|
| |
 |
PESAN WAISAK 2548 BE/
JUNI 2004
DARI DEWAN SANGHA WALUBI
“ Tema: WAISAK HARI
KEMENANGAN“
Oleh: Y.A. BHIKSU
DUTAVIRA MAHASTHAVIRA
(Koordinator Dewan
Sangha DPP Walubi)
|
|
Teman-teman se-Dharma yang berbahagia, terimalah salam dalam
Dharma,
Namo
Buddhaya,
Dengan penuh rasa syukur dan berterima kasih atas
karunia Hyang Tathagata, Tuhan Yang Maha Esa, sumber kesucian
Buddha dan Bodhisattva, kita dapat menyongsong kembali Hari
Waisak 2548 BE/ 3 Juni 2004 jam 11:19:24 WIB.
Waisak
bagi umat manusia, khususnya umat Buddha adalah hari
kemenangan, hari yang sangat bersejarah. Karena Waisak
merupakan bukti yang nyata bahwa manusia bisa menaklukkan
penderitaan dan mencapai kebahagiaan abadi. Sekaligus pula
Waisak menjanjikan secara nyata kepada umat manusia yang
berjodoh dan mau hidup di jalan ke-Buddhaan, bahwa nasib dan
kondisi yang buruk dapat diubah menjadi lebih beruntung,
samsara dapat berubah menjadi nirwana.
Hyang
Buddha adalah Maha Bodhisattva dari Surga Tursita. Beliau
melihat kondisi dunia pada saat itu sangat kacau dan gelap/
avidya. Manusia tidak dapat melihat kehidupan yang benar,
tidak mengerti hakiki kehidupan ini untuk apa? Mereka tidak
memahami kehidupan yang sebenarnya: hidup ini nyata, ada
senang dan susah, kondisinya berbeda; hidup ini sementara dan
selalu berubah, tidak menentu, semua kondisi tanpa inti, semua
itu tergantung sebab yang dilakukan, jodoh dan akibatnya.
Pada
saat itu ada 2 aliran filsafat atau pandangan hidup yang
sangat ekstrim, yaitu:
-
Aliran
yang berpandangan bahwa hidup ini hanya sekali, tidak takut
dengan hukuman setelah kematian, sehingga mereka selalu
mengumbar napsu, mencari kekuasaan, keuntungan, kedudukan,
tidak segan-segan memaksakan kehendak untuk mendapat apa yang
diinginkan, tidak memikirkan kepentingan orang lain, tidak
memikirkan hari esok, membiuskan perasaan dengan meminum
minuman keras atau mengkonsumsi narkoba.
- Disisi
lain ada aliran yang berpandangan bahwa roh manusia
sesungguhnya kekal abadi dan manusia bisa bahagia. Saat
sekarang belum bahagia, karena badan jasmani manusia yang
menyebabkan roh/ jiwa menjadi tidak tentram dan tidak bahagia.
Menghadapi kenyataan hidup yang penuh intrik dan saling
menjatuhkan, kehidupan yang selalu ada problem, yang tidak
menentu, mereka terjebak dalam kekecewaan yang
berkepanjangan, merasa diri tidak berguna, merasa hidup tidak
ada artinya. Oleh karena itu, mereka pergi menyepi, menjauhkan
diri dari kenyataan hidup yang dialami, pergi bertapa menyiksa
diri, berendam di dalam air, menjadi penyembah api, tinggal di
hutan, tidak makan, melakukan upacara pengorbanan, dan lain
sebagainya. Semua itu dilakukan dengan tujuan melemahkan badan
jasmani, agar roh bisa keluar dan mendapat kebahagiaan abadi.
Akan tetapi kenyataannya banyak yang menjadi sakit dan
meninggal dunia. Cara hidup ini sia-sia saja
Kedua
penganut aliran ini telah menyia-nyiakan hidup, pada akhirnya
mereka tidak bahagia, tidak gembira, tentram dan damai.
Maha
Bodhisattva, Raja di Raja dari Surga Tursita, melihat kondisi
kehidupan manusia telah kehilangan pegangan hidup yang benar,
karena itu Beliau datang ke dunia. Saat itu 623 tahun sebelum
masehi di bulan Purnama Siddhi Waisak di Taman Lumbini
permaisuri Raja Sudhodana yang bernama Dewi Maha Maya
melahirkan seorang Putra Mahkota kerajaan Suku Sakya, yang
diberi nama Pangeran Siddharta Gautama.
Putra
Mahkota, titisan Maha Bodhisattva dari Surga Tursita, datang
ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari pandangan yang
salah. Beliau ingin manusia mempunyai pandangan hidup
yang benar, sehingga dapat bebas dari samsara
mencapai nirwana. Kelahiran Maha Bodhisattva ke bumi
ini dalam posisi berdiri, disambut dengan beberapa keajaiban,
yaitu bumi bergetar, langit bersuka cita, bunga-bunga
bermekaran, burung-burung berkicau, Catur Raja Maha Dewata
menyambut dengan sukacita dengan Jala Emas, Sembilan
Raja Naga memandikan Beliau secara gaib dengan air dari
Surgaloka, dengan berjalan 7 langkah – setiap kakiNya
menginjak bumi, muncullah bunga teratai suci persembahan dari
Dewa Bumi – dan tangan menunjuk ke langit dan ke bumi, Beliau
bersabda:
“Akulah yang teragung di surga dan di bumi.
Aku
datang dari Surga Tursita.
Aku
datang membuka rahasia kehidupan.
Aku
datang mengajarkan jalan kesunyataan untuk para makhluk yang
berjodoh, agar dapat bebas dari samsara, mencapai kebahagiaan
yang tertinggi.
Inilah kelahiran-Ku yang terakhir di dunia ini.”
Raja
menginginkan putra tunggalnya menjadi pewaris takhta kerajaan,
sehingga berbagai cara diupayakan agar Pangeran Siddharta
Gautama terlena dalam keduniawian. Beliau dilimpahkan
kemewahan, dimanja, dipuja dan berkuasa, dibangun tiga istana
yang indah-indah, dijaga agar Beliau tidak melihat orang
susah, orang tua renta, orang sakit maupun orang yang
meninggal dunia dan pertapa suci. Beliau dinikahkan dengan
Putri Yasodhara, yang berbudi luhur dan cantik jelita, dan
dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Rahula,
yang berarti belenggu.
Beliau
adalah seorang Maha Bodhisattva. Setelah melihat kenyataan
hidup manusia bisa tua, sakit, menginggal dunia, dan melihat
seorang pertapa yang hidupnya sangat sederhana dan di wajahnya
tercermin kegembiraan dan kebahagiaan, akhirnya pada suatu
malam Beliau pergi meninggalkan istri dan anaknya, melepaskan
takhta, harta dan kemewahan duniawi untuk pergi bertapa,
mencari obat agar manusia tidak menderita, memperoleh
kehidupan yang bahagia, kekal abadi. Sementara banyak
orang demi mencapai keinginan, mereka berebut kedudukan,
kekuasaan, harta duniawi, memaksakan kehendak, yang pada
akhirnya semua itu sia-sia dan tidak menyebabkan manusia
menjadi bahagia.
Peristiwa ini tidak
menjadi istimewa bila Beliau tidak menjadi Buddha. Setelah
sempurna menjadi Buddha, Beliau membabarkan Dharma,
membuktikan kepada manusia dengan ajaran-Nya, bahwa manusia
mampu mengubah nasib dari menderita menjadi bahagia, memberi
teladan dan contoh-contoh, serta cara mengambil keputusan yang
tepat/ solusi dalam memecahkan problem kehidupan yang
dihadapi, sehingga manusia dapat terbebas dari penderitaan.
Sumber penderitaan
berasal dari kebodohan dan kebiasaan hidup yang salah, hanya
memikirkan kepentingan jangka pendek, lupa bahwa hidup ini
berkesinambungan: dahulu, sekarang dan akan datang. Apapun
keputusan yang diambil dan dilakukan pada saat sekarang ini
akan menentukan kehidupan yang akan datang. Oleh karena itu,
seyogyanya kita tidak mengambil keputusan yang salah, tidak
membiasakan diri melakukan perbuatan yang tercela, tidak
memaksakan kehendak kepada orang lain, tidak berbuat jahat dan
bodoh yang baru. Semua itu pasti dapat menyebabkan penderitaan
baru yang tiada habis-habisnya.
Diajarkan oleh Buddha,
bahwa perbuatan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi
kebiasaan yang mengakar di dalam hati sanubari, membentuk
sifat dan tabiat. Yang tidak baik, tentu menyebabkan kita
hidup tidak bahagia, menyia-nyiakan hidup sebagai manusia,
yang pada hakikinya semua manusia mempunyai jiwa ke-Buddhaan.
Bila mampu mewujudkan jiwa ke-Buddhaan dalam perbuatan
sehari-hari, kita dapat memiliki kekuatan dan persyaratan
untuk bisa hidup lebih beruntung dan bahagia.
Perbuatan diawali oleh
kemauan. Kehendak bisa muncul karena benih/ kebiasaan
perbuatan masa lalu maupun benih perbuatan yang baru. Benih
masa lalu yang telah tertanam tentu lebih kuat daripada benih
perbuatan yang baru. Oleh karena itu, tidak heran masih banyak
orang yang telah mengerti Buddha Dharma, bisa
membincangkannya, akan tetapi belum mampu menjalankannya.
Dengan demikian, tidak heran bila mereka belum mendapat
kebahagiaan dalam Dharma, seperti yang dijanjikan Buddha,
yaitu samsara berubah menjadi Nirwana. Masih
banyak orang sering merasa kesal, jengkel, marah, bosan,
jenuh, tidak tahu kenapa sebabnya? Semua itu karena benih
karma masa lalu yang buruk, yang telah tertanam dalam jiwa,
muncul dalam bentuk perasaan. Bila rasa kesal, jengkel, jenuh,
galau, ketakutan, yang ada alasan dalam logika, timbul di
dalam pikiran, hal ini disebabkan karena karma buruk yang
baru.
Untuk kita bisa bebas
dari penderitaan, mendapat kemenangan hidup, bagaikan hari
kemenangan Waisak, kita perlu melatih diri dalam perhatian
benar, dan konsentrasi benar dalam kehidupan
sehari-hari. Belajarlah untuk menerima semua kondisi
kehidupan yang nyata yang dialami: yang baik maupun yang
buruk; yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; yang
disadari maupun yang tidak disadari; sebagai hasil dari karma
kita sendiri dan belajarlah menjadi manusia yang berguna. Oleh
karena itu, dikala menghadapi kenyataan kesulitan hidup,
belajar untuk tidak menyalahkan orang lain. Cari sebab
permasalahannya dari diri sendiri, yakin dalam hukum Karma:
“Bila tidak menanam bagaimana
mengharapkan hasilnya;
Menanam tidak merawat, bagaimana bisa
berlimpah;
Menanam/ melakukan yang jelek, pada
akhirnya akan menderita;
Menanam atau melakukan yang baik,
pasti bahagia.
Bila belum mendapat, hanya waktunya
saja belum tiba.”
Dengan membiasakan diri
memberi tanpa pamrih (dana paramita), tidak berbuat
jahat dan bodoh lagi (sila paramita), sabar (ksanti
paramita), penuh semangat dan gembira berjuang menjadi
manusia yang berguna, sehingga dalam kondisi apapun tidak
kehilangan arah untuk membina diri (wirya paramita),
dan mengerti kehidupan adalah suatu proses yang
berkesinambungan, serta membiasakan diri siap menerima kritik
dan mau berintrospeksi diri (samadhi paramita), secara
pasti kita akan memperoleh pandangan yang benar tanpa pamrih (prajna
paramita). Untuk itu konsentrasikan pikiran, dan wujudkan
semua itu dalam bentuk yang nyata, baik dalam ucapan,
perbuatan dan pikiran, pasti hidup akan beruntung dan bahagia.
Hal-hal tersebut diatas yang telah dilakukan dengan baik, akan
berkurang nilainya bila mata pencahariannya tidak benar,
terlebih lagi bila usaha untuk maju dilakukan dengan cara yang
tidak benar. Apa yang dimaksud dengan benar, dan apa
yang dimaksud dengan tidak benar? Yang dimaksud dengan benar
adalah memberi tanpa pamrih, sedangkan yang dimaksud dengan
tidak benar adalah meminta, mengharap dan memaksakan kehendak
dengan alasan apapun.
Waisak pada hakekatnya
adalah hari kemenangan, bukti sejarah manusia dapat
menaklukkan penderitaan dengan menjadi Buddha. Pada usia 80
tahun di Kusinara akhinya Beliau Maha parinirvana,
meninggalkan ajaran Buddha Dharma dan bukti sejarah manusia
bisa menang mengalahkan penderitaan. Semoga “Waisak Hari
Kemenangan” beserta kita, dan kita mampu mencari solusi yang
tepat di dalam Dharma untuk mengatasi problem kehidupan kita.
Ingat, “Siapa yang berbuat, dia sendiri yang akan mendapat
hasilnya”. Oleh karena itu, bagaimana pun perbuatan seseorang,
dia sendiri yang akan mendapat karmanya. Semua yang kita
lakukan, kita juga yang akan mendapat karmanya. Untuk itu,
mari kita bersama-sama melaksanakan hidup di jalan
ke-Buddhaan. Mari kita buktikan pula, bahwa kita mampu
menaklukan penderitaan pribadi, mencapai keberuntungan dalam
kehidupan ini. “WAISAK HARI KEMENANGAN. SELAMAT WAISAK!”
Semoga semua makhluk beruntung adanya. Semoga Negara dan
Bangsa Indonesia dikaruniai berkah, aman dan sejahtera. Svaha.
Jakarta, Waisak 2548 BE/ Juni 2004
Anjali Maitri,
Y.A.
Bhiksu Dutavira Mahasthavira
Koordinator Dewan Sangha DPP Walubi
|