|
Semangat juang sang pengasih adalah semangat juang yang selalu membawakan sukacita bagi semua makhluk. Dalam segenap kehidupannya, sang pengasih tiada henti berjuang pantang mundur terus membina dan melaksanakan ketuhanan. Walaupun menghadapi sejuta rintangan dan kesulitan, namun semangat juangnya tak pernah padam. Tak ada kata malas, teledor, takut, dalam kamus hidup sang pengasih, yang selalu berjuang dalam misi Ketuhanan.
Semangat juang sang pengasih tidak hanya di dalam kerja dan karya, namun yang lebih luhur lagi adalah perjuangan memperbaiki diri, melampaui diri, dan mendobrak keburukan diri sendiri. Setiap hari harus ada kemajuan batin dan pertumbuhan pribadi, inilah semangat juan sang pengasih. Saya yang hari ini harus lebih baik dari saya yang kemarin, bahkan saya yang hari ini bisa menolak pandangan pribadi saya yang kemarin, karena saya yang hari ini telah melampaui saya yang kemarin. Begitu juga apa yang saya anggap benar saya yang hari ini bisa juga saya sangkal pada keesokan harinya, sebab saya di hari esok harus lebih maju dari saya hari ini. Singkat kata setiap hari harus menuntut dir untuk lebih baik dan lebih mendekati kenyataan nurani. Jika seorang pembina ketuhanan tidak memiliki semangat juang seperti ini maka tidak pernah akan ada kemajuan batin dalam dirinya, maka pada akhirnya hanya akan mencelakai diri sendiri dan orang lain.
Sedangkan selama ini dalam pandangan umum semangat juang sering diartikan sebatas kerja dan karya saja. Setiap hari memaksa diri untuk rajin dan lebih rajin, sibuk dan lebih sibuk lagi, bahkan sampai lupa makan dan tidur. Hal ini cenderung dialami oleh seorang manusia atau pembina ketuhanan yang menyadari dan merasakan keluhuran ketuhanan. Kesibukan yang mewarnai kehidupannya sepanjang hari itu dianggap sebagai satu perjuangan hidup yang luarbiasa menuju keilahian. Namun sadarilah bahwa semangat juang yang hanya dalam satu sisi seperti ini. Bukanlah semangat juang seorang pengasih yang sempurna. Mengapa demikian? Semangat pun pada akhirnya akan mundur karena tidak dilengkapi dengan semangat juang membina ke dalam batin. Jika kita ingin membawakan kebahagiaan bagi semua makhluk maka semangat juang kita tidak boleh hanya pada satu aspek seperti di atas, yaitu pada saat jasmani makan namun rohani tidak makan, sehingga pada saat diri telah berprestasi, lalu merasa diri sendirilah yang paling hebat dan benar, selalu kukuh pada pandangan diri sendiri dan mau menang sendiri. Dan mau menang sendiri. Demikian tentu saja bukan semangat juang sang pengasih.
Selain itu dengan kita hanya memiliki semangat juang dalam kerja dan karya, sementara tidak pernah ada perjuangan dalam kemajuan batin, maka akhirnya kita akan jatuh dalam keterikatan dalam aspek keilahian, semangat juang seperti ini membawa banyak dampak negatif bagi diri sendiri dan orang lain. Diri sendiri akan jatuh dalam persaingan akan prestasi ketuhanan, selalu menghitung-hitung sudah berapakah viharaku dan umatku. Saat melihat prestasi orang lain lebih baik dari kita maka timbullah rasa tak puas, tak suka kemudian iri, bahkan benci, hingga ingin menjatuhkan dan menjelekan orang lain. Jika prestasi diri lebih baik dari orang lain. Maka akan menjadi angkuh dan membawa beban yang berat bagi orang lain. Semangat juang yang demikian penuh penderitaan, beban, tekanan dan ketidak puasan, sama sekali tidak mungkin membawa kebahagiaan bagi diri dan semesta.
Seorang pengasih lebih harus berjuang melepaskan keakuan, kemilikan, dan keterikatan diri, demikian barulah bisa hidup harmonis dengan siapapun. Selama ini sering terjadi ketidak harmonisan antara sesama pembina, semua ini kita lupa untuk berjuang ke dalam batin dan selalu hidup dalam batasan tembok keakuan. Yang sesuai dengan pandangan saya baru bisa saya terima, selain itu, semuanya saya anggap salah, nilai benar dan salah selalu diukur dengan pemahaman diri yang amat terbatas, sama sekali tak ada pengembangan diri dan kelapangan dada untuk memahami dan menerima semua pihak. Semua ini tak bisa mewujudkan kebahagiaan universal bagi semua makhluk.
Untuk bisa mewujudkan kebahagiaan universal bagi semua makhluk terlebih dahulu harus meruntuhkan tembok keakuan, tembok yang mengurungi diri sendiri yang membuat kita tidak bisa menerima semua yang berada diluar tembok tersebut. Dengan demikian barulah kita bisa memiliki semangat juang pengasih, semangat juang yang tidak akan menyakiti orang lain. Seorang pengasih khawatir dirinya menyakiti orang lain, membawa beban dan ketakutan kepada orang lain, karena itu ia selalu berjuang memperbaiki diri dan meningkatkan pribadi terus berjuang meruntuhkan tembok keakuan dan membangun jiwa kasih yang tiada batas. Semangat juang seorang pengasih yaitu senantiasa mendobrak dan melampaui diri sendiri sebagaimana kata pepatah, baru di hari kemarin baru dihari ini, baru pada setiap hari , demikianlah kita harus senantiasa menjadi baru berusaha menetralkan dan melenyapkan semua ketercekatan, kepemilikan, keakuan, dan keangkuhan diri. Itulah semangat juang dari Sang Pengasih. Insafilah.
Lihatlah pribadi Buddha Bodhisatva yang sudah tiada keterikatan dan keakuan. Jiwa demikianlah yang pernah memberi makanan kepada rohani. Seperti tubuh yang memerlukan makan atau energi untuk beraktivitas maka rohani pun memerlukan santapannya agar tetap cemerlang. Apa santapan rohani itu? Membantu tugas-tugas vihara, melaksanakan etika kebuddhaan, melakukan bakti puja, mendengarkan ceramah dan berdoa. Semua ini adalah santapan rohani yang akan mendatangkan kekuatan bagi jiwa dan kebahagiaan sejati.
Mengapa santapan rohani ini mendatangkan kebahagiaan sejati? Hidup manusia tidak lepas dari dosa dan karmanya dimasa lalu. Manusia bukannya berjuang membersihkan dosa karmanya yang ada dalam dirinya tetapi malah membuat dosa karma yang baru. Akibatnya tiada keseimbangan. Pada hakekatnya nurani manusia itu bersih dan suci. Jika ditimbun dengan berbagai dosa dan karma maka itu akan membuatnya menjadi lebih berat. Tetapi jika kita berjuang mengimpasi dosa karma maka hal itu akan membuatnya menjadi lebih ringan dan kecemerlangan nurani akan semakin tampak. Kebahagiaan dalam nurani itulah yang sejati. Karena hati nurani kita sejati adanya.
Sumber : PUSDIKLAT BUDDHIS MAITREYA
|