Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  HATI NURANI PALING SEMPURNA (2-Tamat)


Hati Nurani Yang Paling Sempurna (2-Tamat)

Menanam sebutir padi memerlukan sejuta keringat, karena itu harus bersyukur atas segalanya, segalanya disyukuri.

Kita patut bersyukur kepada langit, bumi, bintang, surya, rembulan, dan segala-galanya. Sandang, pangan, dan papan yang kita miliki merupakan hasil karya dan jerih payah ribuan orang - baik secara langsung maupun tidak langsung. Marilah bersyukur kepada mereka. Dapat menyantap sepiring nasi saja, kita sudah harus bersyukur kepada langit, bumi, surya, rembulan, ribuan orang yang secara langsung maupun tak langsung telibat di dalamnya. Jangan menganggap bahwa sepiring nasi itu mudah didapat. Apalagi beranggapan bahwa semuanya bisa dibeli dengan uang. Sadarilah, kalau tak ada matahari, bumi, rembulan, perputaran musim, dan jerih payah dari ribuan orang, walau memiliki uang sebanyak apapun kita tetap tak dapat membelinya. Ada uang atau tak ada uang, itu adalah masalah pribadi. Untuk mendapatkan sepiring nasi, ini sudah bukan masalah kemampuan pribadi.

Saat negara mengalami kekacauan, mempunyai banyak uang tidak menjamin keselamatan. Walaupun memiliki kekayaan yang melimpah, belum tentu kita bisa mendapatkan makanan. Kalau petani tak mau menanam padi, mempunyai cek bernilai satu miliar pun tak ada gunanya bagi kita. Walau kita memiliki batangan emas yang menggunung, tetap tak ada fungsinya, karena uang dan emas tak dapat dimakan. Hari ini kita masih bisa menyantap sepiring nasi, bersyukurlah kepada LAOMU, langit, bumi, surya, rembulan, serta orang-orang yang tak terhitung banyaknya.

Untuk menghasilkan bulir-bulir padi, seorang petani harus melalui sebuah proses yang panjang dan meletihkan. Dari proses membajak sawah, memilih bibit unggul, menabur benih, merawat, memelihara, dan menjaganya sampai menjadi padi yang menguning. Semuanya merupakan proses yang sangat banyak menguras tenaga. Hingga sepiring nasi dihidangkan di meja makan, juga membutuhkan berbagai pihak dari berbagai bidang jasa dan usaha. Semuanya membutuhkan begitu banyak tenaga dan buah pikiran. Kalau kita bisa memahami dan menghayati hal ini, hatipun akan dipenuhi rasa syukur yang mendalam.

Setelah seorang petani menaburkan benih-benih padi di sawah, selanjutnya diperlukan ayoman langit-bumi, hawa positif-negatif, dan sinar surya-rembulan. Dengan adanya kombinasi hawa positif-negatif, air hujan, dan sinar matahari, barulah benih dapat tumbuh. Jika semuanya tak ada, tak mungkin padi bisa menguning. Kita memerlukan bumi, karena tanpa bumi ataupun tanah, di mana lagi kita harus menabur benih-benih tersebut. Dengan adanya air dan mineral yang terkandung di dalam tanah, benih dapat tumbuh. Tanpa langit dan bumi, tak mungkin ada padi yang dihasilkan.

Dalam proses pertumbuhan benih tersebut, air adalah faktor yang sangat penting. Jika semata-mata tergantung pada air hujan, itu tidaklah cukup. Sehingga diperlukan pengairan atau irigasi berupa waduk air. Untuk membangun sebuah waduk air dibutuhkan tenaga kerja, dana, bahan material yang besar. Maka kita pun harus berterima kasih kepada orang-orang yang terlibat dalam pembuatan waduk ini.

Tibalah waktu panen, diperlukan mesin untuk menggilingnya. Mesin giling tersebut memerlukan bahan bakar. Dari mana asal bahan bakar tersebut? Sektor-sektor yang terkait semakin luas. Untuk memasak nasi diperlukan alat penanak nasi yang memerlukan listrik. Listrik berasal dari mesin pembangkit listrik. Proses ini pun memerlukan dana, tenaga kerja, dan material yang tak sedikit. Setelah itu kita perlu sendok, garpu, piring, dan berbagai peralatan makan lainnya. Untuk menghasilkan peralatan ini juga diperlukan beberapa proses. Kalau kita membicarakan langkah selanjutnya, tak ada habisnya pihak yang terlibat. Ternyata, manusia dan benda yang harus kita syukuri sangatlah banyak. Sungguh tepat pernyataan 'Bersyukur atas segalanya, selalu bersyukur'. Orang demikian adalah orang yang paling diberkahi, orang yang hidupnya selalu berbahagia.

Untuk memenuhi segala kebutuhan hidup sehari-hari, baik itu rumah, pakaian, sepatu, peralatan masak, peralatan tidur, televisi, dan lain sebagainya, diperlukan proses yang tidak sedikit hingga dapat kita gunakan. Dari proses produksi sampai distribusi, membutuhkan ribuan hingga jutaan tenaga kerja, dana, dan material. Janganlah menganggap bahwa dengan uang yang dimiliki kita dapat memperoleh segalanya begitu saja. Semua barang yang kita beli merupakan hasil jalinan kerjasama tenaga manusia yang tak terhitung jumlahnya. Sungguh banyak orang dan benda yang telah berbudi kepada kita, dan semuanya patut disyukuri.

Marilah kita sadari jasa besar langit, bumi, surya, rembulan, hingga sebatang pohon, sekuntum bunga, sebuah batu, bahkan sebutir pasir sekalipun. Batu dan pasir ibarat pahlawan tanpa nama. Dengan batu dan pasir, kita dapat membangun rumah, jembatan, dan bangunan-bangunan lainnya. Jangan memandang mereka hanya sebagai benda mati yang tak bermanfaat bagi manusia. Manusia adalah makhluk yang paling berbudi, namun justru kita paling tak berbudi jika dibandingkan dengan batu dan pasir. Batu dan pasir dapat berkorban dan berdedikasi tanpa pamrih dan tanpa nama. Sedangkan manusia, baru berbuat sedikit saja sudah menuntut nama dan kedudukan. Seandainya kita dapat meneladani karakteristik batu dan pasir maka kita adalah Buddha, Bodhisatva, dan Nabi. Sungguh besar budi dan jasa langit, bumi, laksa makhluk dan benda kepada manusia.

Juga tak lupa kita harus bersyukur atas rahmat kasih Tuhan, cinta kasih Buddha Maitreya, dan budi lindungan serta tanggungan dari Kedua Guru Agung. Karena tanpa rahmat kasih LAOMU yang menurunkan FirmanNya, sumpah agung Buddha Maitreya yang tiada tara, dan budi-kebajikan dari Kedua Guru Agung, maka tak mungkin kita dapat memohon, membina, dan mengamalkan Ketuhanan. Kita tak mungkin memperoleh Jalan Ketuhanan yang hanya sekali diturunkan selama kurun waktu 129.600 tahun. Ditambah lagi dengan kesempatan untuk memasuki dunia bahagia selama 10.800 tahun, sungguh kita harus bersyukur yang sedalam-dalamnya atas budi yang besar ini.

* * *

Marilah bersyukur atas segala-galanya, karena kesuksesan yang kita capai adalah berkat rahmat kasih Tuhan dan budi-kebajikan Guru, juga peran serta dari berbagai pihak.

Kita harus senantiasa berterima kasih atas bimbingan Sesepuh, Pandita, para senior, sesama pembina maupun umat bawahan, juga kepada orang tua yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Tanpa manusia awam tidak akan ada Buddha. Demikian juga tanpa umat bawahan tak akan ada Sesepuh, Pandita, dan senior. Seorang Sesepuh, Pandita, senior, atau pimpinan dapat memiliki amal kebajikan besar, dapat menunaikan mahaikrar, dan dapat meniti karir suci 10.800 tahun, semuanya adalah berkat rahmat kasih Tuhan, budi-kebajikan Tribuddha, dan kasih umat-umat bawahan. Tanpa umat bawahan, bagaimana kita dapat menunaikan ikrar dan mengamalkan kebajikan? Bagaimana kita dapat mengamalkan Kebenaran Hati Nurani? Bagaimana kita dapat membalas rahmat kasih LAOMU dan budi-kebajikan Guru, serta membangun karya suci suci 10.800 tahun? Bukankah sepantasnya kita berterima kasih kepada mereka?

Seorang Sesepuh, Pandita, atau senior, juga tidak dapat berbuat banyak jika hanya berdiri seorang diri. Apakah mungkin dalam sebuah bangunan vihara besar yang terdiri dari beberapa lantai, hanya satu orang yang tinggal? Pada saat seseorang datang untuk memohon Ketuhanan, semua tugas harus dilaksanakan seorang diri. Mulai dari menyiapkan handuk, menyuguhkan minum, melayani, menulis Naskah Suci, menyalakan Pelita Suci, menjadi protokol, hingga melaksanakan ritual penyajian. Setelah semua pekerjaan selesai, sekujur tubuh sudah terasa letih. Namun tak berhenti sampai disana, kita juga harus menjadi guru pengajak dan guru penanggung, sekaligus sebagai Pandita yang mendhiksa. Lalu kita harus membabarkan Trimustika. Hingga semuanya selesai, kita pun sudah kelelahan dan kehabisan tenaga.

Dari sini dapat kita lihat, bahwa agar sebuah tugas dapat berhasil, diperlukan sumbangsih tenaga dan buah pikiran dari banyak orang. Maka tidak ada istilah tokoh idola atau tokoh sentral di dalam Wadah Ketuhanan. Sesepuh, Pandita, senior sampai pada umat haruslah bersatu hati - satu kebajikan, saling bekerjasama menyumbangkan pikiran dan tenaga saat melaksanakan sebuah tugas. Dalam Wadah Ketuhanan, semua kesuksesan yang kita capai adalah hasil kerja sama dan jerih payah dari semua pihak, bukan karena kehebatan atau keberhasilan seseorang. Misalnya, hari ini kita bisa mengajak 50 orang memohon Ketuhanan. Pandita bertugas mendhiksa, ada pelaksana yang menjadi protokol, membabarkan Trimustika, menulis Naskah Suci, menyiapkan handuk dan air minum, dan juga ada umat yang bertugas membantu di dapur. Dari atasan hingga bawahan bahu-membahu saling bekerja sama hingga upacara dhiksa bisa berjalan dengan lancar dan sempurna. Kesuksesan ini adalah milik bersama, bukan milik Pandita, bukan milik pelaksana tertentu, atau petugas dapur saja. Semua pihak dapat menikmati keberhasilan tersebut.

Sebagai seorang pimpinan atau senior haruslah bersyukur dan berterima kasih kepada umat bawahan, sehingga tugas-tugas suci tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Demikian juga sebagai bawahan kita harus bersyukur dan berterima kasih kepada atasan dan senior yang telah membimbing kita, sehingga kita memiliki kesempatan untuk berbuat amal kebajikan. Demikianlah baik atasan maupun bawahan harus saling bersyukur dan saling berterima kasih.

Puji syukur atas rahmat kasih Tuhan dan cinta kasih Buddha Maitreya, sehingga hari ini kita dapat ikut serta berjuang dalam Misi Suci Penyatusempurnaan Universal. Di jagat raya ini tak ada benda atau masalah yang sempurna, namun di balik ketidaksempurnaan ini kita telah mendapatkan kesempatan mulia yang mendatangkan kecemerlangan Nurani yang sempurna. Sungguh kita harus mensyukurinya! Bersyukurlah atas rahmat kasih Tuhan, cinta kasih Buddha Maitreya, dan budi-kebajikan Kedua Guru Agung sepanjang hidup kita.

* * *

Jika senantiasa bersyukur atas segalanya, jiwa pasti terasa damai dan bebas leluasa, bebas dari belenggu duniawi.

Jika hati dipenuhi rasa syukur, senantiasa bersyukur atas segala-galanya, kita akan merasa sebagai orang yang paling bahagia dan paling beruntung di dunia. Berkat rahmat kasih Tuhan, cinta kasih Buddha Maitreya, budi-kebajikan Bapak Guru Agung dan Ibu Guru Suci, Satu Inisisasi Sejati diturunkan. Begitu luhur Satu Inisiasi Sejati yang telah kita dapatkan, sudah selayaknya kita selalu bersyukur.

Segala usaha dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan: menyelamatkan umat manusia, membabarkan Kebenaran, melaksanakan amal kebajikan, merintis pembangunan vihara, melaksanakan triamal; demi Ketuhanan kita mengalami penderitaan, meneteskan keringat, air mata, dan darah, berkorban dan berdedikasi tiada henti, semua ini kita lakukan hanya atas dasar dua kata, yaitu 'rasa syukur'. Selain rasa syukur, tiada hal yang lebih pantas yang mampu mewakilinya. Inilah realisasi nyata bekerjanya Hati Nurani yang Paling Sempurna sebagai pengendali raga ini.

Jika hati kita selalu bersyukur atas segalanya, maka tiada lagi rasa kesal dan benci. Kita akan terbebas dari rasa iri dan prasangka. Sifat sombong, serakah, egois ataupun sikap saling menjatuhkan, dengan sendirinya sirna. Dengan senantiasa bersyukur atas segalanya, sikap dan tingkah laku kita tak akan merugikan orang lain. Jiwa kita menjadi lapang dan bebas leluasa. Saat Hati Nurani telah sempurna terealisasi, sempurnalah segalanya.

Terpujilah Rahmat Kasih Tuhan dalam Kuasa FirmanNya yang tak tertandingi. Terpujilah budi-kebajikan Guru Firmani yang selalu mengayomi kita, sehingga Hati Nurani yang Paling Sempurna dapat berkuasa kembali sebagai pengendali badan jasmani yang tidak sempurna. Dengan meminjam badan raga, marilah merealisasikan Hati Nurani yang Paling Sempurna dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.