|
BATAM (SP)
Sebanyak 25 Provinsi mengirimkan delegasinya dalam Festival Seni dan Baca Kitab Suci Tripitaka/Tipitaka Tingkat Nasional V Tahun 2003, di Maha Vihara Duta Maitreya, Batam, Riau, yang berlangsung Sabtu (5/7) sampai Senin (8/7).
Menurut Ketua Panitia Ir. Arief Harsono Festival ini diikuti 689 orang peserta, peninjau dan ofisial dari 25 provinsi di Indonesia. Hadir pada pembukaan pejabat Muspida Riau dan Batam, Dirjen Bimas Hindu dan Buddha I Wayan Suarjaya, serta para tokoh umat Buddha di Indonesia. Festival itu memperebutkan Piala Bergilir Presiden RI, yang sebelumnya juara umumnya kontingen dari Propinsi Bali.
Upacara pembukaan disemarakkan dengan atraksi kesenian berupa tari dan nyanyi, sendratari dan paduan suara. Para peserta Festival, malam itu pada umumnya mengenakan pakaian tradisional yang kian menyemarakkan kegiatan.
Sementara itu, sebelumnya Menteri Agama (Menag) Prof Dr Said Agil Husin Al Munawar menilai Festival itu merupakan salah satu aktivitas yang strategis dan momentum yang paling tepat untuk dapat dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan umat. Nilai penting yang dapat diambil dari kegiatan Festival adalah terciptanya rasa kebersamaan, keserasian, dan keselarasan umat Buddha menuju kerukunan dan persatuan untuk membangun sumber daya manusia (SDM) umat Buddha.
Dihadapan ribuan umat Buddha ditempat upacara pembukaan, Menag juga mengemukakan silaturahmi antar pimpinan dan tokoh-tokoh agama dapat dilaksanakan untuk meningkatkan kebersamaan dan menyatukan visi dan misi membina umat, meningkatkan kemampuan umat, meningkatkan kualitas sumber daya umat dalam beragama, berbangsa dan bernegara sebagai wujud membangun bangsa dan negara Indonesia.
Ditempat yang sama, Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) Dra. Siti Hartati Murdaya mengemukakan, kita semua menyadari bahwa pembangunan nasional kembali bangsa Indonesia dalam rangka keluar dari krisis multidimensi, seyogyanya merupakan pembangunan kembali Indonesia seutuhnya, yang artinya tidak hanya meningkatkan kemajuan kehidupan lahiriah, tetapi juga rohaniah, keagamaan dan lain-lain.
Dengan demikian, kehidupan manusia Indonesia menjadi lebih bersih, lebih mantap dan kuat, serasi dan seimbang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dimana tumbuh sikap dan perbuatan yang sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang diajarkan agamanya masing-masing, termasuk khususnya agama Buddha.
Sumber : SINAR PAGI - 9 JULI 2003
|