Makna Api
Makna Air
Makna Prosesi
Makna Waisak
_______________

• Waisak 2009

• Waisak 2008

• Waisak 2007

• Waisak 2006

• Waisak 2005

• Waisak 2004

• Waisak 2003

• Waisak 2002

• Waisak 2001




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

PESAN WAISAK 2552BE/ 2008
TEMA: MEMBANGKITKAN JIWA YANG BARU

Oleh: Maha Bhiksu Dutavira Sthavira
(Ketum Majabumi Tanah Suci)

 

Waisak merupakan suatu peristiwa sakral dan sangat berarti untuk direnungkan terus-menerus oleh setiap umat Buddha atau orang-orang yang ingin mencari ketentraman dan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Secara tradisi ada tiga peristiwa penting yang dirayakan sehingga disebut pula TRISUCI WAISAK:
1. Kelahiran Maha Bodhisattva, Pangeran Mahkota Siddharta Gautama di Taman Lumbini, putra keluarga raja Suku Sakya. Ayah-Nya bernama Raja Suddhodana, ibu-Nya bernama Dewi Mahamaya.
2. Pencapaian kesempurnaan seorang manusia menjadi Buddha disebut Anuttara Samyaksambuddha.
3. Meninggalkan dunia/ Maha Parinirvana Sang Buddha.

Mengapa kelahiran manusia ke dunia ini mempunyai kondisi yang berbeda: ada yang terlahir di keluarga kaya, ada pula yang terlahir di keluarga miskin, ada yang menjadi laki-laki, ada pula yang menjadi wanita, ada yang pandai, ada pula yang bodoh, dan lain-lain? Apakah semua perbedaan itu merupakan kutukan atau cobaan Tuhan? Dimana keadilan, kekuasaan dan kasih sayang Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Cinta Kasih?

623 tahun Sebelum Masehi lahirlah Maha Bodhisattva dari langit (Surga Tursita) ke bumi untuk memberitahukan tujuan kehidupan manusia yang sebenarnya. Pada saat itu manusia diliputi pandangan salah. Aliran yang pertama berpandangan bahwa hidup hanya sekali, setelah meninggal dunia semuanya berakhir/ tiada. Karena itu, mereka tidak memikirkan masa depan. Aliran yang kedua berpandangan bahwa kehidupan manusia di dunia ini bisa bahagia, yang menjadi penyebab ketidakbahagiaan manusia adalah badan jasmani, sehingga mereka pergi bertapa menyiksa diri. Pandangan ini identik dengan orang yang belum memperoleh pencerahan batin, yang tidak mengerti apa tujuan dari kelahiran manusia.

Pangeran Siddharta Gautama melihat kehidupan manusia tidak dapat terhindar dari kelahiran, usia tua, sakit, meninggal dunia, dan Beliau melihat seorang pertapa yang wajahnya damai dan bahagia. Oleh karena itu, Beliau melepaskan tahta, harta kekayaan, kekuasaan, kemewahan, kesenangan duniawi untuk pergi bertapa guna mencari jawaban mengapa manusia bisa menjadi tua, sakit dan meninggal dunia, adakah jalan untuk terhindar dari semua itu? Melalui perjuangan yang panjang, ketekunan, pada akhirnya Beliau mencapai kesempurnaan seorang manusia. Beliau menjadi Buddha, disebut Anuttara Samyaksambuddha.

Buddha bersabda: manusia tidak luput dari 8 kesukaran (kelahiran, usia tua, sakit, meninggal dunia, keinginan tidak tercapai, berkumpul atau bertemu dengan yang tidak disenangi, berpisah dengan yang dicintai, terikat oleh kebutuhan jasmani dan rohani) dan 3 kondisi keadaan (kondisi batin, perbuatan, dan hasilnya/ nasib). Diingatkan pula oleh Buddha, bahwa kehidupan manusia di dunia selalu berubah/ anicca, ada derita dan sukha, serta tanpa inti, kosong atau hampa belaka, dan kehidupan ini berkesinambungan/ dahulu, sekarang dan akan datang (karena itu manusia sering merasa jenuh tanpa alasan). Terjadinya perbedaan kondisi hidup bersumber dari perbuatan badan, ucapan, pikiran manusia. Karena di dunia ini ada kuasa dan keadilan Tuhan, maka wajar sekali bila orang berbuat tercela, cepat atau lambat ia akan menerima kondisi yang tidak menyenangkan dan orang yang berbuat baik, cepat atau lambat ia akan menerima kondisi yang menyenangkan. Inilah hukum karma yang diajarkan Buddha, “Kita berhadapan dengan hasil buah karma kita sendiri. Kita adalah pemilik dan pewaris karma kita sendiri.”

Buddha mengajarkan solusi agar dalam kehidupan yang kondisinya selalu berubah/ tanpa inti, kita dapat memperoleh ketentraman batin, keberuntungan hidup dan kelak dapat mencapai Tanah Suci Surga Sukhavati/ Nirvana, dengan cara:
1. Yakin dalam Hukum Karma, hukum dimensi ruang dan waktu,
2. Selalu ingat/ smirth,
3. Tekun berjuang terus-menerus sampai memperoleh buah karma: batin tentram, kondisi hidup menyenangkan.
4. Samadhi: berdoa/ bangkitkan motivasi, bersembahyang/ membaca ayat kitab suci, introspeksi.
5. Mencapai pencerahan: menjadi manusia berguna dimanapun kita berada, bersikap dan berprilaku bijaksana.

Perwujudannya harus dilakukan dengan senang hati, beramal tanpa paksaan (dana paramita), tidak jahat dan bodoh lagi (sila paramita), sabar penuh pengertian bahwa segala sesuatu ada proses dimensi waktu (ksanti paramita), tekun berjuang terus-menerus (virya paramitha), menyatu di dalam pencerahan (dhyana/ Samadhi paramita), memberi tanpa ada unsur memiliki (prajna paramita). Bila dilakukan terus-menerus, kelak kita akan terlahir dalam kondisi menyenangkan.
Yang menjadi masalah adalah bagaimana pandangan hidup, pikiran, ucapan, perbuatan dapat senantiasa benar? Semua itu harus berawal dari mata pencarian, daya upaya (usaha), perhatian, dan konsentrasi yang benar. Untuk itu, kita harus melaksanakan ajaran Buddha “Sad Paramita” tersebut di atas. Sayang sekali masih banyak orang yang belum mau menjalankan hal ini dengan serius dan sungguh-sungguh hati, sehingga orang mudah terjebak dan terbawa arus dalam kebodohan. Orang hanya mengisi kehidupan ini dengan mengejar keuntungan, kemewahan, kekuasaan, harga diri, menonjolkan diri. Bahkan untuk mendapatkan semua itu, adakalanya orang memaksakan kehendak, menjadi pengkhianat, berjuang tanpa mempedulikan kerugian orang lain, karena orang hanya mengenal istilah “mencapai target”. Tidak terasa berkembanglah sifat serakah (lobha), kebencian (dosa), kebodohan/ kemalasan (moha). Berapa banyak waktu telah terbuang untuk mendapatkan semua itu? Saat meninggal dunia semua itu tidak terbawa. Untuk itu, kita belajarlah dari Sang Buddha yang mau melepaskan semua hal-hal tersebut di atas untuk mencari kedamaian dalam jiwa.

Alangkah bodoh dan sia-sia bila kita yang telah beragama Buddha dan telah memahami bahwa manusia dapat menciptakan hidupnya yang baru, akan tetapi kita tidak mau berjuang dengan serius, kita membiarkan diri terbawa dalam arus samsara/ lautan penderitaan yang tiada bertepi. Mari kita melaksanakan pertapaan Bodhisattva dalam kehidupan sehari-hari, melaksanakan Sad Paramita, bagaikan orang kuliah pada suatu saat akan menjadi sarjana, professor (menjadi Buddha), bebas dari penderitaan mencapai kebahagiaan abadi.
Jangan biarkan kemampuan yang demikian berguna yang telah dikaruniakan kepada kita, janganlah kita merusak nasib dengan melakukan perbuatan yang tidak terpuji, bagaikan negara kita yang telah dikaruniakan kekayaan alam, laut, iklim yang seharusnya dapat membawa kemakmuran bagi anak cucu telah dirusak oleh kita sendiri, sehingga anak cucu kita menghadapi kondisi kehidupan yang serba sulit, yang tidak mustahil akan menjadi penyebab keterbatasan mereka untuk membina diri.

Alangkah beruntungnya hidup ini bila kita dapat meluangkan waktu di kala bulan Waisak untuk berintrospeksi, MEMBANGKITKAN JIWA YANG BARU, memilih hidup kita di jalan ke-Buddhaan/ pertapaan bodhisattva. Janganlah kita menyia-nyiakan atau merusak kesempatan kita menjadi Buddha dengan melakukan perbuatan tercela, sehingga kita menderita bagaikan hidup di neraka. Mari kita bangkit untuk ikut memberikan sumbangsih yang terbaik untuk bangsa dan negara ini agar kemakmuran yang telah diberikan Tuhan kepada bangsa dapat membawa berkah bagi anak cucu kita. Selamat Waisak, selamat berjuang, wahai calon Buddha, Omitofo.

 

Jakarta, Mei 2008

 

 

Maha Bhiksu Dutavira Sthavira

Ketum Majabumi Tanah Suci
_____________________________________________

 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.