Artikel/Renungan
Dharma Wacana




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  TERORISME - PESAN LAOMU UNTUK KITA


BALI, permata Indonesia yang terkenal pesona alam dan keseniannya yang khas serta penduduknya yang ramah. Bali, memang Pulau Dewata. Namun, ledakan dahsyat oleh bom jenis C-4 pada Sabtu malam, 12 Oktober 2002, saat jarum jam menunjukkan pukul 23.50 WITA, mencorengkan arang ke wajah Bali. Ledakan itu tidak hanya mengagetkan mereka yang sedang menikmati keindahan malam, dan membangunkan mereka yang sedang terlelap. Semburan api membumbung setinggi 200 meter. Begitu dahsyat hingga nyala ledakan terlihat hingga radius beberapa kilometer. Saking dahsyatnya, sekitar 30 mobil dan puluhan motor habis terbakar dan sebuah lubang dalam berdiameter 4 meter terpajang di antara gedung McDonald's Legian, Bank Panin, Padys dan Sari Club dan Waitrus yang hancur porak-poranda tanpa tersisa.

Malam itu bukan hanya akan menjadi malam yang tak terlupakan bagi segenap masyarakat Bali tetapi seluruh bangsa Indonesia. Kehidupan yang indah berubah menjadi gelap dan menakutkan. Ratusan nyawa manusia melayang begitu saja dan ratusan lainnya luka-luka. Ratusan mayat hitam tak dikenal bergelimpangan mengerikan. Citra Bali sebagai kawasan yang aman, negeri impian para wisatawan, telah direnggut oleh mereka yang tak bertanggung jawab atau lebih tepat tidak berperikemanusiaan. Isak tangis, jerit pilu, getir duka terdengar mengerikan, dan menjadi biasa menyelimuti langit kelam di Legian nadi kota bali.

Tragedi Bali, sebuah pembantaian yang kejam dan keji, diduga kuat dilancarkan oleh kelompok yang terorganisir yang mungkin rancu dalam mendefinisikan kemanusiaan. Misalnya adanya paham yang sangat mengagung-agungkan suatu kelompok sehingga menganggap kelompok lain adalah kelompok bukan manusia, disebutnya sebagai kelompok manusia "bejat". Jika paham ini benar, maka sungguh luar biasa pilih kasihnya Sang Pencipta sehingga menciptakan manusia-manusia yang siap untuk dimusnahkan oleh manusia lain yang juga ciptaan-Nya.

Terdapat tiga, mungkin baru tiga, kemungkinan yang akan terjadi ketika dunia ini dilanda kekejaman, kebengisan, ketidakmanusiaan ini. Pertama, para peneror yang bangga karena pertunjukkannya mendapat "tepuk tangan". Kedua, manusia yang diguncang bencana terorisme ini menjadi saling peduli, merasa senasib dan sependeritaan, sama-sama susah. Ketiga, lahirlah manusia yang tercemerlangkan nuraninya, yang mampu menyalakan lilin-lilin kecil penerang dunia yang gelap akibat terorisme.

Sudahlah, kesedihan dan luka karena tragedi Bali belumlah usai. Janganlah kita saling menyakiti lagi dengan saling menuduh suatu kelompok, ketahuilah yang kita tuduh tersebut adalah juga saudara-saudara kita, yang harus senantiasa kita sadari adalah bahwa Tuhan Maha Tahu dan Maha Adil. Dan marilah kita berusaha untk memastikan bahwa kemungkinan kedua atau ketiga yang terjadi dari ketiga kemungkinan diatas, tidak yang pertama. Mengapa? Karena memang seharusnya begitulah kita sebagai manusia, kita semua pasi mengerti arti manusiawi dan bedanya dengan "tidak manusiawi", tidak pantas rasanya untuk menyebutkan hewani, dan mungkin juga kita sangat memahami arti mengendalikan diri untuk menjadi seorang manusia yang manusiawi, realitas dunia membuktikan tak banyak manusia yang mampu memanusiakan dirinya sehingga bumi ini penuh dengan manusia yang bertubuh manusia namun tak manusiawi.

Dengan pengertian yang dangkal, kita menganggap kitalah manusia super hebat, "Superman", paling benar sehingga menyombongkan diri padahal kita hanyalah kumpulan kulit, daging, otot, darah dan kotoran. Dengan kesembongan ini maka kita "menjagal" kemanusiaan kita. Dengan keserakahan, apapun yang disenangi akan terus diikuti nafsu untuk digapai. Kita terus mengikuti nafsu keinginan yang tak kunjung padam. Jika senang dengan memusnahkan orang lain maka akan terus memusnahkan orang lain. Disisi lain, dengan kebencian membawa kita kearah penolakan terhadap apapun yang tidak disukai. Demikianlah manusia dibuatkan nuraninya, dengan kesembongannya dan kebencian yang sebetulnya berasal dari dalam dirinya sendiri.

Ya, mungkin tragedi-tragedi beruntun ini merupakan surat dari LAOMU, berisi teguran atas kesombongan kita yang tidak bergantung bahkan lupa pada-Nya, pada hati nurani didalam diri kita yang penuh dosa dan telah menghalalkan segala kemaksiatan, agar segera bangkit dan sadar serta berpaling, kembali melihat kedalam diri kita, berpaling pada Aku yang sejati, hati nuraniku, melihat segala kesombongan dan kebencian yang ada dalam diri kita, dan mungkin juga merupakan peringatan dari Yang Maha Kuasa bahwa akhir zaman sudah dekat, sudah tidak banyak waktu yang tersisa lagi, hanya mereka yang mampu mencemerlangkan nuranilah yang akan terselamatkan.

Sekarang, bagaimana melenyapkan karat-karat batin itu, keserakahan, kesombongan dan kebencian? Pertama, mengusahakan untuk tidak membiarkan diri ini memunculkan niat jahat, yaitu dengan berpandangan dan berpikir sesuai hati nurani, dengan demikian tidak akan menyakiti makhluk hidup lain. Kedua, mengusahakan menimbulkan niat dan keinginan baik, yaitu dengan berperhatian, berkonsentrasi dan berusaha sesuai dengan hati nurani. Ketiga, dengan mengembangkan niat-niat baik yang pernah atau sedang berlangsung dengan cara mewujudkannya dengan tindakan nyata termasuk di sini adalah menghentikan segala kebiasaan jahat yang pernah atau sedang dilakukan. Singkat kata dengan berucap kata, berbuat dan bermata pencaharian yang benar sesuai dengan hati nurani.

Misalnya dengan menghentikan kebiasaan "membunuh" - bukan hanya berhubungan dengan kematian, tapi juga membuat makhluk hidup lainnya menderita, kebiasaan mencuri seperti korupsi, tidak disiplin (mencuri waktu), kolusi, nepotisme (mencuri posisi), kebiasaan berasusila, kebiasaan berbohong, memfitnah, membual, bicara kasar. Sekaligus kita membantu tugas vihara, membantu orang tua, bekerja dengan baik, memberikan kebahagiaan kepada orang lain, memberikan nasehat, masukan, saran yang baik dan berguna, berusaha memahami orang lain dengan senantiasa berpikir positif, memberikan maaf ketika orang lain bersalah tanpa orang tersebut meminta atau tidak, dan dengan tersenyum cara termudah dan tentunya dengan senyum kasih, senyum yang mendamaikan dunia.

Ketiga cara diatas merupakan rangkaian rantai yang tak terpisahkan. Kita tidak dapat hanya mengusahakan satu atau dua dari tiga cara saja namun harus seluruhnya, Ketiga-tiganya harus dirangkaikan dalam setiap usaha kita dalam mengikis borok-borok batin, membersihkan diri dari kebencian, kesombongan dan keserakahan. Hancurlah ketiga akar kejahatan lobha, dosa dan moha yang semuanya tidak mustahil untuk dicapai dalam kehidupan saat ini. Kecemerlangan nurani atau sebut saja pencerahan spiritual yang akan dicapai ini, memastikan kita untuk alergi dan anti terhadap terorisme dan harus menyayangi segala bentuk kehidupan didunia ini dengan demikian terciptalah sukacita di bumi ini.

Sumber :
Maitreyawira
Media Spiritual dan Komunikasi Umat Buddha Maitreya Indonesia
Edisi 19

 


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.