WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  PERJUANGAN BHANTE ... ...



Perjuangan yang dilakukan seorang Bhante tak kenal lelah, orangnya serius mau bekerja keras, terkadang tak mau usik dengan keseharian tugasnya sebagai Dharma Duta, serta memberi konsultasi bagi umat Buddha yang mempunyai masalah. Berbagai terbitan buku-buku Buddhis dipelajarinya, juga tak mau ketinggalan, hampir setiap harinya membaca surat kabar terbitan negara yang berlambang gajah putih ini. Ngga salahnya bila digunakan sebagai media sumber informasi dari tanah kelairannya di Bangkok. Selain itu Bhante banyak menganalisa berbagai buku-buku Dharma, rencana akan dijadikan bahan pembabaran Buddha Dharma di vihara atau di arama.

Dia seorang Guru pendidik agama Buddha dan Dhammaduta berasal dari Thailand yang punya sumbangsih besar bagi umat Buddha di Indonesia, khususnya aliran Theravada. Kehadiran Bhante di Indonesia adalah memberi ajaran agama Buddha yang simpel. Bhante, salah satu anggota sangha yang peduli terhadap perkembangan agama Buddha di Nusantara. Dari dirinya melahirkan ratusan siswa yang menjadi rohaniwan, Bhikkhu, samanera, namun semuanya sudah menyebar diseluruh pelosok tanah air.

Masih ingatkah umat terhadapnya? Beliau adalah Yang Mulia Bhikkhu Vien Vijano Mahathera. Bhante Vien yang dilahirkan di Bangkok 18 November 1923 lalu dengan nama Phra Rajvaracharn. Pada tanggal 17 November usianya genap delapan puluh tahun dan telah melakukan masa Vassa ke 50 selama di Indonesia. Umat Buddha Metta Arama sempat mengadakan syukuran bersama, agar kondisi Bhante tetap sehat dan diberi umur panjang.

Bhante Vin hadir di Jakarta sejak tahun 1969, mulanya berada di salah satu rumah umat berlokasi di Jalan Patricia Lumumba (sekarang Ged. PELNI). Yang dijadikan sebagai tempat bermukim sementara. Tahun 1971 pindah ke alamat Jalan Terusan Lembang No. 59D. Sampai saat ini masih menetap disini. Sebelum di renovasi ditempat ini puluhan hingga ratusan umat mulai berdatangan untuk melakukan puja bakti pada setiap minggu, bahkan hari-harinya ada yang datang ingin berkonsultasi dengan Bhante Vien. Maka atas prakarsa salah seorang umat bernama Ny.Visakha S. Hartati Murdaya melimpahkan tempatnya sebagai sarana ibadah, lalu dipugarlah sebuah arama berkapasitas menampung 300 umat, sekaligus tempat kebaktian plus tempat umat belajar bermeditasi. Namanya sampai sekarangpun orang tahu yakni VIHARA BUDDHA METTA, atau umumnya orang mengenal Vihara Menteng. Di Vihara ini lah sejarah terlahirnya bibit-bibit Agama Buddha Theravada yang dibimbing YM. Bhante Vien Vijano.

Bhante Vien orangnya penuh disiplin dalam mendidik setiap siswanya yang ingin belajar dengannya. Disamping sangat periang, ringan tangan, mau menghargai orang lain, beliau ulet pada pekerjaannya. Tekad dalam mengembangkan ajaran Buddha Dharma, kadangkala tak kenal waktu. Jiwa raganya dicurahkan hanya untuk aktivitas dharma. Rutinitas tiap harinya bangun jam 04:00 pagi, bersembahyang serta bermeditasi. Dilanjutkan dengan anak didiknya yang tinggal bersama di Vihara, turut melaksanakan kerja bakti membersihkan halaman, mengepel lantai, parit-parit, kaca dan kisi-kisi Vihara. "Suasana agar bersih ruangan, bersih lingkungan, itulah cermin bersih diri kita", kata Bhante pada saat itu.

Bhante Vien di usianya yang ke 81 tahun begitu tegar saat berjalan, sewaktu melaksanakan prosesi ritual Waisak Nasional 2547 dari Candi Mendut ke Candi Agung Borobudur. Dengan penuh semangat memperingati Waisak yang dilaksanakan setiap tahun di Candi Borobdur, tak pernah pudar. Apalagi Waisak tahun 2003 ini, merupakan Waisak yang ke 50 dirayakan di pelataran Candi Borobudur dan cukup menghimpun banyak tenaga tercurahkan. Tetapi kondisi Bhante Vien kelihatan tetap energik, walau jadwal Waisak padat tetap dilakukan mulai tanggal 13 Mei sampai 17 Mei 2003.

Sejarah mencatat untuk kedua kali bibit pohon Bodhi ditanam di bagian Utara Candi Borobudur. Ritual upacara dilaksanakan para Bhiksu Sangha yang tergabung di WALUBI sedangkan pohon Bodhi asal Nepal dibawah keliling Candi Borobudur oleh Bhikkhu tertua, Bhante Vien. Sebelumnya diserahkan Oleh Serling Tulku Yongdzin Rinpoche (Ketua Vihara Tharpaling, Vajrayana).

Kegembiraan menyatu dengan keharuan, tanggal 19 Juni 2003 Bhante Vien, kembali terserang penyakit. Biasanya tidak diharapkan apalagi dirasakan, karena dirinya mengetahui tentang pengertian sebab adanya Dukha. Sehingga timbul kesadaran, beliau selalu berusaha untuk mengendalikan penyakit kronis yang sudah lama menyelimuti dirinya dengan bermeditasi.

Ketika dilakukan General Check up dan dimasukkan ke ruang ICU Rumah Sakit Siloam Gleneagles Lippo Karawaci. Bhante mengalami komplikasi penyakit ginjal, prostat dan diabetes. Penderitaan berkepanjangan membuat tubuh Bhante menjadi lunglai kehilangan tenaga.

Bhante Vien yang tinggal di kamar 1014 Samaria RS Siloam Gleneagles, dalam perbaringannya walau mata terpejam terus konsentrasi bermeditasi. Biarpun keponakan hadir menjenguk dan merencanakan akan membawa pulang. Bhante Vin menolak, ia merasa sangat kerasan di Jakarta.

Tanggal 3 Juni 2003 Bhante Vien dibawa pulang ke Vihara Buddha Metta Jakarta. Beliau senantiasa mendapatkan perhatian, baik dari para siswa-siswanya yang menjadi Bhikkhu maupun Samanera yang setia. Secara bergiliran para siswa memanjatkan doa untuk kesembuhan gurunya selama dalam perbaringan. Antara lain Bhikkhu Phabhakaro, Bhikkhu Bodhi, Bhikkhu Dhammatejo, Bhikkhu Sumano, Bhikkhu Dhammabalo, Bhikkhu Kalanyuta dan 10 samanera.

Bhante Vin yang bersuara khas terbata-bata logat Thai, memberikan pesan-pesan mengingatkan para muridnya, agar selalu melaksanakan chanting pagi dan sore serta bermeditasi.

Semoga Bhante segera sembuh dari penyakit yang dideritanya

By: TOTO


 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.