Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

 Renungan Waisak Nasional 2546/2002

Suvati hotu Nammo Buddhaya,

Kita umat Buddha seluruh Indonesia harus merasa bersyukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, dan Sang Triratna, bahwa atas lindungan bersama anugerah dan Ridho-Nya kita umat Buddha pada saat yang berbahagia ini dapat melaksanakan peringatan puja bakti pada hari besar nasional TRI SUCI WAISAK 2546/2002 di Candi Agung Borobudur seperti sekarang ini.

Seluruh umat Buddha di tanah air Indonesia mengganggap bahwa hari besar Tri Suci Waisak yang setiap tahun dirayakan di Candi Agung Borobudur adalah sebagai bulan suci yang sakral. Di bulan suci yang sakral ini, saat yang tepat bagi umat Buddha untuk melakukan introspeksi diri di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, dan Sang Triratna. Namun umat Buddha dalam memperingati bulan Tri Suci Waisak harus mampu mencerminkan sikap toleran terhadap sesama bangsa di Indonesia tercinta ini dengan perasaan asah, asih, asuh (cinta kasih dan kasih sayang secara universal).

Peringatan hari besar Tri Suci Waisak ini merupakan tahun baru bagi umat Buddha seluruh dunia, sebagai tonggak sejarah yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Datangnya tahun baru ini harus dibarengi dengan peningkatan kedamaian dan kesucian batin yang hakiki, yang mampu membawa bangsa ke arah persatuan dan kesatuan demi terwujudnya perdamaian dan kesejahteraan bangsa Indonesia, dan harus mampu meredam gejolak perseteruan di dalam tubuh sesama agama Buddha maupun kepada agama lain yang sama-sama bernaung di NKRI.

Kami menghimbau kepada seluruh umat Buddha Indonesia supaya mau dan mampu melaksanakan kehidupan baru, yaitu keheningan batin serta intropeksi di malam hari yang sangat keramat ini; supaya dapat mengambil hikmahnya untuk bekal hidup menuju perdamaian, kerukunan, ketentraman dan kesejahteraan lahir batin dan mampu menghapus tiga akar kejahatan, yaitu Lobha, Dosa dan Moha yang menjadikan manusia sesat dan tidak pernah merasakan puas. Kita umat Buddha sebagai bangsa Indonesia dengan penuh keyakinan tetap ikut menegakkan semangat dan nilai-nilai religius kita. Umat Buddha juga ikut menjaga kelestariannya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dengan hari Tri Suci Waisak yang telah mencapai 2546 sekarang ini, kita umat Buddha harus meningkatkan keyakinan dan ketaqwaan dengan kedewasaan dan kebersihan batin dari Lobha, Dosa, Moha dan sifat-sifat egoistis yang selalu menimbulkan perpecahan, permusuhan, KKN, dan pembunuhan di mana-mana. Kekotoran batin semacam inilah yang harus kita hapus dari dalam batin kita masing-masing. Maka dari itu, kita umat Buddha seluruh Indonesia dalam merayakan hari besar TRI SUCI WAISAK 2546 ini, kita semua tidak sekedar hura-hura dan ramai-ramai secara fisik, tetapi yang sangat penting adalah kita umat Buddha mau dan mampu mengambil hikmahnya dalam arti yang sebenarnya. Apa makna yang tersirat dalam mengadakan peringatan hari Tri Suci Waisak ini?

Hakekat dan hikmahnya dalam mengadakan peringatan dan atau peringatan hari yang sangat kita sakralkan ini adalah supaya dalam kehidupan sehari-hari sangat membutuhkan perubahan, peningkatan dan motivasi tentang mental dan spiritual. Kalau mental dan spiritual umat Buddha termasuk bangsa Indonesia sudah dapat bebas dari sifat-sifat ingin menang sendiri, ingin benar sendiri dan benar-benar mau dan mampu mawas diri sebagai manusia yang berakhlak mulia di dunia fana ini, maka krisis multi dimensional di seluruh bidang ini akan mampu teratasi. Karena semua kejadian adanya reformasi di segala bidang ini termasuk demonstrasi, KKN, perpecahan, permusuhan, pembunuhan di mana-mana, perampokan, pemerkosaan, dll itu semua berpangkal pada krisis mental, yang hanya mementingkan diri sendiri atau golongan dengan mengatasnamakan umat atau masyarakat.

Manusia yang dikuasai ego, Lobha, Dosa dan Moha biasanya kalau mempunyai cita-cita ingin mempertahankan kedudukan, kekuasaan dan atau harta kekayaan pasti menggunakan segala cara yang disebut WAL WAL KEDUWAL, meskipun besarnya sak bantal-bantal, selama ia kontal pasti ia anggap halal.

Maka dengan peringatan hari besar TRI SUCI WAISAK 2546/2002 sekarang ini, kita atas nama Dewan Sangha WALUBI menghimbau seluruh umat Buddha Indonesia untuk merenungi, meresapi, menghayati dan mengamalkan Dhamma dan Vinaya dalam kehidupan sehari-hari.

Sabba papasa akaranam :

Hapuslah segala kejahatan yang ada dalam dirimu

Kusalassupasampada :

Pupuklah segala kebajikan yang telah kau lakukan

Sacita pariyodapanam :

Sucikan hati dan pikiranmu demi mencapai pencerahan

Etang Buddha na sasanam :

Itulah ajaran semua para Buddha.


Pesan dan kesan terakhir dalam sambutan malam ini saya mengingatkan:

Kepada para Dhamma duta : Sebagai seorang pemimpin (Duta Dhamma), sikap mental dan pola pikirnya harus kreatif, kondusif dan transparan. Memiliki kredibilitas dan dedikasi yang tinggi, yang dapat dibuat pengayom dan dapat dibuat panutan kepada anak didiknya atau umat yang dipimpinnya.

Satu-satunya fenomena dan atau persoalan yang wajib kita jadikan bahan pemikiran yang sangat serius, yaitu menyiapkan generasi penerus para pemuda dan pemudi Buddhis Indonesia, untuk menghadapi dan menjawab tantangan zaman yang semakin maju dan global sekarang ini. Maka dari itu umat Buddha seluruh Indonesia dan seluruh pemuda-pemudi Buddhis harus tetap menggalang persatuan dan kesatuan untuk memperkokoh solidaritas persaudaraan demi mencapai keutuhan dan keharmonisan terhadap semua umat Buddha seluruh Indonesia, tanpa pandang apa sekte dan etnisnya.

Sang Buddha mengajarkan Sila (moralitas), Samadhi (perenungan batin), dan Panna (pengembangan kebijaksanaan) adalah bertujuan untuk membangun mental spiritual manusia, supaya menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur dan yang bertanggung jawab, yang diharapkan mampu melaksanakan misi dan visi untuk merealisir pencerahan sempurna. Karena dengan menghayati dan mengamalkan Dhamma dan Vinaya yang tersirat di dalam Kitab Suci Tipitaka itulah yang akan mampu menjaga citra agama Buddha, dan melestarikannya di Indonesia. Karena agama Buddha adalah merupakan pengajaran, wejangan, pendidikan, bukannya pemujaan dan ritualnya saja yang diutamakan.

Di dalam Kitab Suci TIPITAKA, Anguttara Nikaya 3021/VII, Sang Buddha bersabda sebagai berikut :

  • Atthana Rakkhati Saranam Dhammam : Tiada perlindungan yang aman di dunia ini.
  • Aññanam saranam dhammam lokhiya rakhati : Kecuali Dhamma yang dipraktekkan dengan ketulusan hati
  • Dhammam have rakkhati dhammam cariya : Dhamma akan melindungi orang yang mempraktekkannya
  • Dhamma sucino sukkho mam vatthi : Mempraktekkan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari akan mendapatkan kebahagiaan yang tiada taranya.
  • Esani samso dhamma sucino Na dughati gacati dhamma carini : Barang siapa mensucikan dirinya melalui praktek Dhamma, ia tidak akan dapat disesatkan oleh setan atau peta yang berwujud hawa nafsu kejahatan yang menutup batin manusia menjadi gelap.

Bagi umat Buddha di seluruh Indonesia, kewajiban kita sekarang ini adalah mewariskan isi Kitab Suci TIPITAKA seutuhnya, supaya dapat dibuat pegangan hidup demi prospek masa depan menuju pencerahan. Kita umat Buddha harus dapat membedakan antara tugas kemasyarakatan, tugas kenegaraan dan tugas keagamaan. Selanjutnya apa yang kita butuhkan sekarang ini tidak lain adalah pemahaman ajaran Sang Buddha oleh para penganutnya. Setelah dipahami lalu diresapi, dan dihayati untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa dan Sang Tiratana melindungi dan membimbing bangsa Indonesia termasuk umat Buddha ke jalan yang benar.

Sabbe satta sada hontu avera sukajivino
Semoga semua makhluk selamanya hidup dalam kebahagiaan dan bebas dari segala kebencian dan permusuhan.

Sadhu, sadhu, sadhu.


Jakarta, 26 Mei 2002
WAISAK 2546/2002
Mettacittena,

ttd

Bhikkhu Kalaññuta





Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.