Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  HATI NURANI PALING UNIVERSAL (3 - TAMAT)


Hati Nurani Paling Universal
Menghormati Segalanya, Selalu Respek (3 - Tamat)

Kedua guru agung telah mentransmisikan Satu Inisiasi Sejati ¤ yang mengungkapkan kepada kita bahwa LAOMU yang Tiada Tara ada di dalam diriku. Pada dasarnya Bunda dari semua Buddha, Guru dari segala Kitab dan Sutra, dan Raja dari segala Dharma ada di dalam diri Setiap insan. Dengan menghormati orang lain berarti kita juga menghormati Bunda dari semua Buddha, Guru dari segala kitab dan sutra, dan Raja dari segala dharma yang ada di dalam dirinya.

Di mata para Buddha, semua umat manusia adalah calon Buddha, karena memiliki watak Buddhata yang hidup - Hati Nurani - Percikan Roh Suci Tuhan Yang Mahaagung. Dengan menghormati orang lain, berarti kita juga menghormati Bunda dari segala Buddha, Guru dari segala Kitab dan Sutra, Raja dari segala Dharma yang ada di dalam diri kita. Sebagai seorang pembina Ketuhanan, hendaknya kita bisa menginsafi hal ini. Jikalau kita benar-benar mampu menginsafi Hati Nurani Paling Universal, maka inilah wujud persaudaraan Ilahi. Dengan demikian, hakekat 'empat samudera, alam semesta, triloka, dan dasa dharma loka adalah satu keluarga' juga dapat kita insafi. Tiada lagi perbedaan antara aku, engkau, dan dia.

Sepanjang sejarah peradaban manusia, pertikaian dan pertempuran antarsesama yang dilatarbelakangi perbedaan golongan, paham, suku, ataupun agama tidak pernah berhenti. Kehidupan sehari-hari tidak lepas dari permasalahan kemanusiaan yang kompleks. Demikian pula hubungan antarsesama pembina Ketuhanan, ada kalanya begitu sulit untuk dapat bersatu hati - satu kebajikan. Penyebab utamanya adalah karena kita belum menginsafi Hati Nurani yang Paling Universal, sehingga belum bisa melaksanakan sikap 'menghormati segalanya dan selalu respek'. Hubungan kita, baik terhadap pimpinan, orang yang lebih tua, senior, serta terhadap sesama rekan ataupun bawahan tidak didasari sikap ini.

Seandainya saja dari jajaran atasan hingga bawahan mampu saling menghormati dan menghargai, mampu bersikap sehati - sekebajikan, maka terciptalah sebuah 'keluarga besar' yang mendatangkan keharmonisan, ketentraman, kenyamanan, dan kedamaian bagi semua. Walaupun beragam umat datang dan berkumpul dalam Wadah Ketuhanan, namun semua berpadu hati, sehingga bagaikan seorang umat saja. Inilah yang dinamakan 'bersatu hati - satu kebajikan', sehingga terbentuklah sebuah persaudaraan Ilahi, sebuah hawa Kebenaran yang besar.

Suatu komunitas bisa tangguh dan kokoh, jika semua pihak dapat bersikap saling menghormati dan menghargai.

Adalah manusiawi bila kita sebagai manusia masih memiliki keinginan untuk dihormati. Setiap orang ingin agar pendapatnya didengar dan dihargai. Umumnya tak ada orang yang senang mendapatkan perlakuan kasar, dihina, atau diabaikan. Oleh karena itu, jadikanlah sikap ini sebagai prinsip utama kita dalam berkomunikasi dengan orang lain. Jadikanlah kenyataan ini sebagai pegangan, agar kita dapat senantiasa menjalin dan menjaga hubungan baik antar sesama.

Sebagai seorang murid kita hendaknya mampu bersikap hormat kepada para Sesepuh, Pandita, dan umat senior lainnya, baik yang memiliki kemampuan jauh di atas kita ataupun sebaliknya. Sekalipun kita telah mampu melaksanakan dan mengembangkan Wadah Ketuhanan hingga ke seluruh dunia, kita telah membimbing ribuan bahkan jutaan umat, namun Pandita kita selamanya tetaplah Pandita kita, senior kita. Dan kita sendiri selamanya tetap berada pada posisi sebagai seorang muridnya. Begitu berjumpa dengan Sesepuh, kita tetap harus bersujud, menyatakan hormat tiga kali kepadanya. Demikian pula begitu bertemu dengan Pandita, kita tetap harus bersujud, menyatakan hormat satu kali kepadanya.

Saat bersama dengan Sesepuh dan Pandita, terlebih saat berada di hadapan para umat atau yunior kita, kita harus bisa menunjukkan teladan mulia. Kita tetap mendahulukan dan mengutamakan Sesepuh dan Pandita, tetap berdiri di belakang mereka. Kita sama sekali tidak diperbolehkan untuk menonjolkan ataupun mengutamakan diri sendiri, walaupun posisi kita telah sangat tinggi. Jadi, bukanlah dikarenakan kita telah berprestasi dan memiliki jutaan umat, lantas kita boleh meninggikan diri di hadapan para Sesepuh dan Pandita kita. Seperti halnya bila kita telah menjadi seorang pejabat tinggi yang menguasai suatu wilayah, begitu bertemu dengan ayah bunda yang telah melahirkan dan membesarkan kita, kita tetaplah harus menyapa mereka dengan penuh hormat. Bagaimanapun hebatnya, kita tetaplah seorang anak yang lahir dan dibesarkan oleh mereka. Singkat kata, sehebat apapun posisi kita, tidak mengubah kenyataan bahwa kita adalah bagian dari darah daging mereka.

Demikianlah, sikap menghormati Sesepuh, Pandita, dan para senior sesungguhnya merupakan kewajiban Nurani kita sebagai bawahan atau seorang murid. Bila dalam setiap hal kita dapat menerapkan sikap ini, maka hal ini akan mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian di hati mereka. Saat itu kita telah memancarkan pribadi seorang murid yang berbakti, yang mampu menghibur hati mereka. Sehingga tanpa kita tuntut, atasan pun dengan sendirinya akan semakin memperhatikan dan mengasihi kita.

Sebaliknya, jika kita tidak bisa menghormati atasan, kita terpaku pada sisi luar diri atasan yang terbatas, terikat pada ucap kata dan perilaku kulit luar, terikat pada wujud rupa dan warna-warni kehidupan; atau singkat kata, kita tidak lagi menghiraukan Percikan Roh Suci Tuhan yang bekerja di dalam diri mereka, maka ini berarti kita telah jatuh dalam hati 'aku', hati yang penuh dengan diskriminasi. Sehingga sulit untuk menciptakan keharmonisan dalam hubungan antara atasan dan bawahan.

Bersama sesama rekan pembina, kita juga memiliki bagian Roh Suci Tuhan yang sama. Maka sudah sewajarnya kita menghormati mereka. Biasanya terhadap sesama, kita sulit untuk menerima kelebihan orang lain. Kita khawatir saat melihat sesama rekan yang lebih cantik, lebih pintar, lebih menonjol daripada kita. Kita khawatir kalau mereka lebih dekat dengan jajaran atasan. Sadarilah, sesungguhnya pada saat seperti ini, rasa iri dan cemburu telah menguasai hati kita.

Bila sikap-sikap buruk seperti ini tidak kita hilangkan, maka pikiran negatif akan semakin mengakar di dalam jiwa. Kita akan semakin mudah curiga, dan semakin sulit untuk menghargai dan menghormati orang lain dengan sepenuh hati. Kita akan semakin terdorong untuk menjatuhkan orang lain. Dan pada saat yang sama sesungguhnya diri sendiri telah terjatuh, karena tidak pernah dapat menjalin keharmonisan dengan orang lain. Bila terhadap rekan sepembinaan yang memiliki kelebihan saja kita tidak bisa menunjukkan sikap respek, bagaimana kita bersikap terhadap orang yang kemampuannya berada di bawah kita? Pastilah kita akan semakin sulit untuk bersikap menghormatinya, dan bahkan meremehkannya.

Dari sikap iri semacam ini terlihatlah bahwa kualitas pembinaan diri kita belum dewasa, sehingga kita menjadi orang yang berjiwa sempit. Oleh sebab itu, sejak saat ini marilah kita pupuk pandangan dan sikap yang benar dalam menghadapi orang-orang di sekitar kita. Jika Hati Nurani telah menjadi penguasa di dalam diri, kita akan bersyukur dan ikut berbahagia atas kemajuan dan kelebihan seseorang. Segala prestasi yang mereka capai tidak menjadi bibit rasa iri di ladang hati kita, melainkan justru semakin memacu diri kita dalam berjuang. Kita tak akan merasa gengsi untuk menyampaikan ucapan selamat sebagai penghargaan atas prestasi mereka. Namun kelebihan mereka tidak juga membuat rasa percaya diri kita hilang karena kita merasa berada di bawah mereka. Inilah sikap orang yang berjiwa besar, yang mampu menerima kelebihan orang lain.

Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap yunior dan bawahan? Apabila Hati Nurani yang Paling Universal telah menjadi penguasa di dalam diri, kita pasti menghormati semua murid dan umat secara adil dan menyeluruh. Rasa hormat yang kita berikan dapat berupa bimbingan, kasih sayang, perhatian, ataupun motivasi sehingga mereka semakin bersemangat dalam membina.

Di saat mereka mengalami kesulitan, hambatan, ataupun duka, kita akan berusaha ikut memikul beban mereka, menguatkan, dan membantunya mengatasi masalah. Bila ada bawahan yang memiliki kemampuan lebih dari kita, kita akan berbahagia dan berbesar hati, karena ini berarti Wadah Ketuhanan mempunyai generasi penerus yang berkualitas dan handal, sehingga memiliki prospek yang gemilang. Kita juga akan terus membimbing, memperhatikan, dan memperluas kesempatan bagi mereka untuk bertugas dan berkarya. Dengan demikian Wadah Ketuhanan akan semakin berkembang jaya.

Sebaliknya terhadap bawahan yang kurang berkemampuan, kurang aktif, kreatif, dan inisiatif; ataupun kurang sempurna dalam mengikuti dan mengemban titah bertugas; hendaklah kita tidak meremehkan mereka. Justru dengan kebesaran dan kelapangan hati, kita memaklumi dan memaafkannya. Dengan sikap dewasa kita paham bahwa mereka masih membutuhkan waktu untuk lebih mengembangkan diri, sehingga kita tidak memvonis kelemahan mereka begitu saja. Dengan penuh perhatian dan kasih, kita tetap terpanggil untuk membimbing, mendidik, memotivasi, serta memberikan teladan kepada mereka.

Singkat kata, jika mendapatkan bawahan yang berprestasi ataupun memiliki pribadi yang mulia, kita patut bersyukur dan berlapang dada. Sebaliknya terhadap bawahan memiliki banyak kelemahan, kita harus membesarkan hatinya, mencari segala cara untuk membangkitkan semangatnya sehingga ia semakin berusaha untuk memperbaiki diri. Dengan Demikian, kita telah menghormati Roh Suci Tuhan yang ada di dalam diri kita, sekaligus yang ada pada diri mereka. Inilah perilaku nyata dari Hati Nurani yang Paling Universal.

Sebab jodoh terjalinnya hubungan antarsesama manusia adalah Pengaturan Tuhan. Manfaatkan dan hargai segala sebab jodoh yang ada.

Dalam kehidupan ini, pertemuan kita dengan setiap orang merupakan sebab jodoh yang telah tertanam pada kehidupan lampau. Bila sebab jodoh berakhir, maka berakhir pula ikatan jodoh pertemuan tersebut. Oleh karena itu, hargailah dan manfaatkan segala sebab jodoh dengan siapa pun, baik ikatan sebab jodoh budi ataupun dendam, bajik ataupun batil, sedih ataupun bahagia, sebagai sarana untuk menggembleng dan melatih diri, memperbaiki sikap, temperamen, maupun kebiasaan buruk hingga tuntas.

Setiap orang memiliki sifat, temperamen, dan kebiasaan yang berbeda. Ada yang bersifat angkuh, ekstrim, keras kepala, pemalas, emosional, egois, dan segala sifat buruk lainnya. Ada pula yang bersifat rendah hati, bertanggung jawab, pemaaf, dan sifat mulia lainnya. Umumnya setiap individu memiliki perpaduan sifat-sifat mulia dan sifat-sifat buruk dengan kadar yang beragam. Bahkan di antara bermilyar manusia di dunia, tiada sepasang manusia pun yang memiliki sifat yang persis sama. Demikianlah kenyataan yang ada. Lantas, bagaimana kita dapat beradaptasi saat menghadapi keanekaragaman sifat dan kebiasaan ini? Penyesuaian diri hanya mungkin dilakukan jika kita mau berpaling ke dalam Hati Nurani yang Paling Universal di dalam diri. Hanya dengan merealisasikan sikap 'menghormati segalanya, selalu respek', barulah kita dapat mengalah, berlapang dada, dan memaklumi segala sifat manusia. Dengan sendirinya, semua temperamen, sikap, dan kebiasaan buruk kita akan terkikis.

Dalam pergaulan sehari-hari, tentunya kita tidak lepas dari berbagai kesalahpahaman, pertengkaran, gosip, perselisihan, dan sebagainya. Untuk mengatasi semua permasalahan itu juga diperlukan sikap 'menghormati segalanya, selalu respek', atau dengan kata lain sikap saling menghormati antarsesama manusia. Hanya dengan sikap ini, baru dapat mengatasi semua sebab jodoh batil yang ada.

Sesungguhnya segala masalah dan musibah yang selama ini pernah terjadi pada diri kita, berawal dari sebab jodoh batil yang pernah kita tanamkan. Apabila kita masih terus menjalin sebab jodoh batil, maka karma buruk yang harus kita panen pun tak akan ada habis-habisnya. Sehingga kelak masa depan kehidupan kita akan semakin suram dan selalu dirundung oleh masalah yang datang silih berganti. Tentunya kita tak mau hal seperti ini terjadi pada diri kita. Maka, masa sekarang ini adalah saat yang paling tepat bagi kita untuk menjalin sebab jodoh bajik dengan setiap orang.

Selanjutnya marilah senantiasa berintrospeksi ke dalam diri, selama ini jodoh macam apa yang kita tanamkan dengan orang lain? Jodoh yang bajik, ataukah jodoh yang batil? Jika ternyata selama ini kita telah menjalin sebab jodoh batil, sehingga membuat orang-orang resah, atau bahkan membuat mereka kecewa di dalam membina diri, maka segeralah bertobat di hadapan Tuhan, Buddha Maitreya, Kedua Guru Agung, dan para Buddha untuk memohon pengampunan. Teguhkanlah tekad untuk memperbaiki diri, sehingga kelak kita tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.

Sebaliknya, bila setiap saat kita menjalin sebab jodoh bajik dengan orang lain, baik terhadap orang yang berbudi maupun yang membenci kita, baik yang menjengkelkan maupun menyenangkan, atau yang merugikan dan menyakitkan sekalipun, maka kelak setelah tercapainya kebajikan yang sempurna, orang yang akan datang mendukung dan membantu kita tak terhitung jumlahnya. Semua ini adalah dikarenakan luasnya sebab jodoh yang kita tanamkan.

Mengapa Buddha Maitreya terpilih sebagai Buddha akhir jaman, Buddha dengan misi penyatusempurnaan universal? Mengapa kehadiran Beliau bertepatan masa di era pancaran putih ini? Karena selama berkalpa-kalpa kelahiran, Buddha Maitreya selalu menjalin jodoh bajik dengan semua makhluk. Beliau senantiasa menampilkan pribadi khas 'dipukul tak melawan, dimarah tak membalas, selalu rendah hati, sabar, tabah, dan tahan nista'. Sikap ini lahir dari jiwaNya yang benar-benar telah menginsafi bagaimana seharusnya menghormati semua insan. Beliau tak membedakan baik-jahatnya seseorang, meskipun orang tersebut memendam benci dan dendam terhadap Beliau. Apapun yang terjadi, Beliau berteguh pada sikap menghargai dan menghormati. Dalam pandangan Buddha Maitreya, di dalam diri setiap orang - baik yang bersikap baik ataupun sebaliknya - terdapat bagian Roh Suci Tuhan. Baik itu sebab jodoh yang bajik maupun sebab jodoh yang batil, semua Beliau pandang sebagai didikan dan gemblengan, sehingga Beliau senantiasa dapat menjalin jodoh bajik dengan semua orang. Demikianlah jika Hati Nurani yang Paling Universal telah menjadi penguasa di dalam diri. Melalui teladan nyata Beliau membimbing umat manusia menuju keinsafan Nurani. Inilah yang mengantar Beliau pada kesempurnaan Buddha Pancaran Putih.

Dalam kitab Buddhis dikisahkan, sewaktu Buddha Sakyamuni belum mencapai kesempurnaan, Beliau pernah terlahir sebagai Petapa Ksanti, yang artinya petapa yang sabar. Suatu ketika terjadilah kesalahpahaman antara Raja Kaliga dengan Petapa Ksanti ini. Raja mengira Sang Petapa Ksanti mencoba menggoda permaisurinya sehingga membuatnya begitu marah. Sehingga di dalam kekalutan Sang Raja mengambil pedang dan memotong kedua tangan dan kaki Sang Petapa.

Seketika itu juga muncullah Dewa Pelindung yang dengan segera menyambung kembali tangan dan kaki Petapa Ksanti itu. Raja Kaliga yang menyaksikannya menjadi takut dan gelisah, hingga segera berlutut memohon pengampunan kepada Sang Petapa Ksanti. Lalu apakah yang dikatakan Sang Petapa Ksanti? Ia berkata, "Kelak setelah Saya mencapai kesempurnaan Buddha, maka Engkaulah orang pertama yang akan kuselamatkan". Inilah kisah nyata yang menunjukkan bagaimana kita menghargai segala sebab jodoh yang terjadi pada diri kita. Sang Petapa Ksanti menerima berbagai jenis sebab jodoh yang muncul dengan penuh kebesaran jiwa.

Bahkan dengan jalinan sebab jodoh batil ini, Beliau telah menempa dan menyempurnakan dirinya. Di dalam setiap kehidupan, Beliau senantiasa menyempurnakan sebab jodoh yang ada. Sehingga akhirnya pada saat Beliau mencapai kesempurnaan Buddha, umat yang menyatakan diri sebagai pengikutnya berjumlah jutaan orang. Inilah buah dari jodoh bajik yang ditanam dalam setiap kehidupan. Oleh karena itu, selagi hayat masih dikandung badan, selagi masih memiliki kesempatan, kita harus berjuang menghormati orang lain demi menjalin sebab jodoh bajik dengan sesama.

Bumi Suci Maitreya adalah dunia yang damai sentosa, di mana tiada lagi segala bentuk perselisihan. Inilah bumi yang dijanjikan oleh Buddha Maitreya di dalam ikrar agungNya. Di sinilah kedamaian yang selama ini kita idam-idamkan dapat terwujud. Dan Bumi Suci Maitreya kelak hadir di muka bumi di mana saat ini kita berpijak.

Jika kita terbiasa dengan sikap menghormati orang lain, kelak baru bisa beradaptasi dengan suasana kehidupan di Bumi Suci Maitreya. Pada saat itu, setiap orang saling menghormati satu sama lain, karena masing-masing telah menginsafi Hati Nurani yang Paling Universal di dalam dirinya. Bila saat ini masih terlalu sulit bagi kita untuk menghargai dan menghormati sesama insan, apakah mungkin pada saat itu kita merasa nyaman? Mungkinkah kita bertahan dengan sikap kita yang sekarang ini? Jika kita tak mampu memancarkan sifat-sifat mulia, pada saat itu kita akan menjadi orang yang aneh, lain dari yang lain. Kita akan menderita karena tak ada satupun yang cocok dengan kita. Jadi bukan Buddha Maitreya yang menyaring diri kita memasuki Bumi Suci, melainkan diri kita sendirilah yang menyaring diri sendiri. Apabila selagi di dunia kita tidak mampu beradaptasi dengan sikap 'menghormati segala-galanya dan selalu respek', maka dengan diri yang masih dipenuhi sifat keakuan - sifat yang tidak universal - kita tidak akan sanggup hidup bersama dengan Buddha-Bodhisatva di era Bumi Suci Maitreya kelak.

Budaya dan semboyan hidup penghuni Bumi Suci Maitreya adalah 'menghormati segalanya, selalu respek'. Sampai saat ini mungkin kita masih bersikap diskriminasi, berkeras pada kehendak sendiri. Misalnya saat melihat orang/hal yang disenangi, baru kita mau mendekati. Sebaliknya melihat yang tidak disenangi, kita akan menghindar. Jika sikap seperti ini tidak pernah kita rombak, maka kita tak mampu memancarkan kemuliaan Hati Nurani yang Paling Universal, yang tiada diskriminasi. Dengan demikian, tiada harapan untuk bisa memasuki Dunia Sukhawati Maitreya.

Ibarat pepatah yang mengatakan, "Sediakan payung sebelum hujan", maka marilah kita segera belajar dengan sebaik-baiknya sejak dini. Di manapun kita berada, baik di dalam Wadah Ketuhanan, masyarakat, keluarga, organisasi, kantor, pabrik, atau di berbagai tempat lainnya, kita harus belajar untuk menghormati orang lain. Bila kita semakin terbiasa menjalankan dan menanamkan sikap 'menghormati segalanya', tidak perlu khawatir bahwa di kemudian hari diri ini tidak bisa memasuki Dunia Sukhawati Maitreya.

'Menghormati segalanya, selalu respek' adalah wujud nyata Hati Nurani yang Paling Universal. Inilah salah satu kebajikan moral yang paling mendasar.

Pepatah kuno mengatakan, "Ingin memperoleh hasil, bergantung pada cara menanamnya." Asalkan kita mampu menghormati segala-galanya, dengan sendirinya kita akan dihormati oleh orang lain. Menghormati orang lain pada dasarnya adalah menghormati diri sendiri - menghormati kemuliaan Roh Tuhan yang ada dalam diri. Inilah Kebenaran yang mutlak! Sebagaimana Kebenaran hukum sebab akibat, 'Apa yang ditanam, itulah yang akan diperoleh', maka setelah menanam sebab 'menghormati segala-galanya', dengan sendirinya kita akan dihormati orang lain. Ini adalah hukum pembalasan yang maha adil.

Sikap 'Menghormati segalanya, selalu respek' dimulai dengan menghormati LAOMU, Buddha Maitreya, Dwiguru Agung, dan para Buddha-Bodhisatva. Tahap selanjutnya adalah menghormati Sesepuh, para Pandita, para senior, sesama pembina, dan umat Ketuhanan. Di dalam keluarga, kita wajib menghormati ayah-bunda, suami-istri, kakak-adik, dan sanak saudara. Dalam bermasyarakat, marilah kita menghormati kawan dan tetangga. Terhadap semua makhluk, kita tetap harus menghormati, karena mereka juga memiliki perasaan. Demikian pula terhadap alam dan benda, walau tidak memiliki perasaan, kita harus menghargainya karena semua adalah manifestasi Tuhan yang Maha Esa.

Dengan menghormati segala-galanya, berarti hati mahametta-karuna (cinta kasih dan welas asih) telah secara spontanitas terpancar keluar. Sikap 'Menghormati segalanya, selalu respek' adalah bukti berkuasanya Hati Nurani yang Paling Universal di dalam diri. Lebih jauh lagi, dengan memanifestasikan Hati Nurani yang Paling Universal, barulah kita tidak menyia-nyiakan Satu Inisiasi Sejati yang telah ditransmisikan Shecun-Shemu -Guru Agung Nurani- ke dalam diri kita.

* * *

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.