Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  HATI NURANI PALING UNIVERSAL (2)


Hati Nurani Paling Universal
Menghormati Segalanya, Selalu Respek (2)

Dunia yang penuh dengan perbedaan adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Namun perbedaan itu sendiri tak dapat kita salahkan sebagai pemicu kekacauan di tengah dunia. Kesalahan yang utama sesungguhnya ada pada diri kita, yaitu sikap ego, keserakahan, dan diskriminasi antarsesama umat manusia. Dengan sikap seperti ini, walaupun di dunia hanya tersisa dua orang manusia saja, tetaplah pertikaian dapat terjadi! Bahkan seorang pemimpin besar, Mahatma Gandhi pernah berkata, "Dunia kita sesungguhnya cukup bagi semua umat manusia, namun tidak cukup untuk memenuhi keserakahan seorang manusia."

Inilah saatnya bagi umat manusia di dunia untuk merombak pandangan yang salah. Dan marilah kita mulai dari diri kita! Selama ini kita hanya melihat melalui mata daging dan pikiran yang terbatas, sehingga yang terlihat hanyalah sisi eksternal, wujud lahiriah semata. Sesungguhnya dari sinilah timbul segala diskriminasi.

Marilah kita pahami, bila hari ini kita dihargai, dihormati, dan dijunjung tinggi semata-mata karena kepintaran, kekayaan, kekuasaan, kedudukan, ataupun reputasi tinggi yang kita miliki, maka ini adalah sebuah kenyataan yang menyedihkan! Kepintaran, kecantikan, harta, kedudukan, kuasa, dan reputasi kita adalah bagaikan pakaian bagi diri kita. Ia bersifat fana, karena dapat mengalami perubahan. Ia bukan jati diri kita yang sesungguhnya! Adakah kebahagiaan yang sesungguhnya, bila orang hanya menghormati pakaian yang kita kenakan, dan bukan sang pemilik yang ada di balik pakaian? Lebih jauh lagi, bagaimana kelak saat pakaian yang bagus ini harus kita tanggalkan? Pada saat itu, masih adakah orang yang menghormati kita? Sadarilah, bahwa kebahagiaan atas penghormatan semacam ini sangat bersifat semu!

Kini marilah kita berpaling ke dalam Hati Nurani, hati suci yang ada di dalam diri setiap insan. Di dunia ini tiada yang paling Universal selain Hati Nurani. Hanyalah Hati Nurani yang mampu menembus segala bentuk diskriminasi di muka bumi. Hanyalah kecemerlangan Nurani yang mampu menyatukan segala perbedaan. Hanya dengan keinsafan Nurani, kedamaian dapat terwujud di muka bumi.

Bagaimana sesungguhnya realitas Hati Nurani yang Paling Universal? Hati Nurani yang Paling Universal berarti bahwa setiap insan sesungguhnya adalah sama, adalah satu, adalah bagian dari Roh Suci Tuhan. Kita semua adalah anak-anak dari Bunda yang sama, dari LAOMU Yang Maha Agung. Lebih dari enam milyar umat manusia di dunia, semuanya adalah bagian dari Roh Suci yang sama, yang bersumber dari Tuhan. Tuhan hidup di dalam diri kita. Kasih dan kuasa-Nya bekerja pada diri kita, dan juga pada diri setiap insan.

Selama ini kita tidak bisa saling menghargai dan menghormati antarsesama manusia. Penyebabnya adalah, kita tidak menginsafi keberadaan Hati Nurani Mahaagung - kuasa LAOMU yang ada di dalam diri setiap insan. insafilah bahwa setiap insan adalah sama, adalah anak-anak LAOMU. Dengan kata lain, kita semua adalah saudara. Maka di antara sesama saudara sudah selayaknya kita saling mengasihi, saling menghargai, dan saling menghormati. Bukan semata karena kekayaan, kedudukan, kuasa, kecantikan, atau karena prestasi mereka, tetapi karena aku dan mereka adalah satu, adalah saudara, adalah bagian dari Roh Suci LAOMU.

Demikianlah, sesungguhnya hubungan kita dengan orang lain adalah sangat erat, baik kita mengenalnya ataupun tidak. Di mata Kebenaran Tuhan, jika kita mampu menghormati dan menghargai orang-orang tanpa diskriminasi, berarti kita menghormati dan menghargai Roh Tuhan di dalam diri mereka. Juga sebaliknya, bila kita merendahkan sesama, berarti kita telah memandang rendah Roh Tuhan di dalam dirinya, merendahkan kuasa Tuhan yang bekerja pada diri mereka, dan secara tidak langsung berarti kita telah merendahkan Hati Nurani sendiri.

Dari Kebenaran ini, jelaslah bahwa penghormatan dan penghargaan yang sejati bukan berasal dari sebab jodoh di luar diri. Tidak karena seseorang memiliki kekuasaan, kekayaan, kecantikan, kedudukan dan kepintaran, barulah kita menghormatinya. Jika Hati Nurani yang Paling Universal menjadi penguasa di dalam diri, maka tidak peduli apakah seseorang kaya atau miskin, berkuasa atau tidak, cantik atau buruk rupa, berkedudukan ataukah rakyat jelata, pintar ataupun bodoh, kita tetap akan menghargai dan menghormati dirinya, karena ia adalah bagian dari Roh Suci Tuhan. Tidak peduli dari negara dan suku bangsa mana ia berasal, bagaimana warna kulitnya, kepercayaan apa yang dianutnya, semua memiliki martabat yang sama, karena memiliki Hati Nurani yang sama. Demikianlah, Hati Nurani yang Paling Universal melampaui segala bentuk dualisme kehidupan.

Kebajikan sejati adalah segala sifat mulia yang dipancarkan seseorang di dalam kehidupan sehari-hari. Inilah manifestasi Hati Nurani yang merupakan bagian dari Roh Suci Tuhan di dalam diri. Hanya dengan kecemerlangan Hati Nurani, barulah kita mampu memancarkan kebajikan yang tak terbatas dari dalam diri. Penghormatan yang sejati lahir dari kebajikan Hati Nurani, bukan dari apa yang ada pada tubuh jasmani ini. Kemuliaan yang sejati muncul dengan sendirinya ketika orang tergugah dengan pribadi luhur yang kita pancarkan. Karena pada saat itu sesungguhnya kita telah mampu memanifestasikan kemuliaan Roh Suci Tuhan melalui diri ini.

Maka jika seandainya segala jabatan, kekayaan, popularitas dan segala bentuk sebab jodoh eksternal yang dulu pernah ada kini telah berakhir, namun orang masih tetap menghormati, menghargai, dan mendekati kita, inilah bentuk penghormatan dan penghargaan yang sesungguhnya. Rasa hormat ini timbul karena kebajikan sejati yang terpancar dari dalam diri. Dari sini terbukti bahwa orang menghormati kita bukan karena wujud luar diri kita, tetapi karena pribadi kita. Tetapi bila orang menghormati kita hanya karena kita berkedudukan tinggi, karena kita adalah seorang pimpinan atau senior yang berkuasa, hal ini menunjukkan kegagalan kita untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Di dalam Wadah Ketuhanan, seandainya kita adalah seorang Sesepuh, Pandita, pandita madya, pandita muda, atau umat senior, dan seandainya kita pandai berkhotbah, pintar membimbing umat, banyak membuka vihara, banyak berdana amal, ini berarti kita harus lebih berhati-hati dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan. Mengapa demikian? Karena umumnya dengan posisi seperti ini orang-orang akan semakin menghormati kita. Kata-kata kita selalu dihargai, dan kita menjadi orang yang sangat berpengaruh di dalam Wadah Ketuhanan. Kenyataan seperti ini sesungguhnya sangat wajar dan biasa terjadi, dan kita pun tak perlu menolak keadaan. Namun seandainya hati kita semakin terikat pada penghormatan mereka, perlahan-lahan diri ini akan semakin merasa hebat. Kita akan menjadi tinggi hati, merasa terpandang, dan semakin menuntut untuk dihormati. Pembinaan semacam ini tentu telah menyimpang dari Kebenaran. Sebab ternyata kita telah menggunakan sebab jodoh eksternal untuk memperoleh penghormatan dari semua orang.

Marilah kita bayangkan, jika seandainya sekarang kita tanggalkan semua unsur eksternal itu - dalam arti kata, kita bukan lagi Sesepuh, Pandita, pandita madya, atau umat senior, kita tidak fasih berbicara, tidak begitu pandai menguraikan dharma Kebenaran, tidak mempunyai banyak harta untuk berdana amal, tidak pandai mengajak orang memohon Jalan Ketuhanan, tidak bisa membimbing umat, juga kurang bisa mengembangkan Wadah Ketuhanan - saat itu masih adakah yang mau menghormati dan menghargai kita?

Jika karena sebab jodoh eksternal kita baru dihormati dan dihargai, ini berarti kita masih berada dalam ikatan kefanaan - ikatan sebab jodoh. Dan ketika sebab jodoh ini berlalu, orang tak akan menghormati dan menghargai kita lagi. Saat hal seperti ini terjadi, kita pasti akan merasa sangat menderita, sedih, benci, dan tidak puas. Namun sekalipun demikian, semua itu percuma saja, dan untuk menyesal pun sudah terlambat.

Demikianlah penginsafan yang perlu kita lakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menginsafi Hati Nurani yang Paling Universal di dalam diri, kita tidak terikat pada sebab jodoh luar diri. Yang kita utamakan adalah kebajikan sejati yang terpancar dari Hati Nurani, sehingga dengan sendirinya orang-orang akan merasa damai bersama kita. Dengan menginsafi bahwa setiap orang memiliki Hati Nurani - Roh Suci Tuhan - yang sama, maka dengan sendirinya kita mampu menghormati segalanya, selalu respek. Menghormati sesama manusia tanpa diskriminasi, berarti juga menghormati Kuasa Tuhan yang ada pada diri mereka.

Marilah kita renungi, sesungguhnya Kuasa Tuhan sangat luas, meliputi seluruh jagad raya. Di dalam semesta ini tiada yang lepas dari Kuasa-Nya. Langit, bumi, matahari, rembulan, dan bintang, seisi semesta adalah manifestasi kuasa Tuhan. Demikian juga sehelai rumput, gunung, sungai, telaga, semuanya tak luput dari kerja kuasa Tuhan. Lebih jauh lagi, kuasa Tuhan juga bekerja pada seluruh makhluk dalam dasadharma loka (sepuluh alam kehidupan). Baik makhluk-makhluk di alam Buddha, Bodhisatva, Pacceka Buddha, Arahat, Dewa-Dewi, manusia, ashura, binatang, setan kelaparan, hingga seluruh makhluk di alam neraka. Sesungguhnya kasih dan kuasa Tuhan selalu bekerja pada diri mereka. Walaupun berada pada kesadaran Nurani yang berbeda-beda, sesungguhnya semua memiliki Bunda yang sama. Maka tak ada alasan untuk bersikap diskriminasi, karena sesungguhnya semua adalah saudara. Dengan menghormati seisi semesta ini, barulah dikatakan bahwa kita sungguh-sungguh menghormati LAOMU.

Langit dan bumi adalah manifestasi kasih Tuhan bagi semua makhluk. Angin, awan, hujan, embun, dan udara senantiasa dipersembahkan bagi kelangsungan hidup kita. Mentari bersinar terang tanpa henti, dan cahaya rembulan bagaikan pelita dalam kegelapan. Segala jenis tumbuhan: palawija, sayur-sayuran, dan buah-buahan yang kita makan, adalah berkah yang terus menerus kita peroleh dari bumi. Bahkan segala benda yang kita gunakan, tiada satupun yang bukan berasal dari bumi tempat kita berpijak. Demikianlah, seakan tak mengenal lelah, langit dan bumi senantiasa mengayomi kehidupan seluruh makhluk. Langit dan bumi adalah pancaran kebajikan yang besar dan agung, yang pantas kita hormati. Inilah kuasa dan kasih Tuhan yang bekerja pada langit dan bumi, sehingga kita harus senantiasa menghargai dan menghormatinya.

Makhluk-makhluk yang hidup di darat, udara, dan air, semuanya harus kita hormati karena pada diri mereka juga terdapat bagian Roh Tuhan yang sama dengan kita. Kalaulah kuasa Tuhan bekerja pada diri mereka, Kasih Tuhan terus menyertai mereka, maka kita tidak berhak untuk melukai mereka. Kalaulah Tuhan sendiri memberikan nafas kehidupan bagi mereka, maka kita tidak berhak untuk membunuhnya. Terlebih jika semua itu kita lakukan semata demi pemuasan nafsu mulut.

Jika Hati Nurani telah menjadi penguasa di dalam diri, maka secara wajar kita menghormati semua makhluk yang terbang di udara, sehingga tidak akan tega menembak dan membunuh burung-burung yang berterbangan di udara. Jika kita mampu menghormati semua makluk yang hidup di darat seperti sapi, kambing, babi, ayam, itik, anjing, dan sebagainya, kita tidak akan berani menyembelih mereka hanya sekedar untuk disantap. Begitu juga dengan makhluk yang hidup di air seperti ikan, udang, dan sebagainya, kita juga tidak akan tega membunuhnya untuk dimakan, karena semuanya memiliki Percikan Roh Tuhan yang sama dengan diri kita.

Bersambung ...

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.