Berita Waisak
   Makna
   • Makna Api
   • Makna Air
   • Makna Prosesi
   • Makna Waisak

_____________
Waisak 2005
Waisak 2003

Waisak 2002
Waisak 2001




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  Renungan Waisak 2548

 

RENUNGAN WAISAK 2548/2004
Oleh : Y.A.BHIKSU DHYANAVIRA MAHASTHAVlRA

Di saat pangeran Sidhartha melihat seorang Sramana berjubah kuning dengan mangkuk ditangannya datang menghampiri, Pangeran memberi salam dan bertanya siapakah Beliau dan apa gunanya mangkuk yang dipegangnya, Sramana ini menjawab “Wahai Pangeran yang mulia, aku adalah seoraug petapa, yang meninggalkan kehidupan duniawi, aku tinggal di hutan yang sunyi untuk mencari suatu rahasia yang dapat membebaskan manusia dari lahir, usia tua, sakit dan mati, segala sesuatu didunia ini selalu berubah, tumbuh  berkembang, Iapuk dan musnah,

,proses yang tiada hentinya, aku berhasrat untuk mencari kebahagiaan yang kekal dan abadi mustika yang tak ‘kan lenyap, hidup yang tanpa awal dan tanpa akhir, mangkuk ini ku bawa untuk meminta makanan dari orang-orang yang berbalas kasihan, aku sudah tidak menginginkan hal yang bersifat duniawi lagi".

 

 

Pangeran terkejut bahwa petapa ini mempunyai cita-cita dan pikiran yang sama, lalu Pangeran bertanya "Apakah didunia yang kacau ini masih bisa kita dapatkan perdamaian dimana rahasia itu harus dicari?”.

 

Petapa menjawab "Ditempat yang panas masih ada kemungkinan untuk mendapatkan keteduhan, manusia yang menderita masih mempunyai kegembiraan yang terpendam, dari sumber dosa dan kejahatan masih bisa muncul ketitik kebaikan, karena segala sesuatu di dunia ini disyarati oleh berhagai faktor, bila seorang terjatuh ke dalam timbunan kotoran, seharusnya la pergi mencari kolam air yang terdekat untuk mencuci bersih kotoran-kotoran yang melekat pada tubuhnya, andaikata ia tidak mencari kolam air, kesalahan bukan terletak pada kolam air itu sendiri, begitu pula bila terdapat sebuah jalan yang besar dan rata, jalan yang dapat menuju ke tempat yang penuh dengan kebahagiaan seorang sedang dirundung penyakit kebodohan dan kekeliruan, tetapi ia tidak pergi mencari pembimbing yang dapat memberi petunjuk agar hatinya mencapai kesadaran, sudah barang tentu yang salah bukan pembimbing itu”.

 

Dengan percakapan seperti ini, Pangeran Sidhartha bertekad “Aku ingin seperti petapa ini" dan ternyata benar Pangeran Sidhartha melepaskan seluruh kehidupan duniawinya, menjalankan kehidupan seorang petapa yang pada akhirnya mencapai kesempurnaan dan menjadi BUDDHA.

 

Saat ini sudah 2548 tahun setelah Buddha Parinirvana, apakah kata-kata ini masih berguna untuk kita, kita yang hidup di masa Kemerosotan Dharma ini, penuh dengan nafsu duniawi, bagi sementara orang penderitaan tiada putus-putusnya, bagi sementara orang keberuntungan datang tiada habisnya, bagi sementara orang kejahatan demi kejahatan tiada berhenti dibuatnya, dan sementara orang kebaikan demi kebaikan terus diberikan kepada orang lain, bagaimana dengan kita hari ini, mana yang menjadi pilihan kita !

 

Sahabat sedharma yang berbahagia ini, kita manusia biasa yang terikat dengan ruang dan waktu, dunia ini terus berproses sebentar saja hari sudah senja, seperti usia kita, yang kemudian akan disusul dengan sakit dan mati, kalau kita belum berbuat apa-apa, siapa yang salah, kalau badan kita kotor, apakah air yang salah, kalau kita tidak mengerti dan bodoh, guru kita kah yang salah, marilah kita bangkit karena kita manusia yang berakal budi dan mempunyai Bodhicitta, benih kebuddhaan ada didalam genggaman, carilah air bersih agar badan jasmani dan pikiran menjadi suci, carilah guru sebagai kalyanamitra tempat membagi rasa dan belajar Buddha Dharma, kita semua adalah calon Buddha, kebahagiaan yang sempurna pasti menjadi milik kita bersama.

 

Jasa pahala renungan ini dilimpahkan kepada semua makhluk yang terbentuk maupun yang tidak terwujud yang kuat maupun yang lemah, yang jauh dan yang dekat, yang hidup di udara, di dalam air, diatas bumi maupun didalam bumi, dimana ada penderitaan, disitu ada kebahagiaan, dimana ada kebodohan pasti ada pencerahan, benih kebuddhaan ada di setiap makhluk demikian juga anda sekalian, semoga semua makhluk hidup bahagia, semoga semua makhluk jalan di jalan kebuddhaan. Svaha.

 



Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.