WARTA WALUBI

Tahun 2012
Tahun 2011
Tahun 2010
Tahun 2009
Tahun 2008
Tahun 2007

Tahun 2006
Tahun 2005
Tahun 2004
Tahun 2003
Tahun 2002


WARTA MAJELIS
Tahun 2003
Tahun 2002




Participate in improving the Walubi Website!
We appreciate any kind of feedback and suggestions. Please send them to DPP WALUBI Thank you.

  CANDI BOROBUDUR, BUKIT PENINGKATAN KEBAJIKAN


Bali dikenal di dunia sebagai daerah tujuan wisata utama. Bali lebih dikenal di dunia ketimbang Indonesia. Banyak masyarakat luar negeri yang tidak mengetahui bahwa Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia. Bali masih mempertahankan budaya yang bersandar pada Hindu sehingga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara.

Masyarakat dunia mengakui, Candi Borobudur yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, merupakan salah satu keajaiban dunia. Tetapi masih kalah menarik ketimbang Bali. Kalau Bali dasarnya adalah budaya peninggalan Hindu yang masih dilestarikan, Borobudur merupakan candi agung terbesar di dunia peninggalan budaya Buddha.

Menurut Prof Dr JG Casparis, sebuah prasasti dari abad sembilan menyingkapkan silsilah tiga raja Wangsa Syailendra, yaitu Raja Indra, putranya, Samaratungga, dan selanjutnya putri Samaratungga, yaitu Pramodawardhani. Pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, mulailah dibangun candi yang bernama Bhumisam Bharabudhara, yang dapat ditafsirkan sebagai "Bukit Peningkatan Kebajikan", yaitu setelah melampaui sepuluh tingkat Bodhisattva.

Setelah selesai dibangun selama kurang lebih seratus lima puluh tahun, Candi Borobudur merupakan pusat ziarah megah bagi penganut Buddha sampai sekitar tahun 930 M.

"Keindahan dan keagungan Candi Borobudur tidak hanya mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia sendiri, melainkan ia sudah dianggap sebagai warisan kebudayaan dunia. Hal ini terbukti pada saat pemugaran Candi Borobudur yang dilakukan oleh Peme-rintah Indonesia selama sepuluh tahun sejak tahun 1971, dukungan berbagai negara sahabat telah diberikan secara mantap. Dua puluh delapan negara duduk sebagai anggota dari Executive Committee for the International Campaign to Safeguard the Temple Borobudur," ujar Ketua Umum Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi), Siti Hartati Murdaya, kepada Pembaruan belum lama ini.

Kemegahan, keagungan, keindahan, dan keunikan arsitektur Candi Borobudur yang dibalut dengan nilai-nilai penting dari sisi agama, budaya dan sejarah telah menjadi fokus perhatian -umat Buddha. Baik di Indonesia maupun luar negeri, serta wisatawan pada umumnya untuk datang berkunjung.

Monumen Mati

Candi Borobudur selama ini berfungsi sebagai tujuan wisata budaya semata-mata. Penggunaan Candi Borobudur sebagai tempat peribadatan Umat Buddha hanya dapat dilakukan pada saat Waisak Nasional saja. Itupun hanya sekali dalam satu tahun. Selama ini Candi Borobudur hanya berfungsi sebagai monumen mati, tidak memiliki nuansa keagamaan Buddha apapun kecuali, tumpukan batuan patung dan relief Buddha.

Sebagai monumen mati, telah menghilangkan nilai sakral Agama Buddha bagi penganutnya di dunia. Mereka tidak merasa perlu berkunjung ke Indonesia untuk beribadah. Para wisatawan yang datang pada umumnya merupakan wisatawan budaya. Kalaupun yang berkunjung adalah wisatawan penganut Buddha, mereka tidak bisa melakukan puja bhakti sebagaimana mestinya.

Candi Borobudur dianggap sebagai cagar budaya dan monumen mati sehingga para pengunjung tidak memedulikan lagi kondisi kebersihan candi. Seperti yang kita saksikan, para pengunjung membawa makanan dan minuman serta membuang sampah yang tersebar di mana-mana. Mereka juga mendudukkan anak kecil di pundak Arca Buddha sambil berfoto serta memperlakukan tempat suci tersebut sebagai tempat piknik. Mereka merusak, baik suasana spiritual maupun nilai moral yang bertentangan dengan keagungan Candi Borobudur itu sendiri.

Perlakuan sebagai monumen mati itu tidak terlepas dari kebijakan Pemerintah Indonesia. Sejak kemerdekaan negara Republik Indonesia, Pemerintah RI pada awalnya belum membentuk departemen yang khusus mengurusi pariwisata secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, semua candi yang merupakan aset negara dianggap sebagai barang budaya. Keberadaannya dimasukkan ke dalam wewenang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, digolongkan ke dalam benda purbakala yang dinyatakan sebagai monumen mati.

Setelah adanya Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya, maka keberadaan Candi Borobudur dan candi-candi agama lain di dalam wewenang Departemen Pendidikan sudah tidak tepat lagi. Khususnya Candi Agung Borobudur tersebut masih dikendalikan oleh sejumlah pakar budaya yang tidak memiliki wawasan komersial. Demikian pula tidak memanfaatkan nilai sakral keagamaan sebagai nilai tambah yang sangat kuat potensinya dalam menarik wisatawan mancanegara.

Candi Buddha

Candi Borobudur sebagai candi Buddha adalah suatu kenyataan.

Lihat saja dalam perjalanan sejarahnya. Kerajaan Mataram I (Kerajaan Mataram Purba) berdiri tahun 775 - 850 diperintah oleh Wangsa Syailendra, yang memasuki zaman yang jaya dalam bidang ekonomi, politik, sosial budaya. Agama Buddha menjadi pandangan hidup pada waktu itu. Wangsa Syailendra telah berhasil mendirikan Candi Borobudur yang merupakan salah satu keajaiban dunia.

Di samping Candi Borobudur terdapat candi Buddha lainnya, yaitu Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Kalasan, Candi Sari dan Candi Sewu yang indah dan sudah selesai dipugar.

Lihat juga perjalanan sejarah Atisa Sriyana Dipamkara dari India dalam tahun 1012 telah datang ke Swarna Dwipa (Sumatra). Ia tinggal di sini selama 2 tahun untuk berguru dengan seorang Maha Guru Bhikkhu Agung yang bernama Maha Acarya Dharmakhirti. Guru ini sangat termasyhur memiliki pengetahuan Buddha Dharma yang tidak terbatas. Atisa mempelajari dan mempraktikkan ajaran Bodhicitta dan Pranidana, serta Avatara.

Tahun 1983 hari ulang tahun yang ke-1.000 lahirnya Atisa telah diperingati dan dirayakan di seluruh India dan Bangladesh. Hal ini membuktikan betapa besarnya nama Atisa dalam perkembangan Agama Buddha di seluruh Asia dan Tibet. Bahkan PBB sangat menghargai Atisa, sehingga ulang tahunnya yang ke-1.000 dipakai sebagai peringatan mulai dipugarnya Candi Borobudur oleh Unesco. Keagungan zaman keemasan yang jaya dari zaman kerajaan Mataram Purba, tidak seluruhnya hanya merupakan mimpi masa lampau, namun keberadaan Candi Borobudur adalah merupakan suatu realitas hidup, yang telah diwarisi oleh leluhur bangsa Indonesia sebagai warisan budaya yang tidak ternilai mutu seninya. Candi Agung Borobudur yang merupakan sebuah Mandala Agung Tantrayana sungguh merupakan limpahan berkah dan karunia kepada Umat Buddha masa kini.

Keberadaan candi agung Borobudur ternyata bukan merupakan suatu impian saja, namun dapat kita saksikan adanya Upacara Suci Waisak Nasional yang dilakukan oleh para pendahulu yaitu saat kebangkitan kembali agama Buddha di bumi Indonesia dalam tahun 1953, yang dikenal dengan 2500 tahun Buddha Jayanti. Pada saat yang sama Buddha Jayanti juga mulai dirayakan di India. Waktu itu Indonesia mengirimkan dua orang utusan.

Meskipun umat Buddha yang hadir dalam Upacara Suci Waisak Nasional tahun 1953 hanya berjumlah beberapa ratus orang, upacara Waisak saat itu mempunyai arti sejarah yang sangat penting ialah Umat Buddha Indonesia melakukan upacara puja bhakti di atas Candi Borobudur.

Sejak tahun 1953 umat Buddha setiap tahun - di saat Waisak - selalu melaksanakan puja bhakti di atas Candi Borobudur. Selama Candi Borobudur dipugar umat Buddha hanya diperkenankan melakukan Puja Bhakti Waisak di Candi Mendut. Setelah Candi Borobudur selesai dipugar, maka umat Buddha kembali melakukan Puja Bhakti Waisak setiap tahun di Candi Borobudur dan mulai dilaksanakannya prosesi keagamaan yang diadakan mulai dari Candi Mendut ke Candi Borobudur.

Ziarah

Ziarah di Candi Borobudur perlu dipahami sebagai kegiatan kunjungan wisata untuk tujuan pengembangan spiritual keagamaan. Mengingat Candi Borobudur adalah monumen Buddhis, tentu ziarah tersebut akan dilakukan oleh Umat Buddha di Indonesia maupun dari seluruh dunia. Kegiatan wisata ziarah tersebut sangat bervariasi, meliputi berbagai aspek ritual dan peningkatan moral spiritual Buddhis melalui berbagai kegiatan. Antara lain pembacaan paritta (doa) secara individual maupun kelompok meditasi secara individu maupun kelompok upacara sembahyang, konvensi, rapat, seminar, lokakarya dan acara Buddhis lainnya.

Kegiatan-kegiatan wisata ziarah di atas akan menciptakan banyak lapangan kerja baru. Permintaan terhadap barang dan jasa yang diperlukan secara langsung maupun tidak langsung oleh kegiatan wisata ziarah tersebut akan meningkat.

Difungsikannya Candi Borobudur sebagai pusat wisata ziarah (dharmayatra), di samping sebagai pusat wisata budaya seperti selama ini kita kenal adalah sangat potensial. Alasannya ialah wisata ziarah merupakan salah satu preferensi calon konsumen (wisatawan) terhadap atribut keagamaan Buddha dari keberadaan Candi Borobudur. Terjadi proses nilai tambah dari wisata ziarah dibandingkan dengan sebelumnya.

Enam dari sepuluh negara anggota ASEAN adalah negara yang penduduknya banyak beragama Buddha, yaitu Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Singapura. Umat Buddha di negara-negara tersebut merupakan calon wisatawan mancanegara yang potensial ke Indonesia, terutama ke Candi Borobudur.Terlebih lagi Umat Buddha di negara - negara Asia lainnya yaitu RRC, Korea, Taiwan, Jepang, Hong Kong, Sri Lanka, Nepal, dan lain lain. Serta perlu dipertimbangkan pula umat Buddha di Amerika, Eropa, Australia dan seterusnya, merupakan potensi wisatawan ziarah bagi Candi Agung Borobudur.

Wisata ziarah Buddhis sudah lazim dilakukan dan sangat berhasil di Thailand dan Kamboja. Berbagai vihara yang indah di Thailand serta keagungan Candi Angkorwat di Kamboja telah menarik kedatangan banyak wisatawan mancanegara. Hal ini dapat menjadi bukti bahwa wisatawan ziarah akan mendatangkan devisa dalam jumlah cukup berarti.

Kita menyaksikan sejumlah Vihara dan Candi di negara tetangga yang tidak memiliki keistimewaan seperti Candi Borobudur, namun telah berhasil dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan perekonomian rakyat sekitar candi/vihara tersebut. Selain itu juga telah mendatangkan devisa dari wisatawan mancanegara yang tidak sedikit jumlahnya.

Walaupun tidak diragukan lagi bahwa Candi Borobudur merupakan tempat peribadatan umat Buddha sejak zaman dahulu kala, namun saat ini dimensi Buddhis tersebut belum didayagunakan untuk meningkatkan nilai ekonomi.

Candi Borobudur yang seharusnya memiliki daya tarik sangat besar bagi kunjungan wisata ziarah sedunia, belum sepenuhnya memberikan kesejahteraan bagi peningkatan perekonomian rakyat kecil di sekitarnya. Apalagi yang berhubungan dengan pemasukan devisa bagi negara.

Kita saksikan negara tetangga yang memiliki objek wisata ziarah - walaupun tidak sebagus Candi Borobudur - namun telah mengatur tata kunjungan wisatawan dengan sedemikian rupa. Bahkan dibuatkan peraturan yang bisa menghukum pengunjung yang berperilaku tidak sesuai dengan moral dan etika yang seharusnya. Kenyataannya, kebijakan pemerintah negara tersebut telah berhasil menikmati kemajuan pemasukan devisa serta memberikan kemajuan bagi perekonomian rakyat sekitarnya secara optimal.

Hal ini tidak disadari bahwa candi-candi yang memiliki nilai agama dan merupakan aset negara yang sangat tepat untuk digali sumberdaya ekonominya telah menjadi mubazir.

Khususnya pada saat ini, saat krisis ekonomi dan krisis di berbagai bidang belum sepenuhnya pulih, pemerintah lupa bahwa antara lain Candi Borobudur sebagai salah satu keajaiban dunia dapat mendatangkan devisa yang tidak sedikit jumlahnya.

Dalam kerangka pemikiran di atas, upaya ISEI Yogyakarta bekerja sama dengan Badan Promosi Industri Pariwisata Yogyakarta dan Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia untuk mencari masukan tentang bagaimana menggali potensi ekonomi Candi Borobudur sebagai wisata ziarah sangat patut untuk dihargai.

Sumber: Wartawan Pembaruan, Suara Pembaruan 8 Juni 2003
Henny Diana dan Eko B. Harsono



 


Copyright © 2000-2010 by WALUBI (Perwakilan Umat Buddha Indonesia)
All trademarks & logos shown herein are the property of their respective owners.