini adalah hal yang wajar, karena selama masih mempunyai badan raga ini, manusia sulit untuk terlepas dari kekhilafan, kesalahan, dan dosa. Apalagi keadaan jiwa atau emosi seseorang sangat dipengaruhi oleh kondisi fisiknya. Jika badan ini sedang dalam keadaan tidak sehat, kondisi jiwa pun menjadi kurang stabil. Misalnya, penderita penyakit hati (lever) mempunyai kondisi hati yang mudah marah atau emosional. Ini adalah hal yang wajar. Pengaruh dari kondisi fisiklah yang membuat ia tidak bebas mengendalikan emosinya. Contoh lainnya adalah, mereka yang kurang tidur biasanya akan mudah emosi dan kurang sabar.

Demikianlah setiap manusia pasti memiliki kekuarangan. Lalu kalau begitu, mengapa kita masih harus membina Ketuhanan? Membina Ketuhanan berarti meminjam badan raga yang tak sempurna ini untuk membangun karya abadi Hati Nurani. Memang badan ini tidak sempurna, tetapi Hati Nurani yang Paling Sempurna ada di dalam diri kita. Dengan menjadikan Hati Nurani yang Paling Sempurna sebagai penguasa dan pengendali tubuh yang tidak sempurna, kitapun dapat membangun karya suci abadi yang sempurna.

Selama masih mempunyai badan raga ini, manusia pasti memiliki karakter pribadi, keterikatan, dan sifat ego yang berbeda satu sama lain. Hal seperti ini memang tidak dapat dihindari. Adakah gunanya menyalahkan sebuah raga yang tidak sempurna? Yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha agar Hati Nurani yang Paling Sempurna dapat mengendalikan badan raga yang tidak sempurna dalam menggenapi misi suci 10.800 tahun.

Bagaimana cara memanfaatkan yang palsu menjadi yang sejati? Inilah tujuan yang harus kita perjuangkan. Bila badan raga yang tidak sempurna ini bisa menghasilkan karya suci yang sempurna, sungguh terbuktilah keluhuran badan raga dibalik ketidaksempurnaannya. Kalaulah badan raga ini sudah sempurna, bukanlah hal yang istimewa bila bisa berhasil mencapai kesempurnaan 10.800 tahun. Namun bila dengan badan raga yang tidak sempurna lalu dapat mencapai kesempurnaan, inilah yang menampakkan kebesaran dan keluhuran Hati Nurani. Seperti Buddha Sakyamuni, Nabi Confusius, Nabi Lao Tze, dan Orang Suci lainnya, semasa hidup Mereka juga mempunyai badan raga yang tidak sempurna, namun Mereka berhasil membangun karya Kebuddhaan dan Kenabian sepanjang masa. Mereka telah berhasil meminjam badan raga yang palsu untuk mencapai kesempurnaan abadi.

Hati Nurani adalah yang paling sempurna, paling cemerlang, paling sejati, paling indah. Kesempurnaan Hati Nurani melampaui niat pikiran dan keinginan. Hati Nurani yang Paling Sempurna adalah LAOMU Yang Tiada Tara. Jika kita mengimaninya, kekuatan Hati Nurani yang tak terbatas akan terwujud. Kedua Guru Agung melalui Inisiasi Firmani telah mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Sempurna ada di dalam diri. Demikianlah kita harus menyayangi, menghargai, dan memuliakannya dengan menempatkannya sebagai tuan dan penguasa atas raga yang tak sempurna.

* * *

Saat Hati Nurani yang Paling Sempurna menjadi pengendali badan raga, secara wajar kita akan bersyukur atas segalanya, selalu bersyukur.

Insafilah bahwa langit, bumi, manusia, segala makhluk dan benda, semua telah berjasa terhadap kita. Sudah sepantasnyalah kita bersyukur kepada Tuhan, bersyukur kepada Buddha-Bodhisatva, Buddha Maitreya, Bodhisatva Avalokitesvara, para Nabi, Bapak dan Ibu Guru Suci, serta Orang Suci lainnya. Juga sudah sepantasnya kita berterima kasih kepada langit, bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, semua jenis makhluk, semua benda, dan kepada seluruh umat manusia.

Langit, bumi, manusia, laksa makhluk dan benda, semuanya telah banyak menguntungkan umat manusia dan seluruh makhluk hidup. Semuanya telah memberikan budi kepada kita. Tanpa adanya langit, bumi, tata surya, laksa makhluk dan benda, tidak mungkin kita dapat hidup di dunia. Sekuntum bunga, setangkai rumput, sebatang kayu, sebuah batu, bahkan hingga sebutir pasir pun sesungguhnya telah menguntungkan kita. Pada dasarnya segala sesuatu yang ada di alam semesta selalu memberi dan terus memberi kepada kita. Karena itu marilah menanamkan prinsip 'Bersyukur atas segalanya, selalu bersyukur'.

* * *

Gunakanlah Hati Nurani yang Paling Sempurna dalam melihat semua orang, maka dia yang bersikap baik maupun tak baik terhadap diriku, sebenarnya telah berbudi padaku.

Pandanglah dengan Hati Nurani yang Paling Sempurna, sesungguhnya segala hal yang mendatangkan keuntungan maupun kerugian, kedua-duanya telah berbudi kepada diriku. Orang yang baik - yang menguntungkan - adalah orang yang berbudi pada kita. Demikian pula orang yang jahat - yang senantiasa merugikan - dia pun telah berbudi kepada kita. Mengapa demikian? Karena baik yang menguntungkan ataupun merugikan, semuanya ada dalam pengaturan LAOMU atas diri kita.

Selama laksaan tahun sudah begitu banyak dosa karma yang telah kita lakukan. Keakuan dan keterikatan telah mengakar kuat di dalam hati. Ditambah lagi berbagai sifat buruk seperti malas, iri hati, dan benci, semua ini bagaikan noda yang menutupi Hati Nurani. Jika semua orang menghormati dan menuruti kemauanku, sungguh sulit bagi kita untuk membersihkan noda-noda batin tersebut.

Kini kita membina Ketuhanan, LAOMU, Buddha Maitreya, dan Kedua Guru Agung mengatur agar kita berada di dekat orang-orang yang tidak rukun dengan kita. Di sekeliling kita terdapat orang-orang yang sering mengecewakan, merugikan, menghina, bahkan menfitnah kita. LAOMU, Buddha Maitreya, dan Kedua Guru Agung ingin melihat, bagaimana cara kita menghadapi mereka? Pada saat itu, bila yang keluar dari hati kita yang terdalam adalah pikiran-pikiran tak baik - seperti gunung api yang meletus memuntahkan laharnya - berarti kita telah menampilkan sisi yang terburuk dari diri sendiri..-Hati benci, tak puas, amarah, semua itu akan membakar habis diri kita, merusak mata, wajah, pikiran, kesehatan, dan sebagainya. Dengan demikian terpapar jelaslah segala keburukan dalam diri yang harus diperbaiki.

Segala macam konflik dan ketidakharmonisan kita dengan orang lain sesungguhnya dapat membantu kita menggali ke luar semua penyakit hati. Dengan demikian barulah kita dapat mengikis segala keangkuhan, keserakahan, dan sebagainya. Setiap konflik biasanya membuat kita menderita. Hati dipenuhi kegelisahan dan beban batin, sehingga makan tak enak, tidur pun tak nyenyak. Akhirnya kita merasa tak bersemangat, putus asa untuk melanjutkan pembinaan. Pada kondisi kritis seperti inilah kita benar-benar diuji, apakah kita dapat berintrospeksi - menilik ke dalam diri sendiri. Jika dapat berpaling ke dalam diri, berarti kita sedang melanjutkan perjalanan menuju pantai keselamatan dan keterbebasan. Sebaliknya jika kita tidak dapat berpaling, kita semakin tidak puas dan selalu menyalahkan orang lain. Ini berarti kita sedang menuju arah sebaliknya, yaitu jurang kehancuran dan kebinasaan jiwa.

Hanya dengan berpaling menemukan diri, barulah kita dapat menyadari segala sifat buruk, kekurangan, dan kelemahan yang kita miliki. Barulah kita sadar, bahwa walau telah membina dan mengamalkan Ketuhanan selama bertahun-tahun, segala keakuan, kesombongan, keserakahan, sifat keras kepala, suka cari muka, dan lainnya, belum juga kita tanggalkan. Sungguh, kita telah menyia-nyiakan pembinaan selama ini. Meniliklah ke dalam diri, betapa malu dan bersalahnya diri ini. Inilah saat terbaik lahir menjadi manusia baru, kembali berganti wajah. Inilah saat yang tepat untuk merubah kepintaran dunia menjadi kearifan, mengubah kilesa menjadi Watak Bodhi. Inilah momen-momen peralihan dari dunia samsara menuju alam abadi. Inilah saat-saat yang penuh dengan pelepasan, meraih kebebasan, merdeka tanpa ikatan kesesatan diri.

Kemelekatan dan keakuan yang ada dalam diri tidaklah mudah untuk dilepaskan. Kemerdekaan hati tidak bisa dicapai hanya dengan membaca buku ataupun mempelajari dan mendalami kitab suci. Segala puji syukur kepada LAOMU yang telah mengatur cara yang paling baik bagi kita yaitu dengan mengalami berbagai kegagalan, hambatan, kesulitan, dan keterjatuhan. Hanya dengan menghadapi semua ini, barulah kita dapat memecahkan segala kemelekatan dan keakuan yang telah mengakar dalam jiwa.

Cara terbaik dan termudah untuk menghancurkan ego dan keterikatan diri adalah dengan gesekan permasalahan atau konflik yang timbul antarmanusia, walau itu menyakitkan. Misalnya atasan tidak suka dengan kita. Bagaimanapun kita telah berusaha berprestasi cemerlang, mereka tetap tidak senang, bahkan kita dikesampingkan dan dimarahi tanpa peduli benar atau salah. Kita dituntut tanpa belas kasihan, sehingga keadaan menjadi serba salah. Saat demikian, bagaimanakah tindakan kita?

Bagaimanapun kita harus tetap kuat dan tabah, sehingga dapat menyelesaikan perjuangan pembinaan ini. Sadarlah, saat itu kita sedang menjalani operasi pembedahan tumor Nurani yang ganas. Tumor ini telah mendarah daging dan berurat akar karena telah dibiarkan hidup selama laksaan tahun. Tanpa menjalani proses pengobatan dan operasi besar-besaran, bagaimana mungkin bisa mencabutnya? Walaupun sangat menyakitkan, kita harus bisa dan rela menjalaninya dengan tabah demi kesembuhan dan keselamatan jiwa. Demikianlah, aku berusaha agar dapat menerima sikap atasan, demi mengobati 'tumor ganas' yang sudah mencengkram kuat dan menggerogoti seluruh jiwa. Segala keterikatan, keakuan, iri, benci, sombong, semuanya harus dikorek habis. Agar tidak kambuh lagi, maka operasi yang dijalankan harus bisa mencabut sampai ke akar-akarnya. Inilah manfaat yang diperoleh dari tindak tegas atasan. Jika tidak demikian, sulit bagi kita untuk kembali sembuh dan pulih seutuhnya seperti sedia kala.

Demikianlah, Kebenaran Sejati perlu dilihat dari sisi kebalikannya. Dalam membina Ketuhanan, jika perjalanan pembinaan terlalu mulus, lancar, dan bebas hambatan, malah akan semakin berbahaya. Saat itu kita menjadi lengah dan mudah tergiur oleh keinginan untuk mendapatkan sanjungan dan pujian. Jika dasar pondasi hati belum mantap dan kuat, Hati Nurani yang Paling Sempurna belum menguasai diri, semua pujian itu justru akan membawa petaka yang lebih menyakitkan.

Sebaliknya jika Hati Nurani yang Paling Sempurna telah menjadi pengendali diri, segala kondisi baik-buruk, lancar-penuh rintangan, sukses-gagal, berkah-musibah, pujian-cacian, semua ini akan kita terima dengan rasa syukur yang dalam. Tidak ada sedikit pun niat untuk menyalahkan LAOMU atau orang lain. Bila Hati Nurani yang Paling Sempurna telah berkuasa atas diri, walaupun melihat manusia, masalah, makhluk, dan benda yang tidak sempurna, kita akan merasakan bahwa semua telah berbudi jasa kepada kita. Inilah wujud nyata bekerjanya Hati Nurani yang Paling Sempurna: bersyukur atas segalanya - segalanya selalu disyukuri.

Bersambung ...

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.