Jika pengamalan Baktipuja dan Pertobatan Nuraniah kita telah mantap, kita tidak akan merasakannya sebagai beban ataupun sebagai aktivitas yang begitu asing. Baktipuja dan Pertobatan Nuraniah terasa sangat wajar dan menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Kapan dan di mana pun kita berada, tak henti-hentinya kita terdorong untuk melakukan Baktipuja dan Pertobatan Nuraniah, sehingga pengamalannya tak lagi sebatas pada lingkungan vihara saja.
Sedangkan tahap awal Penyelamatan Nuraniah adalah dengan mengerjakan tugas Ketuhanan seperti merintis Wadah Ketuhanan, beramal menunaikan ikrar, melaksanakan triamal, mengajak orang memohon Ketuhanan, dan membabarkan Kebenaran Tuhan. Jika Penyelamatan Nuraniah yang kita lakukan telah mencapai tahap akhir, setiap saat dan di mana pun berada kita memancarkan pribadi Sang Pengasih dengan sangat wajar. Apapun yang kita perbuat dapat menggugah hati manusia. Seorang Pengasih yang Mulia - seorang yang memanifestasikan Nurani yang sadar cemerlang - tanpa perlu berberbicara pun, sudah menghadirkan nuansa penyelamatan manusia. Ini sama halnya dengan kecemerlangan Nurani yang dimanifestasikan Buddha Maitreya hingga tingkatan yang tertinggi. Kasih Beliau telah mencapai tingkat yang paling tinggi dan sempurna. Sehingga meskipun kehadirannya hanya dalam bentuk Buddha rupam kayu, Beliau telah menyampaikan Dharma Hati - Kabar Sukacita Buddha Maitreya, senantiasa menyampaikan Dharma Universal - Bebas Dualis - Kasih Maitreya. Penyampaian tanpa ucap kata ini memancarkan getaran kebenaran, getaran kebajikan, jiwa ksatria, juga senantiasa memancarkan nuansa kasih, sehingga menggugah Hati Nurani umat manusia, mendatangkan kebahagiaan besar bagi umat manusia.
Marilah kita meneladani semangat Buddha Maitreya, sehingga segenap sikap dan tutur kata kita dapat membangkitkan kesadaran Nurani mereka. Inilah manifestasi Penyelamatan Nuraniah pada tahap akhir, senantiasa membangkitkan kepercayaan dan kecemerlangan kepada orang lain, selalu mendatangkan kebahagiaan dan keceriaan bagi orang lain, selalu memberikan dorongan dan penghiburan kepada orang lain, dalam segala hal selalu mempertimbangkan kepentingan orang lain.
Proses yang kita jalani sekarang merupakan tahap awal, dan untuk mencapai tahap akhir benar-benar mengandalkan kegigihan yang konsisten. Pada pengamalan teknik akhir, kita harus dapat merelakan dan melupakan segalanya, dalam arti, setelah selesai melaksanakan kita tidak lagi menyimpannya di dalam hati. Setelah melakukan penyelamatan, membangkitkan Nurani umat manusia, kita tidak mencatatnya dalam hati. Kita melakukan sekaligus melupakan segala karya kita, tidak merasa diri ini telah berjasa, telah berjuang, dan sebagainya. Jika sikap ini dapat kita laksanakan, tak ada lagi istilah 'tahap awal' maupun 'tahap akhir' - segalanya telah menjadi kesatuan. Inilah realitas Sang Pengasih yang sejati, realitas Nurani yang sadar cemerlang. Inilah tingkatan yang tertinggi-sempurna.
Kini telah kita pahami, Penyelamatan Nuraniah bukanlah hanya sekedar kegiatan mengajak orang memohon Ketuhanan, melainkan sungguh-sungguh melakukan segala tugas berdasarkan kasih, berdasarkan panggilan Hati Nurani. Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat mewujudkannya lewat sikap saling memperhatikan, saling membimbing, dan saling memberi dukungan antarsesama pembina. Bila ada umat yang sakit, kita mengambil tindakan proaktif untuk memperhatikan, merawat, menjaga, dan melayaninya. Jika dalam setiap sikap dan tindakan kita selalu mempertimbangkan orang lain, selalu demi orang lain, inilah yang dimaksud prilaku kasih. Buatlah orang lain merasakan bahwa pembinaan Ketuhanan akan mendatangkan kehangatan kasih, sehingga imannya terhadap Ketuhanan terus tumbuh. Mereka dapat berpikir, "Meskipun tak ada sanak famili yang menjagaku, saudara dalam Wadah Ketuhanan begitu besar perhatiannya padaku." Orang yang merasakan hal seperti ini dengan sendirinya merasakan keluhuran Jalan Ketuhanan! Dalam setiap aspek, prilaku kita mendatangkan kepercayaan, harapan, dan kekuatan bagi orang lain.
Singkat kata, segala proses dalam membina dan mengamalkan Ketuhanan terangkum dalam Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah. Tahap awal ini hendaknya dilaksanakan secara konsisten. Saat matangnya sebab-jodoh ini, dengan sendirinya kita akan mencapai tahap akhir, mencapai tingkat tertinggi-sempurna dalam memanifestasikan Nurani yang sadar cemerlang dan wajah penuh kasih.
Sesungguhnya rangkaian proses pembinaan ini adalah tanggung jawab kita terhadap diri sendiri. Pembinaan diri adalah sesuatu yang bersifat pribadi, seperti pepatah, "Siapa yang meminum air, dingin-hangatnya diri sendirilah yang tahu". Amalkanlah Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah sepanjang hidup, pancarkanlah kesadaran Nurani sehingga kasih memenuhi wajah. Hanya dengan cara ini kita dapat mencapai tingkat Kebuddhaan yang tertinggi.
Seseorang yang telah memanifestasikan kesadaran Nurani akan senantiasa terpanggil untuk menyelamatkan umat manusia. Sang Pengasih yang mulia senantiasa menjadikan mata, telinga, hidung, mulut, raga, dan niat pikirannya sebagai perkakas untuk memanifestasikan kasih. Saat mengerjakan apapun, ia selalu terdorong untuk memancarkan terang Nuraninya. Ia selalu berpikir untuk beramal menunaikan ikrar, mewakili Tuhan membabarkan dharma, menyelamatkan dunia dan mengajak orang memohon Ketuhanan dengan kesadaran Nurani.
Saat melaksanakan tugas-tugas Tuhan, niat di dalam hati kita seharusnya adalah, bagaimana agar dengan melakukan tugas-tugas ini kesadaran Nuraniku dan Nurani mereka semakin berpancar. Jika kita dapat bersikap demikian, barulah kita benar-benar memanfaatkan keenam indera dengan baik. Jadikanlah Hati Nurani sebagai penguasa keenam akar ini. Gunakanlah keenam akar ini untuk melakukan Penyelamatan Nuraniah. Setiap saat apa yang ada dalam benak pikiran adalah bagaimana kita melaksanakan Penyelamatan Nuraniah, bagaimana agar kita tidak melewati waktu ini dengan percuma, sehingga hidup kita tidak menjadi sia-sia. Inilah yang telah dipraktekkan oleh Hao Che Ta Ti semasa hidupnya, yang senantiasa memanfaatkan setiap menit dan detik. Beliau memenuhi segenap hidup-Nya dengan pengorbanan demi Ketuhanan. Dalam lubuk hatinya hanya ada satu hati - satu niat, hanyalah demi menyelamatkan trilokya. Isi hati, ucapan dan tindakannya selalu berpadu. Mengapa Tuhan menganugerahkan gelar Kebuddhaan 'Maha Buddha Hao Che'? Karena dalam segenap hidupnya Beliau selalu mengaktualisasikan realitas Hati Nurani. Beliau sungguh-sungguh melaksanakan sikap 'Bersyukur atas rahmat kasih Tuhan, membalas rahmat kasih Tuhan, berteguh pada Hati Tuhan, bertindak sesuai dengan Kehendak Tuhan; bersyukur atas budi-kebajikan Guru, membalas budi-kebajikan Guru, berteguh pada panggilan Hati Guru, bertindak sesuai dengan Kehendak Guru'. Jika beberapa kalimat ini mampu kita kerjakan, pastilah kita dapat memanifestasikan Nurani yang sadar cemerlang. Pastilah kita dapat menjadi seorang pengasih yang mulia, menjadi nirmanakaya Buddha Maitreya.
Dalam perjalanan membina dan mengamalkan Ketuhanan, manfaatkanlah segala momen sebagai jodoh pendorong untuk tercapainya Nurani yang sadar cemerlang. Semakin pandai memanfaatkan waktu, melaksanakan Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah di segala kesempatan, berarti semakin cepat kita menggapai pribadi Sang Pengasih yang mulia.
Bagaimanakah sikap Sang Pengasih Sejati? Seorang pengasih yang mulia - seorang yang memanifestasikan Nurani yang sadar cemerlang - bersikap hati-hati namun tidak menjadi penakut, mengutamakan masalah global tapi memperhatikan hal secara mendetil. Visinya jauh ke depan, berwawasan luas dan multi dimensi, menganalisa segalanya secara akurat, perfeksionis dalam menangani masalah. Semakin cemerlang kesadaran Nurani seseorang, semakin cermatlah hatinya.
Sang Pengasih akan khawatir kalau-kalau kesalahan kecil pada dirinya dapat mencelakai orang, mengecewakan rahmat kasih Tuhan dan budi-kebajikan Guru. Ia takut diri sendiri tak dapat melaksanakan Penyelamatan Nuraniah dengan sempurna. Dalam setiap langkah, Sang Pengasih senantiasa memikirkan kepentingan orang lain, sama sekali tak pernah mempertimbangkan untung-rugi diri sendiri. Karena tak ada ego, maka ia dapat senantiasa melakukan Penyelamatan Nuraniah dengan sempurna.
Saat ini semua orang bisa berbicara tentang Hati Nurani, namun tak banyak orang yang sungguh-sungguh memahami makna Hati Nurani yang sesungguhnya. Jauh lebih sedikit lagi mereka yang sungguh-sungguh mengaktualisasikan Kebenaran Nurani. Kasih adalah manifestasi realitas Hati Nurani yang paling mendasar. Oleh sebab itu hanyalah dengan meneladani pribadi agung Buddha Maitreya, dengan menegakkan tekad untuk menjadi seorang pengasih yang mulia, hidup kita menjadi penuh makna. Setiap saat dan di mana pun kita berada, marilah tidak meninggalkan aktivitas Baktipuja, Pertobatan, dan Penyelamatan Nuraniah. Dengan sendirinya Nurani yang sadar cemerlang dan wajah penuh kasih berpancar dalam diri kita.
Oleh M.S. Wang Che Kuang
|