|
Setiap hari adalah awal untuk menjadi manusia baru, setiap detik adalah saat yang tepat untuk mengalahkan diri sendiri.
Waktu dapat membentuk watak, menyelesaikan pekerjaan, dan memupuk pahala kebajikan.
Hidup adalah apa yang dilakukan oleh setipa orang sepanjang usianya. Karenanya berpaculah dengan waktu, jangan biarkan ia melewatimu
Setiap detik, berjuanglah demi kebajikan
Di saat-saat kita bebas melakukan sesuatu, seringkali kita tertipu oleh kebebasan itu, dan membuang-buang waktu tanpa sadar.
Orang bijaksana menggunakan waktu seperti permata berharga. Tapi bagi orang bodoh, waktu tak ubahnya segenggam tanah liat yang tak berharga.
Buddha mengatakan, "Hidup ini tak ubahnya nafas." Manusia tidak dapat mengatur panjang-pendek hidupnya, atau menghindar dari kematian. Dan karena hidup ini hanya sementara, kita harus menghargainya. Gunakanlah ia, kembangkan, dan tunjukkan nilainya yang sejati, pancarkanlah kebaikan dan keindahannya.
Justru karena hidup ini amat singkat, ia jadi sangat berharga. Dan karena sulit untuk terlahir sebagai manusia, kita harus bertanya pada diri sendiri, adakah kita telah mengembangkan potensi kemanusiaan kita dan tidak hanya mengejar kekayaan dalam hidup ini?
Orang harus sigap dalam melakukan perbuatan baik, dan harus sampai tuntas. Seperti memasak air; sebelum ia mendidih apinya jangan dipadamkan, kalau tidak mau mengulanginya lagi dari awal.
Di dorong oleh rasa takut akan berlalunya hari, kita cenderung menghabiskan energi memikirkan berbagai cara untuk mengisi waktu. Akibatnya kita malah kehilangan lebih banyak waktu, dan tetap tidak menghasilkan apa-apa.
Banyak orang terpesona oleh kemampuan adiduniawi dan terobsesi olehnya. Waktu atau umur yang panjang tidak ada gunanya bagi orang-orang seperti itu, karena mereka tidak akan pernah mencapai kemajuan batin.
Dalam tahapan-tahapan hidup yang singkat ini, waktu untuk menjadi dan menunaikan tugas sebagai manusia yang sempurna amatlah sedikit. Pekerja paling keras sekalipun hanya akan mencapai sepertiga dari apa yang dapat dicapainya.
Bila tidak ada yang dapat dilakukan, kita biasanya membiarkan waktu lewat dengan percuma; kehidupan terus berjalan sementara kita tidur bermalas-malasna. Begitu pula, orang yang membiarkan batinnya tertidur sepanjang hidupnya pantas dijuluki "si pemalas"
Selidikilah makna yang hakiki dari hidup ini dengan arif. Aturlah penggunaan waktu dalam hidupmu dengan kekuatan ikrar ketetapan hati.
Karena hidup ini tidaklah kekal, kita harus mempercepat langkah dan terus maju. Kita tidak sedang berjalan di atas lumpur - kebingungan, gamang dan tidak mantap - ketika sebelah kakimu telah menginjak tanah didepan, kakimu yang sebelah lagi masih takut dan ragu-ragu melepaskan pijakannya. "Setelah satu kaki melangkah, kaki yang lain menyusul." Artinya kita harus melepaskan hari kemarin, dan memusatkan perhatian pada apa yang sedang dikerjakan sekarang.
Ciri orang bijaksana adalah bahwa ia bisa mengatur waktunya.
Betapapun derita dan kesulitan yang harus ditempuh untuk mencapai sesuatu, jangan biarkan pikiranmu terikat pada hasil-hasil yang pernah kau capai. Betapapun kita telah banyak memberi kepada orang lain, janganlah menuntut balas atau ganjaran.
Kita tidak dapat menggenggam masa lalu, ataupun memastikan yang akan datang. Jadi, hd
Jika berpegang pada hari kemarin, maka niscaya akan muncul pikiran-pikiran keruh dari batin yang ternoda. Dengan memikirkan masa lalu, sedikit demi sedikit penderitaan, kemarahan, sakit hati dan kebencian akan bertambah.
Yang akan datang adalah mimpi disiang hari, masa lalu adalah kenangan palsu. Kita harus memperhatikan batin sejati yang hadir saat sekarang, dan dengan seksama menyelesaikan semua tugas.
Dalam hidup ini, tidak setiap permainan dapat dilakukan dengan baik, tapi dengan latihan dan disiplin yang keras, seorang pemain dapat melakukannya dengan cemerlang.
Sumber : MENYELAM KEDASAR BATIN Judul asli "Still Thoughts by Dharma Master Cheng Yen Penerjemah Tirtasanti
|