Renungan Waisak 2552/2008
20 Mei 2008
Oleh : Bhikkhu Wongsin Lahiko Mahathera
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa
Momentum Waisak , kita teringat pada tiga peristiwa luar biasa yang terjadi dalam kehidupan Guru Agung Buddha Gotama, yaitu kelahiran calon Buddha (Bodhisatta) Siddhattha di taman Lumbini, pencapaian Pencerahan menjadi Buddha di hutan Uruvela, serta wafat Buddha atau Parinibbana guru Buddha di Kusinara. Peristiwa-peristiwa agung itu terjadi pada hari purnama sidi di bulan Waisak lebih dari dua ribu lima ratus tahun yang lampau.
Kembangkan Buddha Dharma dalam menjalankan kewajiban sebagai cermin kehidupan, demikian tema Waisak 2552 BE/2008yang diangkat oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI). Dengan tibanya hari raya Waisak maka kita diingatka kembali pada Guru Buddha yang telah mewariskan Dhamma ajaran Kebenaran yang sampai dengan saat ini masih dijadikan sebagai tuntunan hidup bagi umat Buddha. Umat Buddha masih meyakini bahwa Kebenaran Dhamma dapat menuntun hidupnya menjadi lebih baik, lebih bijaksana dan selalu mengembangkan sifat pengendalian diri.
Jalan hidup Dhamma yang diajarkan oleh Sang Buddha mengutamakan Praktek sila sebagai landasan bagi umat untuk menjadi cermin dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan dewasa ini terasa semakin sulit sehingga tingkah laku manusia yang kehilangan arah dan lebih mengutamakan materi diatas segalanya.. Pembenaran terhadap hal-hal yang tidak benar menjadi cara untuk menunjukkan sesuatu yang keliru menjadi tidak keliru lagi, dengan demikian kebenaran sejati dipermainkan oleh manusia untuk memuaskan tanha. Sungguh disayangkan sikap manusia yang sangat cerdik mempermainkan kebenaran demi kepentingan individu atau kelompoknya. Lobha, Dosa dan Moha menguasai manusia yang tidak memahami bahwa apa yang dilakukannya itu akan menjadikan ketentraman bagi kehidupannya.
Pengendalian diri bukan hanya melihat atau memeriksa diri sendiri secara jujur, tetapi juga mengoreksi diri apabila terdapat kekeliruan atau ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu pengendalian diri sangat diperlukan bukan hanya untuk keperluan pengembangan diri sendiri tetapi juga untuk keperluan orang lain bahkan semua makhluk hidup. Karena pengendalian diri akan menyebabkan manusia dapat mengintrospeksi sikap diri terhadap hal-hal yang menimbulkan dampak buruk bagi orang lain maupun lingkungannya.
Inilah renungan Waisak 2552/2008 Semoga Perayaan Waisak kali ini menjadi perenungan untuk pengendalian diri dalam menjalankan kehidupan sebagai cermin kehidupan. Selamat Hari Raya Waisak 2552/2008; semoga umat Buddha sekalian dapat membangkitkan nilai-nilai kemoralan yang lebih luhur dan semangat pengendalian diri dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia
_____________________________________________
|