Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  KEPRIBADIAN TANPA PEMBINAAN KEHIDUPAN SPIRITUAL


Membina dan melaksanakan Ketuhanan tanpa pembinaan kepribadian takkan pernah mencapai kesempurnaan. Sebab pembinaan jenis ini, semakin membina semakin miskin dalam kepribadian, bagaikan masuk ke dalam tanduk sapi, makin masuk makin sempit dan tersesat dalam kebuntuan. Hati nurani tak terpancar; semakin kering gelap dan sesat. Demikian pula dengan kearifan tak terbuka bahkan semakin tersumbat.

Mari kita lihat fenomena nyata yang terjadi dalam kehidupan kita. Seiring dengan kemajuan dunia 'multi dimensi' saat ini, Wadah Ketuhanan pun sedang bergerak menuju spesialisasi dan profesionalisme, baik di bidang publikasi, seni Drama Pancaran Putih, Tembang Suci Ketuhanan, Khotbah Kebenaran dan sebagainya. Generasi muda terus bermunculan terutama mereka yang mengecap pendidikan, mempunyai kefasihan berbicara, banyak keterampilan dan keahlian. Ini adalah arus zaman, tenaga inti beralih dan berfokus pada generasi muda. Begitu generasi ini muncul lalu generasi lama yang tak mengenal komputer, berceramah pun tak fasih, sudah tua menyanyi pun suara sumbang, main drama malu, lama kelamaan mulai merasa terabaikan. Menghadapi fenomena pergantian generasi ini, dalam hati mulai timbul perasaan tersisih dan tak diperhatikan. Mereka yang tergolong dalam generasi lama, mulai merasa tidak cocok dan antipati terhadap perubahan. Emosi mulai tak baik, sehingga membina semakin sepi sendiri. Semua umat yang melihat gejala ini, semakin menjauhinya. Akhirnya timbul penyesalan dan merasa telah salah dalam menentukan pilihan hidup. Hatipun sedih dan mulai berfikir, "Mengabdi puluhan tahu mengapa nasibku begini? Saat orang diberi buah kearifan tapi aku tidak; mereka ikut paduan suara, main drama dan sebagainya, tapi bagaimana dengan aku?" Mengapa perasaan seperti ini bisa muncul? Karena selama ini kita hanya berjuang mengejar prestasi di luar diri. Inilah akibat fatal dari pembinaan yang hanya mengenal sibuk dalam karya ilahi namun tidak memahami pentingnya usaha memperbaiki diri dari aspek ilahi.

Malahan sebagai generasi yang senior semestinyalah merasa bangga dengan bermunculannya generasi muda, bahkan turut mendukung dan berbahagia dan bukannya timbul hati ini, tak suka, merasa diri tak berguna ataupun tidak dihargai. Seseorang yang bernurani cemerlang akan tetap bersukacita di tengah perubahan arus zaman dan terus memancarkan wajahnya yang semakin penuh kasih.

Demi kecemerlangan nurani dan semakin berpancarnya kearifan, maka kita harus meluangkan waktu untuk berkontemplasi, berintropeksi dan mengoreksi diri sendiri. Apabila kita konsisten melakukan semuanya ini, maka setiap hari bathin kita menjadi semakin jeli akan keberadaan niat dan prilaku diri sendiri dan kita pun semakin jelas pada apa yang sebenarnya menjadi tanggung jawab nurani kita; batin kita akan tumbuh dewasa dalam iman yang membumi dan kita pun akan semakin arif dalam menjawab semua tantangan zaman. Jika sudah demikian, apalah arti sebuah kearifan yang ranumi dibandingkan dengan karya nuraniku yang nyata dan tak berpamrih.

Sumber :
PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.