|
Akibat ketidaktahuan, kebodohan, kesombongan, kejahatan, dan kekacauan yang diperbuat manusia, alam telah kehilangan mekanisme kerjanya yang selaras antara aktif-pasif, yang harmonis dan seimbang dengan siklus yang sistematis, sehingga akhirnya mengakibatkan kekacauan iklim dan prilaku alam.
Alam sendiri mempunyai mekanisme kerja yang selaras dalam dinamika dan keheningan, yang harmonis, seimbang, dan bersiklus. Alam memiliki sistem yang rapi dalam mengatur badai, hujan, salju, embun, dan sebagainya. Siklus musim semi, panas, gugur, dan dingin, serta pergantian siang dan malam, purnama dan tilem, pasang dan surut yang sistematis, yang tak pernah bergeser atau berubah dari dulu hingga sekarang.
Keheningan alam (pasif) adalah momen istirahat dan pemulihan bagi energi kehidupan, sementara dinamika alam (aktif) adalah gelora dan keberlanjutan energi kehidupan itu. Sebagai contoh: malam yang tenang adalah proses istirahat dan pembaharuan energi kehidupan yang teramat penting bagi alam. Keheningan malam juga merupakan momen terbaik yang penuh kehangatan dan keteduhan untuk merasakan belaian kasih Sang Pencipta pada manusia dan semua makhluk. Namun peradaban teknologi manusia dan sikap hidup yang materialistis telah merusak keheningan malam yang indah itu. Lampu-lampu yang terang-benderang dinyalakan sepanjang malam, membuat malam menjadi siang. Demi pemuasan dan kenikmatan nafsu manusia, siang dan malam telah diputarbalikkan. Gaya hidup yang jungkir balik ini telah merusak proses alam dalam pemulihan energi kehidupannya. Demikianlah kita telah menolak rahmat kasih besar Sang Pencipta, LAOMU Yang Maha Pengasih.
Sementara bumi yang hening dan tenang menyimpan kelangsungan dan perkembangbiakan berjuta-juta kehidupan. Di situlah tersimpan energi hidup yang tak berkesudahan. Namun akibat ketidaktahuan, keegoisan dan keserakahan, manusia dengan semena-mena membuat proyek pembangunan yang serampangan, pembukaan lahan baru yang ceroboh, penanaman yang tak terarah, penebangan hutan yang liar, dan eksploitasi tanah besar-besaran yang semuanya melanggar batas rambu-rambu kewajaran. Manusia tak lagi mensyukuri indahnya bunga, rerumputan, dan pepohonan. Topografi tanah diubah sekehendak hati, dan struktur bumi dirusak.
Ditambah lagi dengan sikap terlalu mengagungkan teknologi, industrialisasi, dan materi telah membuat manusia setiap hari menciptakan berton-ton limbah mencemari udara, air, sungai, laut, dan lingkungan yang indah, yang pada akhirnya - secara perlahan namun pasti - mulai meracuni dan membunuh semua kehidupan di alam ini, termasuk manusia yang menciptakan limbah itu sendiri! Dengan prilaku yang egois, pongah, dan semena-mena, pantaskah manusia disebut sebagai ‘makhluk ciptaan-Nya yang termulia’? Yang lebih mengerikan lagi adalah persaingan dan pertikaian sengit antar manusia. Hilangnya Hati Nurani, kemerosotan moralitas, dan rusaknya budi pekerti telah membentuk hawa kejahatan dan kesesatan yang kemudian menjadi sumbu pemicu segala bencana alam dan tragedi manusia yang tak berkesudahan!
Pada hakekatnya alam adalah satu kesatuan yang bulat. Namun pengrusakan lingkungan dan hawa kejahatan akibat perbuatan manusia telah menghancurkan keseimbangan dan keserasian antara langit, bumi, manusia, dan laksa benda. Krisis yang dibuat manusia telah merusak keseimbangan antara keheningan dan dinamika, keserasian dan keselarasan siklus mekanisme kerja alam yang sempurna. Rusaknya mekanisme kerja tersebut telah mendatangkan pembalasan alam yang dashyat. Mungkinkah manusia bertahan hidup jika keadaan telah menjadi demikian? Yang menyedihkan, bukan saja manusia, tetapi makhluk lain pun ikut menjadi korban. Betapa sedih dan pilunya hati Sang Pencipta, LAOMU Yang Maha Pengasih, menyaksikan semua ini. Wahai umat manusia, makhluk yang termulia, kini tibalah saatnya untuk bertobat, merenungi nasib dan masa depan dirimu dan makluk lain yang hidup berdampingan denganmu!
Musibah hujan badai, topan, banjir, badai salju, kemarau panjang, dan pemanasan global yang disebabkan iklim yang abnormal telah mendatangkan penderitaan bagi berjuta-juta kehidupan di muka bumi ini. Bencana angin, air, api, salju, paceklik, wabah penyakit, dan kelaparan telah menyebabkan kesengsaraan dan kematian makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya. Industrialisasi, pendewaan teknologi, dan materialisme yang membabi buta telah mengakibatkan polusi udara, air, tanah, pangan, juga robeknya lapisan ozon. Tanpa udara dan air yang bersih, tanpa makanan higienis yang bebas dari pencemaran zat kimia dan logam, bagaimana mungkin manusia dapat melangsungkan hidupnya?
Siapakah yang akan menyelamatkan bumi - satu-satunya planet tempat bergantung hidup bagi semua makhluk - yang sedang terluka parah ini? Siapakah yang mampu menyelamatkan kita yang sedang melangkah menuju kehancuran? Dialah Buddha Maitreya!
Buddha Maitreyalah yang paling mengasihi alam ini. Beliaulah pelopor sejati Gerakan Cinta Alam Lingkungan dan Alam Spiritual. Buddha Maitreya memandang alam sebagai ayah-ibunya, dan laksa makhluk sebagai saudaranya. Buddha Maitreya mengasihi kehidupan semua makhluk dan semua benda yang ada di atas bumi, sekalipun hanya sekuntum bunga, sebatang rumput, sebatang pohon, sebutir pasir, ataupun sebongkah batu. Oleh sebab itu, ikrar kasih Beliau yang paling agung dan luhur adalah menuntun kita mendekati alam, kemudian mendekatkan kita dengan LAOMU Yang Pengasih, hingga tercapai keinsafan: Alam adalah aku, aku adalah alam, Tuhan abadi dalam hatiku, Tuhan bersamaku selamanya. Akhirnya terwujudlah Taman Sukacita Semesta Alam. Singkat kata, ikrar agung Buddha Maitreya adalah membangun Taman Sukacita Semesta Alam yang serba suci, murni, kaya berlimpah, bahagia, sejahtera, sempurna, rukun-harmonis, penuh kebersamaan, penuh kehangatan, tentram, damai, bebas, dan leluasa. Taman yang dimaksud adalah dunia damai sentosa, bumi suci, kerajaan Tuhan di dunia, sukhavati Maitreya!
Sesungguhnya alam adalah yang sejati, bajik, dan indah. Namun akibat perbuatan manusia yang sesat akan Nurani, yang terjerumus dalam jurang kegelapan dosa dan kejahatan, yang tak berdaya bangkit dan insaf, alam pun berubah menjadi lautan penderitaan yang tak bertepi.
Kini Buddha Maitreya hadir untuk membimbing dan menyadarkan kita bahwa bila setiap orang dapat menerima Inisiasi Dhiksa Maitreya ?, membuka pintu hati dan memancarkan cahaya terang Nurani ke dalam wajah, jiwa, dan prilaku kasih, niscaya alam yang penuh kekalutan, dosa, dan penderitaan ini akan berubah menjadi dunia damai sentosa, menjadi bumi suci, kerajaan sukhavati Maitreya. Alam akan kembali menjadi suci, bajik, dan indah.
Oleh sebab itu, mengasihi alam adalah mengasihi Buddha Maitreya. Marilah kita berjuang bersama untuk memwujudkan tibanya hari Abad Nurani. Mari berjuang bersama membangun dan memenuhi alam ini dengan atmosfir yang penuh sukacita, hawa kebenaran dan keadilan, getaran yang bajik, penuh kasih, damai, sejahtera, dan sentosa. Sesungguhnya alam adalah surga. Alam adalah bumi suci yang paling nyata dan sejati.
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|