|
Kesaksian Seorang Buddhasiswa yang juga adalah Seorang Pandita, dalam hal Penyelesaian sebab Jodoh
Beberapa tahun yang lalu, dalam sebuah Diklat Buddhasiswa yang diadakan di Jepang, disampaikanlah sebuah ceramah mengenai muncul dan musnahnya sebuah sebab jodoh. Di dalamnya diuraikan mengenai, Betapapun benci dan sayangnya kita pada seseorang, namun ketika sebab jodoh tersebut berakhir, maka adalah hal yang tidak mungkin untuk tetap bersama dengannya, walaupun kita masih menginginkannya. Ini dikarenakan semua sebab jodoh yang ada memilki batasan waktu. Terlebih daripada itu, semua sebab jodoh adalah kesempatan bagi pembinaan dan penggemblengan pribadi kita, oleh karenanya manfaatkanlah dengan baik. Mendengar penjelasan ini, ada seorang Buddhasiswa yang kemudian timbul penyesalan di dalam hatinya. Ternyata sang buddhasiswa ini selama puluhan tahun terakhir hidup dalam perselisihan, pertikaian, penuh ikatan benci dan dendam dengan ibu mertuanya. Lalu beliaupun bertekad, "Begitu saya pulang nanti, walau apa yang akan terjadi, saya akan berbakti padanya¨. Sekembalinya ke rumah, beliau sungguh-sungguh melaksanakannya. Beberapa hari kemudian, sang ibu mertua meninggal dunia.
Inilah permainan sebab jodoh, sungguh tak terbayangkan. Puji syukur atas Rahmat Kasih Lao Mu dan Budi Kebajikan Guru, sehingga dalam pancaran kearifan dan cinta kasih yang telah dibukakan, beliau mampu memanfaatkan sebab jodoh tersebut untuk menggembleng pribadinya dan akhirnya beliaupun berhasil menuntaskannya dengan baik. Sang Buddhasiswa telah mampu hidup harmonis dengan ibu mertuanya. Namun ketika sebab jodoh berakhir, walaupun ingin hidup bersama lebih lama lagi, apa daya sang Ibu mertua telah pergi.
Jadi hanya dengan memutar niat buruk menjadi baik, hati benci menjadi kasih, pikiran negatif menjadi positif, maka berakhirlah semua jodoh buruk, seakan-akan semua sebab jodoh buruk tersebut sedang menunggu kita untuk berpaling dan mengakhirinya. Seperti sabda Sang Buddha Sakyamuni, "Berpalinglah, itulah pantai bahagia.¨ Dengan berpaling dari dunia pikiran kita yang buruk, kita raih keterbebas-leluasaan.
Takkan lahir kesalahpahaman bila tidak mengandung prasangka. Demikianlah, apabila di dalam hati masih ada orang yang kita benci, dendam, iri, dan curiga, hapus dan bersihkanlah untuk menuntaskannya. Buanglah segala perang dingin dan bersitegang yang ada. Cepat atau lambat kita tetap harus menyelesaikannya. Bedanya hanya masalah waktu saja. Lagipula jika kita tidak mampu selesaikan dalam kehidupan ini maka akibatnya akan fatal. Sebab jodoh yang tak selesai ini, tak akan berakhir dengan berakhirnya sebuah kehidupan. Dengan kata lain, bila tak diselesaikan, sebab jodoh tak akan selesai dengan sendirinya, dan akan terus terbawa sampai benih kehidupan mendatang dalam waktu tak terbatas. Kita tak tahu sampai kapankah keletihan, kelelahan, kejenuhan jiwa dalam pengembaraan tak tentu arah dan yang tak bertepi ini akan berakhir. Daripada terus berlarut dalam ketidakpastian, lebih baik pastikan sekarang dalam kehidupan ini juga kita bertekad untuk mengakhirinya. Bersungguh hatilah membenahi hidup kita dengan menuntaskan semua sebab jodoh yang ada. Inilah resep manjur untuk mencapai keterbebasan dalam kespontanan kehidupan.
Dari semua ini dapat kita pahami bahwa sesungguhnya kunci penyelesaian sebab jodoh adalah dengan memandang semua fenomena yang ada berdasarkan nurani, yaitu dari sisi baik, sisi positif, maka semua sebab jodoh atau fenomena yang ada di luar diri itu pun akan ikut bekerja sejalan dengan nurani kita. Jika kita telah berjalan sesuai nurani kita berarti kita telah berjalan dengan baik di dalam pengaturan Laumu. Dan hanya melalui perpaduan dengan hati nurani, kita akan bersatu hati dengan Laumu. Kita percaya bahwa pengaturan Laumu di dalam semua sebab jodoh yang Laumu rencanakan untuk kita, adalah sebuah pengaturan yang penuh kasih dan terbaik jodoh yang ada sebagai anugerah yang tak terhingga dariNya, sehingga kita dapat senantiasa memancarkan hati yang penuh rasa syukur dalam sukacita yang penuh kebahagiaan. Hati nurani dan Kuasa Laumu melampaui segalanya. Dalam pancaran terang nurani dan cahaya kasih Laumu semua akan mampu kita lewati dengan lebih mudah dan bersahaja.
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|