Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  TATA TERTIB AGAMA


Pelaksana dari tertib agama dibagi atas tata tertib yang dilakukan oleh umat yang berumah tangga atau katakanlah umat awam. Di dalam agama Buddha umat awam ini disebut upasaka dan upasaki yaitu umat laki-laki dan perempuan. Upasaka dan upasika diharapkan ia melatih Pancasila Agama Buddha dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ia mempunyai kedisiplinan yang terlatih, sehingga menjadi kebiasaan atau jadi watak untuk mentaati Pancasila Agama Buddha.

Pancasila Agama Buddha yang perlu dilatih oleh para Upasaka dan Upasika berbunyi sebagai berikut :

  1. Saya berjanji untuk tidak melakukan pembunuhan.
  2. Saya berjanji untuk tidak melakukan pencurian.
  3. Saya berjanji untuk tidak melakukan perjinahan.
  4. Saya berjanji untuk tidak berbohong.
  5. Saya berjanji untuk tidak meminum segala sesuatu yang memabukkan, yang melemahkan kesadaran saya.

Lima tata tertib yang disebut Pancasila ini kalau di latih terus menerus sehingga menjadi kebiasaan, maka tata tertib sila ini dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kalau Pancasila Buddhis ini dilaksanakan, maka dunia ini menjadi aman, tidak lagi ada pembunuhan, kekerasan, penyiksaan yang melanggar HAM. Tidak lagi ada pencurian, kolusi, korupsi, kredit macet dan sebagainya. Tidak lagi ada orang melakukan pelanggaran sex atau perzinaan. Tidak lagi ada penipuan, ketidak jujuran. Tidak lagi ada orang yang kesadarannya menjadi lemah, sehingga ia sadar melakukan perbuatan yang tercela, sebagai akibat ketagihan estasy, ganja, narkotik minuman keras.

Untuk dapat melaksanakan Pancasila Buddhis ini, diperlukan adanya budaya malu dan budaya takut yakni budaya malu untuk berbuat jahat yang disebut Hiri dan budaya takut terhadap akibat perbuatan jahat yang disebut Ottapa. Nah.kalau kita saksikan situasi dan kondisi dari kehidupan masyarakat kita sering terjadi pelanggaran HAM, karena masih adanya pembunuhan yang sadis, tindak kekerasan yang tidak berperikemanusiaan, yang mengakibatkan terjadinya perbuatan berutal, pengacauan yang membawa banyak korban jiwa dan materi. Disinilah perlunya kedisiplinan dalam melaksanakan latihan Pancasila Agama Buddha.

Kita sering mendengar percakapan antara beberapa orang demikian saya setelah masuk agama, saya tidak lagi mempunyai kebiasaan minum-minuman keras, mabuk-mabukan. Saya tidak lagi ke disko dan lain-lainnya. Karena itu sila adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh pikiran, ucapan dan perbuatan badan jasmani.

Keperihatinan masyarakat terhadap belum terlaksananya tata tertib dalam masyarakat seperti tertib hukum, tertib lalu lintas dan tertib-tertib lainnya perlu dicarikan jalan keluarnya. Bagi umat Buddha, upaya untuk menjadi manusia susila adalah merupakan latihan yang terbaik, sehingga kita dapat menjadikan pelaksanaan sila itu sebagai kebiasaan. Dengan demikian tidak lagi ada pelanggaran HAM, tidak lagi adanya pengedaran miras secara bebas. Karena itu sikap agama Buddha terhadap kebebasan penyebaran Miras itu, tidak dapat dibenarkan.

Tata tertib yang dilakukan oleh Samanera dan Samaneri para Bhikkhu dan Bhikkhuni yang hidup tidak berumah tangga. Sila yang dilaksanakan oleh para Samanera dan para Bhikkhu serta Bhikkhuni adalah Dasa sila dan Patimokkha Sila serta 227 peraturan.

Kalau kita sebagai umat awam Buddhis, telah dapat melaksanakan Pancasila Buddhis dalam kehidupan sehari-hari dengan kedisiplinan yang terlatih, maka akan terwujudlah manusia yang susila. Manusia susila menurut agama buddha, disamping yang melaksanakan Pancasila, dasa sila juga kalau ia dapat berkata berbuat dan bermata pencaharian benar. Sila akan dapat dilaksanakan kalau kita sudah dapat membudayakan perasaan malu berbuat jahat dan takut terhadap akibat perbuatan jahat yang kita lakukan yang disebut Hiri dan Ottapa.

Hiri dan Ottapa dikatakan sebagai pelindung dunia. Dan kalau kita sudah memiliki budaya hiri dan ottapa, maka dunia dan hidud ini benar-benar akan terlindungi dari perbuatan-perbuatan jahat.

Cita-cita dari agama Buddha adalah terwujudnya keseimbangan, keselarasan dan keserasihan antara kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat untuk dapat mencapai kebahagiaan yang seimbang ini, dilaksanakan jalan tengah atau jalan utama beruas delapan. Jalan tengah membentuk keseimbangan, jalan tengah mewujudkan keutuhan, jalan tengah itulah jalan untuk membentuk manusia seutuhnya manusia yang memiliki kebahagiaan itu dan seimbang antara kebahagiaan lahir dan batin.

Sumber :
Majubuthi

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.