|
Borobudur
Pusaka Dunia
DEWAN Pengurus Pusat Perwakilan Umat Buddha Indonesia (DPP
WALUBI) yang juga bertindak sebagai Panitia Waisak Nasional
2548/2004 telah melakukan pertemuan dengan Menteri Parawisata
Seni dan Budaya, I Gede Ardhika di tempat kediamannya di
Jakarta30/3/04.
“Borobudur adalah salah satu dari keajaiban dunia, sekarang
sudah tidak lagi menjadi warisan budaya, tetapi Pusaka
Dunia”cetus I Gede Ardhika. Kenapa musti begitu ? “yah… karena
bila memakai kata warisan, itu bisa di lego”, kelakar Menteri
kelahiran Singaraja itu setelah melakukan berbagai pertemuan
dengan para arkeolog dan Unesco, kemudian pembicaraan
diteruskan ketika menerima Panitia Waisak Nasional 2004 pada
Selasa 30 Maret 2004.
Pertemuan Panitia Waisak Nasional dengan Menteri nampak penuh
kekeluargaan. Tetapi materi yang dibicarakan tak lepas dari
pembahasan Waisak dan obyek Wisata Borobudur yang merupakan
fakta historis sebagai Candi Buddha dan asset warisan budaya
bangsa, yang sebentar lagi akan digunakan sebagai objek sarana
puja bakti Waisak oleh Perwakilan Umat Buddha
Indonesia(WALUBI).
Menurut Menteri, pihak pelestarian cagar budaya dari Unesco
bersama Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen
Parawisata, Seni dan Budaya pada tahun 2004 telah
memfasilitasi spesial even dalam bentuk meningkatkan arus
kunjungan wisata ke Indonesia, salah satunya adalah Borobudur.
Even tersebut khususnya Borobudur di setiap tingkatan candi
mulai kamadhatu, rupadhatu dan arupadhatu telah di berikan
lampu sportlight dengan warna warni bias bermandikan cahaya ke
setiap arca maupun stupa yang menambah pesona dimalam hari.
Mandala candi persegi empat itu mempunyai relief horizontal,
dibuat dari para pendahulu arsitek Indonesia, tanpa
mempergunakan semen atau pasir, tetapi nilai religi yang
terkandung begitu sangat esoterik bahkan kaya imaginer .
Menteri penggemar wayang suket ini terus dan akan terus
memperjuangkan “Pusaka Dunia” dengan berbagai cara agar sistem
manajemen tertata lebih baik. Dari rencananya akan menempatkan
gate information sebelum melangkah menuju puncak candi.” Demi
untuk menyelamatkan asset bangsa serta membangun sumber daya
manusia bagi warga setempat melalui sistem terpadu yang akan
diterapkan nanti” kata Menteri I Gde Ardhika.
Dra. S.Hartati Murdaya dalam keterangan pers mengatakan,
kegiatan Waisak Nasional 2548 WALUBI tetap dilaksanakan di
Candi Agung Borobudur-Jawa Tengah. Dimulai hari Rabu, tanggal
2 Juni 2004 pengambilan air dan api lalu di bawa ke Candi
Mendut, untuk disakralkan. Pada malam hari bulan purnama (tgl
15/Cap Go lunar kalender) para Bhiksu/Bhikkhu Sangha dari 3
mazhab yaitu, Theravada, Mahayana, Tantrayana menyulutkan obor
Waisak diikuti oleh umat Buddha, kemudian melaksanakan prosesi
keliling Mandala Candi Agung Borobudur, dilanjutkan meletakan
10.000 lilin yang disertai memanjatkan ritual doa puja bakti
di puncak candi.
Waisak 2548 jatuh pada tanggal 3 Juni 2004 dan detik-detiknya
telah ditetapkan pukul 11:19:24 WIB. Kegiatan di mulai langkah
persiapan jam 6 pagi hari, prosesi pradaksina dari Candi
Mendut menuju Candi Agung Borobudur melalui Candi Pawon.
Sedangkan kesenian dalam seremonial Waisak Nasional tahun ini
diawali dengan persembahan spektakular sendratari Riwayat
Buddha Gotama berdurasi selama 30 menit, dilanjutkan tarian
Kwan Im, tarian tradisional daerah, paduan suara yang
dilengkapi musik angklung, body music dancers dan Jockey
Production menampilkan penyayi anyar dari blantika Buddhis.
Pada perjalanan ritual Waisak di puncak Candi Agung Borobudur,
sepertinya tidak terasa sudah setahun kita rayakan. Waisak
2003 tahun lalu genap 50 tahun kebangkitan agama Buddha di
Indonesia, namun telah diselenggarakan oleh Perwakilan Umat
Buddha Indonesia di puncak Candi Agung Borobudur sebagai tahun
emas dengan sukses, aman dan lancar. Setiap jengkal pelataran
Zone 1 Candi dihiasi obor emas setinggi tiga meter sebanyak 50
unit. Menyala selama dua hari berturut-turut dengan kekuatan
gas seberat 16 kg. Serta keesokan nya berlanjut para
Bhiksu/Bhikkhu Sangha dan umat Buddha melakukan prosesi
pradaksina malam hari dengan meletakan 10.000 lilin lima
warna.
Tampak mandala Borobudur dari kejauhan bukit Manoreh di malam
hari dengan “Candle Light” begitu indah agung dan mempesona
seakan tabur cahaya membangkitkan energi spiritual bagi umat
Buddha yang datang, telah disakralkan menyatu bersama alam
semesta. Apalagi saat-saat prosesi penyulutan obor emas,
Borobudur telah diselimuti mega yang begitu pekat, sepertinya
seluruh insan umat Buddha dan Bororobudur terbungkus oleh
kegelapan awan yang berarak datang . Namun tiba-tiba tersembul
cahaya menembus kegelapan, seolah kita telah disambut untuk
peroleh pencerahan. tt
|