|
MENEBAR BIJAK PENJURU DAMAI
1.
Masa
sebelum kelahiran seorang maha bodhisattva pangeran Sidharta.
Keadaan negara-negara di
India, sangat kacau, para pengikut golongan Brahmana melakukan
bermacam pengorbanan, hewan-hewan disembelih untuk dikorbankan
kepada para dewa bahkan kadangkala melampaui batas anak
manusiapun ikut menjadi korban untuk dipersembahkan kepada
para dewa, lambat laun rakyat sadar perbuatan tersebut tidak
membawa hasil baik berkah maupun kemajuan dari
pengorbanan-pengorbanan tersebut. Kemudian tampilah para
pelopor yang membentuk sistim kepercayaan lain dalam pandangan
hidup dan peradaban, sehingga pada zaman tersebut muncul 2
aliran yang sangat ekstrim :
- Aliran
kebendaan, bersifat materialistis golongan Carvaka tidak
percaya adanya kehidupan setelah mati, kelahiran hanya 1 kali
saja karenanya nilasi kebendaan diatas segalanya menebarkan
nafsu angkara murka, berbuat jahat sesuka hatinya, melakukan
perbuatan bajik tidak ada gunanya, akibatnya rakyat menderita
dan negara tidak aman.
- Aliran kebatinan golongan Tirthya/ petapa
penyiksa diri. Percaya buah batin yang kekal melalui
penitisan kembali, karena terhalang oleh badan jasmani, indria
karena semua indria dan perasaan harus dimatikan, prakteknya
mereka melakukan penyiksaan diri, mengenak pakaian yang kotor,
menusuk-nusuk dirinya untuk menghancurkan badan jasmaninya
guna memperoleh alam kebahagiaansejati bagi rohnya.
2. Kerajaan
Kapilavastu, daerah Madhyadesa di Jambudvipa,
bertahta seorang Raya yang adil dan bijaksana dari suku Sakya,
ras Aryaka, bernama Sudhodana dengan permaisuri yang cantik
Maha Maya. Bermimpi seekor gajah bertaring 6 dengan belalai
memegang sekuntum bunga teratai memasuki perut sebelah
kanannya Maha Maya kemudian mengandung.
Di taman Lumbini.
Dalam perjalanan untuk bersalin dirumah orang
tuanya (kebiasaan di India pada waktu itu) Maha Maya berhenti
di taman Lumbini, menikmati keindah alam di taman tersebut.
Tiba-tiba terasa perutnya sakit, dayang-dayang membuat tirai
mengelilingi Maha Maya, dengan tangan berpegangan pada pohon
sala, dengan sikap berdiri Maha Maya melahirkan seorang bayi
laki-laki yang berparas agung tepat di bulan purnama siddhi
bulan Vaisaka tahun 623 sebelum masehi.
Saat itu bumi bergetar, terdengar suara musik
yang merdu, bunga mandarawa turun ke bumi, para dewa bersuka
cita, para naga menyemburkan air panas dan dingin memandikan
bayi, 4 Maha Devata menyanggah dengan jala emas agar bayi ini
tidak terkena kekotoran duniawi, terjadi kegaiban di bumi,
orang buta dapat melihat, tuli dapat mendengar, bisu dapat
berbicara, api nerakah padam seketika, para iblis, asura setan
marah, menangis dan berteriak karena mereka tahu telah lahir
seorang maha bodhisattva penyelamat
dunia, mempunyai 2 kesempurnaan : duniawi dan di luar duniawi.
Terlihat bayi tersebut melangkah 7 langkah,
dimana disetiap langkahnya bunga teratai merah kuning emas
muncul disetiap bayi tersebut melangkahkan kakinya, pada
langkah yang terakhir dengan tangan kanan menunjuk langit dan
tangan kiri menunjuk bumi, bayi tersebut mengumandangan
suaranya bagaikan auman singa “aku
yang teragung di surga dan di bumi, aku guru dewa dan manusia,
aku datang dari Surga Tursita, datang untuk membabarkan
rahasia alam semesta dan kebenaran tentang kehidupan guna
membebaskan semua makhluk dari derita, inilah kelahirkanku
terakhir di dunia”.
Petapa Asita bernama skara pada bayi tersebut
setelah melihat ada 32 tanda manusia besar pada bayi tersebut,
petapa Asita meramalkan bayi ini akan menjadi Raja yang
memimpin dunia bila ia memilih kehidupan duniawi, bila bayi
ini memilih keluar meninggalkan kehidupan duniawinya ia akan
menjadi Buddha. Larangan baginya adalah tidak boleh melihat
orang tua, orang sakit, mati dan seorang petapa suci. Bayi ini
akhirnya diberi nama SIDHARTA yang berarti tercapailah
segalanya.
Pilar-pilar tegar berdiri kokoh, menyanggah
bangunan menjulang ke angkasa, disini Sang Pangeran tumbuh
berkembang, dan dewasa.Belajar ilmu pengetahuan dan veda di
kerajaan yang megah ini Sang Pangeran hidup penuh
bergelimpangan harta, semua sudah tersedia.
3. Keluar
kerajaan.
Dibalik semua kemewahan dan
kemegahan, masih terlihat perbedaan si kaya dan si miskin,
yang kuat menekan yang kecil, di dunia ini semua makhluk
saling bunuh membunuh demi mempertahankan hidupnya,
benar-benar peristiwa yang sangat menyedihkan, mengapa dibalik
kebahagiaan terdapat penderitaan, adakah kehidupan yang sejati
pertanyaan ini yang menyelinap dalam pikirannya
4 Dalam
usia cukup muda Pangeran (16 th),
Pangeran diberikan 3 istana yang besar dan indah, istana untuk
musim hujan, panas dan dingin, kemudian Pangeran di nikahkan
dengan Yasodhara.
5
4
peristiwa besar.
- Melihat orang tua,
berambut putih, gigi ompong, pakaian compang camping, badan
kurus, bongkok, membawa sebuah tongkat, berjalan dengan
perlahan dan susah payah, orang tersebut sedang meminta
sedekah makanan, Pangeran melihat sedih sekali, Sang Pangeran
merenung mengapa orang-orang pada
suatu saat bisa menjadi tua dan lemah, tidak ada seorangpun di
dunia ini yang dapat menghindari dari peristiwa ini, mengapa ?
- Melihat
orang sakit, yang sedang merintih kesakitan, Sang Pangeran
merenung “mengapa orang bisa tua dan sakit, bisakah manusia
menghindari dari peristiwa-peristiwa ini ?
- Melihat orang mati, terlihat seorang tua
yang sedang diusung dan terlihat orang-orang sedang menangis
mengelilinginya, Sang Pangeran merenung “mengapa harus
diakhiri dengan kematian, adakah dibalik ketidak kekalaan
terdapat kekalan?
- Melihat
seorang Petapa Suci, berjalan penuh agung memakai jubah kuning
dengan tangan memegang mangkok, Sang Pangeran menghampirinya
dan bertanya apa kegunaan mangkok yang dipegangnya ?
dijelaskan bahwa ia adalah seorang petapa yang meninggalkan
kehidupan dunia, mencari rahasia bagaimana manusia bisa
terbebas dari usia tua, sakit dan mati, karena segala sesuatu
didunia ini selalu berubah, sebentar saja menjadi lapuk dan
musnah, mangkok ini digunakan untuk meminta makanan dari
orang-orang yang berbalas kasihan.
Sang Pangeran
bertanya “dimana rahasia ini dapat dicari ! Petapa itu
menjawab “ditempat yang panas, masih ada kemungkinan untuk
mendapatkan keteduhan, manusia yang mengalami penderitaan
masih mempunyai kegembiraan yang terpendam, dari sumber dosa
kejahatan masih bisa muncul setitik kebaikan, karena segala
sesuatu di dunia ini di syarati oleh berbagai faktor, coba
perhatikan dengan seksama, di setiap yang banyak penderitaan,
pasti banyak kebahagiaan, bila seseorang terjatuh kedalam
timbunan kekotoran, maka seharusnya ia pergi mencari kolam air
yang terdekat disekitarnya untuk mencuci dan membersihkan
kotoran-kotoran yang melekat ditubuhnya, andaikan ia tidak
mencari kolam air, kesalahan bukan terletak pada kolam air
tersebut, demikian juga seseorang yang sedang dirundung
penyakit keserakahan, kemarahan dan kebodohan, tetapi ia tidak
pergi mencari seorang pembimbing yang dapat memberikan
petunjuk agar hatinya mencapai kesadaran, sudah barang tentu
yang salah bukan pembimbingnya melainkan orang yang
bersangkutan tersebut. Pangeran yang mulia, singkirkan segala
rintangan dan hambatan, berjuanglah untuk mencapai cita-cita,
Pangeran adalah seorang Maha Bodhisattva, calon Buddha yang
akan menunjukan jalan agar umat manusia dan semua makhluk
menuju pantai bahagia.
Sang Pangeran berkata “ aku ingin menjadi
petapa seperti dia.” Tak lama
kemudian Sang Pangeran diberitahukan bahwa Yasodhara telah
melahirkan seorang anak laki-laki, yang oleh kemudian diberi
nama “Rahula” yang arti Belenggu.
6.
Meninggalkan
kehidupan duniawi / memotong rambut .
Sang Pangeran bulat tekad
memutuskan rantai tumimbal lahir didunia fana. Dipotongnya
rambut yang sangat dihargai sebagai kesatriya, ditanggalkan
mahkota kebesarannya, dimulailah pengembaraan menyusup hutan
belantara.
Lewat akal budi dan nalar,
setitik demi setitik terjelaskan, 6 tahun meninggalkan istana
petapa Sidharta belum juga menemukan apa-apa, menuju hutan
Uruvilva melakukan latihan penyiksaan diri, kesehatan menurun
badan kurus sekali, petapa Sidharta tersadar atas
kekeliruannya, dari badan yang sehat dan kuat yang bisa
membuat orang bisa berpikir terang dan tenang.
7 Bantuan
para dewa.
Tiba-tiba datang serombongan
ronggeng diantara mereka ada yang menyanyi “kalau tali gitar
ditarik terlalu kencang, talinya putus, lagunya akan hilang,
kalau tali gitar terlalu kendur, gitar tidak dapat
mengeluarkan suara, nada tidak boleh terlalu tinggi dan
rendah, hanya orang yang memainkanlah yang harus bisa
menimbang dan mengira-ngira.”
Petapa Sidharta didalam hatinya sungguh aneh
kehidupan ini seorang Bodhisattva harus menerima pelajaran
dari seorang penyanyi ronggeng, karena kebodohan aku menarik
begitu kencang tali kehidupan sehingga hampir putus,
seharusnya aku menarik tali tersebut tidak boleh kencang dan
tidak boleh kendur.
8 Tekad
untuk mencapai pencerahan.
Petapa Sidharta menuju ke
tepi sungai Nairanyana dalam perjalanannya ke Gaya, ia
melempar mangkoknya dan berkata “kalau waktunya sudah tiba,
mangkok ini akan mengalir melawan arus dan bukan mengikuti
arus “kegaiban terjadi mangkok ternyata mengalir melawan arus.
Tiba di Gaya petapa Sidharta mengambil tempat duduk di bawah
pohon bodhi dengan tekad yang bullet berkata “dengan
disaksikan oleh bumi, meskipun kulit, urat dan tulang-tulangku
akan musnah serta darah habis menguap, aku bertekad untuk
tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh penerangan
Agung dan mencapai Nirvana”.
9
Godaan.
Godaan datang silih berganti, nafsu
duniawi berkobar bagai nyalahnya api, petapa Sidharta berjuang
habis, mengalahkan nafsu, dewa mara menggoda bagaikan
gelombang pikat rayu dan runduk bujuk. Petapa Sidharta mantap
menapaki titian hingga kepucuk, tekun memburu kesempurnaan dan
penerangan agung.
10
Pencerahan.
Bumi menjadi saksi bahwa
petapa Sidharta telah mencapai penerangan sempurna dengan
pekik kemenangan berkata “ah sebenarnya semua makhluk
mempunyai benih-benih kebuddhaan, karena penuh dengan
keterikatan dan daya khayal yang kuat sehingga sulit untuk
mencapai alam kebuddhaan”.
Petapa Sidharta menjadi
Buddha dengan gelar Sakyamuni Buddha.
11.
AJARAN BUDDHA SAKYAMUNI.
Sarvapapasya akaram
Kusalasyupasampada
Svacitta paryavadapanam
Etad buddhanasasanam
Jangan berbuat kejahatan,
Berbuatlah kebajikan
Sucikan hati dan pikiran
Inilah ajaran para Buddha.
Kesunyataan Dharma
tersebar untuk semua bentuk kehidupan, Hyang Tathagata
menggulung tangan nan bijak, hati nan penuh welas asih dan
cinta kasih. Menghembus nafas luhur, jalan hidup damai,
kebersamaan, kasih mengasihi, lenyaplah loba, dosa dan moha,
puncak hidup suci tak ternoda, bermuara pada pencerahan
sempurna.
12.
Mencapai Parinibhana.
Hyang Tathagata Sakyamuni
Buddha mencapai parinirvana bulan purnama di bulan vaisakha.
Sabda beliau terakhir “Segala sesuatu terus berproses, segala
sesuatu yang bersyarat dan tercipta tidak kekal adanya,
berjuanglah tanpa ragu untuk mencapai pembebasan sempurna.
13. Ajaran Dharma masa
kini.
Ajaran bijak Hyang Tathagata semerbak
menyebar lebar.
Luas mencapai tepian cakrawala
Kesabaran adalah praktek petapa tertinggi
Kalahkan kemarahan dengan maitri karuna
Tundukan kejahatan dengan kebajikan
Gulung sifat kikir dengan kemurahan hati
Dan tekuk kebohongan dengan kejujuran.
Sungguh indah nan bahagia, hidup tanpa
kebohongan, benci serta dendam. Beda tetap menyatu padu bahu
membahu, bergandeng dalam segala suasana, membangun
persaudaraan dalam keberagaman.
|