|
SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI
DALAM RANGKA MENYAMBUT HARl RAYA WAISAK 2548/2004
TANGGAL 3 JUNI 2004
Namo Buddhaya,
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,
khususnya umat Buddha yang berbahagia, tanggal 3 Juni 2004
umat Buddha merayakan Hari Raya Waisak yang ke 2548. Untuk
itu, kepada saudara-saudara umat Buddha, saya atas nama
pemerintah maupun atas nama pribadi mengucapkan selamat Hari
Raya Waisak 2548, semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu menuntun
dan membimbing kita ke jalan yang benar.
Pada hari raya Waisak, umat Buddha merayakan
Tiga Kejadian Agung yaitu kelahiran Pangeran Sidharta,
Pencapaian tingkat kebuddhaan Pertapa Sidharta serta saat
parinibbana/wafatnya Buddha Gotama.
Perayaan Waisak kali ini, diharapkan sebagai
momen penting bagi umat Buddha untuk mengenang kembali
perjuangan Pangeran Sidharta dalam mencapai Tingkat
kesempurnaan Hidup. Hikmah yang dapat dipetik dari Perjuangan
Sang Pertapa adalah perjalanan spiritual, puncak pengendalian
diri menuju ketenangan batin dalam mencapai kesempurnaan hidup
yang hakiki.
Melalui Perayaan Waisak 2548 ini, umat Buddha
menyadari dan meyakini bahwa puncak tertinggi dari
pengendalian diri tersebut teraktualisasi dalam hubungan yang
harmonis dengan Tuhan Yang Maha Esa, antar sesama manusia
maupun antar manusia dengan alam dan lingkungannya. Apabila
kita dapat memahami hakekat pengendalian diri yang
sesungguhnya dalam diri kita masing-masing, semua usaha yang
dilakukan, akan mengarah pada upaya-upaya perwujudan
keharmonisan, kedamaian dan kesejahteraan kita bersama. Karena
hanya dengan keharmonisan dan kedamaian maka kesejahteraan
lahir dan batin dapat tercapai.
Saudara-saudara yang berbahagia, peringatan
Hari Raya Waisak mengandung makna bahwa pada suatu waktu
manusia perlu bercermin ke dalam dirinya sendiri. Dengan
hening, pikiran yang tenang mendengarkan bisikan hati nurani
yang suci, maka kita cenderung akan terhindar dari rasa
keserakahan, kebencian, kegelapan batin, dan iri hati yang
merupakan bentuk-bentuk kejahatan batin yang ada dalam diri
manusia
Dengan Waisak ini, diharapkan umat Buddha dapat
menjadi komponen bangsa yang arif dan bijaksana, mampu memilah
dan memilih mana yang baik dan benar serta mampu menghindarkan
diri dari segala perbuatan yang tercela. Pemaknaan Waisak ini
sangat penting direalisasikan di dalam kehidupan sehari-hari,
baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,
terutama dalam menghadapi situasi bangsa kita dewasa ini yang
sedang menghadapi krisis dengan dampak cukup luas terhadap
berbagai segi kehidupan. Dengan Waisak ini juga diharapkan
dapat memberikan hikmah dan sekaligus wahana untuk usaha-usaha
menormalisasi keadaan krisis tersebut, sehingga di dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini terjadi
keselarasan, keserasian dan keharmonisan atau keseimbangan,
terutama yang menyangkut hubungan antar manusia maupun antara
manusia dengan alam dan lingkungannya yang dilandasi oleh
cinta kasih dan kasih sayang.
Di samping itu, di dalam suasana pasca Pesta
Demokrasi dewasa ini, Waisak bagi umat Buddha, merupakan
momentum yang amat strategis, terutama dalam memupuk dan
meningkatkan kualitas diri dengan melupakan ekses negatif pada
saat kampanye, junjung tinggi kesucian rohani dan kebersihan
jiwa, serta menumbuhkan rasa kebersamaan cita, rasa dan karsa
di dalam mensukseskan rangkaian Pemilihan Presiden sebagai
wujud Pesta Demokrasi serta tetap menjaga keutuhan negara
kesatuan Republik Indonesia yang tangguh dan kokoh sepanjang
masa. Kepada seluruh umat Buddha, kami menghimbau untuk
menjadikan makna hari Raya Waisak ini damai lahir dan batin
dalam kehidupan bennasyarakat, berbangsa dan bernegara
sehingga pembangunan nasional dapat berlangsung lebih cepat.
Akhirnya, kepada segenap umat Buddha, saya
mengucapkan selamat Hari Waisak ke 2548, Semoga Tuhan Yang
Maha Esa memberkati kita semua, dan kepada seluruh umat
beragama mari kita berdoa sesuai dengan keyakinan kita
masing-masing agar Bangsa Indonesia mampu menyelesaikan tugas
yang dihadapinya, menuju masyarakat aman sejahtera. |