|
Negara kesatuan Republik Indonesia yang berazaskan pancasila dan UUD 1945, negara menjamin kepada setiap penduduknya untuk melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Begitu juga kita sebagai umat Buddha di Indonesia dijamin dan dilindungi oleh negara dalam rangka melaksanakan ibadahnya.
Terbentuknya moral dan etika serta spiritual telah mengingatkan kita akan bimbingan luhur Sang Triratna, agar kita menjadi umat Buddha yang berkepribadian Pancasila, berbudi pekerti luhur, cinta tanah air dan menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, jujur, sabar, rendah hati, sopan dalam pergaulan dan perduli terhadap lingkungan sosial sekitarnya, pada gilirannya kitapun akan senantiasa -ikhlas beramal, berdana Paramita, kepada orang lain sesuai bimbingan para Pandita dan Bhiksu Sangha.
Setiap pemeluk agama yang baik memiliki keyakinan bahwa agamanya saja yang merupakan satu-satunya agama yang paling benar, keyakinan seperti itu adalah wajar normal, biasa dan memang seharusnya, tetapi keyakinan seperti itupun bukanlah merupakan suatu keyakinan yang harus ditujukan kepada umat beragama lain untuk lebih meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kalau seseorang telah memiliki keyakinan bahwa agamanya satu-satunya yang benar, keyakinan seperti itu lebih bersifat untuk menjaga agar orang berada dilingkungan sedharma tidak keluar, bukan untuk memaksa orang luar mengikuti ajaran agamanya.
Agama adalah persoalan keyakinan, dan keyakinan tidak dapat dipaksakan. Keyakinan mungkin dapat ditekan tetapi tidak dapat dilepaskan ataupun dipaksakan oleh karena itu etika pembabaran dharma adalah bagaimana kita meningkatkan kadar keimanan dan ketakwaan umat Buddha terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Bukan menarik-narik umat beragama lain diluar umat Buddha untuk masuk didalam agama Buddha.
Dalam kehidupan beragama Buddha salah satu keyakinan ajaran yang harus dihayati dan diamalkan adalah Brahma Vihara, terdiri dari empat sifat mulia yaitu "Metta atau Maitri yaitu sifat cinta kasih yang universal, Karma yaitu kasih sayang yang tidak terbatas, Mudita yaitu perasaan simpati terhadap kebahagian dan kegembiraan atau simpati terhadap keberhasilan yang dialami oleh orang lain dalam kehidupan ini dan Upekka yaitu batin yang seimbang selaras, dan serasi bebas dari keresahan dan kegelisahan bathin.
Apabila umat Buddha telah dapat mengembangkan dan mengisi pikiran dengan Metta, karuna, Mudita dan Upekka, maka ia akan bersih dari pikiran jahat (Mara), iri hati (Irsia) dan kebodohan (Moha).
Seseorang akan memilih untuk beragama Buddha atau tidak itu tergantung pada dirinya masing-masing. Kalau keyakinan ini ditujukan dilingkungan umat beragama lain kemudian kita berupaya menarik orang luar masuk mengikuti/ menganut agama Buddha maka inilah yang akan menimbulkan benturan-benturan. Hal ini yang sering kita lihat menjadi kenyataan dimana orang menyebarkan agama kepada orang yang sudah beragama maka timbullah hal-hal yang tidak diinginkan. Singgungan-singgungan dan benturan-benturan yang tidak diharapkan pun muncul.
Setiap pemeluk agama yang baik memiliki keyakinan bahwa agamanya yang paling benar karena perbedaan keyakinan sering menimbulkan pertentangan, untuk memelihara kerukunan diperlukan toleransi dan sikap saling menghargai.
"Siha seorang jenderal atau Upali seorang kaya raya (hartawan) dan terkemuka, pengikut Nigantha nataputta (agama Jaina Mahavira) yang termashur setelah berdialog dengan Sang Buddha ingin melepaskan kepercayaannya semula dan menganut ajaran Buddha. Oleh Buddha sendiri diingatkan agar ia mempertimbangkan kembali secara tenang dan jangan terburu-buru. Setelah tiga kali memohon barulah Sang Buddha menerimanya dengan syarat agar tetap menghormati guru-gurunya yang terdahulu. Bahkan mereka dianjurkan agar tidak menghentikan sumbangan kepada golongan agamanya semula.
Menghormati kepercayaan orang lain bukan berarti sekaligus menerima kepercayaan yang bertentangan itu untuk diri sendiri. Munculnya agama Buddha justru menunjukkan kebenaran itu bukanlah seperti apa yang sudah dikenal menurut kitab suci atau tradisi yang sudah mapan pada waktu itu. Agama ini pun berbeda dengan agama-agama lain yang sudah dikenal dunia kemudian.
Dalam perkembangan agama Buddha sendiri melahirkan sejumlah sekte jika diibaratkan dengan sebatang pohon, tanaman itu tumbuh berkembang dengan bercabang dan berranting. Bagaimanapun semua cabang dan ranting tersebut kukenali sebagai bagian dari pohon yang sama, yang berasal dari biji yang satu. Semua sekte mengakui paham mereka bersumber langsung dari Buddha sendiri.
Ada yang menitik beratkan sikap yang rasional, ada yang mementingkan kepercayaan atau bakti, ada yang bersadar pada pengalaman intuituf dan sebagainya. Keragaman kemampuan dan kebutuhan setiap manusia adalah menerima ajaran-Nya sudah sejak mula dipertimbangkan oleh Sang Buddha. Buddha mengajarkan sejumlah metode, tetapi tidak membuat perbedaan yang melahirkan sekte.
Sekalipun merupakan aspek yang sama dari agama yang satu, setiap sekte memiliki watak dan identitasnya masing-masing yang berbeda satu dengan yang lain. Bahkan dalam beberapa hal tertentu aliran yang berbeda itu mungkin pula saling menyerang.
Menganggap semua sekte sama benarnya tentu saja keliru tanpa memahami ajaran Buddha yang pokok atau fundamental. Tanpa mengenali ajaran yang pokok ini orang mudah terbawa sesat. Menjadi lebih keliru lagi kalau suatu aliran mencampur adukkan agama lain yang tidak bersumber pada pendiri atau kitab suci yang sama.
Sumber :
Majubuthi
|