|
Candi
Borobudur = Candi Buddha
CANDI Agung Borobudur merupakan salah satu candi Buddha
peninggalan nenek moyang sebagai warisan sejarah yang sangat langka. Borobudur
selain dijuluki satu dari 10 keajaiban dunia yang dibangun sejak tahun antara
760-830 SM disamping itu juga Candi Agung ini esoterik, kaya dengan ornamen
relief realita hidup Sang Buddha, juga sebagai objek vital wisata yang begitu
amat sangat berharga dimata Internasional, namun sudah tentu memberikan manfaat
yang lebih besar bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa Indonesia.
Duaribu lima ratus empat puluh delapan tahun yang lampau
Sang Buddha telah membabarkan makna dan nilai dari sebuah stupa Borobudur serta
manfaat yang akan diperoleh dari praktek-praktek melalui bakti yang tulus
ditujukan terhadap setiap insan yang menghormati stupa tersebut, dan ini
merupakan perwujudan penuh berkat dari hasil perenungan/anussati Sang Buddha
yang telah mencapai perolehan pencerahan agung.
Biasanya para umat Buddha pada perayaan Waisak melakukan
ritual upacara prosesi di Candi Agung Borobudur dengan mengitari candi (mandala
bersegi empat). Disini Sang Buddha memberikan ajaran tentang manfaat setelah
melakukan pradaksina (prosesi/ berkeliling), berjalan kaki memutar searah jarum
jam, sebagai berikut :
-
Akan dihormati oleh para dewa, naga, yakhsa, gandharva, asura, garuda,
kinara dan mahoraga.
-
Selanjutnya tidak akan mengalami lagi delapan keadaan yang tidak
menguntungkan.
-
Mempunyai batin waskita, penuh kewaspadaan, daya pemahaman yang jelas,
cerdas, penuh kekuatan dan keteguhan iman.
-
Memiliki penampilan yang menyenangkan serta mempunyai bentuk yang
sempurna dengan ciri-ciri yang menakjubkan; bersinar/berseri-seri, dihormati
dimana-mana.
-
Memperoleh usia panjang, mendapatkan segala jenis kekayaan, bebas dari
ketamakan, dermawan, murah hati dan selalu hidup berbahagia.
-
Akan terlahir di keluarga makmur, berbudi luhur atau terlahir di salah
satu alam yang lebih tinggi seperti alam Brahma, Grhpati dan sebagainya yang
senantiasa menghargai ajaran Sang Buddha.
-
Memahami akan Dharma bahwa semua proses pencerapan adalah kosong adanya,
keragu-raguan menerima Dharma berakhir cepat, kemudian berproses dan di
penghujungnya akan mendapatkan kebahagiaan sejati.
-
Tidak akan diganggu oleh makhluk-makhluk jahat.
-
Selama masa seratus kalpa tidak akan pernah mengalami kecacatan maupun
kebutaan.
-
Dan masa bermilyaran kalpa akan senantiasa diberkahi kebijaksanaan serta
memperoleh penghormatan.
-
Mempunyai suara yang merdu dan menyenangkan.
-
Mencapai apa yang diharapkan di dalam meniti tahapan-tahapan menuju
kebahagiaan sejati. Bila cepat mencapai pencerahan, akan terlahir sebagai orang
suci yang agung.
Demikian besarnya nilai manfaat
dari pradaksina, diumpamakan Sang Buddha, antara lain : nilai seratus gajah yang
kuat dan besar-besar dilengkapi emas dan permata, nilainya tak sebanding, dan
hitungannya hanya seperenambelas dari sekali langkah putaran pradaksina.
Berkenaan dengan persembahan suka cita dan ketulusan pada
stupa candi Buddha atau terdapat di Indonesia yakni pada sebuah bukit
Sambhara Budhara (Borobudur), telah disebutkan oleh Sang Buddha antara lain
:
-
Barang siapa dengan suka cita mempersembahkan hanya sebuah mangkok
dari tanah liat pada stupa candi Buddha, nilai manfaat yang diperoleh tidak akan
bisa menandingi, walau ditukar dengan nilai seratus ribu istana yang terbuat
dari emas.
-
Barang siapa dengan suka cita mempersembahkan bunga pada stupa
candi Buddha, nilai manfaat yang diperoleh tidak akan bisa menandingi, walau
ditukar dengan nilai seratus ribu bejana terbuat dari emas.
-
Barang siapa dengan suka cita mengalungi karangan bunga pada stupa
candi Buddha, nilai manfaat yang diperoleh tidak akan bisa menandingi, walau
ditukar oleh nilai dua puluh juta karung berisi emas.
-
Barang siapa dengan suka cita memercikan air farfum pada stupa
candi Buddha, nilai manfaat yang diperoleh tidak akan bisa menandingi, walau
ditukar oleh nilai seribu tumpukan bukit emas
-
Barang siapa membersihkan stupa candi Buddha dengan rasa bakti,
maka dia akan memiliki wajah dan bentuk yang cantik, enak dipandang serta akan
terbebas dari segala kekurangan duniawi.
-
Barang siapa dengan suka cita mempersembahkan pelita pada stupa
candi Buddha, nilai manfaat yang diperoleh tidak akan bisa menandingi, walau
ditukar oleh nilai seratus ribu kali dan sepuluh juta takar emas.
-
Barang siapa mempersembahkan dengan tulus wewangian yang harum dan
menyenangkan atau menyalakan dupa pada stupa candi Buddha dengan rasa bakti,
maka tubuhnya akan memancarkan aroma wangi yang menyenangkan.
-
Barang siapa memberikan persembahan yang pantas sekemampuannya
pada stupa candi Buddha, maka dia akan menjadi tersucikan dan akan mencapai
pencerahan agung dari nirvana yang tiada taranya.
-
Barang siapa dengan rendah hati melakukan sembah sujud di depan
rupang atau stupa candi Buddha, maka dia akan memperoleh kedudukan yang akan
semakin terhormat diantara manusia dan dewa.
-
Barang siapa mempersembahkan musik pada stupa candi Buddha, maka
dia akan memperoleh kesempurnaan dalam keyakinan dalam kelancaran
berbicara, memiliki wawasan dan pengetahuan yang mendalam. Suaranya akan
memiliki lima kualitas yang menyenangkan.
-
Barang siapa yang membersihkan bunga-bunga layu disekitar stupa
candi Buddha dan dilakukan dengan rasa bakti, maka dia akan terbebebaskan dari
kemelekatan serta rasa benci; disamping itu hidupnya tidak akan diliputi oleh
kegelapan kayalan maupun melekat pada pandangan yang salah. Dia akan
senantiasa bersuka cita dan berbahagia.
Sang Buddha juga bersabda bahwa, pada dasarnya :
Barang siapa berbuat sesuatu dan dilakukan penuh keyakinan
tanpa dibayangkan terlebih dahulu, maka besar manfaatnya yang diperoleh, dan
tidak terbayangkan pula.
Demikian beberapa kutipan manfaat melakukan praktek dengan
rasa bakti kepada stupa candi Buddha yang diperoleh dari Caitya-Pradaksina-Gatha
atau ke dalam bahasa Tibet gSal-rgyal-gyi-tshigs-su-bead-pa. (toto
|