Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  MENYADARI LUASNYA LANGIT DAN BUMI


Tidak ada ukuran yang pasti mengenai "kebahagiaan" dalam hidup ini. Bila saja engkau bisa berbagi perhatian dengan sesamamu, engkau adalah orang yang beruntung hidup penuh berkah.

Di dunia ini, selalu saja ada orang yang lebih tidak beruntung ketimbang kita. Mereka yang memberi lebih beruntung ketimbang yang diberi.

Setiap kali kita memaafkan orang lain, keberuntungan kita bertambah. Makin sering kita memberi maaf, semakin beruntunglah kita.

Dalam hidup ini, kitalah yang menciptakan semua keberuntungan dan kesialan kita. Manusia adalah makhluk yang paling menakutkan, sekaligus yang paling indah.

Di mana ada hati yang baik, disana ada keberuntungan. Jika ada tekad, maka ada kekuatan.

Bukalah ladang maafmu dan panenlah keberuntunganmu.

Bila dijalaninya dengan sabar, penderitaanmu akan berakhir, dan akan datang masa-masa manis. Jatah keberuntunganmu akan berkurang setelah dinikmati. Dan saat-saat sedih menantimu.

Ketimbang mencari nasib baik dan umur panjang, lebih baik mencari ketenangan batin, dengan apa engkau dapat menambah nasib baik dan umur panjang.

Buddha menasehati kita untuk "memberi", karena dengan memberi kita akan beroleh lebih banyak berkah ketimbang "menerima". Kebahagiaan sejati adalah perasaan enteng, nyaman dan menyenangkan, yang datang setelah memberi dan melepas.

Manusia manakah yang paling beruntung? Manusia dengan batin yang wajar, batin yang mengetahui arti kata "puas" dan "cukup".

Nilai benda-benda duniawi dibatasi oleh waktu: dalam masa-masa damai, emas, perak dan permata adalah benda-benda berharga; tapi dalam masa peperangan, makanan dan pakaian adalah benda yang paling berharga. Matra nilai tersebut selalu berubah dan seringkali didasari oleh keangkuhan manusia.

Harta benda dan kekayaan di dunia ini tidak memiliki arti apa-apa selama ada lima hal ini: anak yang tidak berbakti, pejabat yang korupsi, pencuri, bencana dan fakta bahwa saat lahir maupun mati kita tidak membawa apa-apa.

Uang bukanlah bagian diri kita, sehingga wajar saja bila ada saat-saat dimana kita memperoleh dan kehilangan benda itu. Karenanya, tidak perlu kita menyombongkan kekayaan diri sendiri atau menghina kemiskinan orang lain.

Setelah merenungkan hidup ini, kita akan menyadari betapa pada akhirnya, tidak ada yang akan menemani kita untuk selamanya. Tidak peduli betapa kita menyayangi seseorang, atau berapa banyak kekayaan yang ada, ketika meninggalkan dunia ini kita harus berpisah dari mereka. Adakah lagi yang masih belum dapat kita lepaskan.

Bukan uang yang mendatangkan kebahagiaan, tetapi batin yang tenang dan bersih, murah hati dan suka menolong

Orang awam mengejar kekayaan, orang bijaksana mencari kebenaran.

Segala keindahan benda-benda duniawi - bentuk dan coraknya yang mengagumkan - hanya memuaskan keangkuhan orang awam.

Orang miskin yang dapat menghadapi kemiskinannya dengan gigih, dan orang kaya yang tidak menjadi sombong karena kekayaannya, adalah orang-orang sukses yang sesungguhnya.

Kendalikanlah kecintaan dan kehausanmu akan benda-benda duniawi. Dengan berkurangnya keserakahan, engkau akan mulai menyadari keluasan langit dan bumi yang tiada terbatas.

Sumber :
MENYELAM KEDASAR BATIN
Judul asli "Still Thoughts by Dharma Master Cheng Yen
Penerjemah Tirtasanti

 



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.