|
BATAM, PELITA Disintegrasi yang nyaris melanda bangsa Indoensia pada era reformasi ini bukan bersumber dari agama. Namun harus diwaspadai bahwa faktor agama merupakan faktor yang sangat berpotensi dalam menimbulkan konflik, baik konflik intern antarumat maupun konflik ekstern antarumat beragama.
Menteri Agama (Menag) Prof DR H Said Agil Husin Al Munawar MA mengemukakan itu ketika membuka festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka Tingkat Nasional V tahun 2003, di Maha Vihara Duta Maitreya. Batam, Sabtu (5/7) malam.
Oleh sebab itu diperlukan kegiatan dan aktivitas yang mengarah pada peningkatan kesatuan dan persatuan, baik itu dalam skala antar umat beragama maupun intern umat beragama," kata Menag.
Festival hingga Senin (7/7> berlangsung sangat meriah, menurut Ketua Panitia Ir. Arief Harsono diikuti 689 orang peserta, peninjau dan ofisial dari 25 provinsi di Indonesia. Hadir pada pembukaan pejabat Muspida Riau dan Batam, Dirjen Bimas Hindu dan Buddha I Wayan Suarjaya, serta para tokoh umat Buddha di Indonesia. Festival itu memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI, yang sebelumnya juara umumnya kontingen dari Propinsi Bali.
Menteri menilai festival itu merupakan salah satu aktivitas yang strategis dan momentum yang paling tepat untuk dapat dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan umat. Nilai penting yang dapat diambil dari kegiatan festival adalah terciptanya rasa kebersamaan, keserasian dan keselarasan umat Buddha menuju kerukunan dan persatuan untuk membangun sumber daya manusia (SDM) umat Buddha.
Dihadapan ribuan umat Buddha di tempat upacara pembukaan. Menag juga mengemukakan silahturahmi antar pimpinan dan tokoh -tokoh agama dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kebersamaan dan menyatukan visi dan misi membina umat, meningkatkan kemampuan umat, meningkatkan kualitas sumber daya umat dalam beragama, berbangsa dan bernegara sebagai wujud membangun bangsa dan negara Indonesia
Demikian pula dalam hal meningkatkan jalinan kerukunan antara intern umat beragama, antarumat beragama dan antarumat beragama dengan pemerintah, sehingga program pemerintah dalam membangun kerukunan antar umat beragama dapat selaras dan diwujudkan dalam program lembaga-lembaga agama yang ada.
Pembangunan Indonesia Seutuhnya
Sementara Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Dra Siti Hartati Murdaya mengemukaan, kita semua menyadari bahwa pembangunan nasional kembali bangsa Indonesia dalam rangka keluar dari krisis multidimensi, seyogyanya merupakan pembangunan kembali Indonesia seutuhnya, yang artinya tidak hanya meningkatkan kemajuan kehidupan lahiriah, tetapi juga rohaniah, keagamaan dan lain-lain.
Dengan demikian, kehidupan manusia Indonesia menjadi lebih bersih, lebih mantap dan kuat, serasi dan seimbang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dimana tumbuh sikap dan perbuatan yang sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang diajarkan agamanya masing-masing, termasuk khususnya agama Buddha.
Kegiatan festival itu patut disyukuri, kata Siti Hartati Murdaya, karena setiap aliran agama Buddha yang tergabung di dalam Walubi dapat bersatu dan saling menghormati, saling mendukung dengan prinsip non intervensi satu sama lain. Pemerintah dan Walubi telah memberikan kebebasan pada setiap Majelis untuk dapat mengikuti Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka Tingkat Nasional V tahun 2003 sesuai dengan akidahnya masing-masing.
Ia juga mengemukakan terwujudnya rasa kebersamaan menggalang persatuan dan kesatuan yang mantap dan dinamis serta meningkatkan, pemahaman terhadap kajian-kajian nilai-nilai etika, moral dan spiritual dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa serta bernegara. Sehingga tercipta kondisi sosial yang harmonis berwawasan Nasional, sekaligus memantapkan kerukunan intern umat Buddha agar dapat lebih berperan aktif dalam meningkatkan sumber daya umat Buddha
Upacara pembukaan disemarakkan dengan atraksi kesenian berupa tari dan nyanyi, sendratari dan paduan suara. Para peserta festival, malam itu pada umumnya mengenakan pakaian tradisional yang kian menyemarakkan kegiatan. (be)
Sumber : Pelita - 7 Juli 2003
|