|
Hati Nurani yang Kaya Berlimpah (1) Memiliki Segalanya, Segalanya Ada Dalam Diri
Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa kemampuan membabarkan Dharma dan Dharma Gaib yang tiada batas ada dalam diriku.
Mahaguru dari laksa Kitab dan Sutra, Maharaja dari segala Dharma telah ada di dalam diriku. Asalkan kita membiarkan LAOMU, Buddha Maitreya, dan Kedua Mahaguru Agung untuk menguasai tubuh ini, kita serahkan agar melalui mulut ini kuasa Ilahi bekerja untuk menguraikan Dharma Gaib yang tiada batas, maka pasti kita bisa menyampaikan laksa Dharma dalam segala situasi serta kondisi. Semua bagian dari tubuh kita dapat memancarkan Dharma Gaib yang tiada batas, dan inspirasi kearifan pun berlimpah tak habis-habisnya. Biarkanlah LAOMU yang menggunakan tubuh ini, dengan senantiasa berusaha menyatukan niat-perilaku dengan LAOMU. Maka raga ini tidak lagi hanya mengerjakan aktivitas duniawi belaka, melainkan telah menjadi perkakasNya.
Dengan berserah diri kepada LAOMU, Buddha Maitreya, dan Kedua Mahaguru Agung, maka segala penyampaian dan pembabaran Dharma bukanlah menjadi kemampuan dan kehebatanku. Adalah LAOMU, Buddha Maitreya, dan Kedua Mahaguru Agung yang membabarkannya. Dengan demikian hilanglah segala kesombongan diri. Jika kita masih menganggap bahwa semua itu adalah kehebatan dan kemampuanku, sehingga timbul rasa sombong, berarti kita telah merendahkan Tuhan dan Tribuddha. Karena LAOMU ada dan bekerja di dalam diriku, berarti LAOMU-lah yang membuat segalanya ini memungkinkan. Jika tidak ada Emanasi Roh LAOMU dalam diri, masih bisakah kita menyampaikan khotbah dharma?
Demikian juga halnya jika kita merendahkan, meremehkan diri sendiri, dan menganggap diri sendiri tidak mampu sehingga timbul rasa minder, ini juga berarti kita telah merendahkan LAOMU dan Tribuddha. LAOMU adalah Guru dari segala Kitab dan Sutra, Raja dari segala Dharma. Kita tidak bisa berceramah, tetapi LAOMU bisa. Kita tidak berpengetahuan, tetapi LAOMU adalah Sumber pengetahuan. Walau secara fisik kita penuh kekurangan, tetapi LAOMU adalah pribadi yang sempurna.
Dari sini kita dapatkan, bahwa kini permasalahannya adalah, maukah kita menyerahkan diri ini kepada LAOMU, untuk menjadi perkakasNya? Asalkan dengan tulus kita berjuang, serta senantiasa membiarkan LAOMU menjadi pengendali diri ini, maka segala kemampuan yang tiada batas akan berkembang di dalam diri ini. Berpalinglah ke dalam Hati Nurani yang Kaya Berlimpah - Emanasi Roh Suci LAOMU. Ia memiliki segalanya, segalanya ada di dalam diri!
Melalui Inisiasi Sejati kita disadarkan bahwa segala kesaktian - kekuatan abhina - telah ada dalam diriku.
Masyarakat umumnya beranggapan bahwa orang yang memiliki kesaktian atau kekuatan abhina adalah orang yang mampu terbang di langit, mampu membaca kehidupan masa lampau, meramal nasib yang akan datang, memiliki ratusan hingga ribuan wujud, dan lain sebagainya. Namun bila kita lihat dari sudut pandang Kebenaran Tertinggi, kesaktian-kesaktian semacam ini - walau sehebat apapun - ternyata tidak mampu menyelamatkan sang empunya tubuh dari hukum karma dan roda tumimbal lahir. Segala kesaktian ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebangkitan Hati Nurani, dengan pembinaan dan pengamalan Ketuhanan. Segala kesaktian itu sendiri masih berada di dalam lingkaran kefanaan - lingkaran samsara!
Bapak Guru Agung pernah bersabda, "Makan, minum, buang hajat, dan tidur adalah Kebenaran (Tao)." Semua Buddha dan Orang Suci sepanjang masa, walaupun semasa hidup telah mencapai kesucian tinggi, tetaplah hidup di dalam kewajaran. Kebenaran yang sejati ada pada sesuatu yang sangat wajar dan biasa. Kebenaran yang sejati tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tidak ada hal yang aneh-aneh dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan.
Kesaktian dan kekuatan gaib bukanlah Kebenaran Sejati. Sebagai contoh adalah salah satu dari sepuluh murid utama Sang Buddha, yaitu Y.A Mogallana, yang sangat terkenal dengan kesaktiannya. Pada akhirnya Ia harus meninggal secara mengenaskan, tertimpa batu oleh musuhnya. Hal ini membuktikan bahwa kesaktian yang bagaimanapun hebatnya tidak dapat menjauhkan seseorang dari dosa karmanya. Dan ketika masalah ini ditanyakan oleh para muridNya, Sang Buddha menjawab, "Kesaktian tidak bisa mengalahkan dosa karma. Karena pada kehidupan lampau Y.A Mogallana pernah berprofesi sebagai nelayan, sampai di kehidupan sekarang ini karmanya matang, dan begitu dosa karma datang menagih, biarpun Ia memiliki kesaktian setinggi apa pun, tidak bisa mengelak dari hukum alam ini."
Jika sampai saat ini kita masih memiliki kesaktian seperti terbang di langit, meramal nasib, membaca kejadian masa lampau dan yang akan datang, merubah batu menjadi emas, memindahkan gunung, dan lain sebagainya, sehingga menyebabkan kita melupakan LAOMU dan Tribuddha, maka saat penagihan hutang dosa karma, siapa pun tidak mampu menyelamatkan kita. Kita akan musnah oleh dosa karma diri sendiri. Sadarlah bahwa Kebenaran Sejati tidak didapatkan dari luar, namun telah ada di dalam diri kita. Dialah Hati Nurani yang Kaya Berlimpah, dengan kesaktiannya yang tiada batas.
Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa kesaktian Nurani berbeda dengan kesaktian seperti halnya pandangan orang awam. Ada tiga point makna luhur kesaktian Hati Nurani, yaitu:
Walaupun LAOMU mengendalikan diriku, berkuasa penuh atas diriku, namun LAOMU tidak membatasiku. Inilah kegaiban yang tiada tara.
Setiap manusia memiliki kekuatan gaib, karena memiliki Emanasi Roh Tuhan di dalam dirinya. Kekuatan gaib inilah yang membuat tubuh bisa bergerak, indera dan seluruh organ tubuh dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Mata dapat melihat, hidung dapat mencium bebauan, telinga dapat mendengar, lidah dapat merasakan beraneka citarasa, dan sebagainya. Sebuah raga yang terdiri dari daging dan darah ini ternyata bisa menampilkan fungsinya yang luar biasa. Inilah mukjizat yang paling luar biasa. Jika kekuatan gaib meninggalkan badan raga ini, maka tubuh ini akan terbujur kaku, tidak dapat digerakkan lagi seperti sesosok mayat.
Dunia telah memasuki masa milenium ketiga. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan teknologi yang semakin canggih. Namun sampai saat ini teknologi belum mampu menciptakan sebuah kehidupan. Inilah suatu misteri yang belum terpecahkan oleh para ilmuwan.
Selama satu hari 24 jam, setiap menit dan detik, kekuatan gaib senantiasa bekerja di dalam diri kita tanpa henti dan tiada lelah. Setiap saat kita menggunakan kekuatan gaib yang ada pada tubuh kita tanpa kita sadari. LAOMU senantiasa memfungsikan seluruh indera kita, namun LAOMU tidak membatasi gerak kita.
LAOMU memberikan kebebasan kepada mata untuk melihat dan tidak membatasinya. Sekalipun LAOMU memfungsikan telinga kita tetapi LAOMU tidak menentukan dan memprogram apa yang harus kita dengar. Demikian juga dengan indera dan organ tubuh kita yang lain. Sungguh besar kasih LAOMU yang telah memberikan semua rahmat kebebasan ini kepada kita tanpa pernah membatasinya. Inilah Kebajikan sejati. Inilah makna agung dari Tiada Tara dan Tak Terlahirkan.
Namun seiring berjalannya waktu, manusia semakin melupakan Tuhan, semakin mengabaikan suara Nurani di dalam diri, dan terikat pada kesenangan dunia. Kebebasan pun disalahgunakan. Mata melihat apa yang tidak pantas dilihat, telinga mendengar apa yang tidak boleh didengar, atau singkatnya kita menggunakan tubuh ini di luar Hukum Kebenaran Tuhan, menyimpang dari Hati Nurani. Akibatnya diri sendiri menjadi sesat dan terikat, dan segala dosa akibat pelanggaran Nurani ini mendatangkan bencana.
Syukurlah, di dalam kasihNya yang tak terhingga, LAOMU menurunkan Jalan Ketuhanan di muka bumi. Kita yang telah tersesat, yang di dalam segenap kelahiran telah melupakan Kebenaran Nurani, kini telah mendapatkan Satu Inisiasi Sejati . Satu Petunjuk Suci Shecun-Shemu - Guru Agung Nurani - membangkitkan kesadaran Nurani, mengajak kita berpaling ke dalam Kebenaran Tuhan yang ada di dalam diri. Inilah Rahmat Kasih yang terbesar, berkah LAOMU yang tak terbalaskan.
Senantiasa berpaling ke dalam diri, sadar dan perbaiki diri, sehingga keenam indera dapat dikendalikan oleh Hati Nurani. Seluruh tubuh berada dalam kesadaran Nurani, itulah kegaiban sejati.
Setiap saat marilah senantiasa berinstropeksi dan berpaling ke dalam diri, sadar, dan memperbaiki diri sendiri. Senantiasa bertanya, di saat mata melihat, telinga mendengar, hidung mencium bebauan, mulut berbicara, dalam perbuatan sehari-hari, hingga niat pikiran, apakah semuanya telah sesuai dengan Hati Nurani? Adakah kita berserah kepada pengaturan LAOMU? Sudahkah kita menjadikan Hati Nurani sebagai pengendali diri? Itulah yang dikatakan sebagai 'sadar'. Itulah yang disebut sebagai 'Buddha-Bodhisatva'. Sebaliknya jika semua aktivitas dikendalikan oleh mara, inilah yang dinamakan 'sesat'.
Dengan senantiasa berintrospeksi, segala aktivitas sesuai dengan Kebenaran Nurani. Inilah kekuatan gaib yang sejati.
Dengan enam indera yang berkekuatan gaib, berjuang menyelamatkan dan menyadarkan umat manusia. Inilah manifestasi kegaiban sejati.
Dengan enam indera berkekuatan gaib seperti yang dimiliki oleh para Buddha-Bodhisatva, senantiasa menyadarkan Hati Nurani umat manusia.
- Melalui mata, dapat menggugah hati manusia saat melihat penderitaan dan kegelisahan sesama.
- Telinga digunakan untuk mendengar suara keluhan, penderitaan, kemelekatan, dan kesesatan umat manusia. Menggunakan telinga untuk menyelamatkan manusia dari penderitaan, menghancurkan kemelekatan manusia.
- Menggunakan Hidung dengan kasih, dengan demikian hidung tidak lagi dikuasai oleh nafsu untuk mencium bau daging, arak, dan obat-obatan terlarang. Dengan pengendalian indera hidung, semua Emanasi Roh LAOMU - baik manusia maupun semua makhluk hidup yang ada di udara, darat, dan air - tidak akan kita lukai. Ini menunjukkan bahwa kita mampu menghormati hak hidup semua makhluk. Antara semua makhluk dengan diriku telah bersatu.
- Mulut digunakan untuk mengucapkan kata-kata yang dapat membangkitkan Hati Nurani umat manusia.
- Menggunakan Badan raga untuk berbuat hal-hal yang menguntungkan umat manusia.
- Hati senantiasa bersatu dengan umat manusia, sehingga dapat memahami hati mereka. Dengan demikian baru bisa menembusi dan menggugah kesadaran Nurani umat manusia.
Jika senantiasa berpegang teguh pada sikap seperti ini, maka kita dapat berkontak hati dengan umat manusia dan memancarkan cinta kasih kepada segenap makhluk, membabarkan Kebenaran sesuai dengan sebab jodoh, tempat, waktu, dan manusianya. Semua ini dapat terjadi bila kita telah menyerahkan penggunaan keenam indera ini dalam pengaturan LAOMU. Biarkanlah LAOMU menggunakan keenam indera ini untuk menyadarkan manusia yang masih tersesat agar mereka sadar. Demikianlah kesaktian watak Buddhata - Hati Nurani. Dia memiliki segalanya. Fungsinya yang mahagaib adalah menguntungkan umat manusia, menyelamatkan umat manusia, beramal dan menunaikan ikrar, membabarkan Kebenaran, merintis Wadah Ketuhanan, melakukan triamal, membawakan berkah bagi manusia, serta mengabdi dalam misi suci Buddha Maitreya.
* * *
LAOMU menganugerahkan Rahmat yang tiada bandingan di seluruh jagat raya.
Keluhuran Dharma Agung Maitreya terletak pada Transmisi Sejati Shecun Shemu - Guru Agung Nurani - yang secara langsung mengungkapkan bahwa Tuhan Sang Tiada Tara ada di dalam diriku, bahwa Hati Nurani yang Kaya Berlimpah ada di dalam diriku. Kini dapat kita pahami, bahwa pada dasarnya semua mustika telah aku miliki.
Demikianlah, LAOMU telah menganugerahkan mustika yang tiada bandingan bagi segenap hidup kita. Kalaulah kita menginsafi rahmat LAOMU yang berlimpah di seluruh jagat raya ini, maka kita pasti merasa puas dan senantiasa berbahagia. Segenap hidup kita isi dengan memanifestasikan Dharma Hati Mahagaib ini, untuk menghancurkan berbagai kemelekatan dalam diri manusia.
Orang yang tahu puas senantiasa berbahagia.
Pengertian rasa puas dalam konteks ini bukanlah untuk menghibur hati, untuk tetap berpuas hati saat tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Kepuasan sejati adalah, ketika berada di dalam kondisi apa pun, kita tetap merasa bersyukur, berbahagia, dan bersukacita. Ketika berhadapan dengan segala rintangan, ujian, mara, hambatan, dan fitnahan, hati ini tetap tenang dan bahagia. Hati tidak mengeluh, membenci ataupun marah, tetapi menerima semua ini dengan jiwa yang lapang dan menghadapinya dengan tabah dan bahagia.
Saat berada di tengah kemuliaan dan kesuksesan, saat dipuji dan disanjung, orang yang tahu puas tidak akan merasa tinggi hati dan besar kepala. Hatinya tetap tenang menghadapi semua ini. Bagi orang yang tahu puas, ia sadar bahwa segala kondisi dualisme dunia yang dihadapinya - baik sukses maupun gagal, saat mendapatkan sanjungan ataupun cacian, di saat mendapatkan maupun kehilangan, mulia atau hina, kaya atau miskin - semuanya bersifat sementara. Setelah Hati Nurani yang Kaya Berlimpah menjadi penguasa dalam diri, semua kondisi itu tidak lagi menjadi masalah besar. Hatinya bagaikan gunung yang diterpa angin, tetap kokoh dan tak bergeming.
Jika kita bisa menghayati Rahmat Kasih LAOMU yang telah memberikan berkah tiada tara kepada kita, dan Budi Kebajikan Guru yang telah mentransmisikan Inisiasi Sejati kepada kita, maka kita akan senantiasa merasa puas dan bahagia.
Imani bahwa Hati Nurani - Mustika Sejati yang Kaya Berlimpah - ada di dalam diriku.
Hati Nurani adalah mustika sejati yang kaya berlimpah. Kebenaran ini harus diyakini dan diukir di dalam lubuk hati yang paling dalam. Jika tak ada keyakinan seperti ini, maka selamanya kita tak akan pernah memahami Kebenaran 'Hati yang tahu puas senantiasa bahagia'. Dengan hati yang tak mengenal puas, ditambah kabut dosa karma laksaan masa yang menutupi kesadaran Hati Nurani, saat menghadapi sedikit ujian saja iman kita akan goyah.
Sebagai seorang pembina Ketuhanan, hal yang paling penting adalah membersihkan segala kesesatan dan dosa karma yang telah menyelimuti Hati Nurani. Dengan demikian Hati Nurani yang Kaya Berlimpah akan berpancar terang. Jika kita mau membuka hati dan berpuas diri atas segala kondisi, maka kita akan senantiasa bersyukur dan berbahagia dalam segala hal.
* * *
Jika telah sungguh-sungguh mengamalkan dharma hati 'Tahu Puas', maka walaupun berada dalam kondisi tiada kemilikan, diri ini tetap berbahagia dan bebas leluasa.
Jika kita senantiasa menginsafi dan merealisasikan 'Hati yang tahu puas senantiasa bahagia', maka hidup ini akan terasa seperti sebuah sandiwara saja. Hidup bagaikan awan yang bebas menari di angkasa. Biarpun perjalanan hidup penuh dengan kesusahan, diri ini tetap merasa bahagia. Nama, popularitas, reputasi, kehormatan, kekuasaan bukanlah prioritas utama. Biarpun tinggal di rumah yang sangat sederhana, walau hanya setiap hari hanya dapat makan nasi dan minum air putih, walau pakaian yang dimiliki sangat sederhana, hati tetap senang dan bahagia. Sekalipun seisi bumi, bahkan alam semesta ini diberikan kepada kita, kita tetap akan merasa bahwa mustika yang ada di dalam diriku jauh lebih berharga. Saat itu segala kondisi di luar diri tidak ada yang dapat mempengaruhi kita.
Mustika Sejati bagaikan samudera yang luas sedangkan bumi ini bagaikan sebutir pasir di dalam samudera itu. Para Buddha sering mengatakan, "Walaupun tidak memiliki apa-apa, hidupku tetap bahagia." Demikianlah prilaku Para Buddha-Bodhisatva yang telah menginsafi makna luhur dari 'tahu puas', yang senantiasa bersyukur di dalam segenap hidupnya. Dari sikap mereka dapat kita simpulkan, bahwa hati yang tahu puas sesungguhnya adalah kekayaan yang sejati!
* * *
Jika setiap orang telah mengamalkan hukum 'Hati yang puas senantiasa berbahagia', maka Dunia Sukhawati akan terwujud dengan sendirinya.
Dasar dan akar pokok dalam membina dan melaksanakan Ketuhanan adalah 'Hati yang puas senantiasa bahagia'. Ada sebuah pepatah yang mengatakan "Lebih baik kebahagiaan bagi seluruh umat daripada kebahagiaan untuk diri sendiri." Inilah hati Buddha-Bodhisatva. Setelah diri sendiri mampu berbuat sesuai dengan 'Hati yang puas senantiasa bahagia', lebih lanjut kita harus menyampaikan kepada orang lain sehingga semua orang mampu menginsafi serta melaksanakan Dharma Gaib ini. Karena dunia Sukhawati adalah sebuah dunia di mana setiap orang bisa merasa puas, senantiasa bersyukur dan berbahagia. Untuk mewujudkan semua ini, terlebih dahulu kita harus menginsafi Hati Nurani yang Kaya Berlimpah. Jika setiap orang mampu mengenali dan merealisasikan Hati Nurani yang Kaya Berlimpah, yang memiliki segalanya, maka Dunia Sukhawati Buddha Maitreya akan tewujud dengan sendirinya. Semua ini mengandalkan perjuangan kita!
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|