Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  MENGAPA KITA PERLU PERCAYA KEPADA GOHONZON
Oleh : Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia


Pertanyaan : Saya merasa bahwa tanpa kepercayaan kepada Gohonzon pun, dapat tetap hidup. Menurut saya, kepercayaan itu cukup hanya percaya pada diri sendiri saja!

Jawab : Memang, manusia-manusia yang hidup pada zaman sekarang sering dikatakan tidak lagi percaya pada kemanusiaan. Perasaan hati antar manusia masa ini dirasa saling berpencar bagai butiran pasir. Hal ini karena masing-masing individu hanya mementingkan diri sendiri, sehingga perasaan yang saling mempercayai dan saling menjaga antar manusia lenyap. Oleh sebab itu susasana masyarakat sekarang tiada lagi terasa kehangatannya. Hal ini menyebabkan keadaan menjadi kering.

Melihat kenyataan keadaan masyarakat yang demikian, tentu pada diri setiap manusia akan timbul perasaan dan pikiran "Yah, zaman sekarang sih, hanya dapat percaya diri sendiri saja deh!" Akan tetapi sesungguhnya, karena cara hidup semua orang yang tidak lagi saling percaya dan saling curiga itulah yang membuat kenyataan dalam masyarakat bagai butiran pasir yang terpencar-pencar. Tiada lagi hubungan kemanusiaan yang hangat.

Oleh karena keadaan masyarakat kini yang semacam itu, seringkali tanpa sadar, dalam kehidupan sehari-hari kita telah terjerumus atau terpengaruh oleh keadaan itu. Hal itu dapat kita lihat dalam kasus ini. Umpamanya, kita bekerja dalam sebuah perusahaan. Sesungguhnya hal ini berarti kita bekerja demi kepentingan dan keuntungan orang lain seharus nya kita tetap bersemangat dalam menambah serta meningkatkan keuntungan perusahaan. Akan tetapi kenyataannya, dalam pekerjaan nya sehari-hari sering terjadi pertentangan-pertentangan antara sesama rekan kerja. Hal ini disebabkan adanya persaingan merebut kedudukan, sehingga tanpa sadar kita pun terseret kedalamnya. Meskipun kita tahu hal itu tidak benar, namun sering kita tak merasa bersalah melakukannya. Oleh karena kita berpikiran, memang kejadian seperti itu telah lazim terjadi pada masyarakat dewasa ini. Keadaan yang mana diri kita tak akan mendapat keuntungan, bila tak menjatuhkan orang lain.atau dengan kata lain, kita tidak akan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi tanpa menjatuhkan kedudukan orang lain.

Sesungguhnya, persaingan merebut kedudukan yang lebih tinggi itu akan merugikan perusahaan secara keseluruhan. Lebih jauh lagi, hal itu juga akan merugikan diri kita dan keluarga sendiri. Memang, dalam kenyataannya banyak kejadian yang membuktikan bahwa orang yang memikirkan kepentingan orang lain, malah akhirnya, dirinya menjadi jatuh. Maka apabila keadaan masyarakat sudah sedemikian rupa, tentu lebih baik kita hanya mempercayai diri sendiri saja. Oleh karena telah jelas bahwa sikap orang lain tak dapat dipercaya lagi. Akan tetapi kita harus memikirkan sekali lagi apa yang dikatakan dengan "Hanya dapat mempercayai diri sendiri saja".

Hati manusia sebenarnya selalu goyah, Hati manusia ini selalu tergantung pada suasana yang di hadapi. Coba anda pikirkan kembali, sesungguhnya perasaan sering berubah tergantung pada suasana sekeliling anda.Misalnya, pada suatu saat anda merasa gembira, namun beberapa waktu kemudian anda menjadi sangat sedih. Ya memang, pada waktu segalanya berjalan lancar dan maju, anda menjadi penuh harapan. Namun ketika anda membuat kesalahan dalam pekerjaan atau pada saat jatuh sakit, anda menjadi putus asa dan merasa tidak memiliki harapan lagi. Kehidupan manusia tidaklah selalu berjalan lancar dan mulus. Walaupun anda kadang-kadang merasa yakin dan puas dengan cara hidup serta potensi diri sendiri. Sebenarnya masih terdapat sebuah pernyataan yang mengganjal. Sampai dimanakah kita bisa percaya pada diri sendiri.

Apabila kita pikirkan kembali pernyataan "Hanya percaya pada diri sendiri". Pernyataan tersebut merupakan suatu hal yang sangat sensitif. Oleh karena biarpun kita sering merasa bangga atau mengatakan hanya mempercayai diri sendiri, sebenarnya hal tersebut tidak mutlak pula. Artinya bahwa perasaan kita ini masih sering goyah. Jika anda pikirkan lebih mendalam lagi mengenai diri sendiri yang masih sering goyahini. Maka akan mengetahui suasana jiwa sesungguhnya. Suasana jiwa yang sepenuhnya tertutup oleh keserakahan, kemarahan, kebodohan dan lain-lain.

Hawa nafsu itu tak terbatas. Hawa nafsu inilah yang mengontrol ego manusia. Manusia menjadi sering marah. Ia juga terikat kepada yang jelas-jelas menguntung kan dirinya. Bila anda sungguh-sungguh melihat kedalam diri sendiri berdasarkan kerendahan hati, maka anda akan menemukan bahwa anda selalu jatuh kedalam suasana jiwa yang buruk ini dikatakan bahwa anda terasa dalam suasana neraka. Serakah serta tidak manusiawi. Ketiga suasana tersebut dinamakan Tiga jalan buruk. Kemudian bila ditambah dengan sifat yang "bengkok" dari jiwa yang selalu mendorong keributan (asura), maka hal ini akan memanggil empat jalan buruk.

Oleh karena itu, meskipun dikatakan "percaya pada diri sendiri", namun nyatanya percaya pada diri sendiri yang penuh dengan tiga jalan buruk atau empat jalan buruk, pastilah tak akan dapat mencapai kebahagiaan. Pada zaman mutakhir Dharma yang keruh ini, kecenderungan manusia untuk menghormati, dihormati dan diagungkan sangatlah kuat. Dengan demikian tanpa sadar, diri kita sendiri telah jatuh ke dalam tiga jalan buruk atau empat jalan buruk tersebut. maka sesungguhnya, kepercayaan pada diri sendiri yang dipenuhi oleh tiga jalan buruk atau empat jalan buruk ini merupakan akar pokok bahaya yang mengakibatkan ketidakbahagiaan manusia diseluruh dunia pada masa ini.

Hal di atas menerangkan bahwa bagi manusia yang dipenuhi oleh tiga jalan buruk atau empat jalan buruk selalu menempatkan hawa nafsu sebagai akar pokok yang dihormati serta diagungkan. Dengan demikian uang dan kekuasaan menjadi Honzon (objek pemujaan). Kenyataan ini membuktikan bahwa setiap individu memiliki Honzon masing-masing. Honzon ini merupakan tujuan/pegangan hidup seseorang yang berupa uang, kekuasaan dan lain-lain.

Sumber :SAMANTABADRA - PEB 2003


 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.