|
Oleh Bhiksuni VIRYA GUNA BILA ada sebuah pertanyaan, apa yang terpenting dalam hidup ini ? tentunya hampir setiap individu mempunyai jawaban yang berbeda-beda dan pasti orang akan bertanya lagi, ini tergantung kondisi ruang dan waktu, sangat manusiawi sekali rasanya!
Secara kebutuhan lahiriah setiap orang akan mengatakan yang terpenting dalam hidup ini memenuhi keinginannya, seperti kebutuhan akan harta, kebutuhan akan penampilan yang mempersona, kebutuhan nama baik, kebutuhan makanan yang memenuhi selera dan butuh pendukung serta ditambah lagi dengan kepuasan.
Berpatokan pada kepentingan-kepentingan tersebut diatas, hingga tercapai, setiap orang dapat mengatakan inilah kehidupan kita sekarang dan bila kepentingan-kepentingan ini tidak terpenuhi pasti menjadi marah, merasa tidak puas kehilangan keseimbangan, sehingga kita akan menjadi pemberang kemudian berakhir dengan penderitaan, jadi kepentingan-kepentingan tersebut diatas merupakan sumbernya penderitaan bagi kita semua. Tapi kita tidak bisa lari dari kenyataan ini karena kita punya kebutuhan akan jasmani dan kebutuhan rohani.
Apakah benar kepentingan-kepentingan yang kita butuhkan hanya dalam kehidupan ini ? tentu bagi orang-orang tidak memikirkan bagaimana kehidupan yang bahagia, tenang, penuh dengan kegembiraan dan kepuasan batin, buat mereka ini dikatakan hal yang lumrah. Hidup penuh dengan tantangan, hidup penuh dengan perjuangan, hidup penuh dengan tipu muslihat hanya untuk memenuhi kepentingan-kepentingan dalam hidup sekarang ini. Kita juga tidak mengerti mengapa aku sudah bersusah payah, sudah bekerja keras, segala macam rekayasa sudah dijalankan, segala korupsi, kolusi dan nepotisme sudah nyata dipraktekan, tetapi toch kepentingan-kepentingan tersebut tetap saja tidak terpenuhi dan tetap saja tidak ada kepuasan dalam melengkapi kehidupan sekarang ini, barangkali kita juga tidak tahu sebabnya kenapa bisa begini, dan kita juga tidak mau tahu dan terus mencari tahu kenapa bisa begitu, hidup kita jauh dari "kebenaran Dharma". Sampai saatnya kita meninggal nanti tetap saja kepentingan-kepentingan ini tidak terlaksana dalam kehidupannya, dari ketidaktahuan selalu timbul menyelimuti kekecewaan, kemarahan, ketidak puasan, kelahiran yang akan datang alam samsara akan menjadi tempat kita berpijak. (alam samsara adalah alam binatang, alam preta/setan gentayangan dan alam neraka).
Tentunya bagi kita yang berada dijalan " kebenaran Dharma " sadar akan adanya kepentingan-kepentingan tersebut diatas, sadar akan kebutuhan-kebutuhan tersebut diatas merupakan sumber penderitaan buat kita, karena kita hidup dalam dunia yang nyata. Tetapi kita tidak berhenti sampai disini, kita tidak mau berada didalam sebuah lingkaran setan yang tidak tahu bagaimana jalan keluarnya, kita harus mencari, belajar, bertanya, mengerti serta penghayatan yang bagaimana sesuai dengan " kebenaran Dharma " agar kepentingan-kepentingan serta kebutuhan hidup dalam realita dunia, ini tidak membawa dampak akibat " penderitaan " pada akhirnya.
Dalam mencari, belajar, bertanya, mengerti serta penghayatan sesuai dengan "kebenaran Dharma", pertama-tama kita harus :
- Menghargai kehidupan kita sebagai manusia, karena manusia mempunyai keterbatasan ruang dan waktu, dan tidak mudah untuk terlahir sebagai manusia.
- Bersyukur atas keberuntungan berjodoh dengan Tri ratna Buddha Dharma Sangha serta kesempatan mendengarkan ajaran "Kebenaran Dharma".
- Harus bisa menerima 3 kenyataan dalam dunia ini, pertama hidup ini tidak kekal, terus berubah, tidak ada kepastian dalam hidup ini, yang pasti suatu hari kita bisa mati meninggalkan semua yang kita miliki didunia ini, kedua hidup ini penuh dengan penderitaan dan ketidakpuasan, apapun yang kita terima dan peroleh berakhir dengan penderitaan, ketiga semua yang terbentuk, semua yang dibuat tidak ada intinya, karena terbentuk dari fenomena-fenomena yang diciptakan oleh manusia.
- Adanya jeratan hukum karma sebagai hukum sebab dan akibat yang dilakukan melalui perbuatan badan, ucapan mulut dan pikiran .
- Selama kita bermain dan dipermainkan oleh panca indra, perasaan dan pikiran yang berupa fenomena-fenomena penderitaan tidak akan habis-habisnya.
Ini semua merupakan landasan bagi kita untuk berfikir dan keluar dari lingkaran setan yang tiada putus-putusnya. Sekarang kita sudah tahu dan mengerti kalau pemenuhan keinginan dan kebutuhan akan duniawi, kita selalu dilandasi oleh sifat tanha (pemuasan), sifat avidya/kebodohan, dan sifat kemarahan yang merupakan tiga racun dalam kehidupan ini. Kebahagian, ketenangan, ketentraman serta kepuasan batin tidak akan kita peroleh, yang bisa kita rasakan semua ini adalah kebahagian dan kepuasan yang bersifat semu dan sementara.
Agar kita bisa memperoleh dalam memenuhi sebuah kebutuhan yang penuh dengan kebahagian, penuh dengan ketenangan, ketentraman dan kepuasan batin serta tiada beban keterikatan atau kemelekatan atas barang serta fenomena yang bersifat duniawi.
"Kebenaran Dharma" mengajarkan kepada kita :
Pertama, kita tidak boleh kekurangan akar dasar dari kemauan untuk berbuat baik.
Kedua, kita tidak boleh kekurangan keberuntungan dan kebajikan dalam arti seluas-luasnya.
Ketiga, kita tidak boleh kekurangan kesempatan (sebab dan jodoh).
Inilah yang perlu kita cari, kita pelajari, kita mengerti kemudian kita hayati dalam kehidupan ini, agar dalam kehidupan sekarang ini kita tidak kekurangan akar kemauan untuk berbuat baik, kalau kemauan berbuat baik itu tidak mengakar, kita akan mudah untuk kecewa, putus asa dan yang paling kita takutkan adalah kita akan kembali kejalan kita semula yang penuh dengan sifat tanha, sifat kebodohan dan sifat kemarahan.
Akar kemauan berbuat baik adalah landasan berkembangnya benih-benih "keBuddhaan" dan sebagai latihan untuk mengembangkan benih "bodhicitta" yang kita miliki, sehingga akan muncul kemurahan hati yang tanpa pamrih, memberikan welas asih dan kasih sayang tanpa mengharapkan imbalan, menyenangkan diri orang lain, guna memenuhi kebutuhan orang lain karena mereka butuh dan kita punya jaminan rasa aman, rasa tenang, rasa bahagia, dan tanpa beban, serta dengan contoh prilaku diri sendiri "kebenaran Dharma" ditujuhkan kepada orang-orang yang membutuhkan sehingga orang-orang bisa keluar dari kondisi yang penuh dengan ketidak pastian ini, dengan demikian dapat membuka pikiran orang-orang yang membutuhkan sehingga kemalangan, belenggu dan pandangan sempit akan bisa berubah menjadi suatu pandangan yang dalam dan luas bagaikan lautan yang tidak bertepi.
Kita tidak boleh kekurangan dalam hal keberuntungan dan kebajikan dalam arti seluas-luasnya, kalau kelahiran sekarang ini kita hidup cacat, idiot, miskin, badan lemah, sakit-sakitan dan tidak bahagia karena kita tidak bajik, penuh dengan rasa iri, dengki, serakah, penuh dengan kemarahan, apa yang akan kita perbuat untuk memperbaiki diri sendiri, apalagi untuk membantu orang lain, kita belum apa-apa.
Demikian juga kalau kita punya keberuntungan tapi tidak ada kebajikan, mana mungkin kita berbuat baik, begitu banyak orang-orang yang mempunyai keberuntungan apakah mereka mau memikirkan orang lain, kita juga tidak bisa berbuat apa-apa, sedangkan orang yang ingin kita bantu kebetulan mereka perlu bantuan berupa materi yang kita tidak punya, kita Cuma punya kebajikan, paling minim kita Cuma bisa bilang kasihan orang tersebut, jadi dalam hidup ini keberuntungan dan kebajikan tidak boleh dipisahkan, sehingga kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan bisa terpenuhi (materi) dan kebaikan hati, kebahagian tanpa kemelekatan dan keterikatan bisa kita rasakan didalam perasaan dan pikiran tanpa beban (non materi).
Kalau saja didalam kehidupan sekarang ini kita bisa menjadi orang yang mempunyai akar kemauan berbuat baik dengan kokoh, kita dapat hidup selalu penuh keberuntungan dan mempunyai hati/pikiran serta perasaan yang penuh dengan kebajikan serta kesempatan selalu berpikir kepada kita, hidup ini penuh dengan kebahagian, ketenangan, ketentraman dan kedamaian, kepentingan-kepentingan, kebutuhan-kebutuhan seperti yang diuraikan diatas kita dapat miliki dengan sempurna, harta berlimpah, kepribadian kita mempunyai daya tarik yang luar biasa, menjadi orang yang terpandang dan dihormati orang dari semua golongan dan masyarakat, makanan berlimpah dan pendukung kita banyak tanpa direkayasa, tapi kita mengerti dan sadar dari mana asalnya ini semua dan bagaimana berakhirnya, sehingga kita terbebas dari sifat tanha, sifat avidya, sifat kemarahan, yang ada hanya benih ke-Buddha-an dan benih bodhicitta yang berkembang dengan pesat, kondisi ini melebihi kondisi di alam dewa, luar biasa, mengapa kita tidak mencobanya?.
Editor :Toto
|