Berita Waisak
   Makna
   • Makna Api
   • Makna Air
   • Makna Prosesi
   • Makna Waisak

_____________
Waisak 2005
Waisak 2003

Waisak 2002
Waisak 2001




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  Menebar bijak penjuru damai

MENEBAR BIJAK PENJURU DAMAI

 1.     Masa sebelum kelahiran seorang maha bodhisattva pangeran Sidharta.
Keadaan negara-negara di India, sangat kacau, para pengikut golongan Brahmana melakukan bermacam pengorbanan, hewan-hewan disembelih untuk dikorbankan kepada para dewa bahkan kadangkala melampaui batas anak manusiapun ikut menjadi korban untuk dipersembahkan kepada  para dewa, lambat laun rakyat sadar perbuatan tersebut tidak membawa hasil baik berkah maupun kemajuan dari pengorbanan-pengorbanan tersebut. Kemudian tampilah para pelopor yang membentuk sistim kepercayaan lain dalam pandangan hidup dan peradaban, sehingga pada zaman tersebut muncul 2 aliran yang sangat ekstrim :

-  Aliran kebendaan, bersifat materialistis golongan Carvaka tidak percaya adanya kehidupan setelah mati, kelahiran hanya 1 kali saja karenanya nilasi kebendaan diatas segalanya menebarkan nafsu angkara murka, berbuat jahat sesuka hatinya, melakukan perbuatan bajik tidak ada gunanya, akibatnya rakyat menderita dan negara tidak aman.

 -  Aliran kebatinan golongan Tirthya/ petapa penyiksa diri. Percaya  buah batin yang kekal melalui penitisan kembali, karena terhalang oleh badan jasmani, indria karena semua indria dan perasaan harus dimatikan, prakteknya mereka melakukan penyiksaan diri, mengenak pakaian yang kotor, menusuk-nusuk dirinya untuk menghancurkan badan jasmaninya guna memperoleh alam kebahagiaansejati bagi rohnya.

 2.   Kerajaan Kapilavastu, daerah Madhyadesa di Jambudvipa, bertahta seorang Raya yang adil dan bijaksana dari suku Sakya, ras Aryaka, bernama Sudhodana dengan permaisuri yang cantik Maha Maya. Bermimpi seekor gajah bertaring 6 dengan belalai memegang sekuntum bunga teratai memasuki perut sebelah kanannya Maha Maya kemudian mengandung.

 Di taman Lumbini.

Dalam perjalanan untuk bersalin dirumah orang tuanya (kebiasaan di India pada waktu itu) Maha Maya berhenti di taman Lumbini, menikmati keindah alam di taman tersebut. Tiba-tiba terasa perutnya sakit, dayang-dayang membuat tirai mengelilingi Maha Maya, dengan tangan berpegangan pada pohon sala, dengan sikap berdiri Maha Maya melahirkan seorang bayi laki-laki yang berparas agung tepat di bulan purnama siddhi bulan Vaisaka tahun 623 sebelum masehi.

Saat itu bumi bergetar, terdengar suara musik yang merdu, bunga mandarawa turun ke bumi, para dewa bersuka cita, para naga menyemburkan air panas dan dingin memandikan bayi, 4 Maha Devata menyanggah dengan jala emas agar bayi ini tidak terkena kekotoran duniawi, terjadi kegaiban di bumi, orang buta dapat melihat, tuli dapat mendengar, bisu dapat berbicara, api nerakah padam seketika, para iblis, asura setan marah, menangis dan berteriak karena mereka tahu telah lahir seorang maha bodhisattva penyelamat dunia, mempunyai 2 kesempurnaan : duniawi dan di luar duniawi.

Terlihat bayi tersebut melangkah 7 langkah, dimana disetiap langkahnya bunga teratai merah kuning emas muncul disetiap bayi tersebut melangkahkan kakinya, pada langkah yang terakhir dengan tangan kanan menunjuk langit dan tangan kiri menunjuk bumi, bayi tersebut mengumandangan suaranya bagaikan auman singa “aku yang teragung di surga dan di bumi, aku guru dewa dan manusia, aku datang dari Surga Tursita, datang untuk membabarkan rahasia alam semesta dan kebenaran tentang kehidupan guna membebaskan semua makhluk dari derita, inilah kelahirkanku terakhir di dunia”.

 Petapa Asita bernama skara pada bayi tersebut setelah melihat ada 32 tanda manusia besar pada bayi tersebut, petapa Asita meramalkan bayi ini akan menjadi Raja yang memimpin dunia bila ia memilih kehidupan duniawi, bila bayi ini memilih keluar meninggalkan kehidupan duniawinya ia akan menjadi Buddha. Larangan baginya adalah tidak boleh melihat orang tua, orang sakit, mati dan seorang petapa suci. Bayi ini akhirnya diberi nama SIDHARTA yang berarti tercapailah segalanya. 

Pilar-pilar tegar berdiri kokoh, menyanggah bangunan menjulang ke angkasa, disini Sang Pangeran tumbuh berkembang, dan dewasa.Belajar ilmu pengetahuan dan veda di kerajaan yang megah ini Sang Pangeran hidup penuh bergelimpangan harta, semua sudah tersedia.

3.  Keluar kerajaan.
Dibalik semua kemewahan dan kemegahan, masih terlihat perbedaan si kaya dan si miskin, yang kuat menekan yang kecil, di dunia ini semua makhluk saling bunuh membunuh demi mempertahankan hidupnya, benar-benar peristiwa yang sangat menyedihkan, mengapa dibalik kebahagiaan terdapat penderitaan, adakah kehidupan yang sejati pertanyaan ini yang menyelinap dalam pikirannya

4   Dalam usia cukup muda Pangeran (16 th), Pangeran diberikan 3 istana yang besar dan indah, istana untuk musim hujan, panas dan dingin, kemudian Pangeran di nikahkan dengan Yasodhara.

 

5        4 peristiwa besar.

-   Melihat orang tua, berambut putih, gigi ompong, pakaian compang camping, badan kurus, bongkok, membawa sebuah tongkat, berjalan dengan perlahan dan susah payah, orang tersebut sedang meminta sedekah makanan, Pangeran melihat sedih sekali, Sang Pangeran merenung mengapa orang-orang pada suatu saat bisa menjadi tua dan lemah, tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat menghindari dari peristiwa ini, mengapa ?

-     Melihat orang sakit, yang sedang merintih kesakitan, Sang Pangeran merenung “mengapa orang bisa tua dan sakit, bisakah manusia menghindari dari peristiwa-peristiwa ini ?

-     Melihat orang mati, terlihat seorang tua yang sedang diusung dan terlihat orang-orang sedang menangis mengelilinginya, Sang Pangeran merenung “mengapa harus diakhiri dengan kematian, adakah dibalik ketidak kekalaan terdapat kekalan?

-     Melihat seorang Petapa Suci, berjalan penuh agung memakai jubah kuning dengan tangan memegang mangkok, Sang Pangeran menghampirinya dan bertanya apa kegunaan mangkok yang dipegangnya ? dijelaskan bahwa ia adalah seorang petapa yang meninggalkan kehidupan dunia, mencari rahasia bagaimana manusia bisa terbebas dari usia tua, sakit dan mati, karena segala sesuatu didunia ini selalu berubah, sebentar saja menjadi lapuk dan musnah, mangkok ini digunakan untuk meminta makanan dari orang-orang yang berbalas kasihan.

Sang Pangeran bertanya “dimana rahasia ini dapat dicari ! Petapa itu menjawab “ditempat yang panas, masih ada kemungkinan untuk mendapatkan keteduhan, manusia yang mengalami penderitaan masih mempunyai kegembiraan yang terpendam, dari sumber dosa kejahatan masih bisa muncul setitik kebaikan, karena segala sesuatu di dunia ini di syarati oleh berbagai faktor, coba perhatikan dengan seksama, di setiap yang banyak penderitaan, pasti banyak kebahagiaan, bila seseorang terjatuh kedalam timbunan kekotoran, maka seharusnya ia pergi mencari kolam air yang terdekat disekitarnya untuk mencuci dan membersihkan kotoran-kotoran yang melekat ditubuhnya, andaikan ia tidak mencari kolam air, kesalahan bukan terletak pada kolam air tersebut, demikian juga seseorang yang sedang dirundung penyakit keserakahan, kemarahan dan kebodohan, tetapi ia tidak pergi mencari seorang pembimbing yang dapat memberikan petunjuk agar hatinya mencapai kesadaran, sudah barang tentu yang salah bukan pembimbingnya melainkan orang yang bersangkutan tersebut. Pangeran yang mulia, singkirkan segala rintangan dan hambatan, berjuanglah untuk mencapai cita-cita, Pangeran adalah seorang Maha Bodhisattva, calon Buddha yang akan menunjukan jalan agar umat manusia dan semua makhluk menuju pantai bahagia.

Sang Pangeran berkata “ aku ingin menjadi petapa seperti dia.” Tak lama kemudian Sang Pangeran diberitahukan bahwa Yasodhara telah melahirkan seorang anak laki-laki, yang oleh kemudian diberi nama “Rahula” yang arti Belenggu.

 

6.   Meninggalkan kehidupan duniawi / memotong rambut .
Sang Pangeran bulat tekad memutuskan rantai tumimbal lahir didunia fana. Dipotongnya rambut yang sangat dihargai sebagai kesatriya, ditanggalkan mahkota kebesarannya, dimulailah pengembaraan menyusup hutan belantara.

Lewat akal budi dan nalar, setitik demi setitik terjelaskan, 6 tahun meninggalkan istana petapa Sidharta belum juga menemukan apa-apa, menuju hutan Uruvilva melakukan latihan penyiksaan diri, kesehatan menurun badan kurus sekali, petapa Sidharta tersadar atas kekeliruannya, dari badan yang sehat dan kuat yang bisa membuat orang bisa berpikir terang dan tenang.

 

7    Bantuan para dewa.
Tiba-tiba datang serombongan ronggeng diantara mereka ada yang menyanyi “kalau tali gitar ditarik terlalu kencang, talinya putus, lagunya akan hilang, kalau tali gitar terlalu kendur, gitar tidak dapat mengeluarkan suara, nada tidak boleh terlalu tinggi dan rendah, hanya orang yang memainkanlah yang harus bisa menimbang dan mengira-ngira.”

Petapa Sidharta didalam hatinya sungguh aneh kehidupan ini seorang Bodhisattva harus menerima pelajaran dari seorang penyanyi ronggeng, karena kebodohan aku menarik begitu kencang tali kehidupan sehingga hampir putus, seharusnya aku menarik tali tersebut tidak boleh kencang dan tidak boleh kendur.

 

8   Tekad untuk mencapai pencerahan.
Petapa Sidharta menuju ke tepi sungai Nairanyana dalam perjalanannya ke Gaya, ia melempar mangkoknya dan berkata “kalau waktunya sudah tiba, mangkok ini akan mengalir melawan arus dan bukan mengikuti arus “kegaiban terjadi mangkok ternyata mengalir melawan arus. Tiba di Gaya petapa Sidharta mengambil tempat duduk di bawah pohon bodhi dengan tekad yang bullet berkata “dengan disaksikan oleh bumi, meskipun kulit, urat dan tulang-tulangku akan musnah serta darah habis menguap, aku bertekad untuk tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh penerangan Agung dan mencapai Nirvana”.

 

9    Godaan.
Godaan datang silih berganti, nafsu duniawi berkobar bagai nyalahnya api, petapa Sidharta berjuang habis, mengalahkan nafsu, dewa mara menggoda bagaikan gelombang pikat rayu dan runduk bujuk. Petapa Sidharta mantap menapaki titian hingga kepucuk, tekun memburu kesempurnaan dan penerangan agung.

10    Pencerahan.
Bumi menjadi saksi bahwa petapa Sidharta telah mencapai penerangan sempurna dengan pekik kemenangan berkata “ah sebenarnya semua makhluk mempunyai benih-benih kebuddhaan, karena penuh dengan keterikatan dan daya khayal yang kuat sehingga sulit untuk mencapai alam kebuddhaan”.

Petapa Sidharta menjadi Buddha dengan gelar Sakyamuni Buddha.

 

11.  AJARAN BUDDHA SAKYAMUNI.

Sarvapapasya akaram

Kusalasyupasampada

Svacitta paryavadapanam

Etad buddhanasasanam

 

Jangan berbuat kejahatan,

Berbuatlah kebajikan

Sucikan hati dan pikiran

Inilah ajaran para Buddha.

 

Kesunyataan Dharma tersebar untuk semua bentuk kehidupan, Hyang Tathagata menggulung tangan nan bijak, hati nan penuh welas asih dan cinta kasih. Menghembus nafas luhur, jalan hidup damai, kebersamaan, kasih mengasihi, lenyaplah loba, dosa dan moha, puncak hidup suci tak ternoda, bermuara pada pencerahan sempurna.

 

12.  Mencapai Parinibhana.
Hyang Tathagata Sakyamuni Buddha mencapai parinirvana bulan purnama di bulan vaisakha. Sabda beliau terakhir “Segala sesuatu terus berproses, segala sesuatu yang bersyarat dan tercipta tidak kekal adanya, berjuanglah tanpa ragu untuk mencapai pembebasan sempurna.

    

13. Ajaran Dharma masa kini.

      Ajaran bijak Hyang Tathagata semerbak menyebar lebar.

      Luas mencapai tepian cakrawala

      Kesabaran adalah praktek petapa tertinggi

      Kalahkan kemarahan dengan maitri karuna

      Tundukan kejahatan dengan kebajikan

      Gulung sifat kikir dengan kemurahan hati

      Dan tekuk kebohongan dengan kejujuran.

Sungguh indah nan bahagia, hidup tanpa kebohongan, benci serta dendam. Beda tetap menyatu padu bahu membahu, bergandeng dalam segala suasana, membangun persaudaraan dalam keberagaman. 

     

 
 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.