Penyelamatan Nuraniah berarti penyelamatan umat manusia atas dorongan Nurani. Berkat Kuasa Firman Tuhan, kebesaran rahmat kasih Tuhan dan budi-kebajikan Guru, kita mendapatkan kesempatan untuk melakukan Penyelamatan Nuraniah, yang dapat membentuk pribadi kita menjadi seorang Pengasih yang Mulia.
Saat kita dapat mengajak orang memohon Ketuhanan dengan lancar, ini bukan semata karena kehebatan kita. 70% kekuatan berasal dari-Nya. Di belakang layar - dalam aspek tak berwujud - para Buddha mengerahkan upaya yang tak terkira, agar mereka dapat memohon Ketuhanan. Barulah 30% kekuatan tergantung pada ketulusan kita, mengandalkan panggilan Nurani. Dengan sungguh-sungguh melakukan penyelamatan umat manusia atas dasar dorongan Nurani, barulah kita dapat menempa diri kita menjadi pribadi seorang Pengasih yang Mulia.
Penyelamatan Nuraniah sesungguhnya bukanlah semata mengajak orang memohon Ketuhanan atau membimbing umat saja, itu hanyalah skup kecilnya. Pengertian luas dari Penyelamatan Nuraniah adalah dalam kehidupan sehari-hari senantiasa mendatangkan berkah dan kebaikan bagi orang lain. Penyelamatan Nuraniah berarti senantiasa membantu orang lain, memberikan kekuatan, dorongan, semangat, dan penghiburan, sehingga pembinaan mereka mengalami kemajuan.
Marilah senantiasa bertanya kepada diri sendiri, "Apakah setiap saat diri ini mendatangkan kecemerlangan, harapan, dan kebahagiaan pada orang lain? Apakah aku dapat mendatangkan kemajuan dan semangat juang bagi mereka? Apakah aku dapat membuat kehidupan spiritual mereka semakin dalam? Apakah aku dapat membuat hidup mereka semakin bergairah, membuat mereka semakin beriman kepada Jalan Ketuhanan
?" Inilah makna Penyelamatan Nuraniah yang sesungguhnya, dengan panggilan Nurani, berjuang untuk membangkitkan kesadaran Nurani orang lain.
Dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan, sadarilah bahwa jika sampai akhirnya kita tidak mencapai Nurani yang sadar cemerlang, maka segala penderitaan - bahkan hingga mati sekalipun - tak ada gunanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengaktualisasikan realitas Hati Nurani. Setelah memahami teori, selanjutnya kita menuntut diri untuk mengamalkannya. Jika hanya berhenti pada formalitas teoritis - tanpa aplikasi nyata, sia-sialah segalanya.
Tuhan adalah Bunda yang melahirkan rohani kita. Dialah Sang Pengasih yang sejati. Kedua Guru Agung Nurani datang untuk mentransmisikan Inisiasi Sejati , mengungkapkan bahwa Sang Bunda Pengasih ada di dalam diriku, Hati Nuraniku bersumber dari Hati Tuhan. 'Maitreya' berarti 'Kasih', dan 'Kasih' adalah pribadi Tuhan. Sesungguhnya antara 'Tuhan', 'Buddha Maitreya', 'Hati Nurani', dan 'Kasih' adalah satu realitas, bukan dua. Dalam aspek hakekat, kita terlebih dahulu harus memahami Kebenaran ini. Sedangkan dalam aspek praktis, kita menuangkannya lewat Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah.
Dalam membina kita dituntut untuk menunjukkan keseriusan yang tinggi. Harus kita sadari bahwa persoalan membina bukanlah hal sepele, sehingga sedikit pun keteledoran tak dibenarkan. Pahamilah dasar pembinaan, dari awal hingga akhir. Dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan, Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah adalah teknik awal. Seperti yang disabdakan oleh Buddha Maitreya, "Kenalilah akar pokok, teknik awal - teknik akhir, barulah dapat sempurna." Apa maksud dari 'mengenal akar pokok'? Yaitu berpaling ke Nurani yang sadar cemerlang, sehingga wajah senantiasa memancarkan getaran kasih.
'Nurani yang sadar cemerlang', 'Roman wajah penuh kasih', keduanya adalah manifestasi seorang Pengasih yang Mulia. Pengasih yang Mulia berarti berpadunya diri ini dengan pribadi Tuhan, juga berarti Buddha Maitreya hidup dalam jiwaku. Bagaimana agar kita dapat memanifestasikan Nurani yang sadar cemerlang dan roman wajah yang penuh kasih? Hanya satu, yaitu dengan senantiasa melakukan Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah.
Dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan, sudahkah kita memenuhi hidup ini dengan sukacita Dharma, sukacita Ketuhanan? Adakah kebahagiaan Ilahi terlukis di raut wajah kita? Selama ini kita belum berjuang menggapai Nurani yang sadar cemerlang, sehingga semua itu tidak kita rasakan. Ini berarti terdapat 'kebocoran'. Di mana letak kebocorannya? Jawabannya juga hanya satu dan pasti, karena kita belum melaksanakan Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah.
Perjuangan membina Ketuhanan adalah bagaimana agar kita dapat memanifestasikan Nurani yang sadar cemerlang. Adalah bagaimana agar kasih memenuhi wajah. Adalah bagaimana agar pembinaan kita terbebas dari segala kebocoran. Cara yang paling fundamen dan paling baik untuk semua itu, masih dengan melakukan Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah. Asalkan kita dapat mengamalkan ketiga jurus ini, pastilah realitas Nurani yang sadar cemerlang tercapai, dan roman kasih pun memenuhi wajah.
Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah adalah metode pembinaan yang harus kita lakukan dalam sepanjang hidup ini. Pahamilah, bahwa kita bukan bersujud demi 'kegiatan bersujud', bukan bertobat demi 'kegiatan bertobat', dan terlebih bukanlah menyelamatkan umat manusia demi kegiatan 'menyelamatkan manusia'. Maksudnya, janganlah kita menganggap segala aktivitas dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan sebagai formalitas saja. Semua harus dilakukan di dalam kesadaran Nurani, didasari panggilan Nurani.
Jika kita sungguh-sungguh melaksanakan Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah, dengan sedirinya kita akan menginsafi besarnya rahmat kasih Tuhan dan budi-kebajikan Guru. Hati kita dipenuhi rasa syukur, dan diri ini terpanggil untuk sungguh-sungguh membalas kasih-Nya. Jika kita mampu merealisasikan hal ini, berarti kita telah mencapai realitas Nurani sadar cemerlang, dan dengan sendirinya kasih berpancar di wajah kita. Dengan demikian barulah kita sungguh-sungguh membalas Rahmat Tuhan yang Mahabesar, membalas Mahakasih Buddha Maitreya, membalas Budi-kebajikan Dwi Guru Agung, membalas kasih segenap Buddha-Bodhisatva yang telah membantu. Dengan demikian barulah kita menjadi orang yang tahu budi.
Tanpa memanifestasikan Nurani yang sadar cemerlang, berarti seumur hidup kita hanya membina secara membabi buta - tanpa arah yang benar. Jika demikian, bagaimana dapat membalas rahmat? Pahamilah bersama, untuk apa Tuhan menurunkan Jalan Ketuhanan? Tuhan telah mencurahkan rahmat-Nya yang tiada tara berupa Inisiasi Firmani Guru Sejati , sehingga pintu Nurani kita terbuka. Ini adalah semata agar kita dapat lebih gigih membina, agar Hati Nurani yang cemerlang kembali berpancar, agar diri ini menjadi seorang Pengasih yang Mulia. Jika kita dapat memahami dan merealisasikan Maksud Tuhan ini, barulah kita benar-benar menjadi anak Tuhan yang baik, menjadi anak yang berbakti besar. Jika demikian barulah kita menjadi cucu-murid Buddha Maitreya yang baik, sungguh-sungguh setia, seirama dengan derap langkah Buddha Maitreya.
Oleh M.S. Wang Che Kuang
|