|
Salah aspek dasar yang harus kita miliki dalam menjaga keseimbangan rohani kita adalah hati yang berpuji syukur orang yang selalu berpuji syukur adalah orang yang tahu puas diri. Orang yang tahu puas tidak akan timbul serakah dan benci dalam dirinya. Karena orang yang tahu puas akan mensyukuri semua yang ia miliki dan semua yang ia dapatkan.
Kalau mau dicari dan dikejar, maka harta benda dan kekayaan itu tak akan pernah habis dicari. Ketika seseorang telah memiliki sepeda, maka pasti akan timbul keinginan untuk memiliki motor. Punya motor, ingin mobil. Punya mobil kijang, ingin BMW. Kalau demikian, kapan puasnya? Manusia tak akan pernah puas. Cobalah untuk melihat kehidupan manusia di dunia ini. Masih milyaran umat manusia yang kekurangan makanan, yang tak mempunyai tempat tinggal yang hidup dikolong-kolong jembatan yang tinggal digubung-gubung reot, yang hanya mencari makanan dari mengais-ngais sampah, yang hanya punya beberapa pakaian dan satu pasang sepatu, yang tak punya pekerjaan, yang terbaring tak berdaya di rumah sakit, dan masih banyak lagi yang hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Lalu bagaimana dengan anda? Karena semua orang tak pernah puas dengan keadaan dirinya, maka tak heran kalau kita melihat sekarang orang saling bersaing dan menjatuhkan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akhirnya tak heran bila unia ini penuh dengan kerusuhan dan kekacauan.
Hidup ini merupakan lembah duka. Tak ada seorangpun yang bebas dari lembah duka ini, tapi kini kita telah membina diri, mari kita akhiri duka kehidupan. Ada orang yang hidupnya lancar dan ada yang tidak. Ada orang yang hidupnya cacat dan ada yang tidak cacat. Semua bentuk-bentuk kehidupan ini ada kausalitasnya atau sebab musababnya. Tidak bisa menyalahkan LAU MU atau orang lain. Segala yang terjadi di dunia ada sebab musababnya. Hidup dalam kelancaran atau kesulitan, semuanya ada sebab musababnya. Pahami hukum kausalitas ini. Kalau memahami hukum ini, maka kita tidak akan sembarangan menggerutu dan menyalahkan orang. Kalau setiap hari menggerutu dan berkeluh kesah, bagaimana bisa menikmati hidup? Selamanya tidak bisa seimbang dan harmonis. Oleh karena itu, di saat menghadapi masalah jangan salahkan orang lain tetapi diri sendirilah yang menyebabkannya. Lalu pupuklah rasa syukur kepada LAU MU. Dibawah pancarannya dan kebajikan guru membuat kita damai.
Orang yang hidup dalam kepuasan jiwa dan rasa syukur, matipun merasakan kebahagiaan. Kapan bisa merasakan suasana surga? Tidak perlu sampai maut menjemput, baru bisa merasakan surga, karena sekarangpun anda bisa merasakannya. Hiduplah selalu dalam kepuasan jiwa dan hati yang berpuji syukur.
Setiap orang takut membicarakan kematian dan takut maut kematian menjemputnya. Mereka takut kemana mereka akan pergi setelah kematian ini. Itu karena dia tidak membina. Itu membuat mereka takut. Tidak demikian bagi kita yang telah mendapatkan inisiasi sejati dan membina dengan baik, karena kita sudah tahu Tuhan telah membentangkan jalan bagi kita. Kematian bukan lagi menjadi suatu hal yang menakutkan. Oleh karena itu selagi napas masih dikandung badan, berjuanglah dalam membina. Dengan bersyukur dan tahu puas, tidak akan membuat kita goyah dan bahkan membuat kita selalu berterima kasih kepada LAU MU. Demikianlah keseimbangan rohani akan kita capai.
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|