|
Y.A. BHIKSU DUTAVIRA MAHASTHAVIRA menegaskan praktek Hong Shui maupun peta memprediksikan nasib tidak bertentangan dengan ajaran Agama Buddha.
Menurut Bhiksu Dutavira, Hong Shui berguna meningkatkan kesuksesan dan keseimbangan hidup. Bila arah Hong Shui salah bagaikan arah antena televisi yang tidak tepat sehingga gambar yang diterima juga tidak
sempurna. "Oleh karena itu, sebagai umat manusia yang bercita-cita melenyapkan penderitaan, mencapai keberuntungan hidup sampai ke nirwana, silahkan saja pelajari ilmu-ilmu
tersebut", kata Bhiksu yang biasa disapa dengan Suhu Benny.
Berbicara lebih jauh, Bhiksu Dutavira mengatakan
Hong Shui merupakan ilmu energi alam semesta yang meliputi langit, angin, air, gunung, bumi/tanah, petir/kilat, api, telaga/danau yang merupakan gambara dari patkwa
awal. Telah disebutkan ilmu Hong Shui secara tradisi hanya diajarkan berdasarkan garis keturunan keluarga maupun perguruan atau hubungan individual.
Makna arti Hong Shui, Hong dari angin, Shui dari air mengandung pengertian ilmu ini sangat penting bagaikan manusia yang tidak boleh kekurangan udara dan air.
Ilmu ini menjabarkan adanya energi, kasat mata yang disebut dengan lima elemen yakni Logam, kayu, air, api dan tanah sebagai tenaga yang saling menghidupkan maupun saling mendorong, menarik dan mematikan.
Bhiksu Dutavira menambahkan, masih banyak umat Buddha yang salah mengerti yang seakan-akan ajaran agama Buddha tidak mengenal nasib, padahal Sang Buddha bersabda bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam perjalanan hidup ini menyenangkan dan tidak menyenangkan, yang disadari maupun tidak disadari adalah hasil perbuatan baik maupun buruk yang dilakukan oleh diri sendiri yang disebut dengan buah karma atau nasib.
Manusia harus bisa melihat kenyataan bahwa siapapun suatu ketika akan meninggal dunia, oleh karena itu bila meninggal tidak terlahir di surga, maka berarti seseorang telah gagal dalam hidup. Untuk itulah Bhiksu Dutavira sangat mengharapkan umat Buddha bisa mengerti tentang jalan menuju surga sukhavati karena hal tersebut penting.
Hal tersebut diungkapkan YA Bhiksu Dutavira dalam kunjungannya ke Medan guna memenuhi undangan untuk menyampaikan wejangan dharma serta diskusi dan presentasi mengenai Agama Buddha dan Hong Shui oleh
Umat Buddha Mahayana Sumut di Karo Room, Novotel Soeci. 19/10/03.
Bhiksu yang telah beberapa kali menyampaikan wejangan dharma di beberapa daerah ini selalu mendapat sambutan sangat antusias karena menggunakan bahasa yang akrab dan mudah dimengerti, dalam kotbah-kotbahnya itu umat diajak untuk saling berdiskusi dengan para tokoh Budha yang hadir dan tokoh pelaku bisnis di daerah ini.
Akhirnya diskusi tersebut membahas masalah organisasi agama Buddha di Indonesia serta status vihara dan presentasi mengenai perkembangan agama Buddha terhadap nasib dan Hong Shui dan ini hanya terbuka sebatas undangan.
Sementara ditempat yang sama juga diadakan pembabaran dharma yang disampaikan Bhiksu Dutavira dan mengambil topik "Jalan menuju Surga Sukhavati". Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh
umat Buddha Medan, secara gratis dan terbuka untuk umum. //TT

YA Bhiksu Dutavira dalam kunjungannya ke Medan menyampaikan wejangan
Dharma
serta diskusi dan presentasi mengenai Agama Buddha dan Hong Shui di Karo Room,
Novotel Soeci, Medan. 19/10/03.
|