|
Tema:
"Pikiran adalah pemimpin;
Membangkitkan Bodhicitta;
Melaksanakan pertapaan Bodhisattva;
Itulah cara mengamalkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari"
Salam dalam Dharma
Namo Buddhaya,
Atas karunia Hyang Tathagata, Tuhan Yang Maha Esa, sumber kesucian para buddha dan Bodhisattva, semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Teman-teman se-Dharma, alangkah baiknya bila sebelum ataupun setelah Waisak, kita menyediakan waktu membaca kembali riwayat hidup Hyang Budha dan merenungkan-Nya. Tentu cara-cara perjuangan Hyang Buddha dalam menaklukkan penderitaan dan pengorbanan Beliau dalam memberi kasih kepada para makhluk berjodohan kepada-Nya, harus diteladani dalam perbuatan sehari-hari. Bila demikian kami percaya hikmah Waisak 2547/2003 dapat mengantar Anda untuk hidup lebih beruntung dan berkurang penderitaan. Dengan demikian Waisak tahun depan kami percaya kehidupan Anda sudah lebih baik.
623 tahun sebelum Masehi, di Taman Lumbini, di dalam keluarga Raja Suku Sakya, lahirlah seorang Maha Bodhisatva, yang diberi nama Pangeran Siddharta Gautama yang berarti "Tercapai Cita-cita-Nya". Ayah-Nya bernama Raja Sudhodana, Ibunda-Nya bernama Dewi Maha Maya.
Beliau adalah Maha Bodhisattva dari surga Tursita, yang turun ke dunia ini untuk menyelamatkan para makhluk agar dapat keluar dari lautan samsara. Saat Beliau dilahirkan: bumi bergetar, langit bersukacita, bunga-bunga bermekaran. Beliau turun ke bumi ini dalam posisi disambut oleh Catur Maha Dewatadengan Jala Emas, dimandikan secara gaib oleh para Raja Naga dengan air panas dan air dingin dari Surgaloka dan berjalan 7 langkah dengan tangan menunjuk ke langit dan ke bumi, seraya berseru :
"Akulah yang ter-Agung di surga dan di bumi. Aku datang dari Surga Tursita. Aku datang untuk membabarkan rahasia-rahasia alam semesta dan kebenaran tentang kesunyataan kehidupan, untuk membebaskan para makhluk dari derita. Inilah kelahiran-Ku yang terakhir di dunia ini."
Beliau dilahirkan mempunyai 32 ciri-ciri orang besar, diramalkan akan menjadi "Raja di-Raja/Raja Cakravati, atau menjadi Buddha". Beliau seorang Pangeran Mahkota yang hidup-Nya dilimpahkan kemewahan dan dipuja. Saat melihat orang sakit, orang meninggal dunia, timbul pertanyaan di dalam jiwa-Nya, "Mengapa manusia bisa sakit? Mengapa manusia bisa meninggal dunia?". Pertanyaan tersebut selalu timbul di dalam pikiran-Nya saat Beliau melihat pertapa, yang hidupnya demikian sederhana, namun di wajahnya tercermin ketentraman dan kebahagian, timbul tekad Beliau untuk meninggalkan takhta dan kemewahan duniawi ini, pergi bertapa demi mencari jawaban dan obat agar manusia tidak dapat menderita, tidak dapat sakit, tidak dapat meninggal dunia.
Pada suatu malam, Beliau pergi meninggalkan istri dan anak-Nya yang bernama Rahula yang berarti belenggu; meninggalkan pula takhta, harta dan kemewahan duniawi untuk pergi bertapa. Sementara banyak orang untuk memperoleh harta duniawi, kedudukan terhormat, ingin kaya, ingin diperhatikan dan berkuasa, melaksanakan kehendaknya dengan beraneka cara, bahkan tidak segan-segan mengobarkan siapapun demi tercapainya hal tersebut.
Melalui perjuangan yang panjang, terus-menerus pergi belajar, dan enam tahun bertapa di Hutan Uruvela, pada akhirnya di bulan purnama Waisak, ketika berusia 31 tahun, Beliau mencapai PENCERAHAN AGUNG SAMYAKSAMBODDHI, menjadi BUDDHA.
49 tahun Beliau membabarkan Dharma, mengingatkan setiap manusia, bahwasanya "Setiap manusia mempunyai jiwa ke-Buddhaan. Setiap manusia dapat menjadi Buddha, memperoleh kebahagiaan yang tertinggi, bebas dari penderitaan." Untuk mencapai hal tersebut, manusia harus melenyapkan avidya (kebodohan), yang tidak mengerti sebab/asal muasal penderitaan atau kebahagiaan adalah hasil perbuatan sendiri, yang baik maupun yang buruk.
Untuk itu, marilah kita melatih diri untuk MEMPERHATIKAN HAL-HAL YANG BENAR dan BERKONSENTRASI YANG BENAR di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian akan muncul PANDANGAN BENAR dan PIKIRAN BENAR didalam diri, yang tentunya harus diwujudkan didalam PERKATAAN BENAR dan PERBUATAN BENAR di dalam kehidupan. Didalam kehidupan ini, kita harus mempunyai MATA PENCAHARIAN BENAR dan USAHA BENAR. Bila hal ini dijalankan dengan baik. Tentu nasib kita akan berubah, menjadi lebih beruntung dan nasib yang jelek akan berkurang.
INTISARI AJARAN Hyang Buddha: harus melaksanakan sendiri untuk tidak berbuat jahat, selalu melaksanakan kebajikan dan sucikan hati dan pikiran. Pada akhirnya diusia 80 tahun, dibawah pohon sala, Hyang Buddha mencapai MAHA PARINIRVANA.
BAGAIMANA CARA MENGAMALKAN AJARAN BUDDHA DIDALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI?
Untuk itu, perhatikan syair berikut :
"PIKIRAN ADALAH PEMIMPIN"
Binalah pola berpikir dengan keyakinan yang kuat, bahwasanya:
Bila manusia melakukan kebaikan, meskipun keberuntungan belum tiba
Akan tetapi kemalangan, kesusahan telah mulai berkurang/menjauh darinya
Bila manusia melakukan perbuatan tercela atau jahat,
Meskipun buah karma buruknya belum tiba,
Akan tetapi keberuntungan hidupnya telah berkurang,
kebahagiaan mulai menjauh darinya.
"MEMBANGKITKAN BODHICITTA"
Untuk mencapai hal tersebut, harus dimulai dengan cara mengembangkan Bodhicitta/jiwa yang luhur, rajin bersembahyang, membaca ayat-ayat kitab suci dan berdoa dengan cara yang baik dan benar. Berdoa dengan cara yang baik dan benar adalah suatu cara therapy untuk membangkitkan Bodhicitta. Ingat! Jangan sampai cara berdoa kita salah, "Hanya meminta, tanpa ada introspeksi/perenungan dan membangkitkan tekad untuk memperbaiki sifat, kemauan dan melakukan perbuatan baik didalam kehidupan sehari-hari".
"MELAKSANAKAN PERTAPAAN BODHISATTVA"
Berjanjilah kepada diri sendiri untuk melaksanakan hidup sehari-hari dalam pertapaan Bodhisattva, yaitu menjalankan hidup ini dengan tulus, iklas/Paramita, mau berdana, melaksanakan sila, mengendalikan diri dengan kesabaran penuh pengertian (ksanti), berjuang terus menerus dengan semangat pantang mundur/Virya, siang maupun malam mau bersembayang dan ber-samadhi.
Sebagai manusia, saat kesaat selalu bisa ada masalah yang harus dipecahkan. Pecahkanlah masalah tersebut dengan bijaksana/prajna. Jangan sampai dalam memecahkan masalah, menimbulkan masalah baru yang tidak baik. Oleh karena itu, Hyang Buddha bersabda, "Kebencian tidak akan berakhir, bila dibalas dengan kebencian. Kebencian harus dibalas dengan cinta kasih".
Teman-teman se-Dharma yang berbahagia, suri tauladan yang dilakukan oleh Hyang Buddha merupakan petunjuk jalan yang harus diteladani. Didalam kehidupan di dunia fana yang tidak kekal ini, Buddha memberikan suri tauladan dan petunjuk jalan kepada para makhluk yang berjodoh untuk menyadari hakekat kehidupan ini ada 8 penderitaan (penderitaan dilahirkan sebagai manusia, usia tua, sakit, meninggal dunia, keinginan tidak tercapai, berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, terikat dengan kebutuhan jasmani dan rohani) dan 3 kondisi kehidupan (kondisi senang, susah dan membingungkan). Semua itu berasal dari perbuatan sendiri. Perbuatan baik akan mendatangkan kebahagiaan, perbuatan jahat akan menyebabkan penderitaan. Akibat dari perbuatan itu akan mengikuti pelakunya, bagaikan bayangan yang selalu mengikuti dirinya sendiri.
Untuk dapat memperbaiki nasib, orang harus membina pikirannya kearah yang baik. Pikiran yang buruk harus disingkirkan dan pikiran harus digunakan untuk mencatat serta menciptakan kreativitas yang lebih baik untuk masa depan. Dari pagi hingga malam hari orang harus menghadapi dan memecahkan problem kehidupan yang dihadapinya. Untuk mengatasinya, jangan menciptakan masalah baru, melainkan bangkitkan Bodhicitta dan melaksanakan pertapaan Bodhisatva dalam bentuk yang Nyata. "Hari demi hari berjalan dengan pasti, tanpa terasa usia telah menjelang senja. Bila saat tidak berdaya, baru menyadari belum berbuat apa-apa, tentu terlambat adanya."
Akhir kata, kami mengucapkan Selamat Hari Raya Waisak 2547/2003, semoga Waisak dapat memberikan keberuntungan bagi semua makhluk, khususnya bagi bangsa Indonesia. Semoga dengan melaksanakan ajaran Buddha, pada peringatan Waisak yang akan datang, hidup kita bisa lebih baik. SVAHA.
Jakarta, Waisak 2547 BE / Mei 2003,
Y.A. Bhiksu Dutavira Mahasthavira
Koordinator Dewan Sangha DPP Walubi
|