Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  MENGASIHI ALAM, MENGASIHI TUHAN YANG MAHA PENGASIH

Alam adalah kata ganti untuk Tuhan Yang Maha Pengasih. Tuhan menciptakan langit, bumi, dan manusia. Tuhanlah yang mengedarkan surya dan rembulan, menghidupkan laksa makhluk dan benda, yang semuanya berlangsung dengan begitu wajar dan alami! Tiada keakuan, tiada ikatan batin, tiada pamrih dan kemunafikan, bahkan tidak meninggalkan bekas-jejak apapun! Tuhan Yang Maha Pengasih adalah Sang Penguasa langit, bumi, manusia, dan laksa makhluk. Sekalipun menjadi Empunya alam semesta, namun Tuhan tidak dominatif! Alam semesta beserta segala bentuk kehidupan tetap berjalan secara wajar dan alami.

Mata kita dapat melihat, telinga mendengar, hidung membaui, lidah mengecap, mulut berbicara, tangan dan kaki bekerja dengan baik, badan merasakan panas-dingin, otak berpikir, jantung berdetak, lambung mencerna, darah bersirkulasi, lever menetralisir racun, dan sebagainya, semua ini tampak begitu alamiah, seolah tidak ada yang mengatur. Namun di balik ini semua, Tuhanlah yang bekerja! Sungguh agung dan luar biasa. Inilah manifestasi kebesaran kasih dan rahmat LAOMU yang tak terhingga.

Langit dan bumi
adalah karya Tuhan bagi alam yang paling sempurna!

Manusia
adalah karya Tuhan bagi alam yang paling erat kasih-Nya!

Laksa benda
adalah karya Tuhan bagi alam yang paling indah-mempesona!
Alam adalah karya Tuhan yang paling ajaib dan tiada-tara!

Rahmat kasih Tuhan yang tak terhingga berpancar dan terukir jelas dalam alam semesta. Tuhan tidak berwujud rupa, tak terlihat, tak tersentuh, tak bersuara, tak terdengar, tak beraroma, tak terbaui, serta melampaui batas pikiran, pengetahuan, dan imajinasi. Namun melalui karya-Nya: surya, rembulan, bintang, gunung, laut, sungai, hingga ke sekuntum bunga, rumput, pohon, pasir, batu, dan sebagainya, Tuhan menunjukkan kemaha-beradaan-Nya. Dimana pun kita berada, sekalipun di ujung langit atau di dasar laut, di puncak gunung atau di tepi pantai, di padang pasir atau di padang rumput, di atas bumi atau di ruang angkasa, di sudut mana pun dalam semesta raya ini, kita tetap berada dalam rangkulan LAOMU, Sang Maha Pengasih.

Kala kita menerima siraman cahaya surya dan rembulan, merasakan hembusan angin, keteduhan awan dan rintikan hujan; atau di kala kita menikmati sesuap demi sesuap nasi, sayuran segar, palawija, buah-buahan dan rempah-rempah; atau di kala kita menghirup udara yang sejuk dan meneguk air segar, teh, kopi, jus, dan madu, pernahkah kita menyadari betapa semua ini adalah karunia-Nya? Umumnya kita menganggap semua kejadian ini sebagai sebuah kewajaran, namun di balik kewajaran inilah, tersimpan kasih dan perhatian Tuhan yang tak berkesudahan!

Langit biru yang luas tanpa batas, gumpalan awan dengan sejuta bentuk, sinar fajar yang penuh gairah, pelangi yang indah, kilauan senja yang lembut, dan bintang yang gemerlap di malam hari, adalah curahan kasih Tuhan terhadap kita. Bunyi riak air, rintikan hujan, desiran angin, kicauan burung, kokok ayam, dan fenomena lainnya yang tak terhitung, adalah bisikan kasih dan sapaan-Nya yang lembut pada kita.

Ketika kita menatap langit, bumi, menusia, dan laksa makhluk, atau kala kita melihat matahari, bulan, bintang, gunung, laut, sungai, atau hanya sekuntum bunga, rumput, pohon, pasir, batu dan lainnya, kita dapat merasakan betapa Tuhan maha berada, Tuhan menyertaiku senantiasa. Tuhan ada disekitarku. Tuhan ada dalam hatiku. Aku tidak sepi, aku tidak sendirian……

Angin yang sepoi-sepoi membelai wajah, bunga harum semerbak, air yang segar, buah yang manis, sayur yang lezat, rasa nyaman di kedua kaki yang terendam di air sungai yang dingin, udara gunung yang segar …… adalah siraman kasih sayang Tuhan yang penuh kehangatan.

Unggas yang terbang di angkasa, hewan yang berlarian di daratan, maupun ikan yang hidup dalam air adalah sebuah uraian dan ungkapan Tuhan yang sempurna tentang kemuliaan, kesamarataan, dan keagungan hidup semua makhluk. Mereka adalah saudara-saudara kita, sehingga, pada hakekatnya, kita sama sekali tidak kesepian dalam perjalanan hidup ini.

Berbaring di padang rumput, bersantai di bawah pohon rindang, mendaki ke puncak gunung, bermain air di pinggir sungai, atau berenang di laut, di manapun kita menginjakkan kaki, kita tetap berada di bawah pelukan kasih sayang Tuhan. Bukankah kita sungguh bahagia dan diberkati.

Bergelegarnya halilintar, suara hujan lebat, dan gemuruh angin yang kuat, gelombang ombak yang mencekam, adalah suara Tuhan yang terus memanggil kita untuk cepat sadar, bangkit dari kesesatan, dan bertobat.

Mengasihi alam membuat kita menjadi semakin mengasihi LAOMU, Tuhan Yang Maha Pengasih. Sebab melalui alam dengan segala aspeknya, kita dapat merasakan rahmat, budi, dan kasih Tuhan yang tiada tara! Kita dapat merasakan betapa Tuhan senantiasa ada dalam hatiku dan menyertai hidupku. Dan alangkah indah, berlimpah, dan bahagianya hidup ini, sebab begitu banyak saudara alam yang menemani perjalanan hidupku.

Akhir kata, kita dapat menyimpulkan bahwa memahami alam membuat kita memahami kehidupan kita sendiri. Memahami alam akan membuat kita memahami Ikrar Agung Buddha Maitreya. Lebih lanjut membuat kita memahami pribadi Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ternyata, Tuhan, Buddha Maitreya, alam, dan kita adalah satu-kesatuan yang bulat! Sebab itu, mengasihi alam berarti mengasihi, menghormati, dan bersyukur pada langit, bumi, manusia, dan laksa benda lainnya. Mengasihi alam adalah menghormati dan bersyukur pada Buddha Maitreya. Mengasihi alam adalah menghormati dan bersyukur pada Tuhan Yang Maha Pengasih.

Oleh M.S. Wang Che Kuang



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.