Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  KONDISI KEHIDUPAN BERAGAMA DI INDONESIA


Kehidupan beragama tercermin dalam sikap, perilaku dan tindakan sesuai dengan nilai-nilai agama yang menekankan hidup beragama, toleransi dan penghargaan atas pluralitas yang belakangan ini mengalami tantangan yang hebat sekali.

Kerukunan hidup beragama dan toleransi kelihatannya sudah tidak mampu untuk mengatasi adanya kerusuhan dan tindak kekerasan yang terjadi di Jakarta, Ambon, Papua, dan lain-lainnya. Ada yang mengusulkan agar kita mengutuk pelaku kekerasan, menghukum mati mereka.

Sayang, ditelevisi dan bioskop-bioskop, justru di pasarkan film-film yang semakin menyebarkan semangat dendam yang tidak ada habis-habisnya. Kekerasan dapat mengandung warna religius, entah dalam bentuknya, entah sebagai tujuan, entah sebagai simbol dramatis. Kekerasan dapat dilakukan dengan penuh hormat, seakan akan sang provokator menjumpai "sang maha pesona". Konflik profan terbatas dapat bereskalasi menjadi kekerasan, bila isue-isue yang dipertaruhkan diwarnai dengan aspek religie. Hal ini tampak tersirat dalam berbagai kekerasan akhir-akhir ini.

Pantas dipertanyakan mengapa kebudayaan kekerasan tumbuh subur diantara kita? Apakah kodrat kita jahat? Ataukah bangsa kita dibangun dengan budaya kebencian dan kekerasan? Kita perlu mencari aneka akarnya. Diantara berbagai akar itu, sering kali agama dapat menyediakan bahan pemikiraan.

Agama Buddha menyumbangkan pemikiran tentang bagaimana caranya mengatasi tindak kekerasan, dengan berpedoman kepada Hukum karma, atau hukum sebab akibat. Karma atau perbuatan terjadi karena adanya niat (cetana). Dari niat inilah akan terjadi karma yang dilakukan oleh pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani.

Diantara ketiga bentuk karma tadi, maka karma pikiran yang memegang peranan yang sangat penting. Terjadinya kekerasan itu karena adanya pikiran jahat (negatif). Buddha bersabda bahwa "segala keadaan adalah hasil dari apa yang telah kita pikirkan, ditentukan oleh pikiran kita dan dijadikan oleh pikiran kita. Pikiran diibaratkan sebagai majikan. Kalau kita berpikir, berbicara atau berbuat dengan pikiran yang jahat, maka hasilnya adalah penderitaan, bagaikan roda pedati yang selalu mengikuti jejak kaki lembut yang menariknya".

Jadi tindak kekerasan yang sekarang merebak dimana-mana, pada hakekatnya disebabkan oleh adanya pikiran negatif, pikiran jahat. Pikiran jahat itu adalah pikiran yang membenci (dosa), pikiran serakah (lobha) dan pikiran yang bodoh (moha). Ketiga pikiran jahat inilah yang menjadi pemicu tidak kekerasan berupa pertentangan, perkelahian, perkosaan, penjarahan, pembunuhan dan sebagainya.

Buddha bersabda bahwa "kebencian tidak akan pernah berakhir kalau dibalas dengan kebencian. Namun kebencian akan dapat berakhir kalau dibalas dengan sikap tidak membenci. Merupakan hukum abadi ". Jadi selama ada kebencian, maka akan terjadi tindak kekerasan dan kejahatan dengan segala manifestasinya. Kalau kebencian telah menjadi provokator yang berhasil membakar emosi, kemarahan rasa iri hati, kecurigaan, rasa tidak percaya, maka tindak kekerasan yang bernuansa kejahatan akan terus terjadi.

Karena itu upaya terpenting sekarang bagaimana dapat diadakan pendekatan, sesuai dengan nilai-nilai agama adalah dengan berpikir positif, berpikir baik yang merupakan kunci untuk mengatasi kebencian, dengan mengembangkan pikiran tidak membenci, pikiran yang penuh dengan cinta kasih (metta, maitri). Pikiran positif yang menjadi sumber kebahagiaan terdapat dalam hati nurani kita, yang menjadi sumber kebahagiaan, disebut "Boddhicitta".

Maka pengembangkan pikiran cinta kasih, belas kasihan dan pikiran yang arif bijaksana merupakan hal yang sangat dibutuhkan. Kalau kebencian, keserakahan dan kebodohan terus merajalela dalam kehidupan, maka upaya untuk mengatasi berbagai gejolak sosial akan makin sulit. Disinilah para rohaniawan, tokoh masyarakat dan pimpinan umat beragama harus merasa terpanggil untuk turut memecahkannya mencarikan solusi yang terbaik.

Getaran pikiran serakah saling membenci saling curiga, iri hati sekarang menggetas dalam kehidupan sehingga sedikit saja terjadi perselisihan maka dampaknya menjadi besar. Hal ini terlihat jelas dalam sabda Buddha yang berbunyi demikian "Ia menghina saya, ia memukul saya, ia mengalahkan saya, ia merampas milik saya. Selama seseorang masih menyimpan pikiran-pikiran semacam itu, maka kebencian tak akan pernah berakhir".

Perasaan mudah merasa dihina, disakiti, dikalahkan merasa hak miliknya dirampas dan lain-lainnya menyebabkan seseorang mudah tersinggung, lalu melakukan perbuatan kekerasan yang dampaknya sangat merugikan kehidupan.

Demikianlah kalau perasaan dihina disakiti, dirugikan disinggung selalu dipelihara dalam pikiran, maka kebencian tidak akan pernah berakhir. Namun perasaan demikian itu kalau dapat dilenyapkan dari pikiran maka kebencian akan berakhir. Disinilah sebenarnya agama harus berperan untuk mengatasi perasaan mudah tersinggung itu dan perlunya mengendalikan diri.

Sumber :
Majubuthi

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.