|
Hati Nurani Yang Abadi (1)
Melahirkan namun Tak Dilahirkan, Tak Dilahirkan namun Melahirkan Di luar Kelahiran namun Tiada Yang Tak Dilahirkan Tiada Yang Tak dilahirkan namun Di luar Kelahiran
Shecun-Shemu - Guru Agung Nurani - telah datang dalam Kuasa Firman Tuhan untuk mentransmisikan Inisiasi Sejati. Satu Petunjuk Suci mengungkapkan bahwa Hati Nurani yang Paling Abadi (di luar kelahiran) telah ada di dalam diri. Ia adalah sesuatu yang tak dilahirkan. Ia maha melahirkan namun Ia sendiri tak dilahirkan. Sekalipun Ia tak dilahirkan namun Ialah yang melahirkan segalanya. Tak ada kelahiran bagiNya, namun tiada yang tak dilahirkan olehNya. Sekalipun tiada yang tak dilahirkan olehNya, Ia sendiri adalah Mahapribadi Tanpa kelahiran.
Jagat raya dan segenap isinya, baik yang berperangai maupun tidak, yang berwujud maupun tidak, adalah ciptaan Tuhan. Dengan demikian tiada suatu apapun yang berada di luar Hukum Kebenaran Sang Abadi, Sang Tak Dilahirkan. Dia yang Tak Dilahirkan melampaui segala dualisme dunia. Ia melampaui sifat jasmaniah - non-jasmaniah; berperangai - tak berperangai; berbentuk - tak berbentuk.
Segala kondisi, baik yang ada maupun tiada, kosong maupun wujud, semuanya bersifat fana. Segenap entitas dan fenomena di semesta raya tidaklah sejati. Semuanya adalah khayal, bagaikan mimpi yang tidak nyata. Bahkan di dalam keabadian Tuhan, surga-dewata, neraka, maupun Dasa dharmaloka, semua adalah fana, bagaikan alam mimpi saja. Karena setelah adanya dunia, barulah muncul istilah surga-dewata, neraka, trilokya, dasa dharmalokya, dan sebagainya.
Jika demikian apakah gerangan yang tak palsu di jagat raya ini? Hanya Kebenaran Abadi, hanya Tuhan Yang Tiada Tara yang kekal abadi. Itulah Hati Nurani - Percikan Roh Tuhan. Itulah Sang Tak Dilahirkan! Hanya Dialah yang tak akan pernah berubah.
Realitas 'Sang Tak Dilahirkan' melampaui jangkauan intelektualitas manusia. Ia berada di luar daya pikir manusia, sehingga tak dapat dilukiskan secara sempurna dengan kata-kata. Segala yang bisa diucapkan oleh mulut bukanlah sesuatu yang sejati. 'Tuhan' yang diucapkan dengan mulut bukanlah Tuhan yang sebenarnya. Ucapan tersebut hanyalah bentuk kelahiran wujud, adalah suara yang tidak akan dapat bertahan kekal.
Kalau kita berteori bahwa Tuhan adalah 'ada', jelas tidak tepat dan menyangkal kesejatian Tuhan, karena pada waktunya semua yang 'ada' pasti akan menjadi 'tiada' atau musnah. Sedangkan bila dikatakan Tuhan itu 'tiada', pernyataan ini lebih tidak tepat lagi, malah menjadi sebuah kesalahan besar. Cara Tuhan menciptakan alam semesta adalah sungguh luar biasa, dan manusia tak mungkin dapat membayangkannya. Bila tak ada Tuhan, dari mana asalnya langit, bumi, laksa manusia, makhluk dan benda? Bagaimana mata ini bisa melihat? Bagaimana telinga bisa mendengar? Bagaimana kaki dan tangan bisa bergerak? Bagaimana kelima organ tubuh dan keenam indra bisa berfungsi? Bagaimana otak dan pikiran bisa bekerja? Alam dan seisinya bekerja dengan begitu gaib, jika tak ada 'Penguasa'nya, bagaimana mungkin semua terjadi?
Tuhan tidak dapat digambarkan dengan konsep 'ada' maupun 'tiada'. Itulah sebabnya, mengekspresikan Tuhan dengan mengatakan Ia 'ada' tidak sepenuhnya tepat. Sebaliknya, menyebut Tuhan 'tiada', lebih-lebih tidak tepat. Tuhan bukanlah 'kosong' atau 'rupa'; juga bukan 'ada' atau 'tiada'. Tuhan bukanlah 'berperangai' atau 'tak berperangai'; Tuhan bukanlah 'wujud' atau 'non wujud'. Realitas Tuhan melampaui segala dualitas. Kesejatian Tuhan sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Jika demikian bagaimanakah sebenarnya keberadaan Tuhan di dalam diri kita? Istilah yang paling dekat untuk mendeskripsikan realitas Tuhan adalah, 'Ia melahirkan segalanya, namun Ia sendiri tak dilahirkan'; 'Walaupun tak dilahirkan, Dialah yang melahirkan segalanya'; 'Ia tak dilahirkan, namun tak ada sesuatu apapun yang tak dilahirkan olehNya'; 'Tiada sesuatu apapun yang tak dilahirkan olehnya, namun Ia sendiri di luar kelahiran.'
* * *
Tiada Kelahiran berarti melahirkan namun tak dilahirkan, tak dilahirkan namun melahirkan; tak dilahirkan namun menciptakan segalanya, menciptakan segalanya namun tak lepas dari keabadian.
Hati Nurani adalah yang Abadi. Ia maha melahirkan, namun Ia sendiri tidak dilahirkan. Ia tak dilahirkan namun Ia sendiri maha melahirkan. Sekalipun Ia di luar kelahiran, namun tak ada yang tak kuasa Ia lahirkan; Ia kuasa melahirkan segalanya. Ialah sang Tak dilahirkan, realitas yang kekal abadi.
'Tak dilahirkan' bukan berarti 'kosong' atau 'nihil' begitu saja, sebab Ia mampu melahirkan segalanya. Walaupun Ia mampu melahirkan segalanya tetapi Ia tidak lepas dari pribadi Hati Nurani yang bebas dari kelahiran. Dia bukan 'diam' atau 'bergerak', bukan 'ada' atau 'tiada', bukan 'berwujud' atau 'tak berwujud'. Konsep 'Abadi' atau 'Tak Dilahirkan' yang bisa dibicarakan, diucapkan, didengar, dilihat, bukanlah keabadian yang sesungguhnya, bukanlah 'Sang Tak Dilahirkan'. Sang Abadi tak bisa dilukiskan dengan segala bahasa manusia, tak bisa dipikirkan dengan intelektual manusia. Ia sungguh berada di luar konsep pemahaman dan pemikiran, dan bagaimanapun semua ini sulit untuk dilukiskan secara definitif. Inilah kelemahan bahasa manusia, tak ada satu pun kata yang bisa menjelaskan dua arti yang berbeda sekaligus. Tidak mungkin ada satu istilah yang menjelaskan sifat 'abadi' juga sifat 'kefanaan' secara bersama. Perbendaharaan kata kita sangatlah terbatas untuk menguraikan realitas Hati Nurani yang Abadi - yang Tak Dilahirkan ini.
Jika kita melakukan segala sesuatu dengan hati yang tenang, mantap, dengan niat yang terkendali, maka apa yang kita kerjakan dapat terselesaikan dengan sempurna. Namun jika hati kita tidak stabil, mudah goyah, ataupun dipenuhi dengan kehendak ego, maka apa yang kita kerjakan pun tak akan sempurna. Secara metafisis, dengan 'kosong-sejati' barulah kita bisa menghasilkan 'rupa-mukjizat'. Dengan 'kosong', barulah dapat 'menghasilkan segalanya'. Dengan 'tiada bentuk', barulah dapat memanifestasikan 'segala bentuk'.
Contoh konkritnya, dalam bola mata manusia bekerja Hukum Tak Dilahirkan yang menakjubkan. Mata dapat melihat dan membaca segala macam warna, namun mata sendiri tidak terikat pada warna tersebut. Saat mata melihat warna merah, rekaman warna merah tidak membuat mata terikat menjadi merah; saat melihat warna kuning, mata tak ikut menjadi kuning. Karena mata tidak terikat dengan salah satu warna tertentu (mata memanifestasikan pribadi 'kosong'), barulah ia bisa berfungsi sempurna, sehingga dapat melihat semua warna (mata menghasilkan kesempurnaan 'mukjizat'). Karena 'kosong', barulah menghasilkan 'mukjizat'. Seandainya saja mata terikat pada satu warna tertentu (tidak memanifestasikan pribadi 'kosong'), maka mata tak akan dapat melihat semua warna dengan sempurna (tak menghasilkan kesempurnaan 'mukjizat'). Inilah salah satu contoh sederhana tentang bekerjanya Hukum 'Tak Dilahirkan' dalam kehidupan sehari-hari. Dapat kita lihat, sesungguhnya Kebenaran Agung ini telah ada pada mata, telinga, mulut, hidung, badan, lidah, dan pikiran kita secara sempurna. Mau ke mana lagi mencari Kebenaran Sejati?
Saat orang memuji, meninggikan, mengangkat kita, maka lahirlah sikap responsif seperti sombong, malas, asal-asalan, berkhayal, dan serakah. Sebaliknya bila orang lain menjelekkan, menjatuhkan, menindas, menghina, memfitnah, maka munculah niat responsif berupa amarah, benci, tak puas, rasa ingin balas dendam, dan hati yang menuntut keadilan. Begitulah dalam hati kita selalu timbul (lahir) niat pikiran responsif kedua, ketiga, dan seterusnya. Adanya berbagai pikiran responsif ini menandakan bahwa hati kita belum 'kosong'. Dari sini terbentuklah jalinan sebab jodoh yang buruk dengan orang lain. Sebaliknya jika seseorang mampu menginsafi hukum'Melahirkan namun ia tak dilahirkan, tak dilahirkan namun ia melahirkan', maka di dalam hatinya tak akan ada lagi pikiran kedua, ketiga, dan seterusnya.
'Tak Dilahirkan' mencerminkan kebijaksanaan, sedangkan 'mampu melahirkan segalanya' mencerminkan kasih. Pembina Ketuhanan yang mencapai puncak kebijaksanaan akan menginsafi bahwa segalanya adalah kosong tiada. Ia menyadari bahwa semua yang ada di dunia ini adalah fana, dan tak ada apapun yang menjadi miliknya yang abadi. Dengan menginsafi dan memanifestasikan pribadi 'kosong' sejati, pribadi yang tiada keakuan dan tiada keterikatan, barulah ia dapat memancarkan kasih yang tiada batas, kasih yang tak terhingga, kasih tanpa diskriminasi. Inilah pribadi para Buddha dan Orang-orang Suci. Tanpa menginsafi 'kosong sejati', maka apa yang dilakukan bukanlah 'mukjizat'. Jika hati masih dipenuhi keterikatan, diskriminasi, keakuan, ataupun kepentingan pribadi, maka kasih sejati tak dapat terpancar.
Demikianlah pribadi Sang Tiada Tara, Sang Abadi, Dia yang Tak dilahirkan. Demikianlah perpaduan antara kebijaksanaan tertinggi dengan cinta kasih yang tiada batas. Keduanya sesungguhnya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Di mana kebijaksanaan tertinggi termanifestasi (kosong sejati), di sana pula cinta kasih yang tak terbatas (mukjizat sempurna) terealisasi. Saat seseorang mampu mencapai pribadi 'kosong', barulah ia dapat memancarkan fungsi yang tak terbatas. Karena Ia tak terikat pada suatu bentuk, maka ia mampu melahirkan segala bentuk. Karena ia memancarkan pribadi 'Tak Dilahirkan', maka mampu 'melahirkan segalanya'.
Bila kita dapat mengamalkan Hukum 'Tak Dilahirkan' ini dalam kehidupan sehari-hari secara mendetail, baik di kala bergerak maju atau mundur, aktif atau pasif, dalam ucapan, perbuatan, sikap duduk, berdiri, berjalan, atau berbaring, niscaya setiap perbuatan kita akan menjadi Hukum 'Tak Dilahirkan' itu sendiri, menjadi Hukum Kebenaran yang hidup. Dengan demikian kita telah merealisasikan kemuliaan Emanasi Roh Tuhan di dalam diri kita!
* * *
Dengan mengamalkan Hukum Kebenaran 'Tak Dilahirkan', seorang pembina dapat mencapai kondisi kosong akan dosa karma.
Jati diri setiap insan sesungguhnya bebas dari dosa karma. Hati Nurani adalah pribadi kita yang asali, sedangkan dosa karma bukanlah bagian dari diri kita yang sesungguhnya. Seorang pembina Ketuhanan adalah dia yang berjuang untuk kembali ke pribadi asal - roman sejatinya. Perjuangan seorang pembina Ketuhanan adalah agar jati dirinya dapat terbebas dari dosa karma.
Kekosongan dosa karma dicapai dengan senantiasa bertobat, merombak diri dari sifat buruk, tidak mengulangi kesalahan, dan berupaya untuk tidak melakukan dosa baru. Dengan ketulusan hati yang demikian barulah kita akan mendapatkan pengampunan dari Tuhan, para Buddha, dan Hati Nurani sendiri. Bayangkan jika kita tidak pernah bertobat dan terus melakukan dosa-dosa baru. Semakin lama dosa kita semakin menumpuk. Kalau sudah demikian, bagaimana bisa mencapai kekosongan dosa? Bagaimana dapat kembali ke dalam pribadi 'Tak Dilahirkan'?
Perjuangkanlah tingkat keinsafan kekosongan dosa dan karma mulai sekarang, jangan menunggu sampai tibanya masa penentuan akhir zaman. Sebab semuanya akan menjadi terlambat dan sia-sia. Mulai sekarang belajarlah untuk berpijak secara mantap dalam Hati Nurani. Misalnya bila kita masih merasa marah, benci, dan timbul niat untuk membalas dendam saat mengalami penghinaan, makian, fitnahan, cemoohan, maka seketika itu juga ingatkanlah diri sendiri bahwa Tuhanlah yang berkuasa dan telah mengatur segalanya termasuk yang sedang terjadi sekarang ini. Permasalahan yang hadir dihadapanku adalah sebab jodoh yang harus dituntaskan. Inilah kesempatan untuk melunasi titik demi titik dosa karma di masa lampau. Selanjutnya segeralah bertobat di hadapan Tuhan, Buddha Maitreya, Bapak dan Ibu Guru Suci, segera membenahi dan memperbaiki diri. Inilah yang dimaksud dengan mengimpasi dosa dan karma sejalan dengan sebab-jodoh.
Kita tidak perlu merasa khawatir, merasa dirugikan atau tak puas. Tuhan memiliki Hukum yang paling adil dan tegas, Hukum Tuhan bagaikan cermin yang bersih mengkilap. Tuhan telah mengatur semuanya agar kita bisa melunasi dosa kita, oleh karena itu kita harus memanfaatkan sebab jodoh yang telah diatur Tuhan untuk melunasi dosa dan karma. Imanilah bahwa pengaturan Tuhan adalah wujud kasih-Nya, adalah yang terbaik untuk diri kita. Dengan menginsafi hal ini, kita akan senantiasa berjuang melunasi dosa dan karma dengan hati yang penuh rasa syukur, rela, dan bahagia, hingga akhirnya mencapai tahap kosongnya dosa dan karma.
Sebaliknya, bila tak mau mengingatkan diri sendiri, tidak mengimani bahwa Tuhan pasti mengaturkan yang terbaik untuk diri kita, maka saat menerima ujian dan cobaan kita akan mudah marah, merasa tidak puas, dan akhirnya memendam kebencian. Akibatnya dosa tak terlunasi, bahkan semakin tebal oleh dosa baru, dan akhirnya akan terus berputar dalam lingkaran pembalasan karma. Ini berarti kita menjadi semakin jauh dari pribadi mulia 'Tak Dilahirkan'. Oleh karena itu, selagi kesempatan masih ada, setiap saat kita harus berjuang menerima segalanya dengan hati bertobat. Dengan hati yang selalu dipenuhi rasa syukur dalam menghadapi segala sebab jodoh, dengan semangat 'Tiada Kelahiran' membayar dosa dan karma, barulah dosa selama enam laksa tahun dapat terlunasi.
* * *
Dengan mengamalkan Hukum Kebenaran Sang 'Tak Dilahirkan', seorang pembina dapat mencapai kondisi kosong akan jasa pahala, bahkan kosong dari konsep kekosongan itu sendiri.
Beramal adalah aktivitas yang tak terpisahkan dalam kehidupan membina. Namun di antara sekian banyak orang yang beramal, berapakah yang mampu beramal dengan hati yang tulus sejati, hati yang tiada pamrih? Berapakah yang beramal namun tiada tuntutan dan kehendak pribadi di dalam hati? Dalam masyarakat dapat kita temui orang yang beramal demi popularitas, harga diri, atau kepentingan tertentu. Juga banyak orang yang beramal namun masih menuntut pengakuan dan penghargaan, sehingga namanya harus dicatat agar diketahui banyak orang. Semua ini bukanlah amal yang sempurna. Amal yang sempurna adalah beramal dengan jiwa yang 'kosong'.
Kosong tiada sesuatu bukan berarti diam dan pasif, bukan berarti tidak lagi melakukan jasa pahala. Kosong tiada sesuatu berarti terus beramal namun tidak mengingat-ingatnya. Kosong tiada sesuatu berarti beramal namun setelah itu kita berusaha melupakannya, tidak mencatat dalam hati bahwa kita telah beramal. Inilah yang dimaksud dengan jiwa yang kosong akan konsep jasa pahala. Inilah jiwa yang tiada keakuan.
Setelah itu, barulah kita memasuki tahap kosong akan konsep kekosongan itu sendiri. Pada tahap sebelumnya, diri ini berjuang untuk melupakan segala amal yang telah diperbuat. Saat itu kita senantiasa mengingatkan diri sendiri agar setelah beramal kita segera melupakannya. Jika tahap ini selalu kita jalankan, maka kegiatan beramal berpadu dalam rutinitas sehari-hari. Beramal menjadi hal yang wajar, seperti halnya makan dan minum. Walau aktivitas ini mulia, namun beramal bukan lagi sesuatu yang dirasa luarbiasa, bukan sesuatu yang perlu digembar-gemborkan. Tanpa butuh pujian ataupun pengakuan, kegiatan beramal tetap kita lakukan.
Jika terbiasa untuk tidak mengingat-ingat segala amal yang kita lakukan, pada akhirnya proses 'melupakan' pun tidak diperlukan lagi. Karena pada dasarnya diri ini secara wajar tidak mencatat segala amal yang pernah dilakukan, maka tiada yang perlu dilupakan. Inilah tingkat kewajaran beramal. Beramal namun tidak merasa sedang beramal, tanpa perlu upaya untuk melupakannya. Inilah kosong sejati. Hanya dengan kosong sejati, barulah kita dapat memanifestasikan pribadi mulia yang tak terhingga. Jika kita dapat merealisasikan pribadi kosong sejati, berarti kita telah berpadu dengan 'Sang Tak Dilahirkan', Inilah pribadi Di Luar Kelahiran, inilah Tiada Tara. Demikianlah pribadi yang dimanifestasikan oleh para Buddha dan Orang Suci. Demikianlah sifat dasar langit dan bumi, yang bekerja dengan penuh kewajaran. Demikian pula realitas Tuhan yang Di Luar Kelahiran.
Bila telah menembusi kekosongan konsep jasa pahala dan dosa, maka tak perlu lagi menunggu pengadilan Buddha Maitreya. Jika di dalam hati tiada lagi yang disebut viharaku, umatku, kemampuanku, kepandaianku, jika di dalam hati tiada apapun selain kasih Ilahi yang bebas kelahiran, apa lagi yang perlu diadili?
Dengan berpijak pada Hati Nurani yang Bebas Kelahiran, seorang pembina Ketuhanan tidak akan menganggap diri sendiri berjasa-pahala meski telah menyelamatkan banyak orang. Sekalipun telah membimbing banyak orang , ia tak pernah menganggap diri telah membimbing orang. Namun sekalipun hatinya kosong tiada kemelekatan (manifestasi kosong - kebijaksanaan tertinggi), tekad dan panggilan untuk menyelamatkan manusia tidak pernah akan luntur (manifestasi mukjizat - cinta kasih yang tiada tara). Perjuangan membabarkan Hukum Kebenaran akan memenuhi segenap hidupnya. Inilah perjuangan dalam keabadian. Inilah perjuangan Buddha-Bodhisatva dan semua Orang Suci sepanjang masa.
Bersambung...
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|