Berita Waisak
   Makna
   • Makna Api
   • Makna Air
   • Makna Prosesi
   • Makna Waisak

_____________
Waisak 2005
Waisak 2003

Waisak 2002
Waisak 2001




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  Pesan Waisak 2548

 

 

PESAN WAISAK 2548 BE/ JUNI 2004
DARI DEWAN SANGHA WALUBI
“ Tema: WAISAK HARI KEMENANGAN“

 

Oleh: Y.A. BHIKSU DUTAVIRA MAHASTHAVIRA
(Koordinator Dewan Sangha DPP Walubi)

 

 

Teman-teman se-Dharma yang berbahagia, terimalah salam dalam Dharma,

Namo Buddhaya,

 

          Dengan penuh rasa syukur dan berterima kasih atas karunia Hyang Tathagata, Tuhan Yang Maha Esa, sumber kesucian Buddha dan Bodhisattva, kita dapat menyongsong kembali Hari Waisak 2548 BE/ 3 Juni 2004 jam 11:19:24 WIB.

Waisak bagi umat manusia, khususnya umat Buddha adalah hari kemenangan, hari yang sangat bersejarah. Karena Waisak merupakan bukti yang nyata bahwa manusia bisa menaklukkan penderitaan dan mencapai kebahagiaan abadi. Sekaligus pula  Waisak menjanjikan secara nyata kepada umat manusia yang berjodoh dan mau hidup di jalan ke-Buddhaan, bahwa nasib dan kondisi yang buruk dapat diubah menjadi lebih beruntung, samsara dapat berubah menjadi nirwana.
 

          Hyang Buddha adalah Maha Bodhisattva dari Surga Tursita. Beliau melihat kondisi dunia pada saat itu sangat kacau dan gelap/ avidya. Manusia tidak dapat melihat kehidupan yang benar, tidak mengerti hakiki kehidupan ini untuk apa? Mereka tidak memahami kehidupan yang sebenarnya: hidup ini nyata, ada senang dan susah,  kondisinya berbeda; hidup ini sementara dan selalu berubah, tidak menentu, semua kondisi tanpa inti, semua itu tergantung sebab yang dilakukan, jodoh dan akibatnya.

Pada saat itu ada 2 aliran filsafat atau pandangan hidup yang sangat ekstrim, yaitu:
 

-  Aliran yang berpandangan bahwa hidup ini hanya sekali, tidak takut dengan hukuman setelah kematian, sehingga mereka selalu mengumbar napsu, mencari kekuasaan, keuntungan, kedudukan, tidak segan-segan memaksakan kehendak untuk mendapat apa yang diinginkan, tidak memikirkan kepentingan orang lain, tidak memikirkan hari esok, membiuskan perasaan dengan meminum minuman keras atau mengkonsumsi narkoba.
 

-   Disisi lain ada aliran yang berpandangan bahwa roh manusia sesungguhnya kekal abadi dan manusia bisa bahagia. Saat sekarang belum bahagia, karena badan jasmani manusia yang menyebabkan roh/ jiwa menjadi tidak tentram dan tidak bahagia. Menghadapi kenyataan hidup yang penuh intrik dan saling menjatuhkan, kehidupan yang selalu ada problem, yang tidak menentu, mereka terjebak dalam kekecewaan yang berkepanjangan,  merasa diri tidak berguna, merasa hidup tidak ada artinya. Oleh karena itu, mereka pergi menyepi, menjauhkan diri dari kenyataan hidup yang dialami, pergi bertapa menyiksa diri, berendam di dalam air, menjadi penyembah api, tinggal di hutan, tidak makan, melakukan upacara pengorbanan, dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan dengan tujuan melemahkan badan jasmani, agar roh bisa keluar dan mendapat kebahagiaan abadi. Akan tetapi kenyataannya banyak yang menjadi sakit dan meninggal dunia. Cara hidup ini sia-sia saja
 

Kedua penganut aliran ini telah menyia-nyiakan hidup, pada akhirnya mereka tidak bahagia, tidak gembira, tentram dan damai.
 

Maha Bodhisattva, Raja di Raja dari Surga Tursita, melihat kondisi kehidupan manusia telah kehilangan pegangan hidup yang benar, karena itu Beliau datang ke dunia. Saat itu 623 tahun sebelum masehi di bulan Purnama Siddhi Waisak di Taman Lumbini permaisuri Raja Sudhodana yang bernama Dewi Maha Maya melahirkan seorang Putra Mahkota kerajaan Suku Sakya, yang diberi nama Pangeran Siddharta Gautama.
 

Putra Mahkota, titisan Maha Bodhisattva dari Surga Tursita, datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari pandangan yang salah. Beliau ingin manusia mempunyai pandangan hidup yang benar, sehingga dapat bebas dari samsara mencapai nirwana. Kelahiran Maha Bodhisattva ke bumi ini dalam posisi berdiri, disambut dengan beberapa keajaiban, yaitu bumi bergetar, langit bersuka cita, bunga-bunga bermekaran, burung-burung berkicau, Catur Raja Maha Dewata menyambut dengan sukacita dengan Jala Emas, Sembilan Raja Naga memandikan Beliau secara gaib dengan air dari Surgaloka,  dengan berjalan 7 langkah – setiap kakiNya menginjak bumi, muncullah bunga teratai suci persembahan dari Dewa Bumi – dan tangan menunjuk ke langit dan ke bumi, Beliau bersabda:


 

“Akulah yang teragung di surga dan di bumi.

Aku datang dari Surga Tursita.

Aku datang membuka rahasia kehidupan.

Aku datang mengajarkan jalan kesunyataan untuk para makhluk yang berjodoh, agar dapat bebas dari samsara, mencapai kebahagiaan yang tertinggi.

Inilah kelahiran-Ku yang terakhir di dunia ini.”

         

Raja menginginkan putra tunggalnya menjadi pewaris takhta kerajaan, sehingga berbagai cara diupayakan agar Pangeran Siddharta Gautama terlena dalam keduniawian. Beliau dilimpahkan kemewahan, dimanja, dipuja dan berkuasa, dibangun tiga istana yang indah-indah, dijaga agar Beliau tidak melihat orang susah, orang tua renta, orang sakit maupun orang yang meninggal dunia dan pertapa suci. Beliau dinikahkan dengan Putri Yasodhara, yang berbudi luhur dan cantik jelita, dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Rahula, yang berarti belenggu.
 

Beliau adalah seorang Maha Bodhisattva. Setelah melihat kenyataan hidup manusia bisa tua, sakit, menginggal dunia, dan melihat seorang pertapa yang hidupnya sangat sederhana dan di wajahnya tercermin kegembiraan dan kebahagiaan, akhirnya pada suatu malam Beliau pergi meninggalkan istri dan anaknya, melepaskan takhta, harta dan kemewahan duniawi untuk pergi bertapa, mencari obat agar manusia tidak menderita, memperoleh kehidupan yang bahagia, kekal abadi. Sementara banyak orang demi mencapai keinginan, mereka berebut kedudukan, kekuasaan, harta duniawi, memaksakan kehendak, yang pada akhirnya semua itu sia-sia dan tidak menyebabkan manusia menjadi bahagia.
 

Peristiwa ini tidak menjadi istimewa bila Beliau tidak menjadi Buddha. Setelah sempurna menjadi Buddha, Beliau membabarkan Dharma, membuktikan kepada manusia dengan ajaran-Nya, bahwa manusia mampu mengubah nasib dari menderita menjadi bahagia, memberi teladan dan contoh-contoh, serta cara mengambil keputusan yang tepat/ solusi dalam memecahkan problem kehidupan yang dihadapi, sehingga manusia dapat terbebas dari penderitaan.
 

Sumber penderitaan berasal dari kebodohan dan kebiasaan hidup yang salah, hanya memikirkan kepentingan jangka pendek, lupa bahwa hidup ini berkesinambungan: dahulu, sekarang dan akan datang. Apapun keputusan yang diambil dan dilakukan pada saat sekarang ini akan menentukan kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu, seyogyanya kita tidak mengambil keputusan yang salah, tidak membiasakan diri melakukan perbuatan yang tercela, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, tidak berbuat jahat dan bodoh yang baru. Semua itu pasti dapat menyebabkan penderitaan baru yang tiada habis-habisnya.
 

Diajarkan oleh Buddha, bahwa perbuatan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan yang mengakar di dalam hati sanubari, membentuk sifat dan tabiat. Yang tidak baik, tentu menyebabkan kita hidup tidak bahagia, menyia-nyiakan hidup sebagai manusia, yang pada hakikinya semua manusia mempunyai jiwa ke-Buddhaan. Bila mampu mewujudkan jiwa ke-Buddhaan dalam perbuatan sehari-hari, kita dapat memiliki kekuatan dan persyaratan untuk bisa hidup lebih beruntung dan bahagia.
 

Perbuatan diawali oleh kemauan. Kehendak bisa muncul karena benih/ kebiasaan perbuatan masa lalu maupun benih perbuatan yang baru. Benih masa lalu yang telah tertanam tentu lebih kuat daripada benih perbuatan yang baru. Oleh karena itu, tidak heran masih banyak orang yang telah mengerti Buddha Dharma, bisa membincangkannya, akan tetapi belum mampu menjalankannya. Dengan demikian, tidak heran bila mereka belum mendapat kebahagiaan dalam Dharma, seperti yang dijanjikan Buddha, yaitu samsara berubah menjadi Nirwana. Masih banyak orang sering merasa kesal, jengkel, marah, bosan, jenuh, tidak tahu kenapa sebabnya? Semua itu karena benih karma masa lalu yang buruk, yang telah tertanam dalam jiwa, muncul dalam bentuk perasaan. Bila rasa kesal, jengkel, jenuh, galau, ketakutan, yang ada alasan dalam logika, timbul di dalam pikiran, hal ini disebabkan karena karma buruk yang baru.
 

Untuk kita bisa bebas dari penderitaan, mendapat kemenangan hidup, bagaikan hari kemenangan Waisak, kita perlu melatih diri dalam perhatian benar, dan konsentrasi benar dalam kehidupan sehari-hari. Belajarlah untuk menerima semua kondisi kehidupan yang nyata yang dialami: yang baik maupun yang buruk; yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; yang disadari maupun yang tidak disadari; sebagai hasil dari karma kita sendiri dan belajarlah menjadi manusia yang berguna. Oleh karena itu, dikala menghadapi kenyataan kesulitan hidup, belajar untuk tidak menyalahkan orang lain. Cari sebab permasalahannya dari diri  sendiri, yakin dalam hukum Karma:

 

“Bila tidak menanam bagaimana mengharapkan hasilnya;

Menanam tidak merawat, bagaimana bisa berlimpah;

Menanam/ melakukan yang jelek, pada akhirnya akan menderita;

Menanam atau melakukan yang baik, pasti bahagia.

Bila belum mendapat, hanya waktunya saja belum tiba.”

 

Dengan membiasakan diri memberi tanpa pamrih (dana paramita), tidak berbuat jahat dan bodoh lagi (sila paramita), sabar (ksanti paramita), penuh semangat dan gembira berjuang menjadi manusia yang berguna, sehingga dalam kondisi apapun tidak kehilangan arah untuk membina diri (wirya paramita), dan mengerti kehidupan adalah suatu proses yang berkesinambungan, serta membiasakan diri siap menerima kritik dan mau berintrospeksi diri (samadhi paramita), secara pasti kita akan memperoleh pandangan yang benar tanpa pamrih (prajna paramita). Untuk itu konsentrasikan pikiran, dan wujudkan semua itu dalam bentuk yang nyata, baik dalam ucapan, perbuatan dan pikiran, pasti hidup akan beruntung dan bahagia. Hal-hal tersebut diatas yang telah dilakukan dengan baik, akan berkurang nilainya bila mata pencahariannya tidak benar, terlebih lagi bila usaha untuk maju dilakukan dengan cara yang tidak benar. Apa yang dimaksud dengan benar, dan apa yang dimaksud dengan tidak benar? Yang dimaksud dengan benar adalah memberi tanpa pamrih, sedangkan yang dimaksud dengan tidak benar adalah meminta, mengharap dan memaksakan kehendak dengan alasan apapun.  
 

Waisak pada hakekatnya adalah hari kemenangan, bukti sejarah manusia dapat menaklukkan penderitaan dengan menjadi Buddha. Pada usia 80 tahun di Kusinara akhinya Beliau Maha parinirvana, meninggalkan ajaran Buddha Dharma dan bukti sejarah manusia bisa menang mengalahkan penderitaan. Semoga “Waisak Hari Kemenangan” beserta kita, dan kita mampu mencari solusi yang tepat di dalam Dharma untuk mengatasi problem kehidupan kita. Ingat, “Siapa yang berbuat, dia sendiri yang akan mendapat hasilnya”. Oleh karena itu, bagaimana pun perbuatan seseorang, dia sendiri yang akan mendapat karmanya. Semua yang kita lakukan, kita juga yang akan mendapat karmanya. Untuk itu, mari kita bersama-sama melaksanakan hidup di jalan ke-Buddhaan. Mari kita buktikan pula, bahwa kita mampu menaklukan penderitaan pribadi, mencapai keberuntungan dalam kehidupan ini. “WAISAK HARI KEMENANGAN. SELAMAT WAISAK!” Semoga semua makhluk beruntung adanya. Semoga Negara dan Bangsa Indonesia dikaruniai berkah, aman dan sejahtera. Svaha.

 

 

Jakarta, Waisak 2548 BE/ Juni 2004

 Anjali Maitri,

 

 

 

 

Y.A. Bhiksu Dutavira Mahasthavira

Koordinator Dewan Sangha DPP Walubi

 

 



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.