Borobudur : Candi Berbukit Kebajikan
DUNIA mengakui Candi Agung Borobudur
yang terdapat di Kabupaten Magelang - Jawa Tengah merupakan
sebuah candi berbukit untuk peningkatan kebajikan. Walaupun
masih kalah menariknya dengan Bali. Karena Bali dasarnya
adalah peninggalan budaya Hindu yang senantiasa dilestarikan,
sedangkan Borobudur merupakan candi agung peninggalan Budaya
beragama Buddha terbesar di dunia.
Prof.Dr.JG Casparis
menyikapi sebuah prasasti abad ke sembilan tentang silsilah
tiga raja Wangsa Syailendra, yaitu Raja Indra, putranya
Samarotungga dan selanjutnya yaitu Pramodawardhani. Pada masa
pemerintahan Raja Samarotungga, mulai dibangun candi yang
bernama “Bhumi Sambhara Bhudara” dalam sanskerta yang di
istilahkan sebagai Bukit Peningkatan Kebajikan, yakni setelah
melampaui 10 tingkatan Bodhisattva.
Setelah
rampung dibangun selama kurang lebih 150 tahun, Candi Agung
Borobudur merupakan pusat ziarah termegah bagi penganut
beragama Buddha sampai sekitar tahun 930 Masehi.
“Keindahan
dan keagungan Candi Agung Borobudur tidak hanya mendapatkan
pengakuan dari masyarakat Indonesia saja, melainkan ia sudah
dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia dan di garisbawahi
kata-katanya oleh Menteri I Gde Ardhika sebagai pusaka
dunia30/3/04. Hal tersebut terbukti pada saat pemugaran Candi
Agung Borobudur yang telah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia
selama sepuluh tahun sejak 1971, dan telah menerima dukungan
secara mantap dari berbagai negara sahabat dan duapuluh
delapan negara duduk sebagai anggota dengan berbendera
Executive Comitte For The International Campaign to Safeguard
The Temple Borobudur” kata Dra.S. Hartati Murdaya Ketua Umum
DPP Walubi, waktu lalu.
Kemegahan,
keagungan, keindahan Borobudur tersebut tentunya masih
dikendalikan oleh sejumlah pakar budaya, tetapi tidak memiliki
wawasan komersial.
Candi
Agung Borobudur adalah fakta sebagai Candi Buddha. Dalam
lintasan sejarah perjalanannya. Kerajaan Mataram I (Kerajaan
Mataram Purba) berdiri tahun 755-850 diperintah oleh Wangsa
Syailendra, waktu itu era kejayaan dalam bidang ekonomi,
sosial budaya dan politik Demikian Agama Buddha menjadi salah
satu pandangan hidupnya.
Selain
Borobudur terdapat pula candi-candi Buddha seperti Candi
Mendut, Candi Pawon, Candi Kalasan, Candi Sari dan Candi Sewu.
Lihat juga perjalanan sejarah Atisa Sriyana Dipamkara berada
di India tahun 1012 pernah datang ke Swarnadwipa (Sumatera)
untuk berguru dengan seorang MahaGuru Bhikkhu Agung
Dharmakirti selama dua tahun. Guru ini sangat termasyur dan
memiliki pengetahuan Buddha Dharma yang tiada batas. Atisa
mempelajari sekaligus mempraktekan ajaran Bodhicitta,
Pranidana dan Avatara.
Tahun 1983
hari ulang tahun yang ke seribu lahirnya Atisa telah
diperingati dan dirayakan di seluruh India bahkan Bangladesh.
Hal ni membuktikan betapa besarnya nama Atisa dalam
perkembangan Agama Buddha di seluruh Asia dan Tibet. Sehingga
PBB sangat menghargai Atisa, dihari ulang tahunnya yang ke
seribu dipakai sebagai awal dimulainya pemugaran Candi Agung
Borobudur oleh Unesco. Keagungan zaman keemasan kerajaan
Mataram Purba tidak seluruhnya hanya merupakan mimpi masa
lampau, namun keberadaan Candi Agung Borobudur adalah realitas
hidup, yang telah diwariskan oleh leluhur bangsa Indonesia
sebagai pusaka dunia yang tidak ternilai artistik mutu
seninya.
Candi
Agung Borobudur adalah merupakan Mandala Agung peninggalan
Agama Buddha Mazhab Tantrayana yang sungguh luar biasa dan
merupakan limpahan berkah karunia kepada umat Buddha masa
kini.
Akhirnya
Candi Agung Borobudur ternyata bukan hanya impian semata,
namun dapat dibuktikan pada saat Upacara Ritual Suci Waisak
Nasional yang dilakukan oleh para pendahulu. tt
|