|
Hati Nurani Paling Universal Menghormati Segalanya, Selalu Respek (1)
Bapak Guru Agung dan Ibu Guru Suci yang datang dalam Kuasa Firman Tuhan, mentransmisikan Inisiasi Sejati. Satu petunjuk suci mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Universal telah ada di dalam diriku. Bila Hati Nurani yang Paling Universal telah menjadi pengendali atas raga ini, maka secara wajar diri ini akan menghormati segalanya - selalu respek.
Hingga saat ini penduduk dunia telah berjumlah lebih dari enam milyar umat manusia, yang terdiri dari lebih dari 180 negara. Sekian banyak penduduk tersebut berasal dari beragam suku bangsa, warna kulit, kelompok, dan religi. Secara individual, kita juga melihat adanya perbedaan antara satu dengan lainnya: pria - wanita, tua - muda, bijak - bodoh, kaya - miskin, dan segala perbedaan lainnya. Demikianlah, manusia hidup dalam dunia yang sangat majemuk - dunia yang penuh perbedaan - dan kita sendiri termasuk salah satu di dalamnya. Ini adalah sebuah kenyataan yang tak dapat dihindari.
Dalam skala global, setiap hari dari berbagai media dapat kita temukan berita-berita yang bernada sama - seputar pertikaian antarmanusia, antarsuku, antargolongan, hingga antarnegara. Dunia semakin terbiasa dengan kasus-kasus pembantaian yang bersifat rasialis. Kerusuhan dan kriminalitas selalu terjadi. Di muka bumi ini, peperangan sudah menjadi tragedi yang klise, sama sekali bukan hal yang baru. Belum lagi perlombaan teknologi senjata pemusnah massal yang terselubung, yang sesungguhnya adalah perang dingin antarnegara.
Demikianlah, pola kehidupan manusia terus berkembang, dan kini umat manusia tidak lagi saling menghargai. Kita semakin sibuk untuk memenuhi keinginan pribadi, dan semakin melupakan lingkungan sekitar. Sikap ego mengajak kita untuk menjadikan kepentingan pribadi dan kelompok sebagai yang utama, dan di luar dari itu tak ada yang perlu diperhitungkan. Sikap inilah yang menciptakan jurang pemisah yang terus melebar. Dari sinilah segala pertikaian bermula.
Di kalangan masyarakat, manusia telah terbiasa dengan pola pandang yang keliru. Kita menjadikan kedudukan yang tinggi, harta kekayaan yang banyak, reputasi yang baik, serta prestasi yang cemerlang, sebagai tolok ukur dalam relasi kemanusiaan. Kita beranggapan bahwa hanya orang-orang seperti itulah yang layak dihargai, dihormati, dan dimuliakan oleh orang banyak.
Pernahkah kita bayangkan, bahwa sesungguhnya sikap diskriminasi seperti ini akhirnya membawa dampak pada kenyataan yang sebaliknya. Kini bagaimana sikap kita terhadap orang-orang miskin, orang yang tidak berpendidikan, orang yang sama sekali tidak berkedudukan? Umumnya kita beranggapan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak terpandang, dan pada dirinya tak ada yang pantas dihormati. Sehingga akhirnya kita akan cenderung untuk menjaga jarak, karena tidak ada kepentingan dengan mereka. Rasanya tak ada keuntungan apapun yang dapat dipetik dari orang-orang seperti itu. Demikianlah, nilai-nilai pergaulan terus bergeser. Kini hubungan antarsesama bukan lagi berdasarkan ketulusan yang manusiawi, namun selalu didasari oleh kepentingan-kepentingan tertentu.
Sebagai akibatnya, kini telah menjadi fenomena yang biasa, bila orang yang pintar meremehkan orang yang bodoh. Adalah biasa jika orang kaya merendahkan orang yang miskin. Demikian juga orang yang memiliki paras cantik, seringkali mengandalkan kecantikannya sehingga mempermalukan orang yang buruk rupa. Orang yang memiliki kekuasaan cenderung untuk menindas yang lemah. Dan orang yang sukses ada kalanya mempermalukan orang yang gagal. Sehingga pepatah "Yang menang jadi raja, yang kalah jadi budak" nampaknya menjadi gambaran sosial di zaman ini.
Pola pandang semacam ini semakin mengakar di dalam diri setiap insan. Tanpa kita sadari, sesungguhnya konsep pemikiran seperti inilah yang memicu persaingan di tengah masyarakat. Kini manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan, kekuasaan, reputasi, dan kecantikan, demi mendapatkan pujian dan penghargaan. Kita menganggap, dengan memperoleh itu semua hidup kita akan semakin leluasa dan bahagia. Kita berharap bahwa dengan memiliki segala kelebihan ini, status kehormatan kita akan semakin terangkat.
Inilah wajah dunia kita, di mana prilaku setiap insan semakin menjauhi nilai-nilai Kebenaran. Hawa keserakahan membuat manusia tak pernah merasa puas, selalu mencari ke luar diri. Manusia hidup di tengah persaingan dan pertikaian yang sesungguhnya tak perlu ada. Hari demi hari selalu dipenuhi dengan rasa curiga, takut, iri, dan sikap persaingan. Manusia berpikir keras untuk menjadi yang terdepan, tertinggi, terkuat, dan terhebat. Kekalahan adalah kenyataan yang paling takut kita hadapi. Kini dunia ibarat sebuah perangkap besar yang kita ciptakan sendiri! Marilah bertanya kepada hati kecil di dalam diri, "Dunia seperti inikah yang kita inginkan?"
Bersambung...
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|