Namo Bhagavate Shakyamunaye Tathagataya Arhate Samyaksambuddhaya.
Terpujilah Hyang Bhagava Sakyamuni Buddha, Guru Dewa dan Manusia, yang telah mencapai Pencerahan Agung Samyaksambodhi. Pertama-tama terimalah salam dalam Dharma,
Namo Oh Mee Toh Fo,
Teman-teman dalam pembinaan sradha ke-Buddhaan, dalam beberapa hari lagi kita memasuki perayaan Hari Suci Waisak ke 2549 BE, tepatnya tanggal 24 Mei 2005. Bulan Purnama Waisak mempunyai arti yang besar sekali bagi makhluk manusia, khususnya bagi siswa Hyang Buddha, karena:
-
Pada 623 tahun Sebelum Masehi di bulan Waisak telah datang ke dunia ini Maha Bodhisattva dari Surga Tursita, yang terlahir dalam keluarga Raja Suku Sakya, sebagai Pangeran Mahkota dengan nama Siddharta Gautama.
-
Saat bulan Purnama Siddhi Waisak 592 tahun Sebelum Masehi Beliau mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi sebagai Manusia Buddha, disebut juga telah mencapai Pencerahan Agung Samyaksambuddha (catatan: Menurut Kitab Suci Mahayana Buddha sempurna pada usia 31 tahun, dan menurut catatan Kitab Suci Pali Text Buddha sempurna pada usia 35 tahun)
-
Pada usia 80 tahun Beliau Maha Parinirvana.
Tiga peristiwa agung dan mulia inilah yang selalu dirayakan kembali oleh siswa Buddha pada setiap tahun di bulan Waisaka, demikian pula dengan kita di Indonesia merayakannya sebagai “Hari Suci Waisak”.
Teman-teman se-Dharma, Buddha mengajarkan kepada kita, bahwa kehidupan setiap makhluk manusia selalu berubah, tidak pasti (anicca/ anitya). Dalam perubahan tersebut kami katakan sebagai tumimbal lahir kecil, kondisinya nyata. Dari segi materi ada yang bertambah baik, ada pula yang bertambah buruk. Dari segi perasaan ada yang menjadi lebih bijaksana, tentram dan merasa hidup sangat berarti, sebaliknya ada pula yang menjadi tidak tentram, jiwanya kosong dan merasa hidup ini tidak berarti dan tidak mengerti tujuan hidup ini. Dari segi phisik hari demi hari kita berproses menjadi tua, tentu pada suatu saat siapapun dia akan mengalami proses perjalanan kematian. Setelah meninggal dunia terpikirkah akan kemana?….. Sebagai umat Buddha kita yakin setelah meninggal dunia, kita akan menjalani proses tumimbal lahir, entah kita terlahir di alam suci, alam Tanah Suci Surga Sukhavati, alam dewa, alam manusia (menjadi manusia yang mulia, miskin atau papa), alam asura, alam binatang, alam setan gentayangan, atau alam neraka.
Bila kita meneliti lebih lanjut perjalanan hidup ini: ada yang sukses, ada pula yang gagal; ada yang hidup penuh semangat, tentram, ada pula yang hidup penuh putus asa dan jiwanya kosong. Mengapa bisa terjadi perbedaan dalam kondisi kehidupan ini? Buddha mengajarkan kepada kita, semua yang terjadi bukan kemauan Tuhan, bukan pula cobaan dari Tuhan, tentu bukan pula bekerjanya Tuhan mengutuk kita atau memberi hadiah kepada kita. Karena Tuhan pada hakekatnya Maha Esa, Maha Adil, Maha Cinta Kasih dan Maha Kuasa. Diajarkan Buddha kepada kita, bahwa di alam semesta ini ada tenaga yang tidak terlihat, yang bekerja dalam kaidah-kaidah Hukum Karma. Tenaga ini adalah kekuatan Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada seorang pun dapat menghindar dari Hukum Karma, karena Hukum Karma pada hakekatnya mutlak dari kekuatan Tuhan.
Dari peristiwa Waisak kita dapat merenungkan, bahwa manusia sesungguhnya bisa menjadi Buddha, manusia sesungguhnya bisa sempurna dunia dan akhirat. Diajarkan Buddha kepada kita kunci kesuksesan, kunci kebahagiaan, kunci kemuliaan, yang dicatat dalam Kitab Suci Avatamsakasutra:
“Wahai para makhluk: hanya dengan tekad dan perbuatan nyatamulah, kamu dapat tertolong. Yakinlah penderitaan yang tiada akhir, bisa berhenti. Bangkitkan tekad untuk belajar Dharma dengan sungguh-sungguh. Hayatilah perbuatan hidup sehari-hari di jalan ke-Buddhaan.”
Makna dari ayat kitab suci tersebut adalah kunci keberhasilan yang diberikan Buddha kepada kita. Kunci kesuksesan, kunci mengubah nasib, kunci kemuliaan di dunia maupun di akhirat, semua itu bersumber dari perbuatan/ karma diri kita sendiri. Oleh karena itu, bangkitkan keyakinan selalu berdoa:
Buddha, aku yakin kepada-Mu, semua yang terjadi dalam perjalanan hidup ini, yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, yang aku tahu maupun yang aku tidak tahu, semua berasal dari karmaku sendiri. Aku berhadapan dengan karmaku sendiri, aku terlahir oleh karmaku sendiri, aku pewaris karmaku sendiri, aku pemilik karmaku sendiri.
Buddha, aku bertekad untuk menjalankan kewajiban hidup ini dengan sungguh-sungguh dan senang hati, walaupun kewajiban ini kadangkala tidak menyenangkan, aku tetap menjalankan dengan senang hati, karena aku tahu kewajiban adalah bagian dari perjalanan hidupku sendiri.
Buddha, aku bertekad untuk menjadi manusia berguna, selalu belajar melakukan kebaikan demi kebaikan dengan senang hati, karena aku tahu dengan cara inilah keberuntungan hidupku akan bertambah.
Buddha, aku bertekad untuk tidak berbuat jahat dan bodoh lagi, sekecil apapun kejahatan dan kebodohan akan menambahkan penderitaan dan beban hidupku yang baru.
Buddha, aku bertekad dimanapun aku berada, aku selalu berbuat yang terbaik untuk keluargaku, untuk orang-orang yang berjodoh atau yang berhubungan dalam kehidupanku, semua demi kebahagiaannya.
Buddha, dalam perjalanan hidupku mungkin aku dikhianati, dijahati, jasa-jasa yang telah aku lakukan tidak dihargai, akan tetapi aku akan belajar untuk tidak kecewa dan belajar menerima semua itu sebagai hasil dari karma-ku sendiri. Buddha, dalam kondisi apapun aku berusaha untuk tidak berbuat jahat dan bodoh lagi, dengan senang hati selalu melakukan kebaikan demi kebaikan, karena aku yakin perbuatan baik maupun jahat yang dilakukan saat sekarang belum berbuah, hanya menunggu waktunya saja.
Buddha, aku bertekad untuk tidak tumimbal lahir lagi. Aku bertekad untuk terlahir di Tanah Suci Surga Sukhavati. Oh Mee Toh Fo pancarkanlah sinar-Mu, berkatilah aku, terimalah aku terlahir di Tanah Suci Surga Sukhavati.
Semoga semua makhluk yang mendengarkan Dharma ini bisa bersama-sama memasuki pintu kesucian Dharma, delapan penderitaan dan tiga kondisi kehidupan lenyap sudah di dalam lautan janji Amitabha Buddha.
Doa ini merupakan salah satu cara untuk pengembangan batin, demi tercapainya tujuan hidup yang sukses, tentram, damai dan bahagia. Kembali kepada makna dari ayat kitab suci tersebut di atas, kami katakan bahwa “Buddha telah memberikan kunci keberhasilan kepada kita”. Oleh karena itu, kita harus mengerti kemana kunci keberhasilan itu harus dimasukkan, dan bagaimana cara membukanya kembali? Kunci keberhasilan itu harus dimasukkan ke dalam batin. Cara membuka kembali kunci keberhasilan di dalam batin, tidak cukup hanya dengan berdoa, beribadah, membaca ayat kitab suci, atau berbuat sosial saja, melainkan harus ditingkatkan dalam bentuk perbuatan nyata sehari-hari, yakni dengan melaksanakan Enam Perbuatan Tanpa Pamrih/ Sad Paramita (Dana Paramita, Sila Paramita, Ksanti Paramita, Virya Paramita, Samadhi Paramita, Prajna Paramita) dan Enam Sikap Kerukunan Sangha
1. |
Saling hormat menghormati sesuai dengan kedudukan dan tanggung jawab, |
2. |
Dalam berbicara menjaga sikap, tidak saling menjatuhkan, harus saling memuji kelebihan yang ada, |
3. |
Bersama-sama memotivasikan pikiran untuk maju, |
4. |
Bersama-sama mempelajari, menghayati, dan melaksanakan Dharma dan Vinaya dalam kehidupan sehari-hari, |
5. |
Ada keuntungan dinikmati bersama, |
6. |
Ada masalah dimusyawarahkan, untuk mengambil keputusan yang terbaik. |
Hasil dari perbuatan sehari-hari tersebut di atas yang kita lakukan pasti dapat membuka mata batin kita, maka terjadilah pencerahan dalam batin, muncullah pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, mata pencaharian benar, usaha benar, perhatian benar, konsentrasi benar; yang dikenal dengan istilah Delapan Jalan Utama.
Kami yakin bila kita dapat meluangkan waktu untuk merenungkan makna dari perayaan Hari Suci Waisak tersebut, dan dapat mewujudkannya dalam bentuk perbuatan nyata sehari-hari, maka kita akan mendapat janji Buddha, yaitu bebas dari penderitaan/ samsara, mencapai kebahagiaan tertinggi/ nirvana, minimal nasib kita berubah menjadi bertambah baik, hati gembira, tentram dan di akhir perjalanan hidup ini/ setelah meninggal dunia kita terlahir di alam yang lebih baik, sampai ke Tanah Suci Surga Sukhavati. Semoga hal-hal ini berguna dan akhir kata kami mengucapkan, “Selamat Waisak 2549BE/ 2005.” Semoga semua makhluk berbahagia dan turut bersukacita atas terselenggaranya upacara perayaan Waisak Nasional ini. Om santi-santi-santi. Sadhu-sadhu-sadhu.
Jakarta, Waisak 2549 BE/ Mei 2005,
Y.A. Bhiksu Dutavira Mahasthavira
Koordinator Dewan Sangha DPP Walubi
|