|
RENUNGAN WAISAK
2548/2004
Oleh :
Y.A.BHIKSU DHYANAVIRA MAHASTHAVlRA
 |
Di saat
pangeran Sidhartha melihat seorang Sramana berjubah kuning
dengan mangkuk ditangannya datang menghampiri, Pangeran
memberi salam dan bertanya siapakah Beliau dan apa gunanya
mangkuk yang dipegangnya, Sramana ini menjawab “Wahai
Pangeran yang mulia, aku adalah seoraug petapa, yang
meninggalkan kehidupan duniawi, aku tinggal di hutan yang
sunyi untuk mencari suatu rahasia yang dapat membebaskan
manusia dari lahir, usia tua, sakit dan mati, segala
sesuatu didunia ini selalu berubah, tumbuh
berkembang, Iapuk dan musnah, |
,proses yang tiada hentinya, aku berhasrat untuk mencari
kebahagiaan yang kekal dan abadi mustika yang tak ‘kan lenyap,
hidup yang tanpa awal dan tanpa akhir, mangkuk ini ku bawa
untuk meminta makanan dari orang-orang yang berbalas kasihan,
aku sudah tidak menginginkan hal yang bersifat duniawi lagi".
Pangeran
terkejut bahwa petapa ini mempunyai cita-cita dan pikiran yang
sama, lalu Pangeran bertanya "Apakah didunia yang kacau ini
masih bisa kita dapatkan perdamaian dimana rahasia itu harus
dicari?”.
Petapa
menjawab "Ditempat yang panas masih ada kemungkinan untuk
mendapatkan keteduhan, manusia yang menderita masih mempunyai
kegembiraan yang terpendam, dari sumber dosa dan kejahatan
masih bisa muncul ketitik kebaikan, karena segala sesuatu di
dunia ini disyarati oleh berhagai faktor, bila seorang
terjatuh ke dalam timbunan kotoran, seharusnya la pergi
mencari kolam air yang terdekat untuk mencuci bersih
kotoran-kotoran yang melekat pada tubuhnya, andaikata ia tidak
mencari kolam air, kesalahan bukan terletak pada kolam air itu
sendiri, begitu pula bila terdapat sebuah jalan yang besar dan
rata, jalan yang dapat menuju ke tempat yang penuh dengan
kebahagiaan seorang sedang dirundung penyakit kebodohan dan
kekeliruan, tetapi ia tidak pergi mencari pembimbing yang
dapat memberi petunjuk agar hatinya mencapai kesadaran, sudah
barang tentu yang salah bukan pembimbing itu”.
Dengan
percakapan seperti ini, Pangeran Sidhartha bertekad “Aku
ingin seperti petapa ini" dan ternyata benar Pangeran
Sidhartha melepaskan seluruh kehidupan duniawinya, menjalankan
kehidupan seorang petapa yang pada akhirnya mencapai
kesempurnaan dan menjadi BUDDHA.
Saat ini
sudah 2548 tahun setelah Buddha Parinirvana, apakah kata-kata
ini masih berguna untuk kita, kita yang hidup di masa
Kemerosotan Dharma ini, penuh dengan nafsu duniawi, bagi
sementara orang penderitaan tiada putus-putusnya, bagi
sementara orang keberuntungan datang tiada habisnya, bagi
sementara orang kejahatan demi kejahatan tiada berhenti
dibuatnya, dan sementara orang kebaikan demi kebaikan terus
diberikan kepada orang lain, bagaimana dengan kita hari ini,
mana yang menjadi pilihan kita !
Sahabat
sedharma yang berbahagia ini, kita manusia biasa yang terikat
dengan ruang dan waktu, dunia ini terus berproses sebentar
saja hari sudah senja, seperti usia kita, yang kemudian akan
disusul dengan sakit dan mati, kalau kita belum berbuat
apa-apa, siapa yang salah, kalau badan kita kotor, apakah air
yang salah, kalau kita tidak mengerti dan bodoh, guru kita kah
yang salah, marilah kita bangkit karena kita manusia yang
berakal budi dan mempunyai Bodhicitta, benih kebuddhaan ada
didalam genggaman, carilah air bersih agar badan jasmani dan
pikiran menjadi suci, carilah guru sebagai kalyanamitra tempat
membagi rasa dan belajar Buddha Dharma, kita semua adalah
calon Buddha, kebahagiaan yang sempurna pasti menjadi milik
kita bersama.
Jasa
pahala renungan ini dilimpahkan kepada semua makhluk yang
terbentuk maupun yang tidak terwujud yang kuat maupun yang
lemah, yang jauh dan yang dekat, yang hidup di udara, di dalam
air, diatas bumi maupun didalam bumi, dimana ada penderitaan,
disitu ada kebahagiaan, dimana ada kebodohan pasti ada
pencerahan, benih kebuddhaan ada di setiap makhluk demikian
juga anda sekalian, semoga semua makhluk hidup bahagia, semoga
semua makhluk jalan di jalan kebuddhaan. Svaha.
|